Taukah Kamu: Tongkonan Rumah Leluhur Suku Toraja

Setelah mengenal budaya masyarakat Toraja, kita akan mengenal tongkonan secara lebih detail. Bagi kamu yang tinggal di Toraja, tentu sudah tidak asing lagi dengan tongkonan. Namun, bagi kamu yang berada di luar daerah Toraja, tentu belum begitu memahami rumah adat tersebut. Nah, pada bagian ini kita akan mengenal tongkonan lebih detail, mulai dari ciri khas, fungsi, hingga makna dari simbol-simbol tongkonan.
Setiap daerah menmiliki rumah tradisional dengan jenis dan fungsi yang berbeda-beda. Begitu juga masyarakat Toraja. Ada dua jenis rumah (banua) yang dikenal masyarakat Toraja, yaitu banua tongkonan dan banua barung-barung. Banua tongkonan adalah rumah adat keluarga suku Toraja. Rumah adat ini berbentuk panggung dengan atap melengkung seperti perahu. Sementara itu, banua barung-barung adalah rumah pribadi setiap orang Toraja. Bentuk banua barung-barung tidak terikat seperti banua tongkonan. Namun, ada juga orang yang membangun rumah pribadi dengan bentuk seperti tongkonan. Walaupun bentuknya sama, rumah tersebut tidak dapat dikatakan sebagai tongkonan.
PENGERTIAN TONGKONAN
Sumber Gambar: Kumparan.com
Tahukah kamu apa yang disebut dengan tongkonan? Istilah tongkonan berasal dari kata tongkon yang artinya menduduki atau tempat duduk. Sementara ma’ tongkon berarti duduk berkumpul. Dari sinilah muncul katatongkonan yang merupakan tempat tinggal penguasa adat sebagai tempat berkumpul. Tongkonan terbentuk berdasarkan hubungan kekerabatan atau keturunan. 
Awalnya sepasang su4mi istr1 membangun rumah sendiri atau bersama anak dan cucunya. Rumah itu kemudian menjadi tongkonan dari semua orang yang berada dalam garis keturunan su4mi-istr1 tersebut. Oleh karena itu, tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu, tetapi diwariskan secara turun-temurun oleh marga suku Toraja.
Melalui hubungan tongkonan, masyarakat Toraja dapat dengan mudah menelusuri garis k3turunannya. Tidak menutup kemungkinan seseorang berasal lebih dari satu tongkonan. Hal itu disebabkan oleh adanya pertalian kekerabatan dalam bentuk pernikah4n antara dua tongkonan.
Tongkonan merupakan pusat kepemimpinan di bidang kemasyarakatan dan keagamaan. Pemimpin tongkonan adalah pemangku atau penanggung jawab aluk/pamali (to siriwa aluk sola pemali). Ia juga merupakan pengawal ukuran tata kehidupan (to sikambi’ sukaran aluk). 
Oleh karena itu, seorang pemimpin tongkonan wajib menjamin berlakunya ketentuan- ketentuan aluk dan adat. Dalam kehidupan masyarakat Toraja, tongkonan menjadi sumber rujukan dan penyelesaian masalah bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya. Berbagai pertanyaan dan informasi masalah sosial, budaya, dan keagamaan dapat diperoleh di sana.
Segala konflik dan perselisihan pun dapat diselesaikan. Hal ini sesuai dengan filosofi peletakan tangga masuk tongkonan yang berada di sisi kiri. Masyarakat dengan berbagai pertanyaan dan permasalahannya memasuki tongkonan dari sisi kiri. Setelah di dalam tongkonan, mereka dapat menanyakan permasalahannya kepada pimpinan tongkonan. Pihak-pihak yang berselisih pun dapat mencari penyelesaiannya dengan berdiskusi di dalam tongkonan. Setelah ditemukan jawaban dan penyelesaian masalahnya, mereka keluar dari sisi kanan. 
Jadi, orang memasuki tongkonan dengan berbagai masalah, begitu keluar ia sudah menemukan solusinya.
Referensi
Loading...
Updated: 17 Januari 2019 — 9:10 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *