Khotbah Ibadah Oikumene “Supaya Mereka Semua Menjadi Satu”

Yohanes 17

Khotbah Ibadah Oikumene, Yesus mempunyai visi dan kerinduan besar, supaya murid-muridNya dan semua orang percaya bersatu, mejnadi satu Esa. Yesus menegaskan kepada murid-muridNya bahwa kesatuan orang percaya dan Gereja meru[akan syarat mutlakn berhasil atau tidak berhasilnya misi Gereja uyaitu untuk menyaksikan dan meyakinkan dunia (seperti kita ucapkan dalam pengakuan iman rasuli) bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruslamat Dunia.

 Karena itulah Yesus tidak bosan-bosannya mengajar agar murid-muridNya saling mengasihi. Karena dengan saling mengasihilah mereka menjadi satu, seperti yang dikatakan oleh ungkapan berikut “ kita tidak mungkin bersatu kalau tidak saling mengasihi, kita tidak mungkin saling mengasihi kalau kita tidak saling mengenal, kalau kita tidak salng bertemu.

Dalam Yohanes 13:34-35, Yesus mengajak murid-muridNya untuk saling mengasihi. Dia mengatakan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Allah telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mangasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

Dalam kesempatan lain seperti kita baca dalam Yohanes 17, sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, Dia berdoa syafaat untuk kesatuan para murid. Doa ini cukup panjang, dan merupakan doa Yesus terpanjang dibandingkan dengan doa-doaNya yang lain seperti Doa Bapa Kami, doa di Getsemani dan doa-doa lainnya.

Jadi, Dia hanya mengajrkan dan mengkhotbahkan kesatuan itu, tetapi yang paling penting mendoakan kesatuan itu. Bukankah kita sering menghabioskan waktu, dana dan tenaga, berbicara, serta berteologi. Kita sering membuang-buang banyak kertas, duit dan terus berdebat tentang kesatuan Gereja tetaai berapa kali kita berdoa untuk kesatua gereja.

Dalam doa-Nya, Yesus antara lain berkata, Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKuoleh pemberitaan mereka spaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engakulah yang telah mengutus Aku. Ada tiga permohonan dalam doa Tuhan Yesus ini :

  1. Supaya mereka semua menjadi satu.
  2. Agar mereka juga di dalam Kita
  3. Supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mangutus Aku.

Ketiga permohonan ini tergantung satu sama lain. Artinya kalau orang percaya berusaha memelihara kesatuan Roh : satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah, da Bapa dari semua, maka sesungguhnya tidak ada alasan untuk perpecahan, tidak ada alasan untuk saling mengklaim kebenaran, tidak ada alasan untuk saling mencuri domba, tidak ada alasan untuk saling tidak menerima baptisan, tidak ada alasan untuk tidaka dapat mengadakan Perjamuan Kudus bersama-sama.

Kalau kita (Gereja) sudaj menghayati kesatuan itu, maka dunia akan tahu dan akan percaya bahwa orang-orang Kristen itu adalah murid-murid Yesus, dan sekaligus dunia juga akan tahu bahwa Yesus Kristus adalah utusan Allah, dan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Guru. Dengan kata lain, kalau Gereja dan semua orang Kristen mempunyai prinsip : In Essential Unity: In non essentials Liberty: Ini all thinks love and charity, maka degree of connectivity sebagaimana didoakan Tuhan Yesus akan semakin tampak. Untuk dapat saling mengnal dan menerima, kita perlu menganal berbagai aliran yang terdapat dalam gereja sepanjang zaman.

Saya baru mendapat sebuah buku karya Richard J. Foster berjudul Streams of living waters: selebrating the great traditions of Christian Faith. Dalam buku ini diuraikan paling sedikit ada enam aliran air hidup streams water artinya tradisi iman Kristen, bagaimana orang Kristen menghayati imannya sepanjang zaman.

Pertama adalah aliran “The Comtemplative Tradition”. Aliran ini mengutamakan doa , pertarakan, puasa, askese untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Airan ini sangat merindukan pengahayatan akan kasih, kedamaian, sukacita, pengosongan diri, semangat yang berapi-api, dan hikmat. Tokoh dari aliran ini dalam sejarah gereja adalah Yesus sendiri, yang pernah berpuasa 40 hari, dimuliakan di atas bukit, berdoa di taman Getsemani, selalu menyisihkan waktu pagi-pagi benar ke tempat yang sunyi untuk berdoa: juga Yohanes (di Fatmos), Benedictines (abad ke 6), Gerekan Moravia (abad ke 16), Pietisme (abad ke 17) dan lain sebagainya. Dalam gereja sekarang aliran ini hidup lewat praktik Taise, Gua-gua doa (mountain prayer), dsb.

Kedua, aliran Holiness Tradition, yang mengutamakan kesalehan, hidup suci, displin, kemuridan, dan pengendalioan diri dalam rangka spiritual formation. Yesus mengatakan, karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna (Mat. 5 : 48). Yesus adajuga sumber aliran Air Hidup, dimana Dia selalu memelihara hidup kudus. Dalam sejarah Gereja gerekan Anabaptis, puritan, Holiness Movement, Keswick Movement, adalah jenis-jenis penganut aliran ini.

Ketiga, adalah The Charismatic Tradition, yang mengutamakan kuasa doa, Roh Kudus, Mukjizat, Bahasa Lidah, Baptisan Roh dsb. Yesus adalah Pengkotbah Kharismatik juga. Setelah Dia menyampaikan khotbah di bukit, takjublah orang banyak itu mendengar pegajaranNya. Yesus melakukan mukjizat-mukjizat, dibaptis Roh Kudus, dsb. Dalam sejarah Gereja kita mengenal gerekan Montanus (abad ke 3), gerekan ordo Fransiscan (abad ke 13), gerekan Pentakosta, gerekan Kharismati, Modern Liturgicak Renewal. Tokoh terkenal sekarang David Yonggi Cho (Yoido Full Gospel) di Korea Selatan, yang mempunyai jemaat jutaan orang.

Keempat, “The Sosila Justice Tradition”, yang menekankan belas kasihan, keadilan, perdamaian, syalom, etika sosila, dsb. Yesus adalah tokoh utamanya yang diurapi untuk menyampaikan Kabar baik keada orang miskin, membebaskan orang tawanan, memberi penglihatan, kepada orang buta, membebaskan orang yang tertindas, dst (lih. Luk. 4:18-20). Agaknya ayat ini meriupakan ayat emas dari gereja-gereja di Indonesia (baca ;PGI). Tokoh dalam sejarah gereja ini adalah : Mother Theresa, Marthin Luther King, Desmon Tutu, dsb.

Aliran kelima bernama “The Evangelical Tradition” yang menekankan kebenaran Alkitab sebagai yang tidak bersalah (inerasi of the Bible), Injili, Keselamatan, Mision, back o the Bible, dst. Yesus adalah tkoh utama gerekan Injili ini. Dia mangatakan siapa yang mengubah satu noktah dari Firman-Ku akan celaka” Tokoh dan gerekan aliran ini natra lain “ Augusthinus, Luther (Sola Scriptura), John R. Moth, Billy Graham, dsb.

Aliran keenam, “The Incarnational Tradition”, yang mengutamakan ibadah, liturgi dan sakramen. Bagi mereka hidup adalah ibadah. Segala tempat adalah “Holy Ground” (tanah kudus). Mereka ini banyak menyumbang untuk pelestarian lingkungan dsb. Aloiran ke Kristenan jenis ini adalah Gereja Ortodox dan Renaissance.

Semua aliran air hidup ini bersumber (mengalir) dari satu air hidup yang benar, yaitu Yesus Kristus. Semua air itu baik, layak diminum, tidak tercemar, dan membawa kehidupan yang kekal. Marilah kita tidak saling ,menonjolkan airnya dan mengeruhkan air orang lain. Tetapi baiklah kita saling mengecap berbagai jenis air hidup dalam keenam alirannya tersebut. Jika demikian, maka kesatuan gereja keesaan tubuh Kristus akan dapat kita tampakkan kepada dunia, dan dunia akan mengakui kita sebagai murid-murid Yesus Kristus dan Yesus Kristus adalah Tuhan. Tesis ini sudah terbukti dalam gereja mula-mula, ketika orang Kristen mula-mula tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, saling menolong, sehati sepiir, ibadah bersama dengan gembira dan tulus hati. Akibatnya ialah, “Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis. 2:47).

Disnilah berlaku ungkapan “ Acvtion is Louder then talk”. Perbuatan lebih nyaring dari kata-kata. Berawal dari uaraian di atas kita tentu bertanya : mengapa Gereja-gereja di Indonesia seperti kehilangan Roh? Mengapa gereja-gereja kita mengalami pelecehan oleh dunia, antara lain gedung-gedung gereja dibakar, IMB Gereja dipersulit, ibadah dilarang, dsb? Mengapa PGI kita semakin lama semakin seperti singa (macan) ompong” namanya besar tetapi tidak menggigit. Mengapa sidang-sidang sinode kita, sudang-sidang MPL bahkan Sidang Raya kita lebih banyak diwarnai pertengkaran dan ketidak sejahteraan yang mencekam ketimbang menunjukkan kesauan dan pesta iman? Jangan-jangan gereja-gereja kita di Indonesia sekarang ini “bikin malu” kepada Yesus Kristus, sehingga dunia ciptaanNya itu tidak memuliakan pencipaNya lagi hanya gara-gara ulah orang-orang Kristen.

Mengapa tiap tahun selalu ada Gereja baru yang mendaftar menjadi anggota PGI sebagai hasil perpecahan gereja di berbagai gereja? Sejauh mana PGI ikut menyuburkan perpecahan itu dengan cara menggampangkan penerimaan anggota baru hasil perpecahan dan bahkan hasil teologi pencurian domba? Sejauh mana DEPAG RI cq Bimas Kristen Priotestan dulu dan sekarang ikut memperkeruih kestuan gereja sebagai tubuh Kristus itu, dengan membeikan izin politis untuk lahirnya gereja baru?

Barangakali tema Sidang raya XIV PGI 2004 yang berbunyi “Berubahlan oleh Pembaruan Budimu” parlu menjadi bahan renungan bagi gereja-gereja di Indonesia. Tema ini mengajak gereja-gereja di Indonesia agar tidake menjadi serupa dengan dunia ini. Artinya norma-nroma, prinsip-prinsip dunia tidak relavan lagi dipakai sebagai acuan dalam gereja. Gereja sebagai kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar dari dunia kegelapan kedalam dunia terang harus hidup dalam ikatan kasih seperti Paulus uraikan dalam Roma 12:9-21.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *