Khotbah Duka Cita Ayub 1:20-22 “Berkat Diatas Penderitaan”

1:20 Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,
1:21 katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
1:22 Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Ayub 1: 20-22 nas 21b Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah Nama Tuhan”   

Pendahuluan

Hari ini kita akan pergi memakamkan  sdr kita terkasih dengan hormat saya sebut namanya Ny. Caecilia Banna’ atau mama’ andre atau pangggilan akrabnya Nona. suami dan anak serta Segenap keluarga sahabat dan handai taulan merasakan dukcita yang amat dalam. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk penyembuhannya namun Tuhan berkehendak lain sesuai dengan rencananya. Tetapi percayalah bahwa ini adalah yang terbaik dari segala usaha dan perjuangan kita.

Kegelapan datang dalam berbagai bentuk dan bukan sebagai pengunjung yang ramah. Pengalaman hidup kita  dimana kegelapan, kesuraman dan kekacauan berkuasa” sangatlah bermacam-macam. Arti kata kegelapan adalah : tertutup, tersembunyi, tidak mudah dimengerti, tidak jelas, kabur, tidak berpengharapan, sebagaian atau tanpa cahaya” gambaran ini benar-benar menyentuh pengalaman manusia tentang kegelapan. Kegelapan dalam hati manusia termasuk kesepian, kehancuran, kematian, ketakutan, kesedihan, kehilangan, putus asa, kecil hati, dukcita, celaka, kekosongan, kesuraman, kengerian, goncangan jiwa, tersandung, tanpa arah dll.

Menjadi orang beriman tidaklah selalu mudah. Kita harus selalu siap karena hidup kita akan selalu dimurnikan dengan berbagai ujian. Ujian-ujian yang datang itu kadang-kadang terasa memberatkan, menyedihkan, dan menghancurkan hati. Akan tetapi, Tuhan berfirman bahwa ujian itu berfungsi seperti pemurnian emas di dapur peleburan. Barangsiapa tahan uji, ia akan bersinar seperti emas murni. Namun, tidak jarang, dalam menghadapi ujian, orang menjadi bingung dan kehilangan akal, terbenam dalam kesedihan yang berkepanjangan. Bahkan kadang-kadang, orang lain menilai ujian yang dialaminya sebagai hukuman Tuhan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. (waktu saya kecil kalau ada sesuatu yg terjadi pada sesorang sering saya mendengar karena melakukan ini, atau itu. Di Toraja sering dinamakan undaka’ penaa.)

Pemahaman Teks

Pertanyaan bagi kita sekarang adalah Mungkinkah kesengsaraan dan kesedihan itu merupakan hukuman Tuhan atas dosa-dosa  kita? Jawabannnya : Mungkin saja. Namun, tidak selalu demikian. Ada kalanya, kesedihan dan penderitaan itu merupakan ujian yang bertujuan untuk makin memurnikan iman kita. Alkitab memberikan teladan dalam soal ini. Ayub adalah sosok hamba Tuhan yang setia. Dalam ukuran manusiawi, ia tidak pernah meninggalkan ketaatannya kepada Allah. Namun, penderitaan secara bertubi-tubi datang silih berganti menimpanya. Anak-anaknya mati satu demi satu, hartanya musnah sebagian demi sebagian. Bahkan kemudian, ia harus menderita sakit yang menjijikkan, sehingga orang-orang menjauhinya.

Dalam keadaan yang demikian, istrinyapun ikut mempersalahkan kesetiaannya kepada Tuhan dan membujuknya agar menghujat Tuhan. Teman-temannya mencemooh sebagai sebagai orang yang kena tulah Allah. Di tengah penderitaan yang berat, tidak ada satupun sahabat yang memberikan penghiburan kepadanya. Sebaliknya, mereka justru menambah luka hatinya. Memang demikian yang biasa terjadi. Ketika seseorang kaya raya, banyak orang berusaha menjadi orang-orang terdekatnya. Akan tetapi, ketika orang tersebut jatuh miskin dan menderita, mereka lari meninggalkannya, bahkan berpura-pura tidak mengenalinya.

Apapun yang dialami ayub seiring dengan kehilangan pengharagaan  terhadap dirinya. Dia tidaklh berputus asa melainkan ia bangkit dan imannya  tetap kuat kepada Tuhan.

Meskipun  kegelapan menimbulkan semua penderitaan  dan kesengsaraan, masa-masa  suram dalam hidup kita dapat menjadi berkat bagi pertumbuhan kita. Kita tidak akan pernah hidup tanpa detik-detik kegelapan yang merasuk dalam kehidupan kita. Inilah jalan hidup yang membuat kita semakain bertumbuh. Entah kegelapan itu  menjadi berkat atau tidak, tentu saja tergantung pada sikpa kita dan bagaimana kita menyikapinya.

Saat kita berjalan melintasi kegelapan  dalm hati kita, ada dua kebenaran  yang harus kita tetap pegang erat. Pertama , kegelapan dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Kedua. Suatu hari kita akan tiba dimana kegelapan akan lenyap, dan terang akan bertahta lagi. Kita tidak harus duduk diatas setumpukan kegelpn selamanya seperti yang dialami ayub, tetapi kita harus menerima kedaan tersebut untuk sementara waktu. Sebab didalam Krsituslah ada kehidupan yang kekal.    

Secara manusiawi, Ayub mengeluh di hadapan Allah. Apakah dosa yang telah dilakukannya, sehingga Allah menimpakan kemalangan berat atas dirinya? Ia nyaris menjadi putus asa. Ia protes kepada Allah atas penderitaan yang dialaminya.

Namun, tatkala Tuhan menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, serta menyatakan bahwa kuasa itu ada padaNya hanya ada pada Tuhan, maka Ayubpun menjadi sadar siapa dirinya. Hanya Tuhanlah benteng perlindungan dan sumber segalanya. Oleh karena itu, di puncak pergumulannya yang berat, Ayub tidak menghujat Tuhan. Sebaliknya, ia justru mengungkapkan hikmat orang beriman, ”Tuhan yang memberi Tuhan pula yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Amin

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *