Mengenal Ragam Ukiran Toraja Beserta Maknaya

Ragam Ukiran Toraja Beserta Maknaya, Seringkali kita menjumpai berbagai macam ukiran yang terpahat dengan rapi dan cantik entah itu di rumah Tongkonan ataupun lumbung (alang). Ukiran-ukiran tersebut memiliki makna yang sangat mendalam dan menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Toraja dahulu kala maupun saat ini. Berikut ini beberapa Ukiran Toraja beserta maknanya:

Ukiran Pa’ Talinga

Talinga mempunyai arti telinga dalam bahasa Indonesia. Ukiran ini memiliki makna sebagai peringatan kepada manusia agar menggunakan telinganya dengan benar

Ukiran Pa’ Sala’bi’ Biasa

Ukiran pa’ sala’bi’ biasa memiliki bentuk seperti pagar rumah yang terbuat dari bambu. Ukiran ini memiliki makna sebagai lambang sikap kehati-hatian dari segala kemungkinan ancaman

Ukiran Pa’barre Allo

Barre = Terbit/ bulat
Allo = Matahari
jika di perhatikan ukiran pa’barre allo menyerupai bulatan matahari, jenis ukiran ini banyak ditemukan pada bagian muka dan belakang rumah adat Toraja pada papan bagian atas berbentuk segi tiga (para longa). Biasanya diatas ukiran pa’ barre allo diletakkan ukiran pa’ manuk londong.

Makna dari ukiran pa’ barre allo yakni: percaya bahwa sumber kehidupan dan segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini berasal dari Puang Matua (Tuhan Yang Maha Esa), selain itu pemilik tongkonan mempunyai kedudukan yang tertinggi dan mulia.

Ukiran Pa’kandang Pao

Ukiran Pa’kandang Pao dalam bahasa Indonesia berarti “kait mangga”. Oleh karena itu ukiran ini memiliki bentuk seperti kait penjolok yang digunakan untuk mengambil mangga. Ukiran ini memiliki makna bahwa untuk mengaitkan harta benda ke rumah harus dengan cara yang jujur dan perlu kerjasama di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Pa’ Boko’ Komba Kalua’

Ukiran Pa’ Boko’ Komba Kalua’ jika diperhatikan ukiran ini menyerupai hiasan pada gelang emas dan manik-maniknya yang dipakai saat upacara adat. Ukiran ini memiliki makna sebagai lambang kewibawaan dan kebesaran kaum bangsawan Toraja

Pa’ Kollong Bu’ku’

ukiran Pa’ Kollong Bu’ku’ berarti leher burung tekukur dan memang ukiran ini jika diperhatikan dengan seksama memiliki bentuk seperti leher burung tekukur. Ukiran ini bermakna menjunjung tinggi kejujuran.

Pa’ Manuk Londong

Dalam bahasa Indonesia, Manuk berarti ayam dan londong berarti jantan. Ukiran ini jika diperhatikan memiliki memiliki rupa seperti ayam jantan dan biasanya terdapat di bagian depan dan belakang rumah adat Toraja pada papan atas berbentuk segi tiga. Biasanya ukiran Pa’ Manuk Londong diletakkan di atas ukiran Pa’ Barre Allo.

Baca Juga  Tata Ruang Pada Rumah Tongkonan

Ukiran ini dimaknai dan melambangkan kepemimpinan yang aktif dan bijaksana, dapat dipercaya oleh karena pintar, pemahaman dan intuisinya tepat serta selalu mengatakan apa yang benar (manarang ussuka’ bongi ungkaroi malillin).

Pa’ Daun Paria

Paria merupakan salah satu tumbuhan yang biasa dugunakan sebagai sayur dan obat. Dalam bahasa Indonesia, paria sama dengan pare. Rasa dari tumbuhan paria/ pare sangatlah pahit dan biasanya tumbuhan ini digunakan sebagai obat untuk batuk dan malaria.

Makna dari ukiran Pa’ Daun Paria adalah terkadang sesuatu yang pahit itu adalah obat yang dapat menyembuhkan seperti teguran atau nasehat yang harus diterima walaupun sangat menyakitkan namun dipercaya teguran tersebut akan membawa kebaikan.

Pa’ Pollo’ Songkang

Jika kita memperhatikan ukiran ini memiliki bentuk segi empat yang kemudian dibagi dalam segitiga yang agak kecil. Bnetuk ini bagaikan representase dari bambu yang biasa digunakan untuk memerah susu. Bagi orang Toraja, ukiran ini dimaknai sebagai lambang kebesaran dan kemampuan bangsawan Toraja.

Pa’ Doti Siluang II

Jika diperhatikan dengan seksama, ukiran ini berupa segi empat kecil dan besar yang bertanda silang ditengahnya. Ukiran ini biasanya terdapat di rumah adat Toraja atau pada pembungkus mayat perempuan. Ukiran Pa’ Doti Siluang ini memiliki makna sebagai lambang hati-hati jika mendengar kabar dari perempuan

Pa’ Tangko Pattung

Pa’ Tangko Pattung berarti menyerupai paku bambu yang biasa digunakan untuk mengaitkan tiang bangunan. ukiran ini melambangkan kebesaran bangsawan Toraja dan lambang persatuan yang kokoh seperti paku bambu.

Pa’ Pollo’ Gayang

Dalam bahasa Indonesia, Pollo’ berarti ekor sedangkan gayang memiliki arti keris emas. Ukiran yang menyerupai rumbai ekor penghias keris emas bangsawan ini melambangkan kebesaran, kedamaian dan juga kemudahan rejeki.

Pa’ Ulu Gayang

Dalam bahasa Indonesia, Ulu bararti kepala dan Gayang artinya keris emas. Pa’ Ulu Gayang merupakan ukiran yang menyerupai kepala (tangkai) keris emas yang merupakan bagian dari keris emas (gayang). Makna dari ukiran ini adalah oleh karena ulu gayang adalah bagian dari gayang (keris emas) maka ukiran ini melambangkan laki-laki yang mulia, kaya, bijak dan dari golongan bangsawan.

Ukiran Pa’Bombo Uai

Bombo uai = anggang-anggang
Pa’ Bombo Uai merupakan ukiran yang menyerupai binatang air yang dapat bergerak menitih air dengan halus dan sangat cepat. Makna dari ukiran ini adalah pintar-pintarlah menitih kehidupan dalam hal ini adalah lincah, cekatan, cepat dan tepat. Selain itu, ukiran ini juga berarti manusia harus mempunyai keterampilan dan kemampuan yang cukup dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

Baca Juga  Filosofi Warna dalam Kehidupan Masyarakat Toraja

Pa’ Sepu’ To Rongkong

Jika diperhatikan, ukiran ini menyerupai sulaman pundi tempat sirih. To Rongkong digunakan untuk menyebut orang Rongkong yang masih serumpun dengan orang Toraja. Ukiran ini dimaknai sebagai semangat persatuan kedua suku.

Pa’ Erong

Erong merupakan peti untuk menyimpan tulang belulang orang Toraja yang sudah wafat. Erong ada yang berbentuk kepala kerbau atau babi dan ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar arwah leluhur menjaga dan memberkahi rejeki.

Pa’ Tanduk Re’pe

Pa’tanduk re’pe mempunyai arti tanduk yang menggelayut ke bawah seperti ranting pohon yang keberatan buah. Ukiran ini menyerupai tanduk kerbau yang melambangkan perjuangan hidup dan jerih payah.

Pa’ Papan Kandaure

Jika diperhatikan ukiran ini berbentuk segi empat besar. Ukiran Pa’ Papan Kandaure memiliki makna harapan menjadi rumpun keluarga besar yang bersatu.

Pa’ Sekong Kandaure

Jika diperhatikan dengan seksama, ukiran ini berbentuk lengkung lingkar yang berlekuk-lekuk. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar seluruh keturunan orang Toraja hidup bahagia.

Pa’ Siborongan

Dalam bahasa Indonesia, Siborongan berarti bekerja secara kelompok. Tradisi ini diwujudkan menjadi ukiran di rumah-rumah orang toraja yang berbentuk seperti bunga-bunga yang mekar. Ukiran ini sebagai lambang semangat persatuan dan kekerabatan masyarakat Toraja.

Ukiran Pa’ Tangki Attung II

Ukiran jenis ini merupakan pengembangan dari Pa’ Tangko Pattung. Motifnya terdiri dari 4 bundaran benda seragam dan membentuk angka 8 sebangun yang bila dijumlah menjadi 16, sama dengan 1+6=7. Angka 7 merupajan angka sakral bagi masyarakat Toraja sesuai dengan falsafah aluk Pitung Sa’bu pitu ratu’ pitung pulo pitu (7777). Ukiran ini bermakna kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Toraja.

Pa’ Manik-manik

Jika diperhatikan dengan seksama, ukiran ini berbentuk manik-manik yang merupakan hiasan tradisional suku Toraja. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar anak cucu orang Toraja selalu hidup rukun.

Ne’ Limbongan

Ukiran Ne’ Limbongan merupakan ukiran yang diyakini orang Toraja bahwa nama ini diambil dari nama leluhur mereka yakni Limbongan yang diperkirakan hidup pada tahun 3000 tahun yang lalu. Dalam pengertian orang Toraja, limbongan berarti sumber mata air yang tidak pernah kering sehingga menjadi sumber kehidupan. Oleh karena itu, motif ukiran ini berbentuk aliran air yang memutar dengan panah di keempat arah mata angin. Motif ini bermakna bahwa rejeki akan datang dari 4 penjuru bagaikan mata air yang bersatu dalam danau dan memberi kebahagiaan.

Baca Juga  Adat dan Budaya: Asal Nama Toraja dan Sistem Kepercayaan Dalam Masyarakat Toraja

Pa’ Tedong

Ukiran ini biasanya dilukiskan pada papan besar teratas (indo’ para) dan pada dinding-dinding penyanggah badan rumah. bagi masyarakat Toraja, kerbau adalah hewan paling tinggi nilainya dan statusnya, untuk itu bagi masyarakat Toraja kerbau dijadikan sebagai standar/ ukuran dari semua harta kekayaan.

Pa’ Bulu Londong

Bulu dapat berarti bulu dan londong dapat bearti jantan dalam bahasa Indonesia. Ukiran ini menyerupai rumabi ayam jantan. Ada pepatah mengatakan: ayam dikenal karena tingkah lakunya. Pada ukiran Pa’ Manuk Londong telah dijelaskan tentang arti dan makna londong (ayam jantan). Pa’ bulu londong biasanya di garunggang dan diukir tembus. Adapun makna dari ukiran ini adalah bulu rumbai menghiasi ayam jantan demikian pula keperkasaan dan kewibawaan menyertai seorang pemimpin dan lelaki pemberani.

Pa’ Sekong Anak

Istilag pa’ Sekong Anak bearti lengkungan bayi ketika masih dalam rahim ibunya. Ukiran ini berbentuk demikian juga dan memiliki makna sebagai perlambangan kejujuran dan keterbukaan.

Pa’ Doti Langi’

Doti (ilmu hitam)
Doti (saleko/ tedong saleko/ kerbau belang)
Doti (baik/ Cantik)
langi’ (langit)
Ukiran ini berupa palang yang berjejer-jejer dan ditengah-tengah ada semacam bintang bersinar seperti bintang diatas langit. Makna dari ukiran ini adalah kepintaran/ prestasi yang tinggi, kearifan dan ketenangan yang juga mempunyai cita-cita yang tinggi, pemikiran yang jauh cemerlang kedepan, dan bisa juga berarti wanita bangsawan yang mempunyai kasta yang tinggi.

Pa’ Kapu’ Baka

Baka sama dengan bakul, jadi kapu’ baka berarti pengikat bakul tempat menyimpan harta kekayaan rumah. Pa’kapu’ baka adalah ukiran yang menyerupai sumpulan-simpulan penutup bakul (baka). Baka bua dalam bahasa Toraja merupakan tempat untuk menyimpan harta bagi orang-orang tua jaman dulu sebelum ada peti, lemari ataupun koper. Simpulan-simpulan dari tali ini benar-benar rapi sehingga ujung simpulan dari tali tidak kelihatan dan jika simpul telah berubah berarti ada yang telah mengambil sesuatu dari dalam bakul tersebut.

Makna dari ukiran ini adalah melambangkan kekayaan dan kebangsawanan, simpul rahasia melambangkan pemilik rumah yang memiliki pola kepemimpinan dan sukar ditiru oleh orang lain, selain itu pandai dalam memelihara rahasia keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *