Kebutuhan Perkembangan Remaja Yang Harus Dipenuhi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Masa anak-anak adalah masa kebergantungan karena dasar seseorang terbentuk pada masa-masa pertama kehidupannya. Masa anak-anak ditandai dengan meningkatnya cara berpikir kritis. Anak tanggung selalu menanyakan sebab-sebab, akibat-akibat dengan cara menyangga pendapat orang dewasa. Pada masa ini mudah terjadi identivikasi yang sifatnya emosional dengan teman sebaya yang sejenis. Sedangkan masa remaja adalah suatu masa transisi atau masa peralihan dari masa anak-anak kemasa dewasa. Remaja bukan anak-anak lagi akan tetapi belum mampu memegang tugas sebagai orang dewasa.

Sebagai manusia, anak dan  remaja mempunyai berbagai kebutuhan yang menuntut untuk dipenuhi. Hal itu merupakan sumber timbulnya berbagai problem pada anak dan remaja. Problem anak dan remaja ialah masalah-masalah yang dihadapi para anak dan  remaja sehubungan dengan adanya kebutuhan-kebutuhan dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungan tempat anak dan remaja hidup dan berkembang. Problem tersebut ada yang dapat dipecahkan sendiri, tetapi ada pula yang sulit untuk dipecahkannya, dalam hal ini memerlukan bantuan kaum pendidik agar tercapai kesejahteraan pribadi dan bermanfaat bagi masyarakat.

2. Rumusan masalah

Apa saja Kebutuhan-kebutuhan anak dan remaja serta bagaimana memberikan solusi dalam memenuhi kebutuhan anak dan remaja?

3. Tujuan penulisan

Untuk mengetahui apa-apa saja “kebutuhan-kebutuhan anak dan remaja yang harus dipenuhi dalam pertumbuhannya”.

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian

  • Pengertian Anak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anak diartikan sebaga keturunan yang kedua, manusia yang masih kecil[1]. Menurut Elisabet dalam bukunya, Pembelajaran PAK Pada 3Anak Usia Dini. Anak adalah anugerah dan warisan Allah kepada orang tuanya. (Mzm. 127:3). Mereka merupakan generasi penerus dari sebuah Negara. Anak adalah milik yang diwariskan Tuhan kepada setiap orang tua dan sebagai upah dalam sebuah perkawinan. Dengan demikan, anak merupakan anugerah dan titipan Tuhan dalam keluarga harus dijaga, dididik, diarahkan dan dipelihara dengan penuh kebijaksanaan serta dicintai dengan sepenuh hati, karena anak merupakan masa depan keluarga, gereja maupun bangsa. Masa usia dini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar-dasar bagi pembentukan pertumbuhan kepribadian manusia secara utuh. Hal itu ditandai dengan budi pekerti, karakter, kreatif, intelegensi dan  terampil sehingga seluruh potensi anak dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal.[2]

  • Kebutuhan

 Menurut KBBI berasal dari kata “butuh” yang artinya sangat perlu menggunakan. Kebutuhan berarti yang diperlukan.[3] Sedangkan Menurut Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia dapat dikategorikan dalam 5 bagian yaitu: Kebutuhan Fisik (Psysiological needs); Kebutuhan rasa aman (Safety needs); Kebutuhan rasa dimilki dan kasih (Belogingness and love); kebutuhan penghargaan diri (Esteem needs); dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-Actualizasion Needs). Perkembangan fisik atau yang disebut juga pertumbuhan biologis, merupakan salah satu aspek perkembangan individu.

Kebutuhan-Kebutuhan Anak Dan Remaja Serta Solusi Dalam Memenuhi

  • Kebutuhan Fisik

Menjalin kedekatan secara spikologis memang sangat disarankan terhadap anak, memang seperti itulah seharusnya. Tetapi tidak kalah penting merangsang kemampuannya untuk melihat, mendengar, bahkan merasakan sesuatu disekirnya. Kendati dengan cara-cara sederhana, tetapi efektif tidak perlu dengan cara memaksa tetapi lembut mengajari anak bangun pagi, mendapatkan suasana ruangan yang rapi, dan merasakan hangatnya sinar matahari.

Aspek-aspek kebutuhan dasar perkembangan anak yang perlu mendapat perhatian orang tua adalah merangsang aktivitas atau kecerdasan yang disesuaikan dengan tumbuh kembang fisik dan jiwanya (deteksi dini dan intervensi dini). Ciri khas pada anak dapat dipantau sebangai berikut:

  1. Tumbuh secara kuantitatif, yakni: bertambahnya ukuran fisik, jumlah sel, jaringan interseluler, dan struktur tubuh.
  2. Berkembang secara kualitatif, yakni: bertambahnya kemampuan yang struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks.

Dalam kaitannya dengan pertumbuhan fisik anak, perlakuan dan pengasuhan yang baik disertai dengan lingkungan yang memungkinkan anak hidup sehat, jauh dari keadaan yang mempermudah timbulnya sakit-penyakit, perlu sekali diperhatikan. Pengetahuan praktis mengenai kadar gisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan anak perlu diketahui orang tua. Juga diperlukan pengetahuan-pengetahuan praktis mengenai kebutuhan-kebutuhan anak, kebutuhan dasar dan kebutuhan minimal untuk memungkinkan anak berkembang sebaik-baiknya. Termasuk perlunya memahami kebutuhan- kebutuhan anak untuk istirahat, bermain, belajar, sesuai dengan kebutuhan pribadi, patokan umum dan masa perkembangan anak. Pengaturan-pengaturan dan peraturan-peraturan yang disesuaikan dengan kondisi tertentu pada anak harus tetap dijalankan. Kebutuhan untuk bermain, berlari-larian, mengamati, dan memperhatikan benda-benda sekelilingnya berbeda pada waktu anak umur 5 tahun dengan 8 tahun dan seterusnya.

  • Kebutuhan Psikologis
    1. Kebutuhan beragama

Kebutuhan ini didasarkan atas asumsi bahwa setiap orang cenderung untuk mengagungkan kekuasaan yang maha kuasa. Mula-mula dizaman primitif (masa kuno/masih sederhana/blm modern)  orang takut akan ancaman bahaya alam. Mereka tidak memahami peristiwa alam semesta, karena itu apa yang mereka takuti lalu disembah.

Pada masa pertumbuhan kebutuhan beragama sangat menonjol. Sehingga dibutuhkan didikan dari kecil, jika tidak maka diwaktu remaja dan dewasa anak mungkin menjauhi diri dari agama bahkan akan menentang agama.

Begitu juga dengan penekanan didalam Alkitab yang mengatakan bahwa  pengajaran agama harus diberikan sejak anak-anak. dalam perjanjian lama (ul. 6:7; 20-25) dalam bagian ini ada dua penekanan pentingnya pengajaran agama diajarkan kepada anak-anak. dalam ayat 7 perintah “syema” harus diberikan kepada “anak-anak” mereka yaitu dengan “mengajarkannya dengan berulang-ulang”. Hal ini ditekankan kembali dalam ayat 20-21 agar orang tua siap mengajarkan tentang siapakah Allah dan karyanya bagi bangsa israel kepada anak-anak mereka. begitu juga dalam perjanjian baru Yesus dengan tegas  mengatakan bahwa: “biarlah anak-anak itu datang kepadaku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah” (Mar. 10:14).

2. Kebutuhan rasa aman

Pada manusia rasa aman itu dibutuhkan sejak kecil. Rasa aman yang ditimbulkan oleh situasi diwaktu anak mengisap (periode oral) misalnya menyusu, mengisap jari, merupakan aspek terpenting bagi perkembangan kepribadian anak untuk masa selanjutnya. Apabila bayi diberikan pelayanan menyusu dengan kasih sayang dan penerimaan yang sempurna, akan timbullah rasa aman pada diri bayi tersebut. Sebaliknya bayi yang tidak mendapatkan pelayanan menyusu dengan sempurna, akan menimbulkan rasa tidak tentram pada dirinya. Kita ambil perbandingan, bayi yang disusui oleh ibunya dengan bayi yang diberi susu formula dan dilayani bukan oleh ibunya. Hal ini banyak terjadi pada ibu-ibu moderm yang beranggapan bahwa menyusui anak adalah kuno, ketinggalan zaman. Ibu-ibu yang seperti ini kurang memahami bahwa mengisap puting susu ibu dan mendapat dekapan/ pangkuan ibu akan menimbulkan rasa aman. Rasa aman merupakan sumber ketenangan mental dalam perkembangan selanjutnya. Sebaliknya rasa tidak aman merupakan sumber ketegangan dan kekecewaan, yang pada gilirannya merupakan sumber pula bagi terjadinya kenakalan. Hubungan orang tua dengan anak-anaknya bisa menciptakan rasa tidak aman bagi anak yaitu bila orang tua terlalu keras, suka memukul, tidak memberikan kasih sayang dan penerimaan dan perhatian kepada mereka.juga adanya perbedaan norma atau pendapat antara ayah atau ibu dapat pula menimbulkan kegoncangan batin anak-anak.

            Di dalam masyarakat banyak pula faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya rasa tidak aman bagi anak-anak. sebagaimana diketahui bahwa kebutuhan bermain pada masa kanak-kanak merupakan hal yang amat vital. Untuk dapat bermain anak memerlukan alat-alat dan tempat bermain yang baik. Di kota-kota besar kebanyakan rumah-rumah berdempetan… Anak-anak terpaksa bermain di gang-gang yang sempit, di jalan raya, atau di pasar-pasar. Mereka bermain sepak bola di jalan umum, bermain layang-layang di jalan raya, sehingga kemungkinan untuk mendapat kecelakaan besar sekali. Kalau untuk bermain saja sudah tidak mungkin, mereka akan mulai mengganggu ketertiban umum dalam bentuk perkelahian, permusuhan, perusakan. Tidak memberikan rasa aman berarti membuat anak menjadi frustasi dan dendam terhadap lingkungan itulah menjadi sumber kenakalan anak dan remaja.[4] 

  • Kebutuhan biologis

Kebutuhan biologis sering juga disebut “physiological drive” atau “biological motivation” pengertian kebutuhan atau motif ialah segalah alasan yang mendorong makhluk hidup untuk bertingkahlaku mencapai sesuatu yang diinginkannya atau dituju (goal). Kebutuhan biologis (motif biologis) ialah motif yang berasal dari pada dorongan-dorongan biologis. Motif ini sudah dibawah sejak lahir, jadi tanpa dipelajari. Boleh dikatakan bahwa motif biologis ini bersifat naluriah (instingtif). Motif biologis sama-sam dimiliki oleh semua makhluk Allah seperti lapar, haus, bernafas, mengantuk, dorongan seks. Motif biologis bersifat universal, artinya dipunyai oleh manusia dan binatang . Untuk lebih jelasnya, motif  biologis dapat dirinci sebagai berikut:

  1. Motif untuk makan, minum, bernafas, dan istrahat.
  2. Dorongan seks (motif seks), bertujuan untuk mengembangkan jenis keturunan mahkluk manusia atau binatang. Dorongan seks ini bisa juga dimasukkan kepada motif psikis (rohani) Roma 6:12-14 (bnd. Kej. 1:28). Pada masa remaja dorongan seks ini tanpak lebih menonjol, sehingga akan mempengaruhi tingkalakunya, misalnya terlihat pada anak wanita suka bersolek, tertarik pada laki-laki dan begitu juga pada anak laki-laki terlihat menaruh minat pada lawan jenisnya, ingin mengetahui masalah hubungan seks, dan lain-lain.

Hal ini berdampak pada masalah seksual yang menjurus kepada perilaku negatif seperti mengngagumi pornografi melakukan perbuatan-perbuatan asusila yang senonoh seperti mendatangi tempat-tempat maksiat (perbuatan yang melanggar perintah Allah=perbuatan dosa, tercelah, buruk)  berhubungan dengan para pelacur. Perbuatan ini dapat membahayakan remaja itu sendiri karena dapat tertular penyakit AIDS seperti penyakit-penyakit kelamin lainnya (Galatia 5:1-5).[5]

  • Kebutuhan sosial

Kebutuhan sosial ialah kebutuhan yang berhubungan dengan orang lain atau ditimbulkan oleh orang lain/hal-hal di luar diri. Kebutuhan ini banyak sekali jenisnya sehingga sulit untuk mengelompokannya. Hal ini sudah pula dipertanyakan oleh Sartain dan kawan-kawan (1973): “a quistion which the psychologist is often asked is just how many social motives does a human being have, and what are they? Unfortunately, this interisting  question is an unanswerable one”. Walaupun demikian kita akan mencoba mengambil pendapat seseorang sosiolog W.I Tomas yang diungkapkan oleh Sartain  (1973) sebagai berikut : “he proposed that man has four whises and called them:  for recognition, for response, for belonging, and for new experience”. Menurut Tomas itu kebutuhan manusia ada empat:

  1. Kebutuhan untuk dikenal
  2. Kebutuhan untuk mendapat respons dari orang lain
  3. Kebutuhan untuk memiliki
  4. Kebutuhan untuk memperoleh pengalaman yang baru.[6]

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Mengasuh,  membesarkan, dan mendidik anak merupakan satu tugas mulia yang tidak lepas dari berbagai halangan dan tantangan. Telah banyak usaha yang dilakukan orang tua maupun pendidik untuk mencari dan membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan dengan perkembangan anak.

Kebutuhan anak dan remaja merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Oleh karena itu sebagai orang tua dan guru harus benar-benar memperhatikan dan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak. karena kebutuhan-kebutuhan itu merupakan dasar yang dapat membentuk kepribadian dan karakter anak dan remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Depertemen Penddikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga, Jakarta: Bala Pustaka, 2002

Elisabet, Pembelajaran PAK Pada Anak Usia Dini. Bandung: Bina Media Informasi, 2009

Enklaar I.H dan Homrighausen E.G, pendidikan agama kristen. Jakarta: gunung mulia, 2009

Gunarsa D. Singgih, Psikologis praktis: anak, remaja dan keluarga. Jakarta: gunung mulia, 2008

Willis S. Sofyan, remaja dan masalahnya. Bandung: Alfabeta, 2014

Woolfson C. Richard, mengapa anakku begitu. Erlangga, 2005


[1] Depertemen Penddikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta: Bala Pustaka, 2002), h. 41

[2] Elisabet, Pembelajaran PAK Pada Anak Usia Dini, (Bandung: Bina Media Informasi, 2009), h. 3

[3] Ibid., h. 182

[4] Gunarsa D. Singgih, Psikilogi Praktis: Anak Remaja dan Keluarga (Jakarta Gunung Mulia, 2008), h. 32

[5] Willis S. Sofyan, Remaja dan Masalahnya (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 24

[6] Woolfson C. Richard, Mengapa Anakku Begitu? (Erlangga, 2015), h. 72

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *