“Tuan rumah kebudayaan harus kritis lantas berani menolak tamu yang asal-asalan dalam memahami”



Sudut pandang..
Melihat zaman sekarang ini perkembangan arus globalisasi semakin kencang bahkan telah merasuk hingga ke pelosok negeri. Perkembangan arus ini ditandai dengan maraknya berbagai macam alat-alat teknologi yang memberi kemudahan juga memanjakan para penggunanya dengan menyediakan fitur-fitur yang memberi kenyamanan. Kondisi seperti ini, sadar atau tidak sadar memberi efek, membuat orang-orang terkondisikan sehingga secara perlahan orang terbawa untuk lebih fokus terhadap modernisasi lalu amnesia terhadap hal-hal yang bersangkut paut dengan kebudayaan.
Selain arus globalisasi yang membuat orang tidak fokus terhadap kepercayaan kebudayaan, agama pun demikian. Ini ditandai dengan maraknya gerakan keagamaan yang secara militan mempromosikan tentang doktrinnya. Lalu kemudian melakukan desakralisasi terhadap hal-hal yang bertolak belakang dari yang diimaninya. Proses desakralisasi ini biasanya dilakukan dengan menganggap bahwa budaya sebagai sesuatu yang berlawanan dengan ajaran keagamaan. Termasuk simbol-simbol budaya telah ikut ditransformasi maknanya sesuai dengan kepentingan dan kepercayaannya. Lebih ekstrimnya lagi, beberapa kegiatan keagamaan (ritus-ritual) dalam kebudayaan dilihatnya sebagai sesuatu penyembahan terhadap berhala, misalnya dalam doktrin agama Kristen dalam pemahamannya yang sesuai dengan isi dari Kitab Sucinya yang berbunyikan “ jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi (Keluaran 20:4), supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menterupai berhala apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan; yang berbentuk binatang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang terbang di udara (Ulangan 4:16-17).
Hal ini tentunya memberi dampak negatif terhadap eksistensi juga esensi dalam kebudayaan. Menurut hemat penulis, budaya haruslah terus menerus dilestarikan untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya demi keutuhan indetitas budaya ketorajaan.
Sebagaimana pada umumnya, masyarakat Toraja sangat di kenal ragam budayanya, salah satunya ialah budaya ma’tau-tau. Menurut Th. Kobong, Tau-tau (tau=orang) ialah patung atau boneka sebagai personifikasi dari seseorang yang meninggal dunia. Biasanya golongan bangsawan (Puang) yang di rapa’i di buatkan tau-tau (tau tau nangka), pada upacara penguburannya, dan tau tau lampa (lampa=bambu) untuk bangsawan yang tidak mampu.
Secara bersahaja, jika melihat orang-orang yang memasang poster, foto di kamar atau di ruangan-ruangan, tentunya memiliki makna tertentu, paling tidak hal itu mereka lakukan karena mereka mengidolakannya atau terinspirasi atas jasa-jasanya, kehebatannya, atau juga ketampanan dan kecantikannya. Sama halnya dengan ma’tau-tau keluarga sepakat untuk membuatnya tentu ada pesan dan nilai yang ingin di capai yang berdampak pada keturunannya maupun dirinya sendiri hingga pada makna religius. Di sisi yang lain Tau-tau juga merupakan salah satu identitas Toraja. Dalam Teori sosial identitas memiliki peranan yang sangat penting sperti yabg dikatakan ….
Perhatian penuh ..
Kondisi seperti inilah yang mengantar penulis untuk terlibat dalam suatu penelitian sebagai bentuk keprihatinan dan kecintaan terhadap kebudayaan seperti yang terjadi di Ke’te Kesu’ tepatnya di Gereja Toraja, Klasis Kesu’ Malenong, Jemaat Bonoran dikarenakan dalam realitas kehidupan berjemaat di Jemaat tersebut persoalan mengenai patung Tau-tau ini merupakan bagian dari kehidupan Jemaat. Namun dalam pelaksanaannya orang-orang yang menggunakan patung Tau-tau itu kadang-kadang mengalami kendala dalam hatinya dan bertanya dalam hati bahwa apakah ini sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak, demikian juga pandangan dari orang lain yang memandang mengapa sudah menjadi “Kristen” masih membuat patung Tau-tau. Untuk mengatasi persoalan dilematis inilah penulis ingin mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan teologis terhadap Patung tau-tau ini dan apakah dapat dikontekstualisasikan dalam Jemaat dalam kehidupan orang Kristen. Penulis sadar bahwa budaya memiliki suatu cakupan yang sangat luas, oleh karena itu dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti tau-tau atau replika dari jenasah yang dibuat dalam rupa patung.
Setiap aspek dalam kehidupan tentunya memiliki makna tertentu dalam mengidolakan sesuatu yang dianggap baik untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan suatu kegiatan, misalnya manusia,kebudayaan, bahkan agama terkadang mengidolakan sesuatu untuk dijadikan patokan untuk menjalani setiap apa yang akan dilalui dikarenakan dari apa yang mereka idolakan itu dapat membuat mereka lebih semangat untuk melaksanakan suatu bahkan hal tersebut terkadang pula dapat dijadikan sebagai suatu penyembahan untuk meminta petunjuk dalam menjalankan sesuatu.
Istilah idolatria dibentuk dari dua kata Yunani, yakni eidolon yang berarti “gambar” dan lateria yang berarti “penyembahan” kepada gambar-gambar. Para cendekiawaan telah berupaya membuat defenisi yang berbeda antara idolatria (penyembahan berhala) dan idol (berhala-berhala), dan karenanya menyikapkan kepelikan masalah. Eugene Goblet d’Aviella (1911) misalnya, memakai kata idol untuk mengartikan gambar-gambar atau patung-patung yang dianggap memiliki kesadaran atau jiwa, dan kata idolatria untuk mengartikan tindakan yang menganggap sebuah gambar memiliki kepribadian adi-insani. Sementara itu untuk J. Goetz (1962), idolatria adalah penyembahan kepada gambar-gmabar dengan menekankan corak khusus kultur di seputar objek-objek penyembahan, yang seacar tegas mengungkapkan suatu perasaan ketergantungan yang mutlak, khususnya melalui korban persembahan. Menurut Christoper P. North (1958) menyajikan dua gagsan yang diangkat secara langsung dari para nabi Israel. Pertama, idolatria adalah penyembahan kepada berhala-berhala atau eidolon atau gambar atau lukisan yang dianggap sebagai pengganti yang Ilahi.
Dengan demikian penulis menyimpulkan secara sederhana bahwa idol adalah setiap objek materil yang mendapatkan suatu bentuk penyembahan yang kurang-lebih terstruktur.
Kutukan formal atas idolatria dalam Alkitab Ibrani ditemukan dalam Kel 20:3-5 di mana Allah Israel melarang baik ibadat kepada allah-allah asing maupun membuat patung yang menyerupai-Nya, sebab diyakini bahwa Allah Israel tidak dapat diwakili oleh patung, apa pun. Penegasan dan penjelasan tambahan atas perintah ini termuat dalam Ul 4:12-19. Larangan dalam nas Alkitabiah ini berlaku untuk patung-patung yang menyerupai benda-benda di langit (teriormofis). Larangan ini menyangkut kutukan atas ibadat idolatria kepada Yahweh dan ibadat kepada dewa-dewi palsu. Dalam bukunya Badu menjelaskan mengenai jenis-jenis idolatri dalam praktek yang dilakukan oleh orang Ibrani: Pertama. Larangan Musa, perintah dalam Dekalog, melarang pembuatan patung-patung yang menyerupai Yang Ilahi (Kel 20:4-6; Ul 4:15-19; 5:6-9; Im 26:1). Dalam pemahaman ini Musa menegaskan kepada orang-orang agar tidak membuat patung dan menyembah berhala. Kedua. Penyembahan idolatria kepada Yahweh, yang dimaksudkan dengan hal ini adalah larangan untuk menyembah Yahweh melalui gambar atau symbol ap pun yang dibuat untuk mewakili-Nya. Ada banyak teks Alkitab yang merujuk pada bentuk penyembahan idolatria ini kepada Allah Isrrael. Dalam 1Raj 12:28 misalnya, Yerobeam menampilkan Allah yang dilambangkan oleh seekor lembu jantan sebagai pembebas Israel dalam masa pelarian mereka dari Mesir. Hos 3:4 melawan penggunaan tug-tugu suci (mazbah dari batu – aslinya barangkali sebuah simbol yoni – yang mewakili Ball; bdk. Kej 28:18; Kel 34:13), efod (sebuah benda yang digunakan untuk mencari tahu kehendak Yang Ilahi bdk. 1Sam 23:6-12, 30:7) serta berhala-berhala rumah tangga ( terafim, gambar-gambar yang dianggap sebagai roh-roh pelindung rumah tangga; bdk. Kej 31:19; Hak 17;5; 18:14. Ketiga. Idolatria sebagai penyembahan kepada dewa-dewa palsu, mesti di akui nenek moyang Israel menganut praktik monoteistik namun masih melaksanakannya dalam realitas. Dalam agama mereka, mereka memilih untuk menyembah Allah esa dan benar yang disebut Yahweh dan bersumpah untuk tidak beribadat kepada allah-allah lain – allah yang disembah para bangsa tetangga mereka walaupun mereka mengakui bahwa allah-allah lain itu senyatanya ada. Misalnya, Yos 24:2, 14; Hak 10:6; 1Sam 7:4; 12:10; 1Raj 11:7,33; Am 5:26; 2Raj 21:1-9; 23:4-14; 2Raj17:30-31.
Dalam Katekismus Gereja Katolik – setelah dalam No. 2112 mengulangi celaan terhadap penyembahan berhala seturut Alkitab Perjanjian Lama – Gereja dalam KGK No. 2113 menandaskan bahwa idolatria tidak hanya merujuk pada penyembahan kafir yang palsu tetapi ia menjadikan yang ilahi sesuatu yang sebenarnya bukan Allah. Manusia melakukan dosa idolatria ketika ia menyembah dan menghormati satu ciptaan sebagai ganti Allah, entah itu dewa-dewi atau roh-roh jahat (misalnya iblis), kekuasaan kesenangan, ras, para leluhur, Negara uang, dll. Dalam KGK No. 2113 gereja selanjutnya menegaskan bahwa kehidupan manusia menemukan kesatuannya dalam adorasi atau penyembahan kepada Allah yang esa. Perintah untuk menyembah Allah saja menyelamatkannya dari keterpecahan yang tiada berujung, Idolatria adalah pembelotan cita rasa religisu bawaan manusia. Seorang penyembah berhala adalah ia – menyitr Origenes – yang mengalihkan pahamnya yang tidak dapat dirusakkan tentang Allah kepada segala sesuatu yang bukan Allah.
Kejelasan ...
Setelah menganalisis gagasan tentang idolatria beserta berbagai praktinya, maka menjadi jelas bahwa penghormatan kepada para leluhur memang tampak mirip dengan idolatria, namun berbeda dalam banyak corak dan praktik idolatria. Penghormatan kepada para leluhur bukan ibadat yang menyembah gambar-gambar tak bernyawa atau edolon atau berhala-berhala kesia-siaan. Sebaliknya penghormatan kepada para leluhur berupa ihwal menghormati, menghargai dan mengasihi kehidupan manusia – roh orang-orang mati yang terus berkanjang setelah kematian badannya dan tetap hidup di alam baka serta tetap terlibat dalam suatu persekutuan abadi dengan para sanak kerabat mereka yang masih hidup di dunia. Adalah dengan melihat sebuah patung tau-tau mengigatkan kita akan sebuah panutan hidup.
Penulis : Juwandi Sarong Manik ( Mahasiswa STAKN Toraja)

Categories: Karya Ilmiah