Enrekang adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Jarak dari ibu kota (Makassar) ke Enrekang dengan jalan darat sepanjang 235 km. Kabupaten Enrekang terletak antara 3º 14’36” LS dan 119º40’53” BT. Artinya sebelah utara Kota Makassar. Memiliki luas wilayah 1.786,01 km² dan berpenduduk sebanyak ± 190.579 jiwa. Ibu kota kabupaten ini ialah Kota Enrekang. Yang mana pelantikan Bupati Enrekang pertama pada tanggal 19 Februari 1960 juga merupakan hari jadi Kota Enrekang.

Batas wilayah kabupaten Enrekang adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah timur dengan Kabupaten Luwu, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidrap dan sebelah barat dengan Kabupaten Pinrang. Kabupaten Enrekang mempunyai wilayah topografi yang bervariasi berupa perbukitan, pegunungan, lembah, dan sungai dengan ketinggian 47–3.293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Yaitu sekitar 84,96% dari luas wilayah Kabupaten Enrekang sedangkan yang datar hanya 15,04%. Gua, gunung, sungai, dan air terjun yang menyejukkan mata. Semua ada di bumi Enrekang.

Terdapat dua gunung di perbatasan Enrekang, yaitu Gunung Latimojong berada di perbatasan Enrekang-Sidrap, memiliki tinggi 3.305 meter dan Gunung Rante Mario berada di perbatasan Enrekang-Luwu dengan ketinggian 3.470 meter. Sejak abad XIV, daerah ini disebut Massenrempulu’, artinya daerah pinggiran gunung. Ada juga yang mengatakan bahwa kata Enrekang berasal dari bahasa Bugis yang berarti daerah pengunungan.

Enrekang terbagi menjadi 12 kecamatan, 129 wilayah desa/kelurahan. Itulah sebabnya bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik berbeda yaitu bahasa Duri, Enrekang, dan Maiwa. Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla’, Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Enrekang digunakan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana, dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Maiwa didominasi oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin.

Kota Enrekang seringkali juga disebut sebagai kota Dangke. Dangke adalah makanan tradisional yang hanya bisa ditemukan di Kabupaten Enrekang. Dangke terbuat dari fermentasi susu sapi atau kerbau yang diolah secara tradisional, tekstur seperti tahu dan memiliki rasa yang mirip dengan keju.

Kota Enrekang terbentang Sungai Saddang. Yang termasuk sungai terpanjang di Sulawesi memiliki panjang 150 km. Merupakan Daerah Aliran Sungai di Tana Toraja, Enrekang, Polewali Mandar dan Pinrang. Kota Enrekang dilalui dua buah sungai, yaitu Sungai Saddang dan Sungai Mata’allo kedua sungai tersebut menyatu di derah Massemba Enrekang.

Adanya jembatan di Kota Enrekang, tentu sangat penting berhubung kedua sungai besar tersebut membelah bagian-bagian Enrekang. Terdapat 3 Jembatan yang saat ini difungsikan masyarakat, yaitu Jembatan Gantung yang dibangun pada jaman penjajahan Belanda dan Jembatan Baru yang tidak baru lagi melintang di atas Sungai Mata’allo, serta Jembatan Penja yang melintang panjang di atas Sungai Saddang.

Jembatan Gantung yang melintang di atas Sungai Mata’allo tersebut dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Kondisi saat ini hanya diperuntukkan khusus pejalan kaki, selain karena lebar terbatas di mana hanya 1 kendaraan roda empat dapat melintas juga bagian jembatan sudah tua, sehingga kebijakan tersebut untuk memelihara dan menjaga agar jembatan bersejarah tersebut berumur lama.

Jembatan yang kedua adalah, Jembatan Baru. Dibangun sekitar tahun 1970-an dengan pertimbangan, Jembatan Lama atau jembatan gantung sudah terbatas kemampuannya. Berjarak sekitar 600 m dari jembatan gantung, bagian barat jembatan berdekatan dengan Bank BRI, dan Masjid Takwa Muhammadiyah Enrekang. Sedangkan di bagian timur berdekatan dengan Dinas Dikpora dan Pesantren Modern Darul Falah Enrekang. Saat ini Jembatan Baru inilah sebagai jalur utama lintas Sulawesi melalui Enrekang menuju Tana Toraja, dan Sulawesi Tengah.

Kemudian, Jembatan Penja sekarang ini merupakan jembatan terpanjang di Enrekang karena melintang lurus di atas sungai Saddang. Berada di pinggiran barat kota Enrekang menghubungkan ke daerah Mambura Enrekang dan Batulappa Pinrang. Jembatan Penja cenderung sepi karena bukan berada di lintas utama kendaraan antar kabupaten/provinsi namun, sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam perdagangan dan pengangkutan hasil bumi. Pada pagi dan sore hari, akan nampak anak muda dan mudi menikmati suasana jembatan sambil beraktivitas. Salah satunya adalah balapan motor atau sekadar duduk mengobrol di tepi jembatan.

Salah satu objek wisata yang tersohor di daerah Enrekang, adalah permandian Lewaja yang juga berhampiran dengan air terjun Kajejen yang hingga kini tidak pernah sepi pengunjung.

Gunung Buttu Kabobong. Gunung ini terkenal karena bentuknya sangat unik. Gunung yang kerap pula disebut Gunung Nona bisa disaksikan dari pinggir jalan raya, saat menuju kota Enrekang. Gunung Nona yang tersendiri bentuknya; mirip alat vital wanita. Tersimpan cerita melegenda. Menurut kabar, gunung tersebut terbentuk akibat anak raja berselingkuh dengan wanita desa yang jelita. Alam pun marah sehingga terbentuklah Gunung Nona. Wallahualam bissawab.

Di daerah ini (jalan poros Enrekang-Toraja) juga terdapat Gunung Bambapuang yang memiliki ketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut. Jika beruntung, siapapun bisa menyaksikan panorama matahari terbit dan matahari terbenam yang memukau dari lereng gunung tersebut. Saat itu, bola matahari yang berwarna kemerahan tampak begitu jelas. Di lereng gunung itu pula, terdapat sejumlah bunker milik tentara Jepang.

Menurut mitos dan legenda yang diyakini masyarakat setempat, Gunung Bambapuang adalah tempat di mana pemerintahan dan peradaban manusia di Sulawesi Selatan, bermula. Tempat itu persisnya berada di Lura Bambapuang, salah satu kawasan yang dialiri Sungai Saddang.

Orang-orang Bugis menghormati tempat tersebut dan menyebutnya ‘tana rigalla tana riabbusungi’ (negeri suci yang dihormati). Bahkan hingga kini, masyarakat Toraja yang merupakan tetangga dari daerah ini, selalu menyerahkan sekerat daging bagi leluhurnya di Bambapuang setiap kali mereka menggelar pesta.

Juga setiap 8 tahun sekali, akan ada perayaan pesta panen besar-besaran yang diadakan di Desa Kaluppini. Meskipun bukan berpusat di Kota Enrekang, tetapi pesta adat ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat, hampir seluruh penduduk Enrekang, juga mereka yang berada di perantauan. Ketika pesta dimulai akan berakhir setelah 4 hari berturut-turut. Dengan keriuhan yang antusias. Dan orang-orang berdatangan silih berganti.

Ada begitu banyak ragam budaya, kuliner, dan situs wisata di Kota Enrekang yang tidak sempat dituliskan di sini, sungguh Kota Enrekang akan menjadi objek menarik bagi penikmat jelajah, salah satu alternatif daerah yang harus dikunjungi jika ke Sulawesi Selatan.

Penulis: Ruhati

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).