Profesi Keguruan “Guru Adalah Panggilan”

Panggilan, Darma dan Profesi Keguruan

Profesi Keguruan “Keguruan Adalah Panggilan”, Setiap orang yan telahir kedunia memiliki panggilan yang spesifik. Kita lahir karena kehidupan ini memanggil, dan panggilan hidup tersebut kita lakoni melalui pekerjaan. Jika mengingkari panggilannya, seseorang niscaya mengalami hambatan, tetapi mustahil sesorang dapat mencapai sukses dalam bidang yang bukan menjadi panggilannya. Sebaliknya, secara alami orang akan meraih keberhasilan ketika menemukan panggilan jiwanya. Alasannya, orang yang terpanggil pasti memiliki potensi dan kemampuan untuk menunaikan panggilan tersebut.

Demikian juga mereka yang yang terpanggil menjadi guru, sejak semula mereka sudah dianugerahi bakat mengajar, rasa cinta akan pengetahuan, rasa sayang pada siswa dan khususnya rasa bahagia melihat perkembangan dan pertumbuhan anak didik. Pada dasarnya, setiap orang terpanggil melakukan tugas tertentu telah memiliki modal insania untuk menjawab panggilan tersebut sampai tuntas.

Panggilan adalah sebuah konsep tua klasik, dalam agama Budha dan Hindu, panggilan disebut “darma”, yaitu panggilan suci, kewajiban luhur, atau tugas sakral untuk mengerjakan sesuatu. Menunaikan darma merupakan perbuatan yang mulia. Darma seorang Guru adalah mengajar, mendidik dan mencerdaskan para siswa.

Panggilan dapat dibedakan menjadi dua:

  • pertama: panggilan umum, yaitu darma semua orang tanpa terkecuali untuk melakukan kebaikan, membela kebenaran dan menegakkan keadilan dalam segala perkara.
  • Kedua, panggilan khusus, yaitu seseorang yang terpanggil untuk melakukan tugas tertetu, hanya orang-orang tertentu yang terpanggil menjadi guru. Inilah darma, yang tak lain adalah profesi, semua orang melakoni profesi yang menjadi panggilan mereka dengan bermodalkan talenta, bakat, minat, dan pendidikan yang didapat. Jadi darma, panggilan, dan profesi merupakan tugas suci yang harus kita laksanakan pada tataran personal.

Panggilan dan Misi 

Pada tataran organisasi, panggilan identik dengan misi. Menurut Collins dan Porras, misi memang berkaitan dengan raison d’etre atau alasan fundamental yang mendasari keberadaan suatu organisasi. Selain itu, Senge juga berpendapat bahwa misi adalah alasan kita mendirikan sebuah organisasi, yang biasanya selalu luhur dan mulia. Jelaslah bahwa panggilan guru (pada tingkat personal) atau misi sekolah (pada tingkat organisasi) harus diwujudkan melalui kerja guru secara bersama-sama. Tanpa kerja, ungkapan misi, darma atau panggilan hanyalah sekumpulan kata-kata indah hampa makna dan miskin daya gugah.

Ungkapan ‘menjadi guru adalah panggilan suci’ berarti profesi guru disadari sebagai profesi yang berorientasi pada hal-hal yang suci, seperti kebaikan, keadilan, dan kebenaran dalam arti seluas-luasnya. Pengertian suci yang imanen ini sayangnya tidak lagi populer dalam konsep keguruan ssaat ini, karena profesi guru dianggap sebagai lapangan kerja tempat mencari nafkah. Sekolah sebagai institusi yang suci berarti jauh dari korupsi dan kolusi, bersih dari kebohingan dan bebas dari manipulasi; baik dari para siswa, mahasiswa, guru, dosen, maupun dalam proses-proses edukasional dan manjerialnya.

Perasaan terpanggil yang kuat membuat seorang guru mampu meberdayakan diri untuk bekerja denga motivasi penuh. Ia akan secara religuis menghayati perannya sebagai pelaksana tugas suci dan misi luhur. Perasaan terpanggil ini tidak harus datang langsung Tuhan, melainkan bisa juga dirasakan dari sekelompok masyarakat atau suatu bangsa dapat disebut dengan istilah Inward Call dan Outward Call.

Perasaan terpanggil biasanya muncul dalam bentuk kecenderungan, dorongan atau kemauan hati yang kuat; yang jelas, semuanya bermul setelah kita menerima rangsangan dari sebentuk kesempatan yang muncul diufuk timur hati kita. Dari sana, muncullah keyakinan yang perlahan berkembang: kesanalah aku harus pergi, itulah yang harus kukerjakan, inilah jlan yang harus kutempuh! Ketika panggilan tersebut mulai kita jawab, keyakinan itu pun akan terasa semakin kuat.

Perasaan terpanggil memang sangat khas. Perasaan ini membuat arah dan tujuan hidup menjadi tegas, visi dan misi pun terasa jelas, inilah yang kita mampu memiliki pandangan jauh ke depan, tidak terjebak dalam kacamata kuda yang sempit dan pendek, yang kemudian membuahkan sikap konsisten dan persisten. Perasaan terpangil ini juga menimbulkan keberanian moral, keteguhan hati dan itegritas tinggi dalam berkarya, yaitu totalitas yang seimbang antara emosi, pikiran, dan jiwa .

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *