Teori Konseling Psikodinamik

Teori Konseling Psikodinamik adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembagan kepribadian. Teori ini di dasarkan pada asumsi bahwa prilaku berasal dari gerakan dan interaksi dalam fikiran manusia, kemudian pikiran merangsang prilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan di pengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Setiap tindakan kita merupakan hasil interaksi dan pergerakan dalam fikiran kita. Kunci utama untuk memahami manusia menurut paradigma psikodinamika adalah mengenali semua sumber terjadinya prilaku, baik itu berupa dorongan yang di disadari maupun yang tidak di sadari. Dalam proses konseling psikodinamik konselor harus melihat masalah itu dengan memperhatikan masa lalu atau berporos pada masa lalu yang di alami klien, maksudnya dalam penyelesaian masalah konselor harus mencari tahu apa yang terjadi pada klien dimasa lalunya sehingga masalah ini terjadi.

Sehingga Freud membagi struktur kepribadian atau jiwa seseorang menjadi tiga yaitu: (a) Id (das es nafsu, keinginan, atau hasrat). Sejak lahir kita telah memiliki keinginan atau hasrat dan dorongan atas keinginannya.(b) Ego (das ich  bisa di sebut juga dengan akal). (c)  Superego (das uaber es hati nurani). Selajutnya Freud menyatakan bahwa perkembangan kpribadian berlangsung melalui lima fase, yang berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitive terhadap rangsangan. Kelima fase perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut:

  1. Fase oral (oral stage: O sampai
    kira-kira 18 bulan
  2. Fase anal (anal stage: kira-kira
    usia 18 bulan sampai 3 tahun
  3. Fase falis (phallic stage: kira-kira
    usia 3 samapai 6 tahun
  4. Fase laten (latency stage: kira-kira
    6 sampai pubertas
  5. Fase genital (genital stage:
    pubertas dan selanjutnya

Dan Teori Konseling Humanistik sebuah
teori konseling yang dalam proses pelaksanaanya, teori ini memberikan sebuah
dorongan dalam bentuk sikap empati dan pemberian motivasi. Teori ini
beranggapan bahwa setiap manusia itu memiliki potensi tersendiri, jadi teori
humanistik ini beranggapan bahwa manusia dapat menyelesaikan masalahnya
sendiri. Teori ini dikemukan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow. Menurut
Abraham Maslow, manusia memiliki lima kebutuhan pokok, yaitu: (1) kebutuhan
fisiologis, (2) kebutuhan rasa aman, (3) belongingness love needs (keinginan
untuk dimilki, dicintai dan mencintai, (4) harga diri, (5) aktualisasi diri.
Tujuan dari teori konseling ini sendiri adalah untuk memberikan kesadaran
kepada setiap klien akan keberadaannya dan menerima keadaan dirinya apa adanya,
atau harus beranggapan bahwa  “saya
adalah saya”. Jadi, dalam proses konseling humanistik konselor harus mampu
memmberikan motivasi kepada kliennya.

Baca Juga  Komunikasi Interpersonal, Pengertian dan Ciri-cirinya

Menurut Teori Terapi Rasional Emotiv, ada empat konsep pemikiran yang harus dipahami dalam proses konseling, yaitu bahwa pemikiran manusia adalah penyebab emosi, manusia memiliki potensi rasional dan irasional, pemikiran irasional biasanya muncul karena pengaruh budaya, dan pikiran serta emosi tidak dapat dipisahkan. Teori ini sebuah teori konseling yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya.

Teori ini berasumsi bahwa manusi dapat mengubah dirinya sendiri dengan berfikir rasional, manusia mempunyai keterbatasan namun dapat diatasi, perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan dan pilihannya sendiri, dan hidup secara rasional itu dapat kita capai secara efektif meskipun manusia itu cenderung berfikir rasional dan iirasional. Ada 3 kerangka dasar dalam teori ini, yaitu: A: Antecedent Event: peristiwa luar yang mempengaruhi individu, B: Belief: keyakinan yang bersifat rasional dan irasional, dan C: emotinal Consequnce: A dan B akan mempengaruhi emosinal kita.

Dalam Proses Konseling yang berporos pada Terapi Tingkah Laku, konselor harus mampu merubah tingkah laku kliennya. Teori ini dipelopori oleh John yang berasumsi bahwa tingkah laku seseorang dapat dirubah melalui pembiasaan, dan jika tingkah laku itu dibiasakan, maka akan tertib yang sama halnya dengan hewan. Terapi tingkah ini bertujuan untuk memperoleh tingkah laku baru dan memperkuat tingkah laku yang diinginkan. Terapi ini berprinsip terhadap perubahan tingkah laku dalam proses belajar meskipun dapat mengapuskan tingakah laku yang tidak sesuai, namun terapi ini tidak bisa mengubah perasaan.

Menurut Tarapi Gestalt sendiri yang dikembangkan oleh Frederick S. Peal, individu itu selalu aktif sebagai keseluruhan dan juga terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis. Terapi gestalt ini adalah bentuk terapi eksistensial yang beranggapan bahwa individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri. Teori ini berasumsi bahwa setiap individu mampu menangani masalahnya sendiri dan tugas seorang konselor adalah hanya memberikan komentar lalu si konseli yang akan menemukan jati dirinya sendiri, hal ini memungkinkan si konseli untuk terapi dirinya sendiri. Jadi klien harus mandiri. Kata kuncinya adalah bahwa klien harus sadar dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Baca Juga  Makna Clerical Collar Yang Biasa Di Pakai Pendeta

Konseling Eksistensial sendiri beranggapan
bahwa
jangan melihat orang lain, andalah yang menentukan ingin jadi seperti
apa, jadi anda yang menetukan hidup anda sendiri. Teori ini berpusat ppada
kondisi manusia, manusia makhluk yang bebas dan bertanggung jawab untuk
memiliki hidup jadi konseli perlu keluar dari belenggu kebebasan yang
bertanggung jawab itu. Yang ditekankan dalam konseling eksistensial adalah
perlu adanya pemahaman diri. Tujuan dari konseling eksistensial ini sendiri
adalah menantang klien untuk menemukan hidup dan menolak hasil deterministik
atau takdir pada ciptaan manusia karena manusia adalah pengarang untuk
hidupnya.

Dan Terapi Kognitif dan Kebiasaan
(Behavioral)
adalah sebuah teori yang didasarkan atas kebutuhan
konseli dan digolongkan dalam terapi tingkah laku. Ada sebuah kata kunci dalam
terapi ini yaitu: BASIC. ID- Modalitas. BASIC:

B: Behavior (perilaku) : kebiasaan-kebiasaan
atau tindakan konseli, A: Affect (perasaan) : mood atau perasaan
konseli, S: Sensation (sensasi) : perasaan tubuh/pengalaman
sensorik konseli, I: Images (bayangan) : fantasi, impian dan
ingatan, C: Codnition (kognisi) : pikiran, keyakinan, ide-ide
insight, nilai dan rencana

I: Interpersonal Relationship
(hubungan interpersonal) :
persahabatan, hubungan intim dan interaksi
konseli dengan orang lain, D: Drugs (obat) : fungsi biologis, termasuk
kesehatan umum. Semua bagian ini saling mempengaruhi

Dalam teori konseling Alkitabiah, adapun tujuan yang ingin dicapai dalam proses konseling ini yaitu berusaha untuk menolong klien untuk menemukan makna hidupnya di dalam Kristus dan memberikan pemahaman bahwa setiap orang punya masalah dan ada Tuhan yang slalu ada bersama dengan kita dalam setiap masalah yang kita hadapi. Adapun tehnik yang paling mendasar dalam proses konseling ini adalah konselor harus tetap melayani klien yang berbeda agama dan memberikan pemahaman tentang ajaran Alkitab, namun tidak semua masalah juga dapat didasarkan pada Alkitab. Dan yang menjadi konselor disini menurut Larie adalah anggota jemaat, para rohaniawan (pendeta, diaken, dan juga tua-tua jemaat) serta orang-orang dalam jemaat yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk menolong orang lain.

Baca Juga  Patung Tau-tau Bukan Berhala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *