A. Asal Nama Toraja
Ada beberapa pendapat tentang asal-usul nama Toraja. Orang Bugis-Sidenreng menyebutnya dengan nama to riajang yang artinya ‘orang yang berdiam dinegeri atas atau pegunungan.

Masyarakat Luwu pada zaman Belanda menamakannya to riaja yang berarti ‘orang yang berdiam di sebelah barat’. Sementara itu, versi lain menyebutkan toraja berasal dari toraya. Asal katanya to dari tau yang berarti ‘orang’ dan raya dari kata marau yang berarti besar’. Jadi, toraya bermakna orang besar atau bangsawan.

Berdasarkan mitos yang beredar di masyarakat, Toraja dahulu merupakan sebuah negeri otonom. Namanya Tondok Lepongan Bulan atau Tana Matarik Allo. Artinya, negeri yang bentuk pemerintahan dan kemasyarakatannya merupakan kesatuan yang bulat/bundar seperti bentuk bulan dan matahari.
Mitos lain yang berasal dari para bangsawan menyebutkan bahwa Toraja berasal dari kata tau raja. Arti kata tersebut adalah orang raja atau keturunan raja. Para bangsawan Toraja (tana’ bulaan) beranggapan bahwa mereka adalah keturunan para dewa di kayangan. Nenek moyang mereka yang pertama adalah keturunan atau titisan dari Puang Matua (dewa tertinggi/Tuhan).
Kemudian, ia diangkat menjadi raja di bumi (di Tondok Lepongan Bulan atau Tana Matarik Allo). Sampai saat ini kepercayaan tersebut masih hidup dan dideklamasikan dalam pern1kahan antara para bangsawan (tana’ bulaan).
B. Adat dan Kebudayaan Suku Toraja
Masyarakat Toraja masih banyak yang menganut
keperca-yaan adat yang disebut Aluk Todolo. Istilah tersebut berasal dari kata aluk yang berarti agama/aturan dan todolo yang berarti nenek moyang. 
Jadi Aluk Todolo berarti agama/aturan dari leluhur. Menurut penganutnya, agama tersebut diturunkan oleh Puang Matua atau Sang Pencipta kepada leluhur pertama, yaitu Datu La Ukku’. Kemudian ajaran tersebut diturunkan kepada anak cucunya. 
Oleh karena itu, manusia harus menyembah, memuja, dan memuliakan Puang Matua atau Sang Pencipta. Wujudnya dapat dilihat dalam bentuk sikap hidup dan ungkapan ritual, seperti sajian, persembahan, maupun upacara-upacara. Setelah Puang Matua menurunkan Aluk kepada Datu La Ukku sebagai manusia pertama, penjagaan dan pemeliharaan terhadap manusia diserahkan kepada para Deata atau Dewa. Karena tugasnya tersebut, Deata disebut pula sebagai Pemelihara. 
Di dalam kepercayaan Aluk Todolo dikenal adanya tiga Deata, yaitu
1. Deata Langi’ (Sang Pemelihara Langit yang menguasai seluruh isi langit dan cakrawala),
2. Deata Kapadanganna (Sang Pemelihara Bumi yang menguasai semua yang ada di bumi), dan
3. Deata Tangngana Padang (Sang Pemelihara Tanah yang menguasai isi bumi).
Puang Mattua juga memberikan kepercayaan kepada To Membali Puang atau Todolo (Leluhur). Mereka wajib dipuja dan disembah karena merekalah yang memberi berkah kepada para keturun4nnya.
Masyarakat penganut Aluk Todolo mengungkapkan pemujaan kepada ketiga kelompok Deata tersebut dalam bentuk upacara-upacara ritual dengan berbagai sajian, persembahan, atau korban. Bentuk, tempat, dan arah persembahan bermacam-macam disesuaikan dengan ketiga unsur tersebut.
Mereka mempersembahkan babi atau ayam bagi para Deata atau Pemelihara dan Tomembali Puang/Todolo/ Leluhur. Namun, tempat keduanya berbeda. Untuk para Deata tempatnya di sebelah timur tongkonan, sedangkan untuk Leluhur tempatnya di sebelah barat atau di kuburan.
Ke percayaan masyarakat Toraja terhadap para Deata terkait dengan pandangan mereka terhadap alam semesta. Mereka memandang alam semesta terdiri atas tiga unsur, yaitu langi’ (surga), lino atau padang (bumi), dan Deata to Kengkok (Puang).
Bagi masyarakat Toraja, arah mata angin dianggap
sebagai sesuatu yang sakral. Hal itu berkaitan dengan kepercayaan yang mereka anut. Berikut ini pembagian mata angin yang berhubungan dengan kepercayaan mereka.
1. Bagian utara (ulunna langf) merupakan kepala langit tempat bersemayamnya Puang Matua (Sang Pencipta).
2. Bagian Timur (mata allo) merupakan titik energi asal munculnya matahari. Arah timur dianggap sebagai sumber kebahagiaan dan kehidupan. Pada bagian inilah tiga kelompok Deata berada.
3. Bagian Barat (matampu) merupakan tempat matahari terbenamyang dianggap sebagai lawan darikehidupan. Arah Barat merupakan titik kematian dan kesusahan.
4. Bagian selatan (poll0’na langi) atau pant4t langit
merupakan lawan dari tempat Puang Matua berdiam. Selatan dianggap sebagai sumber hal-hal yang tidak baik atau angkara murka.
Sumber: buku Tongkonan Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja
Categories: Budaya Toraja