Ada berapa jenis tongkonan yang kamu ketahui? Bagi orang di luar masyarakat Toraja, mungkin menganggap semua tongkonan sama saja. Bahkan mungkin ada yang sulit membedakan antara tongkonan dan rumah biasa. Pada bagian ini kita akan mengenal jenis-jenis tongkonan berdasarkan kedudukan penguasanya dan jumlah ruang di dalamnya.
Berdasarkan peranan penguasanya, dikenal tiga jenis tongkonan, yaitu tongkonan layuk, tongkonan pekaindoran, dan tongkonan batu a’riri. Bentuk ketiga tongkonan tersebut serupa, hanya saja terdapat perbedaan pada tiang. Tongkonan layuk dan tongkonan pekaindoran memiliki tiang tengah yang disebut a’riri posi. Selain itu, terdapat hiasan berbentuk kepala kerbau (kabogo) dan kepala ayam (katik).
1. Tongkonan Layuk atau Pesio Aluk (Maha Tinggi/Agung)
Tongkonan layuk
Dokumentasi: Weni Rahayu
Di buku: Tongkonan Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja
Banua tongkonan layuk menjadi pusat pemerintah dan kekuasaan sesuai peraturan adat Tana Toraja zaman dahulu. Di tempat inilah diciptakan dan disusun aturan-aturan sosial dan keagamaan masyarakat. Ketua adat atau kepala desa menempati tongkonan tersebut untuk hidup sehari-hari.
Selain itu, tongkonan tersebut juga merupakan tempat untuk melakukan musyawarah adat/rapat penting para pemuka adat. Jenazah orang yang meninggal pun diletakkan sementara di tongkonan tersebut. Secara fisik tongkonan layuk dapat dikenali dari pemakaian ornamen dan jenis ukirannya. Tongkonan tersebut biasanya menggunakan a’riri posi’ (tiang pusat), ornamen kepala kerbau (kabongo), dan simbol kepala ayam (katik).
2. Tongkonan Pekamberan atau Pekaindoran 
Tongkonan Pekamberan
Dokumentasi: Weni Rahayu
Di Buku: Tongkonan Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja
Nama lainnya adalah tongkonan : Keparengngesan, Kabarasan, dan Anak Patalo. Tongkonan ini didirikan penguasa masing-masing daerah untuk mengatur pemerintahan adat berdasarkan aturan tongkonan layuk. Fungsinya sebagai manajer pemerintahan adat. Tongkonan ini dihuni oleh para bangsawan dan keluarga terpandang. Biasanya mereka adalah keluarga kaya yang sering mengadakan acara adat. Selain untuk hidup sehari-hari, tongkonan ini juga digunakan untuk rapat keluarga ketika akan mengadakan acara/upacara adat. Jenazah orang yang meninggal juga disemayamkan di tongkonan ini. Hiasan yang diperbolehkan untuktongkonan pekamberan hanya kepala kerbau (kabongo) dan simbol kepala ayam (katik).
3. Tongkonan Batu A’riri
Tongkonan batu a’riri dari golongan tomakaka
Dokumentasi: Weni Rahayu
Di Buku: Tongkonan Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja
Fungsi tongkonan ini adalah sebagai tali ikatan dalam membina persatuan dan warisan keluarga. Ada dua jenis tongkonan batu ariri, yaitu dari golongan tomakaka (bangsawan) dan dari golongan kaunan (orang biasa). Kedua jenis tongkonan batu a’riri tersebut juga memiliki perbedaan yang telah ditetapkan adat. Tongkonan golongan tomakaka boleh menggunakan ukiran, tetapi disesuaikan dengan kemampuan ekonomi pemiliknya. Namun, tongkonan golongan kaunan tidak diperbolehkan menggunakan ukiran.
Berdasarkan jumlah ruangannya, rumah tradisional suku Toraja dikelompokkan menjadi beberapa jenis berikut.
a. Banua sang lanta/sangborong
Banua sang lanta hanya mempunyai satu ruangan. Ruangan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti memasak, tempat kerja, hingga tempat tidur. Rumah ini biasanya digunakan
untuk para pengabdi kepala adat.
b. Banua Duang Lanta
Banua duang lanta memiliki dua ruang, yaitu ruang sumbung dan ruang sali. Fungsi ruang sali antara lain untuk ruang kerja, dapur, dan tempat meletakkan jenazah sementara. Sementara itu, ruang sumbung digunakan untuk istirahat atau tidur. Rumah ini tidak memiliki peranan adat, seperti tongkonan batu a’riri.
c. Banua Tallung Lanta
Banua Tallung Lanta memiliki tiga ruang, yaitu ruang sumbung, sali, dan tangdo. Ruang sumbung digunakan untuk istirahat atau tidur. Ruang salimemiliki beberapa fungsi, seperti untuk ruang kerja, dapur, dan tempat meletakkan jenazah sementara. Sementara itu, ruang tangdo berfungsi sebagai tempat upacara pengucapan syukur dan tempat istirahat para tamu. Pembagian ruang tiga ruangan ini terdapat pada tongkonan pekamberan.
d. Banua Patang Lanta
Banua patang lanta memiliki empat ruangan, yaitu sumbung, sali iring sali tangga, dan tangdo. Terdapat pembagian ruang sali pada jenis rumah ini. Sumbung berfungsi sebagai ruang tidur pemangku adat. Sali iring digunakan sebagai ruang dapur, ruang kerja, tempat tidur abdi adat, dan tempat menerima tamu. Sali tangga berfungsi sebagai tempat kerja, ruang tidur keluarga dan tempat jenazah  yang akan diupacarakan. 
Sementara itu, tangdo digunakan sebagai ruang pemuka adat dan tempat upacara penyembahan. Banua patang lanta ini terdapat pada tongkonan tertua dari penguasa adat yang memegang fungsi adat tongkonan layuk atau pesio’ aluk.

Sumber: Buku Tongkonan Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja

Categories: Budaya Toraja