Konon menurut cerita turun temurun, leluhur orang Toraja diturunkan dalam tiga tahap, yakni to’ sama (tahap 1), tahap to Makaka (tahap 2) dan to Matasak (tahap 3). Mitos ini tetap melegenda secara lisan turun temurun di kalangan masyarakat Toraja.

Alkisah nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan tangga yang disebut Eran di Langi’ di Rura, Bamba Puang.Tangga tersebut kemudian menjadi media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa). konon manusia yang turun ke bumi ini, telah dibekali aturan keagamaan yang disebut Aluk, yang menjadi sumber budaya dan pandangan hidup leluhur orang Toraja. Aluk mengandung nilai-nilai religius yang mengarah kepada Puang Matua yang disembah sebagai pencipta manusia, bumi dan segala isinya. Alam semesta menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga), dunia manusia (bumi) dan dunia bawah.

Pada awalnya surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak diatas, ditutupi dengan atap berbentuk pelana. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo’ Ongon-ongon (dewi gempa bumi) Pong Lalondong (dewa kematian),Indo’ Belo Tumbang (dewi pengobatan) dan lainnya.

kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara-upacara pemakaman, disebut to minaa (seorang pendeta Aluk). Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama dan kebiasaan. Aluk mengatur kebiasaan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa yang lainnya.

Ajaran Aluk Todolo mengemukakan bahwa di luar diri manusia terdapat tiga unsur kekuatan yang wajib dipercayai akan kekuatan dan kebesarannya serta kuasanya. ketiga untuk tersebut yakni:

  1. Puang Matua (Sang Pencipta)

Puang Matua merupakan suatu unsur kekuatan yang paling tinggi sebagai pencipta yang menciptakan seluruh isi bumi. Menurut ajaran Aluk Todolo, Puang Matua-lah yang menciptakan segala isi dunia ini, diantaranya manusia pertama yang dinamai La Ukku. Nenek manusia yang pertama yaitu Datu La Ukku ditugaskan oleh Puang Matua untuk memberikan suatu aturan yang dalam bahasa Toraja disebut Aluk. Aturan ini mengandung ajaran kepada manusia untuk menjalankan kewajiban utama didalam mengadakan persembahan.

Ajaran Aluk Todolo ini mengajarkan bahwa Puang Matua memberikan kesenangan dan kebahagiaan sesuai dengan amal atau kebaikan serta kejahatan. Bilamana lalai dalam melakukan pemujaan, maka akan dikutuk oleh Puang Matua dan sebaliknya apabila patuh, maka Puang Matua akan memberikan kebahagiaan dan keselamatan.

2. Deata-deata (Sang Pemelihara)

Setelah Puang Matua menurunkan sukaran Aluk kepada nenek manusia pertama, Puang Matua memberikan kekuasaan kepada deata-deata untuk pemeliharaan dan penguasaan terhadap bumi ini. Hal ini bertujuan agar manusia dapat mendiami dan menggunakan bumi ini untuk menyembah dan menempatkan Puang Matua pada tempat yang Mulia dan terhormat. menurut kepercayaan Aluk Todolo, Puang Matua membagi alam ini menjadi tiga bagian yang merupakan kekuasaan tiga deata utama yaitu:

a. Deata Tangngana Langi’ (Sang Pemelihara Langit), yaitu deata yang bertugas menguasai dan memelihara seluruh isi langit dan cakrawala.

b. Deata Kapadangan (Sang Pemelihara pada permukaan bumi), yaitu deata yang bertugas memelihara dan menguasai seluruh isi dan permukaan bumi

c. Deata Tangngana Padang (Sang Pemelihara isi dari pada Tanah.tengah bumi) yaitu deata yang bertugas menguasai dan memelihara segala isi tanah, sungai, laut serta seluruh isi bumi.

Bagi kelancaran tugas dari ketiga deata utama diatas, maka ketiganya bertugas membawahi sejumlah deata-deata tertentu seperti deata sungai, hutan, angin dan sebagainya.

3. To Membali Puang (Leluhur sebagai pengawas manusia turunannya)

Unsur ketiga menurut ajaran Aluk Todolo adalah arwah para leluhur yang telah menjelma jadi dewa yang dikenal dengan sebutan To Membali Puang. To Membali Puang didalam kepercayaan Aluk Todolo bahwa Puang Matua memberikan kekuasaan sepenuhnya kepadanya untuk menguasai perbuatan dan perilaku serta memberikan berkah kepada manusia turunannya. Puang Matua mewajibkan pula manusia memuja dan menyembah kepada To Membali Puang bersama Puang Matua dan kepada deata-deatanya

ketiga unsur diatas dipercaya sebagai tiga kekuatan gaib yang harus disembah oleh manusia yang dilakukan dengan cara mempersembahkan sesajian dan kurban-kurban yang terdiri atas hewan-hewan seperti kerbau, babi atau ayam. biasanya persembahan-persembahan dilakukan secara terpisah dalam waktu yang berbeda-beda dan dalam upacara yang berbeda pula

peneliti dalam tulisan ini berasal dari kampus Universitas Kristen Satya Wacana


Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).