Dalam pembangunan tongkonan sistem struktur yang digunakan adalah sistem konstruksi pasak (knock down). Tahukah kamu apa sistem konstruksi pasak itu? Yaitu teknik konstruksi dengan sistem sambungan tanpa paku dan alat penyambung selain kayu. 
Dalam pandangan agama leluhur Aluk To Dolo, struktur tongkonan dibagi menjadi tiga bagian utama. Ketiga bagian tersebut adalah bagian bawah atau kaki (sallu banua), bagian tengah atau badan (kale banua), dan bagian atas (rattiang banua). Mari kita lihat pembagiannya pada gambar berikut ini.

1. Bagian Bawah atau Kaki (Sallu Banua)

Dalam kepercayaan orang Toraja sallu banua disebut sebagai dunia bawah. Fungsinya adalah sebagai kandang kerbau atau babi. Bagian ini merupakan kolong rumah yang terdiri atas pondasi, kolom atau tiang (a’riri), balok, dan tangga.

a. Pondasi

Pondasi terbuat dari batuan gunung yang disebut batu paradangan. Di atas batu tersebut diletakkan kolom/tiang penyangga tongkonan tanpa adanya pengikat.
b. Kolom/Tiang (A’riri)
Kolom pada banua tongkonan berbentuk persegi empat dan terbuat dari kayu uru. Sementara itu, kolom pada alang berbentuk bulat dan terbuat dari kayu nibung atau bangah, yaitu sejenis pohon palem. Perbedaan bentuk tersebut menunjukkan perbedaan fungsi bangunan. Tongkonan digunakan untuk manusia, sedangkan alang digunakan untuk barang (padi).
Pada bagian tengah sallu banua terdapat tiang simbolis yang berfungsi sebagai pusat rumah atau ibu tiang.
Kolom pada Alang berbentuk bulat dan terbuat dari kayu banga
Letaknya di tengah agak ke belakang dengan ukuran 22×22 cm. Tiang tersebut bernama a’riri (tonggak) possi (pusat) atau tonggak pusat. Tiang tersebut merupakan lambang menyatunya manusia dengan bumi. Keberadaannya mudah dikenali mudah dikenali dari hiasan ukirannya.
c. Balok
Balok menjadi pengikat antar kolom
Balok merupakan pengikat antara kolom-kolom sehingga dapat mencegah terjadinya pergeseran tiang dengan pondasi. Untuk menghubungkan balok dengan kolom digunakan samburngan pasak, bukan dari paku atau baut.
Pada tongkonan baloknya berjumlah 3 buah, sedangkan pada alang berjumlah 1 buah, yaitu sebagai pengikat pada bagian bawah. Bahan yang digunakan untuk membuat balok adalah kayu uru.
d. Tangga
Pada bagian sallu banua juga terdapat sebuah tangga untuk naik ketongkonan. Biasanya tangga terletak di bagian kanan rumah. Tangga tersebut dibuat dari bahan kayu uru.
2. Bagian Badan Rumah (Kale Banua)
Dalam kepercayaan orang Toraja kale banua disebut sebagai dunia tengah (lino). Fungsinya sebagai tempat untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Kegiatan tersebut menyangkut seluruh segi kehidupan manusia dalam hubungannya alam semesta. Bagian kale banua terdiri atas lantai, dinding, pintu, dan jendela.
a. Lantai
Lantai pada tongkonan disusun di atas pembalokan lantai. Arahnya memanjang sejajar dengan balok utama. Bahan yang digunakan adalah papan kayu uru. Sementara itu, bahan lantai pada alangterbuat darikayupalem atau banga.
b. Dinding
Dinding pada tongkonan disusun satu sama lain dengan sambungan pada sisi-sisi papan. Pengikat utamanya bernama sambo rinding. Untuk dinding yang berfungsi sebagai rangka, bahannya menggunakan kayu uru atau kayu kecapi.
Sementara itu, dinding pengisinya menggunakan bahan kayu enau. Dinding bagian luar dipenuhi ukiran dengan berbagai motif. Sementara dinding bagian dalam tidak menggunakan ukiran.
c. Pintu
Pintu di banua tongkonan dapat ditemukan pada ruang sali. Fungsinya sebagai tempat keluar masuk penghuni. Selain itu, pintu juga berfungsi sebagai jalan keluar jenazah pada saat pemakaman. Biasanya letak pintu masuk berada di sebelah utara atau timur. Hal itu berkaitan dengan kepercayaan Aluk todolo yang mereka anut. Utara dipercaya memiliki arti kebaikan. Nenek moyang mereka berasal dari arah utara. Angin pun selalu datang dari arah utara. Sementara itu, arah timur berarti kebahagiaan dan keceriaan. Hal itu sesuai dengan arah terbitnya matahari yang berasal dari sebelah timur.
d. Jendela (Pentiroan)
Jendela berfungsi sebagai tempat masuknya aliran angin dan cahaya matahari dari berbagai arah mata angin. Setiap tongkonan umumnya memiliki delapan buah jendela. Di setiap arah mata angin masing-masing terdapat dua jendela.
Jendela-jendela tersebut memiliki nama sebagai berikut.
1) Pentiroan Tingayo, yaitu dua jendela yang letaknya di bagian depan rumah menghadap ke utara. Jendela ini dapat terbuka dan tertutup setiap saat.
2) Pentiroan Matallo, yaitujendela yang letaknya di bagian timur rumah, dipasang di tengah bangunan pada ruang tengah. Jendela ini dibuka pada pagi hari dan pada saat upacara pengucapan syukur.
3) Pentiroan Mampu’, yaitu jendela yang letaknya di bagian barat  rumah. Jendela ini dibuka pada saat ada upacara pemakaman.
4) Pentiroan Pollo’ Banua”, yaitu jendela yang letaknya di bagian belakang rumah menghadap ke selatan. Jendela dibuka pada saat upacara kematian atau jika di dalam ruangan ada orang yang sakit.
3. Bagian Atas atau Kepala (Rattiang Banua) 
Bagi masyarakat Toraja rattiang banua diyakini sebagai tempat Puang Matua sehingga dianggap suci. Bagian in merupakan penutup seluruh struktur rumah. Fungsinya adalah sebagai tempat barang-barang seperti peralatan rumah tangga, kain, dan sebagainya.
Bagian rumah yang terdapat pada rattiang banua adalah atap. Atap tongkonan dibuat dari bambu pilihan yang disusun tumpang tindih. Bambu-bambu tersebut dikait oleh beberapa reng bambu dan diikat dengan tali bambu/rotan. Model susunan seperti itu dapat mencegah masuknya air hujan melalui celah-celah. Selain itu, dapat berfungsi sebagai ventilasi pada tongkonan yang tidak memiliki celah pada dindingnya.
Susunan bambu diletakkan di atas kaso yang terdapat pada rangka atap. Jumlah susunan berkisar antara 3–7 lapis. Setelah itu disusun mengikuti bentuk rangka atap sehingga membentuk seperti perahu. Jumlah lapisannya tidak ditentukan.
Bagian ujung-ujung atap yang menjorok ke depan dan ke belakang disebut longa. Dengan longa yang agak mengecil pada bagian ujungnya membuat atap banua tongkonan dan alang menjadi unik dan indah. Longa disangga oleh tiang tinggi yang disebut tulak somba. Pada tulak somba inilah biasanya dipasang tanduk kerbau yang dikorbankan pada saat upacara kematian.
Sumber: Tongkonan Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja
Categories: Budaya Toraja