BAB III
HERMENEUTIK YOHANES 6:1-15

A.    Defenisi Hermeneutik
Sebelum penulis menafsirkan ayat yang hendak ditafsir, maka penulis akan membahas terlebih dahulu mengenai hermenutik. “Hermeneutika” berasal dari kata bahasa Yunani Hermeneuein yang artinya menafsirkan. Asal-usal kata tersebut tidak di ketahui, walaupun ada yang mengusulkan bahwa kata itu berhubungan dengan nama dewa Hermes dari mitologi Yunani yang berperan sebagai pembawa pesan dan penengah antara umat manusia dan para dewa yang jauh tempat tinggalnya, yang menafsirkan perbuatan-perbuatan dan kata-kata para dewa bagi umat manusia. Hermeneutika” melibatkan penggunaan beragam strategi membaca secara teliti dan kreatif, yang dimaksudkan untuk menjembatani celah antara nas-nas Kitab Suci kuno dan para pembaca modern … penafsiran Alkitab bertujuan untuk memungkinkan umat Allah mendengarkan firman Allah secara terang-benderang melalui ungkapan-ungkapan yang dipahami oleh segenap umat manusia yang sezaman, sekalipun juga tetap setia pada kesaksian”.[38]
B.    Langkah-langkah Metode Naratif
Dalam buku karangan B. F Drewes yang berjudul “Satu Injil Tiga Pekabar”, terdapat langkah-langkah penafsiran naratif yaitu:[39]
1.     Peristiwa
2.     Tokoh-tokoh
3.     Latar Waktu
4.     Latar Tempat
5.     Gaya Penceritaan
6.     Sudut Pandang
7.     Alur atau Plot
C.    Penerapan Metode Naratif dari Yohanes 6:1-15
1.     Peristiwa
Dalam Yohanes 6:1-15, kita menemukan 5 peristiwa sebagai berukut:
Yang pertama (ay.1-4): orang banyak mengikuti Yesus, alasan mereka mengikutiNya karena mereka  melihat Mujizat-mujizat penyembuhan yang dilakukanNya. Adapun mujizat-mujizat penyembuhan sebelum pemberian makan ini yaitu penyembuhan m seorang pegawai istana (4:46-54) dan penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda (5:1-18).
Yang kedua (ay. 5-9): inisiatif Yesus mengemukakan persoalan kepada para murid, hal itu dimaksudkan untuk menguji[40]Filipus (ay. 6). Iman Filipus diuji untuk mengetahui seberapa dalamnya  imannya kepada Yesus, Filipus merespon dengan pernyataan “roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun mereka mendapat sepotong kecil saja” (ay. 7). Sebenarnya jawaban Filipus ini cukup bisa dimaklumi, sebab pada  saat itu keadaannya benar demikian mengingat jumlah orang banyak itu. Bahkan sekalipun mereka bisa membeli makanan, uang mereka pasti tidak akan cukup, disini jelas bahwa Filipus sangatlah realistis. Namun Filipus nampaknya meragukan kuasa Yesus untuk  memenuhi kebutuhan orang banyak akan makanan dengan pernyataan seperti itu.   Begitupun dengan Andreas yang memberi solusi dengan lima roti jelai dan dua ikan yang di dapatinya pada seorang anak (ay. 9). Lima roti jelai dan dua ikan merupakan potensi  yang di dapati oleh Andreas, namun Andreas menunjukkan sikap yang sama seperti Filipus dengan meragukan akan potensi lima roti dan dua ikan yang di dapatinya pada seorang anak kecil dengan mengatakan : “tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini? (ay. 9). Nampaknya memang Filipus dan Adreas hanya terbatas pada roti duniawi, mereka tidak memikirkan alternatif lain yang pasti akan terjadi. Mereka tidak sadar bahwa orang yang bersamanya yaitu Yesus adalah Tuhan yang dapat memberikan kelimpahan makanan bahkan melampaui makanan yang diberikan oleh nabi elisa dalam 2 Raj. 4:42-44, Padahal mereka berdua telah bersama-sama dengan Yesus dan telah melihat mujizat-mujizat  yang dilakukan oleh Yesus.
Yang ketiga (ay. 10-13): Ketika Filipus dan Adreas tidak mampu memberikan solusi makan disinilah intervensi Allah nampak melalui Yesus. Yesus memberi solusi atas persoalan ini, Yesus bertindak sebagai tuan rumah yang baik, mengucapkan berkat syukur dan membagi-bagikan makanan. Dia menjamu tamu-tamuNya secara melimpah, ay. 13 menggambarkan bahwa potongan-potongan roti yang tersisa dari kelima roti jelai sebanyak 12 bakul penuh. Hal ini dimaksudkan untuk menekankan kelimpahan karunia yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus.
Yang keempat (ay. 14-15): efek dari tindakan mengherankan yang Yesus lakukan yaitu pengakuan dari orang-orang yang melihat mujizat tersebut yaitu bahwa “Dia adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia[41](bdk. Ay 14), menunjuk pada konsep Mesias sebagai tokoh seperti nabi, orang Israel dengan penuh keyakinan mengharapkan sang Mesias dan menjadi seorang nabi besar[42]tetapi dalam ay. 15 rupanya mereka menyamakannya dengan raja. Konsep semacam ini biasanya dikaitkan dengan Mesias sebagai orang yang akan membarui kerajaan Daud secara politis.[43] Namun Yesus tidak menghendaki hal yang demikian karena Mesias politis berlawanan dengan kuasa Yesus sebagai raja (lih. Yoh. 18:36) sehingga Yesus menyingkir ke gunung seorang diri.
2.     Tokoh-tokoh
Dalam kisah ini, Yesus, Filipus dan Andreas berperan sebagai pelaku utama aktif sedangkan seorang anak dan orang banyak sebagai pelaku pasif. “seorang anak” dalam teks ini tidak dijelaskan siapa namanya, tetapi dalam teks Yunani menggunakan kata παιδάριον (paidarion) yang juga bisa berarti seorang anak perempuan atau wanita muda.[44]
Orang banyak dalam ay. 10 disebutkan bahwa lima ribu laki-laki banyaknya. Bisa saja orang banyak ini tertarik mengikuti Yesus karena mujizat yang dilakukan Yesus. Diantara orang-orang itu terdapat pula orang-orang yang tidak tertarik kepadaNya. Mereka hanya ingin memuaskan rasa ingin tahu mereka atas keajaiban yang mereka lihat itu, namun hati nurani mereka tidak diyakinkan oleh kuasa mujizat-mujizat itu.[45]
Jika dilihat dari intensitas kehadiran, ciri dan sifat para tokoh dalam kisah, maka penokohan dalam kisah ini dapat dikategorikan sebagai berikut:
Yesus: tokoh protagonis bundar[46]karena Yesus tampil dalam keseluruhan cerita, melakukan perubahan berupa mengambil inisiatif untuk memberi makan orang banyak dan melakukan mujizat.
Filipus dan Andreas: tokoh deutragonis[47]karena Filipus dan Andreas berusaha memberikan sumbangsi pemikiran kepada Yesus.
Seorang anak: foil[48]karena kehadiran seorang anak yang mempunyai bekal lima roti jelai dan dua ikan membuka peluang bagi Yesus untuk memberi makan banyak orang yang mengikutiNya.
Orang banyak: meskipun tidak dijelaskan secara detail mengenai siapa orang-orang banyak ini namun orang banyak ini mengambil suatu peranan penting dalam keseluruhan cerita yakni menampilkan kemauan Yesus untuk mengadakan mujizat.
Jika lebih memperhatikan fungsi peran dengan menggunakan sistem aktan, maka aktan[49]dalam kisah ini adalah:
Subjek: Yesus
Objek: roti dan ikan
Penerima: orang banyak
Pembantu: Filipus, Andreas dan seorang anak
3.      Latar Waktu[50]
Pada ayat pertama dikatakan “sesudah itu”[51], jika kita memperhatikan beberapa terjemahan pembanding maka keterangan ini merujuk pada persitiwa sebelumnya. Dalam Injil Yohanes, peristiwa sebelumnya yaitu penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda yang letaknya berada di Yerusalem. Jika kita melihat di peta[52]maka jarak antara Yerusalem dan Galilea tergolong cukup jauh, sehingga kata “sesuadah itu” dapat saja merujuk kepada penyembuhan di kolam Betesda tetapi bisa juga merujuk pada peristiwa-peristiwa yang lain. Penafsir seperti Matthew Henry juga sulit menentukan apakah peristiwa sebelumnya yang di maksudkan itu merujuk kepada penyembuhan di kolam Betesda[53].
Namun, pada ayat 4 kita diberi tahu bahwa peristiwa itu memang terjadi ketika Paskah sudah dekat. Peristiwa Paskah dalam Yohanes ini dapat berarti tiga hal:
a.      Mungkin karena hari raya itu telah mengumpulkan kembali para rasul dari perjalanan mereka masing-masing, yaitu dari tempat mereka diutus sebagai pengkhotbah keliling, supaya mereka dapat bersama-sama Guru mereka ke Yerusalem untuk merayakan hari raya itu.
b.     Karena sudah menjadi kebiasaan orang Yahudi untuk merayakan dengan setia masa menjelang paskah itu tiga puluh hari sebelumnya dengan penuh kehikmatan. Lama sebelum hari raya itu tiba, jika ada kesempatan, mereka akan memperbaiki jalan dan jembatan, serta berbicara tentang paskah dan riwayat penempatannya.
c.      Mungkin karena dengan semakin mendekatnya hari raya Paskah, setiap orang mengetahui bahwa Kristus akan pergi ke Yerusalem dan tidak dapat dijumpai selama beberapa waktu. Hal ini mendorong orang banyak semakin sering mengikuti Dia dan lebih rajin tinggal bersamaNya.
jika menarik benang merah dari latar waktu ini, maka penulis mengambil kesimpulan dalam kata “sesudah itu” merujuk kepada peristiwa penyembuhan pada hari Sabat (5:1-18), mengingat bukti yang mendukung akan hanyalah Alkitab sebagai satu-satunya dokumen yang mengisahkan kejadian tersebut.
4.     Latar Tempat
Latar tempat dicatat untuk memberikan bukti yang lebih meyakinkan tentang kebenaran kisah itu. Segala keadaan yang menyertai terjadinya mujizat itu digambarkan dengan jelas, sehingga dapat diselidiki dengan mudah.
Daerah tempat Yesus berada (ay.1): Ia berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu di tempat yang disebut danau Genasaret, dan disini disebut danau Tiberias. Tempat ini berdampingan dengan sebuah kota yang belum lama diperintah oleh Herodes, dan dinamakan Tiberias untuk menghormati Tiberius, kaisar Romawi. [54]Nama Tiberias digunakan sesudah Herodes Antipas membangun kota Tiberias di pantai barat danau ini, sekitar tahun 25 M. Seberang,artinya: pantai sebelah timur.[55] Daerah Galilea biasanya menerima makna tipologis dalam Injil Markus sebagai tempat pemberitaan dan pekerjaan Yesus, sebelum Dia menuju ke Yerusalem untuk disalibkan dan dibangkitkan (lih. 1:14; 39; 3:7). Dan di daerah Galilealah Yesus yang bangkit akan bertemu kembali dengan para murid (14:28; 16:70).[56]
Jika kita memperhatikan ayat 3 “Dan Yesus naik keatas gunung[57]dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya” menunjukkan bahwa pada saat itu latar tempat berada di atas gunung. Latar tempat ini di jelaskan bahwa tempat itu dipenuhi oleh rumput (ay.10)
5.     Gaya Penceritaan
     Dalam teks ini, penulis kitab memaparkan Yohanes 6:1-15 dengan gaya penceritaan bentuk dialog. Yesus membuka dialog antara diriNya dengan Filipus dan Andreas mengenai kebutuhan orang banyak akan makanan.  Dialog dalam sebuah cerita sangatlah penting karena dialog dapat menampakkan karakter tokoh dan dapat memperkaya plot dalam cerita tersebut. Melalui dialog juga dapat menghubungkan adegan per adegan sehingga sebuah cerita dapat dimengerti alur dan maksudnya oleh pembaca.
     Irama waktu dalam teks ini juga dapat dilihat dengan jelas. Dalam ay. 1 “Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias” dan dalam ay. 16 “ Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu”digambarkan bahwa peristiwa ini terjadi dalam waktu kurang dari satu hari saja sehingga irama waktu dalam teks ini sangat singkat namun ceritanya di tuturkan secara panjang lebar.
6.     Sudut Pandang
Jika kita memperhatikan Yohanes 6:1-15 maka sudut pandang penulis dapat kita lihat seperti sudut pandang tokoh atau karakterisasi[58]. Filipus digambarkan oleh penulis sebagai tokoh yang bersifat rasional, terbuti ketika Yesus menguji Filipus, dia terjebak dalam kalkulasi rasional tentang seberapa banyak uang yang di butuhkan untuk memberi orang banyak makan. Begitupun dengan Anderas di gambarkan sebagai tokoh yang ragu-ragu. Dia ragu mengenai apa yang dapat dilakukan dengan lima roti dan dua ikan yang di jumpainya pada seorang anak (ay. 9). Yesus kemudian digambarkan oleh narator sebagai pengambil inisiatif dalam hal ini mulai dari sampainya Dia bersama dengan murid di danau Galilea sampai menyingkirnya Dia ke atas gunung, Yesus terus menerus mengambil  inisiatif. Inisiatif-inisatif yang dilakukan oleh Yesus yaitu naik keatas gunung dan duduk di situ (ay.3), inisiatif Yesus mengemukakan masalah makanan kepada Filipus (ay.5), inisiatif Yesus menjadi tuan rumah yang baik dengan menyuruh orang banyak duduk kemudian mengucap syukur atas lima roti dan dua ikan agar orang banyak dapat makan (ay.10-11), inisiatif Yesus untuk menyusuh muridnya mengumpulkan potongan sisa dari makanan tersebut (12-13), dan inisiatif Yesus untuk menghindar karena maksud orang banyak ingin menjadikan Dia raja (ay. 15).
Terdapat pula sudut pandang waktu dalam teks ini, dimana dikisahkan bahwa kejadian ini terjadi menjelang Paskah orang Yahudi (ay.4). Keterangan ini nampaknya tidak hanya memberi sebuah informasi tentang waktu. Keterangan ini berhubungan langsung dengan inti kisah yang akan disampaikan, yakni tentang roti yang dibagikan oleh Yesus sebagai makanan yang berkelimapahan yang diberikan oleh Allah.[59]
Penulis juga mau menjelaskan kepada pembacanya tentang roti jelai dan ikan. Kanaan dikenal sebagai negeri gandum (Ul. 8:8), pada umumnya penduduknya makan gandum yang terbaik (Mzm. 81:17),[60]namun yang ditemui oleh seorang murid dalam kisah ini hanyalah 5 roti jelai. Roti jelai adalah roti yang paling murah dan biasanya selalu dipandang rendah.
Di dalam Mishnah[61]ada peraturan tentang persembahan yang harus di bawa oleh wanita yang berzinah. Tentu saja wanita itu harus mempersembahkan persembahan pelanggaran. Bersama-sama dengan persembahan yang lain haruslah ada persembahan makanan. Persembahan makanan ini harus di buat dari tepung, anggur dan minyak yang dicampur. Biasanya tepung yang di pakai adalah tepung gandum. Tetapi ada ketentuan, bahwa untuk persembahan zinah, tepungnya bisa tepung jelai, karena jelai adalah makanan binatang buas dan dosa wanita itu adalah dosa binatang buas.[62]
Terdapat pula dua ikan (ay. 9) dalam teks ini. Penafsir seperti Matthew Henry berpendapat bahwa ikan tersebut telah diawetkan[63], sebab tidaklah mungkin untuk membawa ikan segar dalam suatu perjalanan tanpa mengalami kebusukan. Di danau Galilea, ikan-ikannya kecil seperti ikan sarden, kemungkinan besar ikan itulah yang kemudian di awetkan untuk menjadi bekal dalam perjalanan dan Pada saat itu ikan segar benar-benar merupakan suatu kemewahan.[64]
Dengan demikian 5 roti jelai dan dua ikan yang penulis gambarkan dalam cerita ini mau memperlihatkan kepada pembaca bahwa kondisi orang pada saat itu  terglong miskin.
7.     Alur dan Plot
Jika kita meninjau Yohanes 6:1-15  dalam rangka menentukan alur dan plot cerita, maka dapat di lihat bahwa bagian ini dimulai dengan peristiwa orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus karena mujizat-mujizat penyembuhan yang Dia lakukan sebelumnya. Karena kehadiran orang banyak ini, Yesus berinisiatif untuk memberi mereka makan dengan bertanya kepada Filipus dan Andreas. Ketika kedua murid tersebut tidak mampu menyelesaikan persoalan, maka kuasa Allah dinampakkan dalam diri Yesus dimana Yesus kemudian menyelesaikan masalah tersebut  secara ajaib dengan mengadakan mujizat. Atas kejadian ini, orang banyak kemudian berkata bahwa Yesus benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.
Teks ini dimulai dengan rasa kagum orang banyak akan kuasa Yesus menyembuhkan, kemudian ada diskusi dan pendapat antara Yesus dan murid-muridNya dan diakhiri dengan perkataan orang banyak bahwa Dia benar-benar nabi yang akan ke dalam dunia.
Signifikansi dari keseluruhan plot dan alur dalam teks ini yaitu mau menjelaskan kepada pembaca bahwa walaupun Yesus mempunyai kuasa untuk mengadakan mujizat, namun Dia juga mau mendengarkan pendapat dari para muridNya mengenai persoalan yang dialami dan bagaimana mengatasi persoalan tersebut.
D.    Relevansi Yohanes 6:1-15
Bagian ini menjadi tahap akhir dalam bab ini, penulis akan menguraikan relevansi dari hasil tafsiran mengenai makna Yesus memberi makan banyak orang dengan roti dan ikan dalam Injil Yohanes 6:1-15.
Menurut penulis, makna Yesus memberi makan dalam Injil Yohanes 6:1-15 untuk meyakinkan orang banyak termasuk Filipus dan Andreas bahwa diriNya betul-betul Tuhan yang berkuasa dan peduli akan segala kebutuhan manusia. Dalam konteks Yohanes 6:1-15, Filipus dan Andreas digambarkan sebagai orang yang masih ragu-ragu dengan kuasa Yesus untuk memenuhi kebutuhan orang banyak akan makanan dengan pernyataan-pernyataan yang mereka ucapkan. Mereka terjebak dalam kalkulasi rasional tentang seberapa besar uang, seberapa banyak roti dan ikan yang dibutuhkan agar kebutuhan orang banyak tersebut dapat terpenuhi. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang sangat besar sekali, disebutkan dalam teks bahwa 5000 orang (ay. 10) laki-laki belum termasuk wanita dan anak-anak, jadi wajar jika Filipus dan Andreas menggunakan kalkulasi rasionalnya sebagai manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan orang banyak tersebut. Padahal sebenarnya mereka sadar bahwa orang yang bersama-sama dengan mereka adalah orang yang sama yang telah mengadakan mujizat-mujizat penyembuhan dan bahkan mencukupkan anggur ketika perkawinan di Kana (2:1-11) tidak lain adalah Tuhan sendiri. Di dalam ketidakmampuan mereka untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut, maka intervensi Allah nampak di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus sebagai tokoh utama yang sebenarnya dari awal cerita sebagai pengambil inisiatif kemudian menjawab persoalan tersebut. Yesus dengan kuasaNya kemudian mengucap syukur atas potensi (modal) lima roti dan dua ikan yang di dapati oleh seorang murid bernama Andreas pada seorang anak. Dengan modal tersebut kemudian orang banyak dapat makan dengan kenyang dan bahkan masih tersisa 12 bakul penuh. Atas kejadian tersebut, maka 5000 orang yang disebut sebagai orang banyak tersebut berkata bahwa Yesus betul-betul nabi yang akan datang ke dalam dunia.
Jika dihubungkan dengan keadaan sosial jemaat masa kini di Tana Toraja, maka gereja sebagai utusan Tuhan di dunia ini, harusnya tidak takut akan berbagai macam persoalan, termasuk pesoalan kemiskinan yang dialami warganya. Dalam data yang dipaparkan dalam bab sebelumnya, bahwa sebanyak 28.590 penduduk miskin di Tana Toraja, sebanyak 22.658 adalah orang Kristen dan kemiskinan tersebut belum mampu teratasi dengan baik sampai sekarang. Keadaan tersebut diwakili oleh Filipus dan Andreas yang tidak mampu mengatasi persoalan pemberian makan di dalam teks. Dengan demikian, Gereja harus berupaya semaksimal mungkin untuk membantu dan memberdayakan warganya yang tergolong miskin secara ekonomi tersebut. Gereja sebagai organisasi haruslah memanfaatkan dan memberdayakan setiap potensi yang dimiliki oleh anggota jemaatnya untuk dikembangkan demi kelangsungan hidup mereka. Baik gereja yang sudah maju maupun gereja yang masih berkembang dalam hal perekonomian anggotanya harus sama-sama menyadari intervensi Allah dalam setiap usaha-usaha mereka bahwa dalam ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan, masih ada Allah yang akan menolong dan memberikan solusi yang tidak terduga atas permasalahan tersebut. Dibutuhkan juga orang-orang yang tepat dan berkompeten untuk mengelola diakonia gereja seberapapun kecilnya, sehingga pelayanan dapat dilakukan dengan baik demi kesejahteraan anggota gereja (bdk. Gal. 6:9-10).


[38] Pauline Hoggarth, Menabur Firman,  (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2014) h. 72
[39] B. F Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), h. 341-362.
[40] Dalam ITB menggunakan kata “mencobai”. bahasa Yunani menggunakan kata  πειράζων  adalah kata kerja partisp presen aktif maskulin tunggal dari kata πειράζω yang berarti to test (untuk mengetes/ menguji), tempt (menggoda), attempt (mencoba). Dalam terjemahan KJV dan ASV menggunakan kata “prove” (membuktikan), sedangkan NIV dan NAS menggunakan kata “to test” (untuk mengetes/menguji). BIS juga menggunakan kata “menguji”. Penulis memilih kata menguji.
[41] Kata “yang akan datang ke dalam dunia” (ITB) dalam bahasa Yunani ἐρχόμενος (to come, go) εἰς (into) τὸν (the) κόσμον (world). Jika diterjemahkan “datang ke dalam dunia”. Terjemahan NAS, NIV, menggunakan “to come into the world” (yang akan datang ke dalam dunia), KJV menggunakan “should come into the world” (harus datang ke dalam dunia), ASV menggunakan “that cometh into the world” (yang datang ke dunia). BIS menggunakan “diharapkan datang ke dunia”.
[42] Matthew Hendry, Injil Yohanes 1-11, h. 358.
[43] Bdk. Eko Riyadi, Yohanes “Firman menjadi Manusia”(Yogyakarta: Kanisius, 2011), h. 169.
[44] Bdk. Brian Simmons, Eternal Love, The Passion Translation (USA: BroadStreet Publishing Group, 2015), h. 56.
[45] Matthew Henry, Injil Yohanes 1-11, h. 347
[46] Protagonis merupakan tokoh utama dalam buku, film, permainan video, maupun teater.
[47] Peran tokoh deutragonis adalah ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protagonis
[48] Foil adalah peran yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik (pasif) yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Biasanya ia berpihak pada tokoh antagonis.
[49] Teori aktan diperkenalkan oleh Algirdas julian Greimas seorang peneliti prancis penganut teori struktural (Teeuw, 1984:293). Sebagai seorang penganut teori strukturalisme berhasil mengembangkan strukturalisme naratif dan memperkenalkan konsep satuan naratif terkecil yang disebut aktan.
[50] Matthew Henry, Injil Yohanes, h. 348-349
[51] Dalam teks asli menggunakan kata Μετὰ (with, after) ταῦτα (this, she, he, is) dan dalam terjemahan ASV, KJV dan NAS menggunakan kata “after these things” dan NIV menggunakan kata “some time after this”. BIS menggunakan kata “beberapa waktu kemudian dan ITB menggunakan kata “sesudah itu”
[52] Lih. lampiran
[53] Lih. Tafsiran Matthew Henry Injil Yohanes 1:1-11, hal. 348
[54] Ibid, h. 346
[55] A. S Hadiwiyata, Tafsir Injil Yohanes, h. 84
[56] B. F Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, h. 345
[57] Teks asli ὄρος yang berarti “Mountain” (gunung). Terjemahan ASV, KJV, NAS, NIV menggunakan kata “mountain” begitupun dengan ITB. Sedangkan terjemahan BIS menggunakan kata “bukit”
[58] Yang di maksud sudut pandang tokoh/ karakterisasi di sini ialah tokoh yang muncul dalam suatu cerita dihidupkan oleh pencerita dengan cara tertentu dan cara ini mempengaruhi pandangan pembaca terhadapnya. Pencerita dapat menceritakan secara langsung bagaimana keadaan tokoh tersebut, termasuk perasaannya dan pikirannya. Lih. B. F Drewes, h. 352
[59] Eko Riyadi, Yohanes “Firman Menjadi Manusia” , h. 166
[60] Matthew Henry, Injil Yohanes 1-11, h. 352
[61] Wikipedia: Mishnah adalah catatan tulisan dari hukum lisan Taurat dari orang Yahudi dari generasi ke generasi.  
[62] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap HariInjil Yohanes Pasal 1-7 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), h. 344-345
[63] Matthew Hendry, h. 353
[64]  William Barclay, h. 345

Categories: Karya Ilmiah