Komunikasi Antar Pribadi Yang Efektif

Komunikasi Antar Pribadi Yang Efektif

Kita dapat menilai keefektifan komunikasi yang kita lakukan bila apa yang kita maksudkan tidak jelas; kita harus benar-benar tahu apa yang kita inginkan. Salah satu hal yang membuat defenisi awal mengenai komunikasi efektif tidak memadai (“bila orang berhasil menyampaikan maksudnya”) adalah bahwa dalam berkomunikasi, mungkin kita menginginkan sebuah hasil atau lebih dari beberapa kemungkinan hasil yang dapat diperoleh. Kita akan membahas 5 hal yang dapat dijadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif, yaitu pemahaman, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.

Pemahaman

Arti pokok pemahaman adalah penerimaan yang cermat atas kandungan rangsangan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Dalam hal ini, komunikator dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikannya (kadang-kadang, komunikator menyampaikan pesan tanpa disengaja, yang juga dipahami dengan baik).

Kegagalan utama dalam berkomunikasi adalah ketidakberhasilan dalam menyampaikan isi pesan secara cermat. Sebagai contoh, seorang manager pelayanan sebuah perusahaan minyak menerima telepon suatu pagi pada musim dingin dari seorang wanita yang melaporkan bahwa pemanas minyaknya rusak. “berapa tinggi kedudukan termostatnya? Ia bertanya (maksudnya, berapa temperatur yang ditunjukkan termostat). “sebentar” jawab wanita itu. Beberapa menit kemudian ia kembali ke telepon, “lima kaki setengah inci” katanya, “sama seperti biasanya”. Kesimpangsiuran seperti ini merupakan kegagalan yang khas untuk memperoleh pemahaman. Jenis kesalapahaman seperti ini biasanya mudah diperbaiki melalui penjernihan umpan balik yang diterima, serta mengulangi pesan semula.

Kesenangan

komunikasi publik dapat pula untuk kesenangan, misalnya ceramah setelah acara makan malam dan celoteh seorang penghibur yang sengaja dilakukan untuk menyenangkan hadirin. Kebanyakan komunikaso informal dalam sebuah organisasi, berlangsung pada saat makan siang, istirahat minum kopi, piknik bersama atau pada acara di klub dansa. Demikian pula di bioskop, dalam acara komedi situasi, maupun dalam peristiwa olahraga di televisi, kita menyaksikan hiburan yang diselenggarakan dalam skala besar.

Mempengaruhi Sikap

Tindakan mempengaruhi orang lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai situasi kita berusaha mempengaruhi sikap orang lain, dan berusaha agar orang lain memahami ucapan kita. Proses mengubah dan merumuskan kembali sikap, atau pengaruh sikap, berlangsung terus seumur hidup. Dalam hubungan antar dua orang, pengaruh sikap sering disebut “pengaruh sosial”.  Dalam menentukan tingkat keberhasilan berkomunikasi, ingatlah bahwa anda bisa saja gagal mengubah sikap orang lain, namum orang tersebut tetap dapat memahami apa yang anda maksudkan. Dengan perkataan lain, kegagalan dalam mengubah pandangan seseorang jangan disamakan dengan kegagalan dalam meningkatkan pemahaman.

Memperbaiki hubungan

Telah dikemukakan bahwa kegagalan utama dalam berkomunikasi muncul bila isi pesan tidak dipahami secara cermat. Dipihak lain, kegagalan-kegagalan lainnya muncul karena gangguan dalam hubungan insani yang berasal dari kesalapahaman. Hal ini tumbuh dari rasa frustasi, kemarahan, atau kebingungan (kadang-kadang muncul ketiga hal tersebut sekaligus) sebagai akibat kegagalan awal dalam pemahaman. Dengan mengakui bahwa awal kesalapahaman biasa muncul dalam komunikasi sehari-hari, mungkin kita dapat lebih sabar menghadapinya dan menghindarinya, atau paling tidak meminimalkan pengaruh buruknya terhadap hubungan antar personal.

Tindakan

Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan yang kita inginkan, merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam berkomunikasi. Tampaknya lebih mudah mengusahakan agar pesan kita dipahami daripada mengusahakannya agar pesan kita disetujui. Kesulitan dalam mengusahakan agar penerima pesan melakukan tindakan seperti yang diharapkan oleh pengirim pesan, menjadi jauh lebih besar dalam konteks komunikasi organisasional dan komunikasi massa.[1]

Jadi kesimpulannya adalah lima hasil yang dapat diperoleh melalui komunikasi insani yang efektif adalah mencakup sebuah pemahaman, kesenangan, mempengaruhi sikap, memperbaiki hubungann yang lebih baik, dan mendorong orang lain untuk melakukan tindakan yang baik sesuai yang kita harapkan. Jika kelima hal ini dilakukan maka akan menghasilkan sebuah komunikasi yang efektif.

Cara Membangun Komunikasi Interpersonal yang Efektif

Dalam menghasilkan dan membangun sebuah komunikasi interpersonal yang efektif sangat diharapkan sikap mendengarkan secara efektif. Kita sebaiknya tidak sekedarkan sebatas isi, kita juga tidak mendengarkan secara kritis, tetapi kita berusaha mendengarkan secara empatik dan aktif. Tujuannya adalah agar kita dapat mendengar secara efektif dan akhirnya bisa mencapaai tujuan dan hasil yang kita inginkan.

Kita perlu mengetahui bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik dan cara memberikan respon positif saat menerima berita dari pihak lain yang menyampaikan informasi. Dalam Roma 10:17 dikatakan “jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Kristus”. Agar komunikasi yang efektif terjadi haruslah terkandung unsur:

Sikap yang jujur

Kejujuran dalam menyampaikan berita merupakan hal yang sangat penting. Kadang-kadang ada saatnya kita tidak perlu menyampaikan sesuatu, tetapi kita harus tetap menjaga sikap jujur atau tidak berbohong. Kita bisa mengatakan minta maaf karena tidak bisa menyampaikan informasi itu sekarang. Ketidaklancaran komunikasi sering disebabkan rasa tidak puas karena sikap menyembunyikan sesuatu karena sikap menyembunyikan sesuatu dengan cara yang tidak jujur

Sikap menghormati kepercayaan

Jangan mudah berjanji kecuali memang ada tekad untuk benar-benar menjaga sebuah rahasia. Akan lebih bijaksana apabila dikatakan “saya berusaha untuk menjaga rahasia, tetapi saya ingin mendengar hal tersebut dari anda.” Harus diperhatikan bahwa yang disampaikan bukan gosip ataupun berita yang menjelek-jelekkan pihak lain. Dengan demikian kita menjadi pendengar yang baik dan sekaligus menjaga hubungan dengan pihak lain.

Sikap keterbukaan

Komunikasi yang efektif didasarkan pada kemampuan untuk mendengar. Jika orang tidak yakin bahwa kita mau mendengarkan dengan baik, kegagalan dalam komunikasi sangat mungkin terjadi. Sikap terbuka tidak berpaku pada pendapat kita sendiri (egois) tetapi mempergunakan pendapat orang lain sebagai bahan pertimbangan. Dengan cara tersebut, menunjukkan bahwa kita pendengar yang baik dan mau memperhatikan pendapat orang lain.

Sikap menerima orang lain

Untuk menciptakan komunikasi yang efektif perlu ada kepercayaan dari masing-masing pihak bahwa mereka dapat diterima dengan sepenuh hati tanpa syarat. Tanggapan berpura-pura sangat mudah dilihat dari sikap berbicara, pandangan mata, perhatian, bahasa dan kata-kata yang dipakai.[2]

Sikap empatik

Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, diperlukan juga sebuah sikap empatik. Sikap empatik adalah sebuah sikap dimana kita tidak hanya ikut merasakan apa yang juga dirasakan oleh si komunikan tetapi juga ikutmembantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Pengungkapan diri

Didalam berkomuniikasi, sikap pengungkapan diri juga diperlukan agar ketika proses komunikasi berlangsung, dapat terjadi sebuah proses komunikasi yang efektif karena masing-masing memahami dan menerima satu sama lain.

Persepsi

Persepsi adalah sikap sebuah sikap dalam menilai sesuatu. Pada persepsi kita dituntut untuk menilai dan berpendapat terhadap sesuatu. Dan persepsi setiap orang pasti berbeda satu sama lain tergantung dari kepribadian orang tersebut.[3]

Jadi kesimpulannya adalah cara membangun sebuah komunikasi interpersonal yang efektif adalah diperlukan adanya sikap mendengar secara efektif yang didalamnya mengharuskan kita untuk bersikap jujur, menghormati kepercayaan yang diberikan orang kepada kita, sikap terbuka, dan sikap menerima orang lain. Selain itu, sebuah konsep diri, self disclosure (pengungkanpan diri), pemahaman empatik sangat dibutuhkan demi untuk membangun sebuah komunikasi interpersonal yang efektif.


[1] Stewart L. Tubbs, Sylvia Moss, Human Communication (Bandung: PT Remaja Rosdakaraya, 2012)., Hlm. 22-27.

[2] Bambang Yudho. Op.Cit., Hlm. 21-26.

[3] Yayu Sriwartini, M.Si, Dwi Kartini M,Si, Komunikasi Antar Pribadi Sebuah Pemahaman ( LPPK TRASEJ: PT MITRA SEJATI Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi ,2009)., hal 103 dan 112.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *