Sejarah hari jadi Toraya (Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo) merujuk pada kearifan budaya nenek moyang (todolo) dan semangat juang yang telah dipersembahkan oleh masyarakat Toraja dalam perjalanan sejarah bangsa.
Rumusan itu memuat usulan berbagai peristiwa sebagai puncak kejadian penting di Toraja, antara lain:

a. Tanggal 26 Agustus mengacu kepada semangat juang Pahlawan Pongtiku dalam permulaan serangan umumnya terhadap pertahanan Belanda di beberapa tempat
b. Tahun 1247, mengacu pada Budaya; aluk dan adat yakni penyebaran aluk Sandapitunna di Tana Toraja sebagai sumber budaya dan pandangan hidup masyarakat Toraja dan penentu eksistensi dan jati diri masyarakat Toraja sejak awal abad ke-13.

Proses penetapan tanggal bulan dan tahun sebagai produk hukum pemerintah mengalami penggodokan yang cukup ketat kala itu di DPRD Tk. II Tana Toraja. Beberapa konfirmasi yang diperlukan dengan mengunjungi dan mengundang sejumlah pakar dan tokoh-tokoh masyarakat antara lain: Prof. Dr. Mattulada, Prof. Dr. Mangemba, Prof. Dr. C. Salombe, Prof. Dr. Ny. Paranoan, Bp. Yulius Tiranda, Dr. Stanislaus Sandarupa. Akhirnya terjadi mufakat bahwa sejak penyebaran Aluk Sandapitunna di Tana Toraja secara umum, dapat diketahui bahwa para To Manurun mulai datang ke Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke-13 berdasarkan beberapa silsilah yang dimiliki oleh tokoh masyarakat anatar laina. Sangalla’, Mengkendek, Sesean, Saluputti dan Rindingallo; ditemukan bahwa sampai sekarang sudah ada 25 generasi sejak periode Tangdilino, Pasontik dan Pongkapadang (penyebar Aluk Sanda Pitunna).

Dengan adanya kesepakatan itu, maka dalam Sidang Paripurna DPRD Tana Toraja telah berhasil menetapkan Perda no. 12 Tahun 1997 tentang Hari Jadi Tana Toraja pada tanggal 26 Agustus 1247. Bupati saat Perda ini ditetapkan adalah Bapak. Drs. Tarsis Kodrat.

Diolah dari berbagai sumber dan “Rangkuman Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku” tahun 1999

#ayokeToraja
Berdnard E Lee

Categories: Artikel