4 Teori-Teori Sumber Dalam Perjanjian Lama

Teori Sumber Dalam Perjanjian Lama, Sejak dahulu orang berpendapat bahwa, Thora (Pentateukh) dikarang oleh Musa. Pendapat ini bertahan sampai pada abad yang ke-XVIII; sejak itu pendapat tersebut mulai diragukan kebenarannya.

Keragu-raguan ini dipelopori oleh JEAN d’AS-TRUC [1] yang berpendapat bahwa dalam menulis atau mengarang Pentateukh itu Musa menggunakan bahan-bahan dari dua sumber besar dan dari beberapa sumber kecil. Kedua sumber yang ini oleh d’Astruc dibedakan berdasarkan penggunaan sebutan-sebutan bagi Allah, yaitu sumber yang menggunakan nama “Elohim” dan sumber yang menggunakan nama “Yahwe”. Dengan teori ini d’Astruc mengecam pandangan yang kristis dari pihak SPINOZA [2]

Kemudian menyusul pula J.G EICHHORN, yang setelah mempelajari teori d’Astruc, memperkembangkannya lebih radikal lagi dari d’Astruc sendiri. Eichhorn mengatakan bahwa sebenarnya bukanlah Musa yang mengarang Pentateukh, melainkan seorang lain yang namanya tidak diketahui. Dengan demikian Eichhorn kemudian menyatukan keduan sumber yang disebut d’Astruc tadi.

Sampai pada akhir abad ke-XIX penyelidikan terhadap Thora mengalami perkembangan pesat terutama dibawah usaha-usaha A. KUENEN [3] dan J. WELLHAUSEN.

Menurut ahli-ahli ini, dalam Petateukh ada empat suber, yaitu:

  1. Sumber yang menggunakan nama “Yahwe” (Y)
  2. Sumber yang menggunakan nama “Elohim” (E)
  3. Sumber yang khususnya terdapat dalam kitab Ulangan atau Deuteronomium (D)
  4. Dan yang terakhir adalah sumber yang terutama dipelopori oleh imam-imam yang disebut “Prister Codex” (P)

Teori Sumber Dalam Perjanjian Lama

Sumber Yahwist (Y)

Sumber Yahwist menulis sejarah Israel dari penciptaan dampai kepada Kelepasan (Keluaran) bangsa Israel dari Mesir, dn perkembangan mereka setelah berada di Kanaan.

Ada beberapa ciri-ciri khas dari sumber ini:

  1. Allah selalu disebut dengan nama Yahwe; juga nenek-moyang Israel sudah mengenla nama itu.
  2. Pada umumnya Allah didalam wahyuNya (penyataanNya) dilukiskan dan digambarkan dalam bentuk seorang manusia,
  3. Sumber ini bersifat universal; Allah adalah Khalik langit dan bumi (Kejadian 2:4d  dst), dan Allah seluruh dunia san semua manusia.

Sumber  Yahwist merupakan cerita tertua dalam Pentateukh. Banyak alsan untuk menyatakan, bahwa sumber Yahwist itu berasal dari Selatan (Yehuda). Umpamanya, sumber ini sangat memperhatikan Hebron sebagai tempat suci Abraham (band. Kej 37:18; 18:1) dan menonjolkan tokoh Yuda dalam cerita Yusuf (Kej 37). Sebagian tambahan, kata-kata mengenai Yuda didalam ‘Berkat Yakub’ (Kej 49:8 dst) nampak dilatarbelakangi oleh keunggulan suku Yuda dibawah pemerintah Raja Daud. Ketiga alasan ini juga berfungsi sebagai penunjuk waktu kira-kira munculnya para penulis sumber Y. Berdasarkan ketiga alasan iti maka kemungkinan besar para penulis sumber Y itu muncul pada zaman pemerintahan raja Daud dan Salomo, yaitu abad 11-10S.M. Tulisan-tulisan dalam sumber Y itu mencerminkan adanya kesatuan, keteguhan dan kepercayaan serta kepenuhan nasional. Keadaan seperti itu hanya mungkin ada pada masa Daud-Salomo, ketika seluruh Israel terhimpun dalam satu kerajaan Israel ray. Mungkin sekali sumber Y itu telah dirampung ditulis pada 950 S.M.[4]

Sumber Elohist (E)

Sumber E menggunakan nama Elohim sampai cerita pemanggilan Musa (Keluaran 3), dimana Allah menyatakan namaNya kepda Musa. Jadi Musalah orang pertama yang mengenal nama Yahwe. Sesudah cerita ini sumber juga menguankan nama Yahwe.

Sumber E lahir di Kerajaan Utara (Israel) kira-kira antara tahun 800 dan 700 seb.Kr., ketika sinkretisme Baalistis melanda kehidupan agama Israel. Pada masa itulah timbul gerakan nabi-nabi yang memprotes dan menentang sikretisme tersebut, terutama dengan dibwahi oleh nabi Elia dan Elisa. Gerakan nabi-nabi ini mempengaruhi sumber E dan menjadi dasar munculya sumber itu. Sumber E bersifat Partikularistis pandangan teologoi E ini memntingkan dan lebih dominan pada relasi yang khusus antara Allah dan bangsa Israel oleh karena itu seluruh perhatian E tertuju pada orang-orang yang dipilih dan yang percaya kepada Allah.

Di dalam kerangka pengertian ini E melukiskan Abraham sebagai seorang nabi (Kejadian 20:7), dan Yakub (Israel) dilukiskan sebagai pejuang Allah (Kejadian 32:23)[5]. Namun tokoh Yakub yang disangkut pautkan dengan dengan tempat suci Betel, lebih menonjol ketimbanh Abraham. Abraham sangat ditonjolkan oleh sumber Yahwist, sumber Elohist sama sekali tidak memuat cerita mengenai Abram dan Lot (Kej 31), Yehuda, Syua, dan Tamar (Kej 38). Bagi sumber Elohist Allah adalah tokoh yang bersemayam di Sorha yang jauh dari dunia manusia. Allah menyampaikan kehendakNya kepada manusia melaui perantara, yaitu para malaikat, mimpi atau penglihatan-penglihatan (band. Kej 28:12; 20:3)[6]

Sumber Deuteronomist (D)

Seluruh kitab Ulangan merupakan sumber utama ketiga yng terdapat didalam Pentateukh. Nama bahasa Latin dari Kitab Ulangan adalah ‘Deotoronomium’ (baca : doiteronomium). Dari nama inilah kita memperoleh sebutan, ‘sumber D’ atau Deeutoronomium. Studi dan penelitian kritis terhadap kitab ini menunjukan, bahwa buku itu bukan tulisan Musa dan bahwa buku itu mempunyai sejarah yang agak panjang. Di dalam kitab 2 Raja-raja 22 diceritakan, bahwa pada tahun 621 S.M[7]. Sumber ini muncul pada tahun 622 seb.Kr. di Yerusalem ketika Bait Allah sedang diperbaiki atas perintah raja Yosia. Pada saat itulah para tukang, yang bekerja disana, menemukan suatu naskah gulungan yang disebut sebagai Taurat (II Raja 22:8) yang rupanya adalah sebagian dari kitab Ulangan, yaitu pasal 12-26.

Teologi D ini bersifat antisinkretistis yang diperkirakan bersal dari Kerajaan Utara. Antisinkretisme ini jelas terlihat didalam pembaharuan Deutoronomis, dimana kuil-kuil diluar kota Yerusalem diprotes dan ditutup, sebab kuil-kuil itu adalah pusat sinkretisme. Pandangan teologis sumber D yang paling menonjol adalah panggilan Allah kepada bangsa Israel untuk menjadi bangsa pilihanNya.[8]

Kalau seluruh isi dari Kitab Ulangan adalah sumber Deutoronomis pada umumnya diringkaskan, maka bunyinya adalah :

“Dengarlah, hai orang Israel ; Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:4-5).

Kata-kata ini disebut ‘shema’ yang diambil dari bahasa Ibrani. Arti ‘shema’ adalah ‘Dengarlah’[9].

Sumber Imamat atau Priester Codex (P)

Keadaan tanpa Bait Alah di Babylon, bahaya sinkretisme dalam kehidupan agama, dan bangsa yang terancam punah diantara bangsa-bangsa kafir itu, telah mendorong para imam untuk menulis segala tradisi yang ada dang mengumpulkannya supaya jangna hilang. Dengan demikian lahirlah sumber Imamat (P) kira-kira pada tahun 550 sampa 500 seb.Kr. Maksud P dengan tulisannya itu untuk mengingtakan bangsa Israel bahwa merekalah Bangasa-Kudus Allah. Dalam kerangka ini P sangat menekankan peranan kultus. Dengan demikian tulisan-tilisan P banyak menyangkut aturan-aturan kebaktian dan semua hal yang berhubungan dengan Imamat.

Aturan-aturan kultis P teristimewa terdapat dalam kitab Imamat . di samping itu juga P menulis suatu sejarah, dimana P menonjolkan tiga puncak, yaitu:

  1. Persekutuan perjanjian antara Allah dan Nuh denga pelangi sebagai tamda perjanjian.
  2. Persekutuan perjanjian antara Allah dan Abraham dengan sunat sebagai tanda.
  3. Persekutuan pernajian antara Allah dan Musa ( sebagai wakil bangsa Israel ) denga sunat sebagi tanda.

Menurut P, perode I pada masa sebelum persekutuan perjanjian antara Allah dan Nuh. Manusia dipangil untuk berkuasa atas binatang, tetapi tidak boleh membunuh dan memakannya. Barulah dalam periode II sesudah air bah, Nuh dan manusia diperbolehkan memakan daging binatang tanpa darahnya. Periode III dimulai dengan persekutuan perjanjian antara Allah dan Abraham. Periode IV adalah periode wahyu/penyataan Allah yang sempurna, dimana Yahwe menyatkan diriNya sebgai Allah Israeldi Sinai dan memberikan hukum-hukumNya kepada bangsaNya. Harun diangkat menjadi imam besar dan di[panggil untuk mendamaikan bangsa Israel dengan Allah. Bagi P kultus adalah alat atau medium untuk memelihara dan memperbaiki hubunhan antara Allah dan manusia.

Walaupun P menitik-beratkan bangsa Israel sebagai bangsa yang kudus, yang dengannya Allah berkenan mengikat persekutuan perjanjian, namun dalam tulisan-tulisannya terdapat elemen-elemen universalistis, misalnya dalam Kejadian 1:1 dan 2:4a Allah adalah pencipta seluruh dunia. Persekutuan perjanjian Nuh adalah persekutuan perjanjian dengan seluruh manusia ( Kejadian 9:8-17). Penulis P mengumpulkan dan menyatukan unsur-unsur transendensi Allah dan persekutuanNya denga manusia, universalisme dan partikularisme, pandangan nabi-nabi dan kultus.


[1] Jean d’Astruc : Conjectures sur les memoires originaux, dont il parait que Moyes s’est servi pour composer le   lirve de la Genese; Brussel 1753.

[2] Spinoza : Theologisch_Politiek Tractaat.

[3] A. Kuenen : Historisch Kritisch Onderzoek (H.K.O.)

[4] Wismoady Wahono : Di Sini Kutemukan;   Jakarta : BPK Guung Mulia, 1998; hal 61-62.

[5] J. Blommendaal : Pengantar Kepada Perjajian Lama; Jakarta : BPK Gu ung Mulia, 2008; hal 19.

[6] Op.cit; hal 65-66.

[7] Ibid; hal 68.

[8] Op.cit; hal 19

[9] Ibid; hal 70.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *