Kumpulan Khotbah Ibadah Rumah Tangga Terbaru Dan Terlengkap

khotbah ibadah rumah tangga

Berikut ini kumpulan khotbah ibadah rumah tangga yang bisa anda gunakan untuk pelayanan Firman agar banyak orang menjadi terberkati oleh Firman Tuhan

Jalan Hidup yang Penuh Kemenangan Bersama Tuhan

Nats: Filipi 4: 11b-13; 21-24; Roma 8: 37; 2Kor 2:14

Ada dua macam orang: Pertama, orang yang ketika dalam kesusahan, dan kondisi sulit itu tidak berubah menurut pemikirannya setelah ia berdoa kepada Tuhan, ia me­rasa Allah tidak mempedulikan dia, karena itu ia marah dan meninggalkan Tuhan. Kedua, orang yang ketika hidupnya lancar dipenuhi dengan kesenangan justru terlena dan mengabaikan Tuhan. Dua macam orang ini saya sebut orang yang dikalahkan oleh kesulitan dan orang yang dihanyutkan oleh kenikmatan. Ternyata tidak ada jaminan dalam kondisi hidup fisik yang dapat membuat seseorang tetap setia kepada Tuhan. Karena memang bukan kondisi luar, tetapi hati (sikap batin) itulah yang menentukan respon seseorang kepada Tuhan. Allah yang adil memberi situasi yang berbeda kepada setiap orang. Jika seseorang memiliki hati yang benar kepada Allah, walaupun dalam penderitaan yang berat ia tetap memuliakan Tuhan, dan ketika berada dalam kehidupan yang penuh berkat, ia lebih mencintai Tuhan daripada segala berkat-berkat Tuhan yang siap untuk diambil daripadanya. Tanpa sikap hati yang benar, dalam situasi apa pun orang yang akan selalu meresponi Allah secara salah.

Paulus memberikan teladannya yang indah ketika ia mengungkapkan sikapnya dalam perkataan berikut: “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11b-13). Dalam mengalami kesulitan, deraan, ancaman, kengerian ia tidak menjadi kecewa, ketika ia menerima keadaan yang diberkati, kesukaan, kenyamanan, kelimpahan dan anugerah Tuhan ia tidak menjadi hanyut.

Kesulitan maupun kelancaran merupakan suatu situasi yang sama-sama beresiko untuk mengikis kesetiaan kita kepada Tuhan. Dalam perenungan ini, kita akan memfokuskan kepada bagaimana kita dapat menang atas situasi sulit yang kita hadapi. Saya akan mensharingkan 4 prinsip, yang diharapkan dapat menolong kita ketika menghadapi situasi hidup yang sulit dengan sikap yang benar. Dengan pemahaman dan perspektif iman Kristen yang benar, ia akan dimampukan untuk berespon benar supaya boleh mengalami hidup berkemenangan bersama Tuhan.

Pertama, sadarilah bahwa kita hidup dalam suatu drama kosmik yang sangat menentukan. Kebenaran ini terungkap dalam kitab Ayub. Seluruh kehidupan Ayub, termasuk kehidupan batinnya terbuka bagi pengamatan dan penilaian Allah, malaikat dan Iblis. Ia ditempatkan di dalam posisi yang crucial, di mana seakan-akan kehormatan Allah dipertaruhkan dalam respon Ayub, dan jika dia gagal Iblis mendapat alasan untuk mencemooh Allah. Namun melalui kehidupan Ayub, Allah mau menunjukkan bahwa ada manusia yang akan tetap beriman dan mengasihiNya walaupun mengalami kesulitan terberat. Jikalau ia gagal maka iblis berkesempatan melawan serta mencemooh Tuhan. Tapi, yang terjadi justru melalui respon Ayub yang penuh kesetiaan kepada Allah itu ia mempermalukan Iblis. Inilah kehidupan yang mestinya diwujudkan oleh orang Kristen yang telah menerima anugerah Perjanjian Baru yang melebihi tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

Setiap orang diberi kondisi hidup yang berbeda oleh Tuhan. Namun seperti dalam film, yang menjadi ukuran bukanlah kenyamanan peran si aktor, tetapi bagaimana ia memerankannya. Jika dalam film yang menjadi penilaian adalah kemampuan acting, maka dalam hal rohani yang menjadi penilaian ialah bagaimana menjalankan perannya dilihat dari sudut moral dan rohani: yang menjadi ukuran bukanlah apakah kita kaya atau miskin, pintar atau bodoh, sehat walfaiat atau didera oleh penyakit yang berkepanjangan, panjang umur atau hidup yang singkat; yang menjadi ukuran ialah apakah dalam

Ada orang yang sepanjang hidupnya tetap miskin bukan karena malas atau bodoh, sebaliknya ada orang yang dari kecil hingga tua selalu hidup dalam kelimpahan. Ada yang seumur hidupnya dipenuhi dengan kesulitan, sebaliknya ada yang jalan hidupnya begitu mulus. Cara berpikir yang duniawi akan menilai orang yang hidupnya dipenuhi kesusahan itu bernasib buruk dan gagal, dan orang yang hidupnya enak itu bernasib baik dan sukses. Jika orang Kristen masih terjebak dalam cara pandang yang duniawi ini, maka perhatiannya hanya tertuju kepada mengusahakan kenyamanan hidup dan kelepasan dari kesulitan, dan bukannya pada kualitas hidup yang harus ia wujudkan. Karena itu, tidak heran, ketika dilanda kesulitan, mereka penuh dengan sungut dan keluhan kepada Allah (mengkorfirmasikan tuduhan Iblis, yang tentu saja salah), dan kehilangan fokus untuk dalam situasi hidup mereka untuk semakin memuliakan Allah. Di tengah-tengah kesulitan hidup yang memuncak, justru Ayub menyatakan kesaksian hidup yang sulit dilampaui. Di tengah-tengah kehidupan yang hancur oleh kelumpuhannya, Joni Erickson Tada justru menyatakan suatu kehidupan yang begitu mulia.

Kedua, bagi anak Allah, keadaan sulit yang kita alami bukanlah keadaan tak diberkati, sebaliknya mungkin itu adalah saat yang paling indah dalam hidup kita. Ketika berada dalam kondisi yang sulit, terjepit, merasa lemah, keadaan yang memaksa kita bergantung penuh kepada Allah, seringkali kita menganggapnya sebagai bad time (waktu yang buruk), kondisi buruk yang tidak diberkati. Inilah alasan ketika berada dalam kondisi tersebut satu-satunya keinginan kita ialah cepat-cepat keluar dari situasi itu, setelah itu baru kita merasa diberkati. Tetapi dalam pengalaman saya, saya belajar bahwa saat berada di dalam kelemahan itu adalah saat-saat di mana saya paling dekat dengan Tuhan, itulah saat yang indah bersama Tuhan. Dan saat saya merasa kuat, mantap, dewasa, mandiri, mungkin itu adalah saat saya mulai tidak begitu bergantung lagi kepada Tuhan dan mulai agak liar atau bahkan sangat liar.

Jangan salah mengerti bahwa saya mengajarkan supaya kita menginginkan kehidupan yang terus dalam kesuraman dan penderitaan, karena itu bukan maksud Tuhan atas hidup kita. Kekristenan adalah agama yang positif, yang penuh dengan pujian kemenangan dan sukacita. Karena itu, tidak salah jika dalam kesulitan, sakit, kesedihan, kita menginginkan Tuhan memberikan kelepasan, kelimpahan dan sukacita kepada kita. Tetapi apa yang mau saya tegaskan di sini ialah marilah kita belajar untuk melihat masa suram itu secara positif dari perspektif Kristen, bahwa jika saya berada dalam situasi seperti itu di situ pun Allah hadir dan kasih rahmatNya menopang aku, bahkan lebih penuh kasih mesra.

Ada sesuatu yang unik dalam kehidupan ma­nu­sia, seringkali masa-masa sulit yang pernah kita alami dulu, seperti krisis, bahaya, kesulitan hidup, dsb kita ingat kembali dengan perasaan nostalgia. Demikian juga, dikatakan mengenai hubungan dalam pernikahan: krisis pernikahan yang dilalui dengan penuh ketabahan bahkan berguna untuk membangun kasih dan kepercayaan yang kokoh antara keduanya, suatu hal yang tidak pernah akan dimengerti dan dialami oleh mereka yang telah menyerah.

Ketiga, dengan memfokuskan pikiran hanya pada kebahagiaan di masa yang akan datang, kita telah menyia-nyiakan realitas kehidupan masa kini, yang sebenarnya merupakan sesuatu yang indah dan sangat berharga. Sayur pare itu pahit, jangan dibuang, sebaliknya belajarlah untuk menikmatinya, karena itu sayur yang baik/berguna dan enak. Hidup ini sulit, ini adalah fakta tidak dapat kita tolak. Namun jika kita menyikapinya dengan benar, maka masa-masa sulit itu dapat menjadi pengalaman yang indah bersama Tuhan. Andaikan kita diberi umur 40 tahun, dan 20 tahun terisi oleh kesulitan, apakah berarti kita hanya akan memiliki 20 tahun hidup yang bermakna? Bagi saya, asal kita berjalan bersama Tuhan, maka kita tetap akan memiliki 40 tahun bermakna yang sangat berharga.

Blaise Pascal mengatakan: kita tidak pernah [sungguh-sungguh] hi­dup hanya untuk masa kini …. Kita bersikap tidak bijaksana dengan mengembara dari satu masa ke masa lain yang sesungguhnya bukan milik kita. Kita … mengabaikan apa yang sungguh-sungguh ada. Kita bersikap demikian karena momen sekarang biasanya adalah sesuatu yang menyakitkan, itulah sebabnya kita menekannya…

Kita cenderung membebani pikiran kita dengan masa lalu dan masa yang akan datang, dan jarang memikirkan masa kini…. Kita menjadikan masa  masa lalu dan masa kini sebagai sarana, dan hanya menjadikan masa yang akan datang sebagai tujuan kita. Dengan cara berpikir demikian, kita tidak pernah sungguh-sunguh hidup, sebab kita hanya hidup dalam pengharapan, mengharapkan sesuatu yang belum ada, sedangkan yang ada dibuang-buang. Dengan selalu merencenakan bagaimana kita dapat menjadi bahagia, kita tidak pernah berada dalam kebahagiaan itu. (Pensees).

Keempat, dengan memandang masa “sulit” sekarang sebagai hal yang negatif dan hanya memikirkan kebahagiaan yang belum tiba maka kita lalai menyambut maksud Tuhan dalam situasi kita itu. Tidak ada pengalaman kita yang alami yang terjadi di luar kontrol Allah. Dan jika Ia mengizinkan kita mengalami suatu kesulitan  pasti ada maksud baik dari Allah bagi kita. Kita tahu bahwa: “Allah … bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yagn terpanggil sesuai dengn rencana Allah.” (Rm 8:28). Dan jika dalam setiap situasi hidup kita terdapat maksud Allah yang baik, maka marilah kita menyambut maksudNya itu.

Saint John of the Cross (Santo Yohanes dari Salib) mengungkapkan apa yang dinamainya the dark night of the soul (jiwa yang berada dalam kegelapan malam). Ia mengatakan demikian, “Berada di dalam kegelapan malam bukanlah sesuatu yang buruk dan destruktif. Sebaliknya ini bagaikan pengalaman orang sakit yang menyambut ahli bedah yang menjanjikan kesehatan dan kesembuhan kepadanya. Tujuan dari kegelapan ini tidak dimaksudkan untuk menyakiti atau menghukum kita tetapi untuk menyembuhkan kita. Inilah kesempatan yang Tuhan pakai untuk menarik kita lebih dekat kepadaNya.” Inilah pengalaman dan prinsip rohani yang mendalam untuk menghadapi realita hidup sebagai anak Allah yang mendapat identitas dan destiny penuh kemuliaan.

Ia melanjutkan, “Dalam saat-saat seperti ini mungkin kita akan merasa kering, depresi bahkan putus asa. Tetapi ini merupakan keadaan yang baik karena melucuti setiap ketergantungan kita yang berlebihan kepada perasaan ataupun kondisi-kondisi fisik di luar. Pandangan yang sering kita dengar adalah bahwa pengalaman kekelaman ini harus kita hindari sebagai syarat untuk mengalami kedamaian, penghiburan dan sukacita adalah pikiran yang salah. Sebab berada di dalam keadaan yang gelap ini adalah salah satu cara yang Allah pakai untuk memberikan kepada kita keheningan, ketenangan sehingga Ia dapat melakukan transformasi batin dari dalam kita. Ketika Allah membawa kita ke dalam keadaan demikian, bersyukurlah, karena Allah dalam kasih sayangNya yang besar sedang menarik kita keluar dari gangguan supaya kita dapat melihat Dia secara lebih jelas. Dalam keadaan demikian jangan memberontak atau melawan tapi belajarlah untuk diam dan menantikan Tuhan.”

Allah mempunyai program yang mulia dalam hidup kita, membawa kita ke dalam kemuliaan. Ia ingin membentuk kita menjadi baru dan yang mulia. Dan kesulitan merupakan keadaan yang sangat kondusif untuk pekerjaan ini. Saat kita sedang hancur, saat ego kita telah dihancurkan, itulah saat kita bagaikan tanah liat yang telah dihancurkan untuk siap dibentuk ulang secara baru. Jika dalam saat demikian, kita salah mengerti dan memberontak, kita telah berlaku bodoh dan merugikan diri kita sendiri. Sebagian tidak tahan dalam kegelapan yang kelam ini sehingga ia mencari pengalaman rohani palsu yang menimbulkan gairah dalam hatinya yang kering, tetapi tindakan ini justru mengganggu program Tuhan. Guru-guru palsu telah menawarkan pengalaman agama palsu untuk mengisi kekeringan yang seharusnya diisi oleh Tuhan, akibatnya kepekaan rohani mereka menjadi tumpul. Apa yang mestinya kita miliki pada saat-saat seperti ini ialah berdiam diri di hadapan Allah dan menantikan Tuhan. Manusia tidak selalu menolong, terkadang mereka justru menjadi pengganggu yang mengalihkan perhatian kita dari suara Tuhan. Nabi Yesaya berkata: “dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan, kamu berkata, ‘Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat’, maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula, ‘Kami mau mengendarai kuda tangkas’, maka para pengejarmu akan lebih tangkas pula.” (Yesaya 30:15-16).

Setiap kali kita mengalami kesulitan, carilah maksud Tuhan dalam situasi yang kita hadapi itu. Jangan kita dilumpuhkan oleh kesulitan, tetapi temukan ‘mutiara’ (berkat rohani) di balik kondisi sulit itu. Justru saat di dalam di penjara, Paulus menulis surat-suratnya yang paling penting dan menjadi berkat besar bagi gereja Kristen sepanjang masa, yaitu surat Efesus, Filipi, Kolose, Filemon dan Roma. Demikian juga saat dipenjarakan John Bunyan menulis Pilgrim Progress, karya sastra alegoris terindah dan bermutu tinggi di antara literatur Kristen. Perhatikanlah respon kita dalam masa-masa sulit itu supaya jangan kesulitan itu dilewati tanpa mendapatkan berkat rohani dari Tuhan itu. Amin.

Motivasi Dosa & Perlunya Pertobatan

Nats: Lukas 9: 46-48; Yohanes 21: 17-18

Dalam Luk 9 terdapat essensi kehidupan manusia. Kegagalan orang Kristen untuk memahami siapa manusia yang sesungguhnya akan membuatnya terjebak ke dalam format dimana ia menjadi orang palsu yang sebenarnya tak mengerti arah hidupnya. Problemnya bukan di permukaan dan jalannya juga bukan di fenomena tapi sungguh masuk ke hakekat terdalam.

Sikap para murid Tuhan Yesus justru seringkali tak sesuai konsep kerohanian. Ketika kelihatan sangat baik, setia, giat melayani dan saleh beragama, ternyata di belakangNya mereka bertengkar mengenai siapa yang terbesar hingga berhak duduk di sebelah Tuhan. Motivasi mereka sebenarnya adalah mencari keuntungan. Mereka pikir akan memiliki prospek besar kelak ketika Kristus menjadi Raja. Maka Tuhan memberi kritikan tajam.

Iman kepercayaan tentu mempengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan. Lalu pemikiran akan mempengaruhi tindakan. Inilah pendapat Francis Schaeffer, “I do what I think and I think what I believe” (Saya melakukan apa yang saya pikirkan dan saya memikirkan apa yang saya percaya). Jadi, kepercayaan juga mempengaruhi tindakan. Dan tak ada tindakan yang tak berakibat. Salah bertindak pasti berakibat buruk yang akan membawanya ke Neraka. Sebaliknya, jika imannya benar maka cara berpikir pun tepat hingga mampu mengambil keputusan dengan baik, bertindak benar dan membuahkan hasil yang kelak membawanya pada kehidupan kekal di Surga.

Ternyata selama mengikut Kristus, belum ada komitmen dalam hati para murid untuk merubah iman secara total. Ketika memberitakan Injil dan mengerjakan segalanya dengan bertanggung jawab, mereka bertindak bukan dengan jiwa pelayanan yang sungguh kepadaNya karena tujuan akhir mereka adalah untuk mencapai prestasi hingga akhirnya meminta Tuhan memberikan posisi tertinggi. Orang semacam itu tak mungkin beriman melainkan sangat humanis. Ia berusaha mencelakakan Kekristenan dengan meninggikan diri secara tersembunyi. Mereka telah mempermainkan Tuhan namun tak berhasil karena Ia mengetahui semuanya termasuk pemikiran, keinginan serta isi hati. Di akhir seluruh pelayananNya sebelum naik ke Surga, Ia sempat bertemu dengan Petrus terakhir kalinya untuk merubahnya secara essensial. 

Kemudian Tuhan Yesus mengambil anak kecil dan menempatkannya di sampingNya. Dalam bahasa Yunani, ada 2 istilah anak kecil yaitu teknon (anak pada umumnya) dan paidion (invent). Dalam konteks ini, yang dimaksudkan adalah anak balita dan bukan a child. Lalu Yesus mengatakan, “Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Prinsip ini bersifat paradoxical dan diungkapkan untuk memutarbalik pikiran mereka yang terlalu egois dan kehilangan prinsip kebenaran.

Di tengah dunia, orang Kristen dikunci dengan pemahaman bahwa manusia  dewasa pasti memiliki banyak pengetahuan, informasi dan pengalaman. Mereka sebenarnya tak mengerti proses yang dialami. Terkadang orang dewasa tak menyadari arti proses bagi hidupnya. Maka ia perlu belajar beberapa aspek dari anak kecil (invent).

Pertama, orang dewasa seringkali kehilangan ketulusan hati. Anak balita masih memiliki pure heart (hati yang murni). Perkataan dan tindakannya sungguh keluar dari kemurnian. Makin dewasa, pikirannya semakin tricky hingga mampu menutupi keberdosaannya. Karena dosa yang sangat jahat, hidup manusia berproses bukannya makin suci dan benar melainkan liar dan rusak. Akhirnya, ia kehilangan hubungan sejati dengan Tuhan.

Di depan Tuhan, para murid bersikap manis. Di belakangNya, mereka memiliki trick untuk mencari pengganti Tuhan yang kelak akan menjadi Raja atas segala raja dengan kedaulatan lebih besar daripada Romawi. Manusia boleh menjadi dewasa dengan pengetahuan yang makin banyak tapi jangan kehilangan kemurnian seperti anak kecil.

Kedua, Tuhan Yesus menghendaki orang dewasa kembali belajar dengan anak kecil yang selalu mempertahankan integrity yaitu hidup dalam kemurnian, kesungguhan, kebenaran dan kesucian. Ia menunjukkan bahwa anak kecil memiliki jiwa yang mau belajar dengan melihat, meneladani, menyerap dan meniru orang tuanya karena sungguh ingin bertumbuh. Kalau orangtua salah mendidik atau kurang memperhatikannya maka seumur hidup ia akan sulit diubah karena telah menerima ajaran yang salah. Tapi, orang dewasa merasa tak perlu belajar. Kalaupun belajar, mereka hanya mencari informasi yang menkonfirmasikan atau sesuai dengan prinsip diri karena tak bersedia dibentuk dan diubah. Maka Kekristenan mengajak orang dewasa untuk merubah jiwa, karakter dan hidupnya hingga menjadi lebih baik. Ketika mempelajari Firman, seringkali bukan untuk diri sendiri melainkan orang lain. Padahal seharusnya, Firman Tuhan sanggup merubah sikap hidup dan jiwa pelayanan orang Kristen hingga makin tunduk di hadapanNya.

Ketika hidup di hadapan Tuhan, orang dewasa seharusnya belajar menerima anak kecil. Di sisi lain, mereka harus menjadi teladan kesucian hidup, kejujuran, ketulusan, kemurnian, keadilan dan kebenaran. Ironisnya, kadangkala anak kecil lebih murni, jujur, adil, benar dan berintegritas daripada orangtua. Berarti, ordo terbalik karena kegagalan orangtua. Maka Tuhan menuntut orang dewasa memiliki konsep kehidupan yang berintegritas.       

Walaupun masih terlalu muda, seorang anak telah memiliki konsep integritas dimana perkataan dan tindakan harus sinkron. Jika tidak, akan terjadi konflik yang beresiko besar yaitu terkena hukuman. Maka kalau tak sanggup melakukan, ia takkan berjanji. Sebaliknya, orang dewasa seringkali mengabaikan integritas hingga akhirnya harus menerima akibat dan menjadi korban effect non-integritas.

Tindakan dan perkataan para murid Tuhan Yesus sangat tak berintegritas. Dalam konsep tubuh Kristus terdapat prinsip yang berbeda dengan dunia. Sangat mungkin, Tuhan tak pernah menunjuk Yudas untuk menjadi bendahara melainkan terjadi secara natural karena Alkitab tak mencatat demikian. Dalam pelayanan, memungkinkan terjadinya permainan motivasi karena salah pengertian.

Dalam pelayanan di Gereja Reformed, Pdt. Stephen Tong memakai cara yang berbeda dengan prinsip organisasi dunia tapi disesuaikan dengan Alkitab. Seluruh organisasi pasti mempunyai job description namun Gereja Reformed memiliki burden description (deskripsi beban). Konsep job description sangat membahayakan pelayanan pekerjaan Tuhan. Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil seseorang dan memberinya beban untuk mengerjakan sesuatu. Ia menginginkan tiap orang Kristen berbeban melakukan pekerjaanNya dengan baik dan rela hidup di dalamnya. Jadi, bukan karena diperintah.

Ketika Tuhan Yesus bekerja dan mengajak para muridNya, sangat mungkin terjadi secara natural. Ketika diadakan pengumpulan dana atau pengaturan keuangan, mungkin yang paling concern (peduli) adalah Yudas. Lama-kelamaan, mereka mempercayakan keuangan padanya. Tapi, ternyata ia peduli bukan sebagai beban pelayanan melainkan karena mendapat kesempatan untuk mencuri. Dengan kata lain, kepeduliannya tak terintegritas. Dan setiap tindakan non-integrity pasti berakibat kebinasaan. Itulah hukum yang ditetapkan oleh Tuhan. Murid Tuhan Yesus pun sanggup berbuat demikian di belakangNya karena berpikir Ia tak mengetahuinya. Yudas sempat berbicara dengan sangat simpatik, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yoh 12:5). Tetapi, motivasinya sangat jahat.

Ketiga, anak kecil memiliki perasaan kebergantungan (dependent) yang sangat besar. Dengan kata lain, anak kecil sangat helpless (butuh pertolongan, bimbingan, pembinaan, perlindungan dan pemeliharaan). Anak kecil yang mendapat pemeliharaan dan perlindungan akan merasa bergantung mutlak pada orangtuanya. Ia akan bertumbuh dengan confidence yang sangat kuat, keberanian dan ketegasan. Banyak pula anak kecil yang tumbuh dalam kondisi terbuang hingga menjadi anak yang minder, cari perhatian, selalu ketakutan serta mudah dipengaruhi bahkan dirusak. Sedangkan orang dewasa makin menyombongkan diri hingga merasa tak membutuhkan Tuhan karena merasa diri mampu. Itulah titik pembentukan fatigue. Dengan kata lain, titik puncak kemampuan sekaligus merupakan titik kehancuran. Ia telah melupakan bahwa dirinya terbatas dan kehilangan jiwa kebergantungan. Padahal sebenarnya ia butuh bergantung pada kekuatan yang lebih besar dan tak terbatas yaitu Tuhan sendiri. Makin modern, dunia merasa semakin independent.

Jiwa independence para murid sangat besar. Hingga setelah Tuhan Yesus mati dan bangkit kembali, Petrus masih sanggup mengajak murid lain untuk kembali menjadi nelayan (Yoh 21). Dan tak seorang pun protes atau mengingatkannya. Padahal Tuhan telah membina mereka sebagai penjala manusia. Mereka merasa hopeless (tak berpengharapan) dan desparate (putus asa). Walaupun telah berusaha semalaman, mereka tetap tak mendapat seekor ikan pun. Keesokan paginya, Tuhan mendatangi mereka dan bertanya, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?” (Yoh 21:5). Lalu Ia berkata, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh” (Yoh 21:6). Akhirnya, mereka memperoleh 153 ekor ikan. Setelah itu, Tuhan mengajak mereka makan bersama karena Ia telah menyediakannya. Dengan demikian, Ia hendak menunjukkan bahwa manusia sebenarnya tak mampu berbuat apapun. Saat makan, tak seorang pun berani bertanya kepadaNya.

Sesudah sarapan, Tuhan bertanya pada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21). Pertanyaan ini merupakan resolusi kerohanian orang Kristen. Jawab Petrus, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau.” Lalu Tuhan berkata, “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Ia mempertanyakan hal ini sampai 3 kali untuk menyadarkan Petrus akan cintanya kepada Tuhan. Setelah Ia bertanya untuk ketiga kalinya, Petrus menangis karena baru menyadari bahwa ia kurang mengasihi Tuhan. Memang Petrus ikut Tuhan dan melakukan banyak hal bagiNya tapi ia masih sangat cinta diri. Setelah ditanya oleh Tuhan, barulah ia mencintaiNya dengan sungguh. Seseorang yang mencintai Tuhan tentu akan melakukan yang terbaik bagiNya. Kadangkala, manusia membiarkan dirinya dan orang lain merenggut cinta Tuhan. Ketika Ia bertanya untuk ketiga kalinya, Petrus hanya sanggup menjawab, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh 21:17).  Amin.

Ketergantungan Manusia kepada Allah & Arti Percaya kepada Tuhan

Nats: 1 Raja-raja 18:21; Yesaya 29:13

Kita sudah mempelajari bahwa dalam diri setiap orang diberikan oleh Tuhan natur untuk mengasihi diri dan merawat diri sehingga setiap orang bertanggung jawab mengusahakan apa yang baik bagi dirinya sendiri. Ini merupakan karunia yang harus kita syukur. Betapa mengerikan jika hal ini tidak kita miliki. Dalam Rasa Sakit sebagai Karunia (The Gift of Pain), Dr. Paul Brand menceritakan suatu kasus penyakit yang ditemui pada seorang gadis kecil bernama Tanya – ia berusia empat tahun ketika dibawa menemui Dr. Brand. Ibunya menceritakan bagaimana saat Tanya berusia tujuhbelas bulan, dengan terkejut dia melihat Tanya ditinggal di baby box sedang menggambar dengan jarinya yang berdarah. Rupanya ia telah menggigit ujung jarinya dan bermain-main dengan darahnya sendiri. Masalah pada anak ini ialah ia menderita cacat genetik di mana ia tidak dapat merasa sakit.” Syaraf-syaraf di tubuhnya [dapat] mengirimkan  pesan-pesan mengenai perubahan tekanan dan suhu – ia merasakan sesuatu ketika ia membakar dirinya sendiri atau menggigit-gigit jarinya – namun pesan yang diterimanya tidak mengisyaratkan suatu ketidaknyamanan. Tanya tidak memiliki kesadaran mental tentang rasa sakit. Akibatnya, dia tidak memiliki insting untuk melindungi dirinya sendiri.

Ketika ia mulai belajar berjalan, kakinya penuh luka karena ia menginjak paku payung dan tidak mau repot-repot menyingkirkannya. Sering ada saja luka baru yang ditemukan, belum lagi masalah lain muncul di pergelangan tangan dan kakinya, akibat perilakunya yang mengakibatkan kerusakan pada tubuhnya sendiri. Ketika berusia sebelas tahun ia telah menjalani kehidupan yang menyedihkan di sebuah panti perawatan. Ia kehilangan kedua kakinya karena diamputasi, ia hampir saja kehilangan seluruh jari tangannya. Kedua sikunya berubah letak. Ia menderita karena infeksi kronis yang disebabkan oleh luka-luka pada tangannya dan bekas amputasi di kakinya. Lidahnya penuh dengan luka dan goresan-goresan karena kebiasaannya mengunyah lidah. Inilah suatu contoh ekstrim tentang orang yang tidak memiliki kesadaran akan rasa sakit sehingga kehilangan insting untuk melindungi dirinya dari bahaya.

Orang yang apatis patut dikasihani karena mereka sudah putus asa terhadap hidup dan dengan menjadi mati rasa terhadap rasa sakit dan senang, mereka tidak peduli lagi terhadap malapetaka yang mengancam mereka atau kebahagiaan yang disediakan bagi mereka. Mereka tidak takut terhadap ancaman sehingga tidak merasa perlu menghindari tindakan yang destruktif, mereka juga tidak dapat dibujuk untuk melakukan hal-hal yang dapat membawa dia untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Orang yang sudah mati rasa terhadap kengerian penderitaan tidak lagi memiliki rasa takut terhadap murka Allah maupun neraka, karena itu mereka tidak peduli jika mereka hidup secara berdosa dan melawan Allah dan menumpuk murka Allah atas diri mereka karena tidak memiliki insting untuk melindungi diri mereka dari bahaya mereka terus menerus merusak diri mereka dengan hebat.

2. Kesadaran akan diri dan dorongan untuk mengasihi diri dengan benar adalah suatu karunia Tuhan yang baik. Tetapi dalam kehidupan banyak orang kita melihat ini telah diselewengkan dalam suatu kehidupan yang egosentris. Perhatian dan cinta diri telah menjadi begitu berlebihan sehingga menjadi kecenderungan yang destruktif dalam diri mereka. Mereka begitu memikirkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, hidup hanya untuk diri sendiri sampai rela mengorbankan orang lain. Akhirnya mereka terjebak dalam penjara egosentris mereka diri. Mereka tidak mengerti bahwa menjadikan diri sebagai fokus dan tujuan adalah jalan menuju ketidakbahagiaan dan kehancuran. Manusia telah diciptakan oleh Tuhan untuk mencapai pemenuhan dan makna hidupnya bukan di dalam dirinya tetapi di luar dirinya, yaitu di dalam Sesuatu yang lebih besar dari dirinya, yaitu Tuhan.

Jika dalam suatu keluarga setiap orang hanya memikirkan diri sendiri, pasti semuanya akan menderita; ketika suatu masyarakat setiap orang hanya memikirkan keuntungannya sendiri, walaupun yang kuat untuk sementara akan lebih nyaman, tetapi pada akhirnya semuanya akan hancur. Inilah gambaran masyarakat Indonesia. Hidup yang saling mengasihi akan menolong semuanya untuk lebih berbahagia, bahkan di tengah-tengah penderitaan mereka.

Dalam novel Silas Marner, dikisahkan perubahan yang dialami oleh seorang yang hidup tanpa kasih dan persekutuan dengan orang lain menjadi salah seorang yang paling berbahagia, ketika ia mulai mengalihkan perhatiannya dari diri kepada orang lain. Silas Marner pindah ke suatu desa, dengan menyimpan kepahitan karena pengkhiatan temannya dan fitnahan kecurangan. Karena itu, ia menjauhi pergaulan dengan orang lain, dan hanya sibuk bekerja mengumpulkan uang. Suatu hari, uangnya ludes dicuri orang. Di tengah kesedihannya itu, ia menemukan seorang bayi perempuan mungil yang ditinggal mati oleh ibunya saat dalam perjalanan bersalju di dekat rumahnya. Silas memungut anak tersebut dan merawatnya hingga dewasa. Bayi itulah yang membuka interaksi Silas dengan penduduk desa itu. Ibu-ibu mengajari dia cara merawat bayi, memberikan baju bekas untuk si bayi, dan mulai berteman dan pergi ke gereja. Sejak itu, ia merasa sangat bahagia, walaupun kehilangan seluruh uangnya, tetapi kini ia memiliki sesuatu yang lebih berharga, yaitu Eppi, anak angkatnya. Setelah dewasa, ayah kandung Eppi yang kaya memperkenalkan diri dan meminta Eppi untuk tinggal bersamanya, tetapi Eppi memilih untuk tinggal bersama orang tua angkatnya yang telah menyelamatkan dan mengasihi dengan tulus.

Kehidupan Silas Marner yang suram dan pahit diubah menjadi penuh arti dan kebahagiaan karena ia mengasihi orang lain. Ketika kita mengasihi dan menolong orang lain, bukan dia saja yang mendapat berkat, tetapi kita sendiri juga diberkati. Ketika menolong orang lain, tanpa disadari kita sedang menolong diri kita sendiri. Pengalaman Sadhu Sundar Singh yang ketika menolong orang yang sedang kedinginan di bawah hujan salju justru menyelamatkan dirinya sendiri. Kita tidak dapat hidup sendiri, kita memerlukan orang lain, tetapi di atas semuanya kita memerlukan Tuhan.

3. Orang yang betul-betul memikirkan kebaikan bagi dirinya dengan benar, pasti akan datang kepada Tuhan. Karena sebagai mahluk yang begitu kecil di tengah alam semesta yang begitu dahsyat dengan kuasa destruktifnya, kita membutuhkan Pribadi yang memiliki kuasa tertinggi untuk menopang hidup kita. Adalah suatu kekacauan dalam diri kita, jika kita yang menginginkan hidup yang bahagia justru menolak Tuhan. Masyarakat masa kini yang telah melihat dampak-dampak buruk modernisme sadar bahwa mereka membutuhkan suatu kuasa ilahi di atas diri mereka untuk mengisi hati mereka yang kosong. Dalam masyarakat postmodern kita melihat kesadaran akan pentingnya spiritualitas, dan maraknya kegiatan keagamaan.

4. Tetapi apakah itu berarti orang sudah menemukan Allah sejati? Belum tentu! Karena ketika orang datang kepada Tuhan ia mungkin mencari Dia dengan sikap yang salah ini:

(i) Ia mencari Allah yang dapat ia manipulasi / peralat. Ia percaya kepada Tuhan karena ada maunya, yaitu untuk mendapatkan uang, kesehatan, kekasih, kesejahteraan dan lain-lain yang umunya bersifat kedagingan. Dan Allah tidak pernah dengan sungguh-sungguh diakui sebagai Pribadi tertinggi yang berdaulat atau berotoritas penuh atas hidupnya. Allah sejati pasti tak mau diperlakukan demikian. Ia menghendaki kasih yang tulus dari umatNya. Inilah rahasia rohani yang besar. Ayub adalah bukti masih adanya umat Tuhan yang mau mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan bukan karena berkat-berkat Tuhan. Dengan demikian, Iblis telah dipermalukan. Allah sendiri telah memberi kepada kita teladan mengenai mengasihi tanpa syarat.

Orang mungkin akan bertanya: jika bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Allah lalu untuk apa kita percaya kepadaNya? Orang yang memperalat Allah untuk mendapatkan sesuatu yang dianggapnya lebih utama dari Tuhan melakukan penghinaan terhadap Tuhan. Ia tidak sadari bahwa tanpa Tuhan, semua berkat itu sia-sia dan dapat menjadi kutuk baginya. Sebaliknya, orang yang mengutamakan Tuhan justru adalah yang paling berbahagia, karena Allah dalam kasihNya memberikan segala berkatNya yang terbaik demi kebaikan kita.

(ii) Ia mencari Allah yang ia sukai, yang sesuai dengan selera dan kepribadiannya, yaitu allah yang dapat ia atur. Inilah penyesatan dan penipuan diri yang sering kita lakukan. Allah semacam ini pasti tidak akan membawa kita ke dalam transformasi menuju kemuliaan, seperti yang direncanakan Allah dalam Kristus bagi kita. Sebaliknya, justru akan membiarkan kita di dalam kebusukan pribadi kita.

Mengapa dua cara mendekati Tuhan ini salah dan bodoh? Karena allah yang dapat kita manipulasi dan atur, pasti bukan allah sejati yang memiliki kuasa tertinggi untuk menopang hidup kita dan memberi jaminan bagi hidup kita sekarang dan kehidupan yang akan datang. Orang yang waras dan bijaksana akan mencari Allah sejati, walaupun itu berarti Tuhan mengatur dia menurut standar-Nya yang sempurna, bukan Tuhan yang diatur oleh dia. Ia mau menerima otoritas Allah ini karena hanya Allah sejati saja yang sanggup menopang hidup kita dan memberikan berkat sejati bagi kita untuk selama-lamanya.

Jean Paul Sartre mengungkapkan bahwa manusia harus memilih satu dari dua pilihan ini: (1) Allah sejati itu ada, dan Ia memberikan aturanNya kepada kita dan berotoritas atas hidup kita, tetapi dengan tunduk kepadaNya hidup kita menjadi bermakna dan bahagia; atau (2) tidak ada Allah, dan tidak ada yang berhak mengatur semua. Karena itu, setiap orang menjadi allah bagi dirinya sendiri, dan da­pat berbuat sesuka hatinya, tetapi itu berarti kekacauan kehancuran. Nabi Elia menantang kita: “Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah Dia” (1 Raj 18:21). Kita harus memilih.

Respon manusia yang paling buruk ialah bersikap indifference (tak acuh), bahkan setelah kebenaran diungkapkan kepadanya. Orang semacam itu tak mau banyak pikir bersusah payah mencari kebenaran. Ia membiarkan hidupnya dihanyutkan oleh arus kesesatan. Dan jika ia kebetulan percaya kepada Allah sejati, ia selalu bercabang hati dan mengkhianati Tuhan.Tidak ada kasih dan ibadah yang tulus. Seperti yang ditegur oleh Yesaya: “bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh daripadaKu, dan ibadahnya kepadaKu hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.” (29:13)

Kalau kita sadar bahwa kita membutuhkan Allah lebih dari apa pun, biarlah kita mencari Allah yang sejati, dan mendekati Dia dengan sikap yang benar. Dan percaya kepada Allah bagi kita berarti:

a. mengaku bahwa kita adalah milik Tuhan. Dialah yang telah menciptakan kita, menopang hidup kita, dan yang menyelamatkan kita dengan sempurna. Seluruh keberadaan kita: nyawa, harta, kesehatan, talenta, orang-orang yang kita kasihi, semua adalah milik Tuhan. Ia yang memiliki hak dan otoritas penuh untuk mengatur bagaimana semua itu dipakai bagi kemuliaanNya. Pada diri kita, dan semua yang dipercayakan Tuhan itu, seharusnya diberi cap ROFGU (Reserved Only for God’s Use, artinya “dikhususkan hanya untuk digunakan bagi tujuan Allah”.

b. menerima kedaulatanNya yang mutlak atas hidup kita. Dia adalah Tuhan kita di kantor, di rumah, di mana saja. Dia berotoritas penuh atas seluruh hidup kita. Terhadap pertanyaan esensial ini: Who is really in charge of my life – God or me? jawaban kita adalah jelas, yaitu: God. Allah adalah Tuhan dan Pemimpin yang berotoritas penuh atas hidupku. Hidupku adalah untuk menjalankan perintahNya. Dia yang menetapkan programNya untuk kita jalani, bukan kita yang mengatur Allah. Apapun juga jalan hidup yang ditetapkan Allah bagi kita, apakah harus bersabar seperti Abrham, diperlakukan dengan tidak adil seperti Yusuf, mengalami penderitaan seperti Ayub, kita hanya dapat menerima ketetapan Allah dengan ketaatan. Always say Yes to God dan say No to sinful self

c. memberikan tempat yang terutama dalam hati kita hanya bagi Allah. Kita tidak membiarkan adanya suatu berhala, apapun itu dalam hati kita (Kel 20:3) Orang beriman lebih mengutamakan Allah daripada bapa atau ibunya, anaknya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sekalipun (Mat 10:37). Walaupun sangat mengasihi Ishak, tetapi Abraham mempersembahkan kepada Tuhan, sesuai perintah Tuhan, karena ia lebih mengutamakan Tuhan dan mentaati Dia. Karena itu, Ia dan keturunannya diberkati. Orang yang mengutamakan anaknya, dirinya, hartanya lebih dari Tuhan akan menemukan semua yang dikasihinya itu akan hancur dan membawa dia kepada kehancuran. Hanya dengan menempatkan Tuhan sebagai yang utama dan pemimpin hidup kita, seluruh hidup kita akan mendapatkan tatanan yang akan membawa kita kepada kesejahteraan. Amin.

Mengikut Yesus Tidak Dapat Tanpa Menyangkal Diri

Nats: : Matius 16: 24-27; Lukas 14: 26-27

Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya dalam Matius 16:24: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Dalam perenungan hari ini, kita akan memfokuskan pembahasan hanya pada hal menyangkal diri. Yesus mengatakan menyangkal diri adalah tuntutanNya bagi setiap orang yang mau mengikuti Dia. Apa artinya menyangkal diri? Menyangkal berarti menolak, menanggalkannya, atau menurut Lukas 14:26-27 berarti membenci (“Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu.”)

Benarkah Yesus mengajarkan suatu agama yang membenci diri dan semua orang yang kita kasihi? Tidak! Apa yang ditekankan Yesus di dalam Lukas 14 itu ialah bahwa kesetiaan kita kepada Allah harus mengatasi semua keterikatan alami yang lebih rendah dari keterikatan kita kepada Allah, dan hanya dengan mengutamakan Allah semua hubungan kita baru akan menjadi baik dan sehat. Ini bukan perintah untuk memperlakukan diri dengan buruk, karena dalam tuntutan ini Yesus bukan memerintahkan kita untuk meniadakan identitas diri kita, dan menjadi “nobody” (“bukan siapa-siapa”); juga bukan perintah untuk menghina diri atau memperlakukan diri kita sebagai orang yang tidak berharga; karena Ia sendiri menunjukkan perhargaan yang demikian besar kepada kita sehingga rela berkorban bagi kita.

Dalam perintah ini terkandung kebenaran paradoks mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap kepada diri kita sendiri. (1) Di balik perintah untuk menyangkal diri terkandung maksud Allah yang positif bagi kita yaitu membawa kita ke dalam kepenuhan kemanusiaan yang telah Ia rencanakan bagi kita. Seperti yang diungkapkan dalam 2 Kor 3:18, Ia senantiasa membawa kita ke dalam kemuliaan yang semakin besar (band. 2Kor 11:2). (2) Namun karena di dalam diri kita, yang walaupun telah ditebus, masih memiliki banyak keinginan daging atau sifat-sifat dosa yang akan menghalangi maksud Allah bagi kita, bahkan dapat menghancurkan kita, maka kita harus menghancurkan sifat-sifat buruk ini atau kita yang akan dihancurkannya. Simson dikalahkan bukan oleh banyaknya tombak dan pedang tentara Filistin, juga bukan tipu muslihat Delilah, ia terutama dan pertama-tama, dikalahkan oleh nafsu dan kedagingannya sendiri, sehingga ia menyerahkan rahasia kekuatannya kepada seorang wanita dan dihina dan disiksa oleh orang-orang Filistin. (3) Musuh terbesar setiap orang adalah diri sendiri, yaitu segala kebodohannya, kedagingannya dan keinginannya yang jahat. Hanya dengan menyangkal semua sisi buruk dan mengembangkan sisi positif dalam diri kita, kita akan mencapai kepenuhan maksud Allah yang mulia bagi kita. Karena itu, orang yang menyangkal diri adalah orang yang mengasihi dirinya sendiri, dan orang yang tidak mau menyangkal diri justru adalah orang yang membenci dirinya sendiri. Kekristenan tanpa penyangkalan diri bukanlah Kekristenan versi Yesus. Itu hanya Kekristenan buatan manusia yang akan membiarkan kita di dalam kemandegan rohani.

Lalu Apa arti menyangkal diri itu? Inti penyangkalan diri bukanlah menolak kesenangan atau menyiksa diri seperti yang diajarkan dalam asketisme. Perlu kita ingat selalu bahwa Kekristenan bukanlah agama yang negatif, yang merendahkan, tetapi agama positif, yang justru mengangkat hidup kita dalam kelimpahan dan berkat sejati dari Allah. Kerohanian sejati juga bukan sekedar menjalankan aktivitas agama seperti berdoa puasa, berbuat amal, dsb. Semua aktivitas agama ini pada dasarnya adalah hal yang baik,  tetapi jika kehilangan essensinya, semua kegiatan itu menjadi kemunafikan. Inilah kegagalan dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Tanpa penyangkalan diri yang penuh kerelaan kepada Allah sebagai Penguasa mutlak hidup kita, semua aktivitas agama dan pengalaman rohani kita akan kehilangan maknanya. Inti dari penyangkalan diri Kristen ialah:

Pertama, menyangkal diri berarti menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah. Manusia tidak pernah dimaksudkan sebagai makhluk otonom, yang menjalankan hidupnya berda sarkan hikmat dan kekuatannya sendiri. Setiap orang yang mencobanya pasti akan menemui kegagalan. Dalam kasus Adam dan Hawa kita belajar kebenaran yang berharga ini. Sebelumnya Adam dan Hawa hidup dalam kebergantungan mutlak kepada Allah, dan mereka berbahagia. Kemudian datanglah cobaan dari Iblis, yang menawarkan opsi yang berlawanan dengan firman Allah. Jika mereka tetap bergantung mutlak kepada Allah, mereka akan langsung menolak perkataan Iblis. Namun mereka menerimanya dan mempertimbangkannya opsi/pilihan kedua itu sebagai yang mungkin benar. Untuk berbuat demikian, mereka pasti harus terlebih dahulu menarik komitmen mereka kepada Allah, dan mengangkat diri sebagai penentu kebenaran antara Allah dan Iblis. Kesalahan mereka itu harus dibayar mahal, yaitu kematian mereka.

Menyangkal diri berarti mengakui ketergantungan kita kepada Allah, dan karena itu, kita menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah. Kita mengakui bahwa hidup yang diserahkan kepada Tuhan, sebagai pemegang hak dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidup kita dijalani bukan saja sudah seharusnya tetapi juga akan membawa kebaikan bagi kita. Frances Havergal mengungkapkan penyerahan diri yang total kepada Allah ini dengan indah dalam syair lagunya: Take My Life and Let It Be Consecrated. Semua yang ia miliki, ia baktikan kepada Tuhan: tangannya untuk melakukan kehendak Tuhan, kakinya untuk menyebarkan Injil, suaranya untuk memuji Sang Raja selamanya, hartanya semuanya menjadi milik Tuhan dan waktunya hanya untuk memuliakan Tuhan. Ia memeteraikan lagu tersebut dalam kesaksian hidupnya.

Dalam kehidupanNya di bumi, Kristus memberikan teladan yang indah bagi kita. Seluruh hidupNya adalah suatu penyerahan penuh untuk melakukan kehendak Bapa, dan puncaknya ialah ketika bergumul di taman Getsemani, Ia dengan konsisten menyerahkan diriNya untuk melakukan kehendak Allah sampai tuntas. Doa ‘Bapa Kami’ yang kita selalu kita ucapkan sebenarnya merupakan ungkapan kerinduan terbesar dari setiap pengikut Kristus; yaitu nama Allah, kerajaan Allah dan kehendak Allah sebagai concern terbesar hidup kita, dan bukan ambisi dan kehendak kita.

Dalam buku kecil ‘Hatiku Rumah Kristus,’ Robert Boyd Munger mengungkapkan dengan indah bagaimana suatu kehidupan yang diserahkan sepenuhnya kepada Kristus sebagai penguasa hidup kita adalah cara terbaik untuk menjalani kehidupan Kristen. Ibu Teresa pernah mengatakan bahwa dirinya hanyalah pensil sederhana yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan untuk Ia pakai sesukaNya untuk maksud Allah.

Kedua, menyangkal diri berarti pertempuran seumur hidup menaklukkan dosa dalam diri kita. Mau tidak mau, harus kita akui bahwa ada banyak sifat buruk di dalam diri kita. Untuk lepas dari keinginan dosa (indwelling sin) yang melekat dalam dirinya sampai inilah rasul Paulus bergumul sampai ia mendapatkan kemenangan rohani dalam diri Allah Tritunggal (Rom 7:13-8:17).

Buku kecil Hati Manusia mengungkapkan bahwa di dalam hati setiap orang ada banyak sifat-sifat dosa yang mau menguasai kita. Penulis menggunakan berbagai macam binatang untuk melukiskan bermacam-macam dosa kita: burung merak (kesombongan), kambing (keras kepala), babi (hawa nafsu), kura-kura (kemalasan), harimau (amarah), ular (kelicikan) dan serigala (pencuri), dengan otaknya si Iblis. Kita harus menaklukkannya atau kita akan ditaklukkannya.

Dalam novel The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde diceritakan seorang dokter yang begitu baik, namun membiarkan sisi buruk kehidupannya secara bebas melampiaskan segala kesenangan daging, sampai akhirnya sisi buruknya itu menelan sisi baiknya, dan akhirnya menghancurkan hidupnya. Demikianlah, dosa yang dibiarkan bertumbuh dan berkembang di dalam diri kita, akhirnya akan menjadi kekuatan destruktif yang akan menghancurkan kita. Banyak kebiasaan buruk yang telah kita biarkan berurat akar di dalam diri kita, begitu sulit untuk kita atasi, sehingga kalau bukan anugerah Allah, hampir mustahil kita dapat terbebas darinya.

Pentingnya penyangkalan atau penguasaan diri adalah hal yang dimengerti semua orang. Dalam buku Emotional Inteligence diceritakan eksperimen yang dilakukan pada sekelompok anak-anak sekolah. Dalam satu kelas, si guru membagikan kue mashmallow kepada setiap anak, tetapi mereka diminta untuk menunggu sampai guru kembali baru boleh dimakan. Siapa yang menuruti akan diberi kue ekstra. Lalu selam beberapa menit guru meninggalkan mereka. Dan segala tingkah laku anak-anak itu diawasi dan dicatat melalui kamera tersembunyi. Ada anak tidak dapat menahan, dan ada juga yang bisa menahannya. Riwayat anak-anak itu dicatat sampai mereka dewasa. Dan ditemukan penguasaan diri mereka itu berkorelasi dengan masa depan mereka. Mereka yang belajar menunda kesenangan ternyata lebih berhasil dalam studi dan karir.

Dalam Gal 5:19-21 Paulus memperingatkan kita bahwa orang yang menuruti keinginan daging tidak layak mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah. Tidak seorangpun dari kita yang bebas dari dosa; karena itu, jangan ada orang yang menyombongkan diri. Biarlah setiap kita yang jatuh dalam berbagai macam dosa ini, berusaha untuk bangkit kembali dengan pertolongan Tuhan. Biarlah kita menyalibkan tubuh dosa kita sehingga dosa kehilangan kuasaNya di dalam diri kita. Inilah pengalaman rasul Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.“ (Gal 2:19-20)

Ketiga, menyangkal diri berarti meneguhkan maksud Allah yang mulia dalam diri kita. Penyangkalan diri bertujuan memulihkan gambar Allah dalam diri kita, supaya maksud Allah yang mulia terwujud di dalam diri kita. Karena itu, penyangkalan diri harus selalu disertai usaha pengembangan diri seperti yang dikehendaki Allah, yaitu bertumbuh dalam keserupaan Kristus, memiliki karakter ilahi, atau buah-buah Roh Kudus. Tanpa disertai sisi positif ini, maka penyangkalan diri akan menjadi sekedar tindakan agama yang negatif dan membebani, bukannya menimbulkan sukacita. Ingat, kekristenan bukan agama negatif, tetapi positif dan konstruktif.

Jika telah belajar untuk menyangkal diri kita akan terbebas dari penjara egoisme yang membuat kita demikian terobsesi oleh diri sendiri (narciscus), inilah sebabnya orang tega-teganya memperalat dan mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri. Hanya setelah belajar untuk menyangkal diri, kita mampu melakukan kebaikan sejati kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Selama belum menyangkal diri, bahkan ketika berbuat baik sekalipun, semua itu kita lakukan demi dirinya. Kita hanya berbuat baik kepada yang baik kepada kita, kepada orang yang kita sukai, kepada orang yang akan memberikan keuntungan kepada kita, atau yang suatu hari dapat menolong kita. Bahkan berbuat amal pun itu untuk mengumpulkan amal bagi kita, atau melaukan kebajikan yang sangat mulia, karena itu memberikan kesenangan rohani kita. Demikian juga, hanya setelah belajar untuk menyangkal diri kita baru dimampukan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Penyangkalan diri memampukan kita untuk mengakui diri kita hanya penatalayan Tuhan dan segala sesuatu yang ada pada diri kita: talenta, kepandaian, kekayaan, waktu, kesempatan, kelancaran, kesehatan, dsb adalah karunia dari Tuhan. Dan semua itu bukan untuk dipakai bagi kepentingan kita sendiri, apalagi untuk diboroskan atau untuk tujuan yang berdosa, sebaliknya kita akan memakai semua itu dengan rendah hati, disiplin dan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan maksud dan ketetapan Allah.

Penyangkalan diri juga membuat orang Kristen percaya bahwa berkat sejati berasal dari Tuhan. Karena itu, ia tidak akan secara tamak memakai cara-cara licik dan mencelakakan orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Kita tidak akan iri karena orang lain mendapatkan keuntungan lebih besar, karena tahu ia tidak berhak mengatur bagaimana Tuhan memberi anugerahNya. Selain itu ia tahu, bahwa tanpa penyertaan Tuhan, semua keuntungan duniawi dapat menjadi kutuk baginya. Penyangkalan diri akan memampukan kita untuk bersyukur dan berbahagia dalam segala keadaan. Karena tahu bahwa Tuhan senantiasa memelihara kita menurut caraNya yang Ia pandang terbaik untuk kita, bukan maunya kita. Penyangkalan diri menjadikan orang tak terikat pada dunia sehingga ketika segalanya diambil kembali oleh Tuhan, walaupun ia dapat merasa susah, tetapi tidak akan tenggelam dalam keputusasaan.

Musuh setiap orang ialah dirinya sendiri: keegoisannya, hawa nafsu dan keinginan daging di dalam dirinya; bukanlah situasi luar seperti kurang pintar, kaya, kurang tampan atau kurang cantik, kurang mendapat kesempatan, dan sebagainya. Anak Tuhan harus berjuang menaklukkan dosa sehingga rencana Tuhan yang indah dapat terwujud dalam dirinya. Kemenangan pribadi atas atas diri sendiri inilah rahasia kemenangan rohani yang memberikan kesuksesan di bidang lain. Sebaliknya kegagalan untuk menaklukkan sifat-sifat buruk dalam diri kita secara pasti menghambat kemajuan yang diharapkan Tuhan dari kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi muridNya yang sejati. Amin.

Kuasa Penebusan Allah terhadap Kehidupan Manusia

Nats: : Mazmur 90

Mazmur 90 merupakan doa Musa (ay. 1a), yang ditulisnya ketika ia sudah tua dan menyaksikan kefanaan hidup manusia. Allah telah memakai dia memimpin umat Israel keluar dari perbudakan Mesir dengan maksud membawa mereka masuk ke tanah Kanaan. Tapi harapan tersebut pupus oleh pemberontakan yang terus mereka lakukan sehingga mengakibatkan murka Allah atas diri mereka. Sebagai hukumannya mereka tidak diizinkan masuk ke Kanaan, dan keturunan merekalah yang mewarisi  tanah perjanjian itu. Maka selama empat puluh tahun Musa menyaksikan ratusan ribu orang Israel yang bersamanya keluar dari Mesir hanya berkeliling di padang gurun, sampai mati semuanya. Sebagai bapa rohani yang begitu mengasihi bangsanya ini, namun sekarang harus menyaksikan mereka menjalani kehidupan yang terhukum: di bawah bayang-bayang kesulitan, penderitaan dan kesia-siaan, hal ini sangat menyedihkan hatinya. Adakah pertolongan dan harapan bagi hidup manusia? Inilah yang mendorong dia menghampiri Allah dalam doa: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mzm 90:12) Seperti apakah memiliki hati bijaksana dalam menjalani kehidupan ini? Hati yang berbijaksana setidaknya memiliki tiga hal yang akan saya sharingkan ini:

 I.  Menghadapi realitas kehidupan secara realistis dan bukannya menghindarinya karena itu sulit

Tuhan mencipta manusia untuk memuliakan Dia, dan bersama itu mereka akan berbahagia. Maka wajar jika setiap orang memiliki dorongan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi kenyataannya berapa banyak orang yang sungguh-sungguh berbahagia? Kehidupan dalam dunia ini, ada begitu banyak masalah (berskala internasional, nasional atau pribadi): kesukaran, bencana, penyakit, ketidakadilan, kekerasan, kejahatan dan kematian. Dapatkah kita menutup mata dan berpura-pura bahwa semua masalah ini tidak pernah ada dan menyetujui bahwa satu-satunya tujuan hidup manusia ialah untuk bersenang-senang? Mungkin orang yang memiliki hidup yang lancar akan berpikir begitu. Tetapi kita yang sadar bahwa ada begitu banyak orang yang menghadapi masalah yang menggoncangkan jiwa mereka, seperti: kesehatan yang terancam, anak yang cacat atau bermasalah, kesulitan ekonomi, hubungan keluarga yang rusak, menghadapi teror orang jahat, bencana dan kematian, maka kita mau tidak mau harus mengakui bahwa ada yang tidak beres dengan dunia ini, dan ini harus membawa kita datang kepada Allah untuk mendapatkan jawaban yang tuntas atas pertanyaan hidup ini.

Dalam fabel Watership Down, dikisahkan suatu koloni kelinci liar yang dicabut dari habitatnya dan ditempatkan bersama sekelompok kelinci peliharaan yang besar, cantik dan bersih. Bagaimana kamu dapat hidup demikian enak? Tanya kelinci liar itu, tidakkah kamu mengusahakan makananmu? Kelinci peliharaan menjelaskan bahwa makan disediakan bagi mereka. Hidup ini nyaman dan indah. Namun setelah beberapa hari, kelinci liar memperhatikan kelinci-kelinci yang gemuk menghilang satu persatu. O, itu memang kadang-kadang terjadi, jelas kelinci peliharaan. Tetapi jangan biarkan itu mengganggu hidupmu. Ada banyak hal menyenangkan untuk dinikmati. Kelinci liar itu menemukan di tempat itu ada banyak bahaya yang mengancam nyawa mereka. Tetapi kelinci peliharaan demi menikmati hidup yang menyenangkan telah menutup mata dari kenyataan bahaya kematian yang mengancam mereka. Fabel ini mau menyampaikan ajaran moral. Seperti kelinci gemuk itu kita mau mempercayai bahwa satu-satunya tujuan hidup di dunia ini adalah kesenangan dan kenyamanan. Dan banyak orang yang mempercayainya. Tetapi ada banyaknya penderitaan dan ketidakadilan membuat gaya hidup demikian harus dipertanyakan. Orang bukannya tak tahu dunia ini abnormal, mereka juga memikirkannya, tetapi karena sulit mendapatkan makna kehidupan ini, maka mereka pun menyerah, dan mengabaikannya. Hidup ini sudah sulit, masih ditambah dengan berpikir hal-hal yang sulit, menyusahkan diri saja. Lebih baik lupkan saja dan carilah hiburan dan nikmatilah hidup selagi masih bisa, karena nanti kita akan mati. Demikianlah orang-orang zaman sekarang mengabaikan kebenaran hanya mencari kesenangan.

Blaise Pascal berusaha menyadarkan orang-orang dari kebodohan ini. Ia mengatakan bahwa kita semua tahu suatu hari kita akan mati, kita tidak dapat menghindari ini. Namun kita tidak tahu kemana ia akan pergi, apakah ia akan lenyap selamanya atau jatuh ke tangan murka Allah  yang akan menghukum dosa kita. Keadaan ini harus membuat kita berusaha menemukan jawaban nasib kekal kita itu. tidak ada hal yang lebih penting dari ini, tetapi apakah kita lakukan. Kita menghabiskan waktu kita untuk mengerjakan hal-hal yang remeh, atau bahkan yang penting, tetapi hal yang paling penting bagi keberadaan kekal kita ini, kita abaikan. Bukankah ini merupakan suatu ketertiduran rohani yang mengerikan sekali. Tuhan mengizinkan berbagai kesulitan dalam kehidupan ini untuk menyadarkan dunia yang tuli supaya mereka tergugah dan boleh menengadah hati mereka ke atas dan menemukan Allah, satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka. Orang Kristen perlu waspada supaya tak jatuh ke dalam sikap hidup hedonisme dan pragmatisme sehingga kita terobsesi hanya mencari kesenangan untuk memuaskan hati yang kering dan bukannya mencari kebenaran yang akan memberikan kemerdekaan sejati kepada kita.

 II.  Berusaha menemukan jawaban yang sungguh-sungguh dapat mengatasi per­masalahan hidup ki­ta ini walaupun itu sulit dan pahit, dan bukannya melarikan diri ke dalam khayalan

Kebenaran seringkali menyakitkan. Tetapi jika hanya itu yang dapat menyembuhkan kita maka mau tidak mau kita harus menerimanya walaupun itu menyakitkan dan harus membayar harga yang mahal. Jika kita sadar akan nilai keberadaan kita dan keseriusan masalah yang kita hadapi, maka biarlah kita berusaha menemukan jawaban kita dalam kebenaran dan bukannya dalam dongeng-dongeng yang menyesatkan. Kita adalah makhluk yang kekal, karena itu kita membutuhkan pertolongan dari Allah sejati yang kekal. Dan jika kita datang kepada Allah sejati, biarlah kita mengakui otoritas Dia untuk berfirman kepada kita, dan bukannya mengatur apa yang mau kita dengar. Dan karena harapan pertolongan hanya datang dari Allah, maka walaupun Ia berbicara dengan keras kepada kita, kita tetap harus mendengarkan Dia. Apalagi kita mengerti bahwa Allah yang baik tidak bermaksud menghempaskan kita dalam keputusasaan, melainkan untuk menyembuhkan kita. Bahkan sekalipun Ia menghukum, itu bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyucikan dan menyelamatkan kita.

Biarlah dengan sikap batin yang benar ini kita mendengarkan apa yang mau dikatakan Allah kepada kita mengenai kehidupan di planet bumi ini:

(1) kehidupan ini ketika diciptakan oleh Allah, baik adanya; kejahatan adalah diakibatkan oleh dosa dan bukan kesalahan Allah. Jika kita masih da­pat menjalani kehidupan dan menikmati banyak kebaikan di dalam dunia ini, itu adalah anugerahNya kepada kita yang berdosa.

(2) Permasalahan kehidupan yang begitu banyak ini mau meng­ingatkan bahwa kita sedang hidup di bawah bayang-bayang murka Allah. Inilah masalah serius yang harus kita selesaikan.

(3) Karena kehidupan abnormal ini adalah akibat kesalahan manusia dan bukan maksud Allah, berarti kehidupan ini dapat ditebus. Orang Kristen patut bersyukur bahwa Allah telah menjanjikan untuk melakukan penciptaan kembali dunia ciptaanNya ini. Seluruh ciptaan menantikan hari itu.

(4) Kehidupan ini harus kita jalani dengan segala masalahnya. Tidak ada janji Allah bahwa semua masalah akan disingkirkan, sekali umatNya, tidak akan terkecuali. Namun Ia memberikan kuasa penebusan sehingga kita dapat memiliki hidup yang berkemenangan di tengah-tengah dunia ini.

Dengan pengertian demikian, Musa datang kepada Allah dalam doa, 14Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setiaMu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hidup kami. 15Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.” (90:14-15). Dari Tuhanlah ia mengharapkan kuasa penebusan bukan menurut cara dan maunya sendiri, tetapi menurut hikmat dan kedaulatan Allah. Orang Kristen sejati takkan memaksa Allah mengerjakan semua permohonannya melainkan mengakui Allah memiliki hak penuh untuk memperlakukan dia menurut apa yang baik dalam pandanganNya.                

III.  Mengalami kuasa penebusan Allah dalam kehidupan kita

Hikmat sejati tidak berhenti di otak hanya sebagai pengetahuan untuk menjadi bahan diskusi, tetapi berakar di hati. Tujuan mendapatkan pengetahuan iman sejati ialah untuk kita hayati, kita hidupi, kita  integrasikan dalam kehidupan kita sehingga kebenaran itu memerdekakan kita. Ciri-ciri kehidupan Kristen yang mengalami penebusan Allah akan ditandai dengan kemerdekaan Kristen berikut ini:

(1) Kuasa penebusan Kristus memerdekakan kita dari jerat dosa dan melepaskan kita dari murka Allah. Inilah kebutuhan kita yang terutama karena tanpa kelepasan dari kutuk, ia takkan pernah memiliki kebahagiaan dan damai sejahtera sejati. Seseorang non-Kristen pernah mengungkapkan bahwa apa yang iri dari orang Kristen ialah karena mereka memiliki satu Pribadi yang mengampuni mereka, sedangkan ia tidak memiliki satu pun yang dapat mengampuni dia. Biarlah kita yang telah mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan injil keselamatan, bahkan yang berbagian dalam pelayanan gerejawi, betul-betul mengalami kuasa pembaharuan Allah yang menjadikannya kita anak-anak Allah yang sejati.

(2) Kuasa penebusan Allah merubah hidup yang terjerat oleh kefanaan dan kesia-siaan menjadi hidup yang bermakna dan bernilai kekal. Biarlah kuasa penebusan Allah melepaskan kita dari banyak kebodohan dan tipu daya dunia yang akan menghanyutkan kita dalam kehidupan yang hanya berbuahkan penyesalan. Biarlah kemerdekaan Kristen mengarahkan pandangan kita ke Sorga. Tetapi kemerdekaan dari jerat dunia tidak menjadikan kita bersikap negatif terhadap ciptaan Allah. Kebalikan dari diperbudak oleh dunia ialah dimampukan untuk menjadi tuan yang bijaksana atas segala karunia Tuhan. Orang yang duniawi berpikir dengan meninggalkan Tuhan ia dapat menikmati hidup, tetapi sebaliknyalah benar, hanya dengan mengutamakan Tuhan kita baru betul-betul menikmati setiap karunia dalam dunia ini.

(3) Kuasa penebusan Allah memampukan kita untuk menghadapi setiap situasi hidup kita yang tidak menentu ini dengan berkemenangan, dan bukannya menjadi korban situasi dan lingkungan yang seringkali sangat kejam. Dengan bersandar kepada Tuhan yang memberi kekuatan kepada kita, kita dapat menghadapi apa saja yang menghadang kita (Flp 4:13): tidak dihanyutkan oleh kelimpahan dan tidak dihempaskan oleh kesulitan; dan dapat bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu, dan tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya akan mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm 8:28)

(4) Kuasa penebusan Allah merubah kehidupan kita dari kehidupan yang rusak menjadi kehidupan yang penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh 1:17). Gabungan kedua hal ini dalam diri kita akan menghasilkan kehidupan terindah. Inilah teladan Tuhan Yesus. Biarlah orang lain melihat dapat keindahan Kristus yang hidup dalam diri kita: suatu kehidupan yang menarik sebagai alternatif bagi dunia yang kecut, membusuk dan kejam.

Dalam kehidupan Gereja, mungkin sekali terjadi bahwa kita saling melukai dan berlaku sangat kejam satu sama lain. Biarlah kita tidak menjadi orang Kristen yang kaku, keras dan tanpa belas kasihan; juga tidak menjadi orang Kristen mengabaikan kebenaran dan membolehkan apa saja. Kasih karunia dan kebenaran adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Kasih karunia tanpa kebenaran bukanlah ka­ih karunia, melainkan sentimentil yang menjijikkan; dan kebenaran tanpa kasih karunia bukanlah kebenaran, melainkan farisiisme yang kejam. Dua macam kegagalan ini selalu terjadi dalam gereja. Biar­lah oleh kuasa penebusan Allah, kita dijadikan orang Kristen yang bertulangkan kebenaran (teguh, tegas, dan tanpa kompromi dalam hal kebenaran), tetapi sekaligus memiliki hati dan daging yang penuh kasih karunia yang berasal dari kasih Kristus. Tetapi siapakah yang telah mencapainya? Keseimbangan ini bukan sifat alamiah kita, tetapi kita dipanggil untuk menuju ke situ. Dan keseimbangan kasih karunia dan kebenaran ini baru kita terbentuk di dalam diri kita, ketika kuasa penebusan Allah memperbaharui kita. Amin.

Immanuel

Nats: : Yohanes 14:18-20

Ketika Tuhan memberitahukan kepergianNya, semua murid merasa ketakutan karena posisi mereka sangat critical (kritis). Seperti anak yang hendak ditinggal oleh orangtuanya. Dalam kehidupan pelayanan bersamaNya selama 3,5 tahun, keadaan secara fenomena manusia bukan semakin nyaman melainkan tegang walaupun merupakan wadah rohani terindah. Padahal pertama kali mengikutiNya, mereka melihat sepertinya semua baik dan indah.

Tapi makin Tuhan berbuat kebaikan, mengadakan mukjizat, mengajar, menegur kehidupan dosa serta mengajak bertobat, orang Farisi dan ahli Taurat semakin benci dan marah. Puncaknya yaitu ketika Ia membangkitkan Lazarus. Mereka langsung menyatakan perang dan Ia harus mati. Semua tercatat di Yoh 1 – 11.

Para murid mulai bertanya-tanya siapa yang akan menang jikalau Tuhan harus berperang melawan ahli Taurat dan orang Farisi serta pemerintah Romawi. Tapi kenyataan justru terbalik dan mereka harus berhadapan dengan kekuatan besar.

Di tengah situasi seperti itu, Tuhan hendak memberi comfort (penghiburan) dan kekuatan untuk menyadari bahwa realita tak sesederhana yang mereka lihat. Terkadang manusia berpikir hanya dalam keterbatasan otaknya serta yang dunia bicarakan dan ajarkan. Inilah kefatalan dalam iman Kristen dan kegagalan menerobos beyond (melampaui) realita dunia.

Kekristenan tak diajar untuk terkunci pada segala yang terjadi di sekeliling. Secara manusia memang wajar tapi kondisi tersebut tak sesuai kehendak Tuhan. Ia ingin umatNya menerobos keluar sehingga tak terjebak fenomena empiris sebatas panca indera dan logika. Maka dalam Yoh 14:18-20 terdapat beberapa hal dapat dipelajari:

Pertama, Tuhan mengajak umatNya kembali mengingat akan Imanuel (Allah menyertai kita). Sesungguhnya, 600 tahun sebelum Ia datang ke dunia, Yesaya telah mendapat nubuat bahwa kelak akan lahir Sang Juruselamat yaitu Imanuel. Malaikat juga memberitahukannya pada Yusuf (Mat 1:20-24).

Banyak orang Kristen mengerti “Allah menyertai kita” dalam konteks seperti Tuhan beserta para murid tiap hari muka dengan muka, makan, memberitakan Injil dsb bersama. Meskipun harus pergi, dalam Yoh 14:18 Ia berjanji, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.” Dengan demikian, prinsip God of Immanuel tak berhenti pada indera penglihatan, fenomena dan materi. Ia pasti menjaga umatNya selamanya dalam seluruh keberadaan secara materi maupun spiritual. Inilah prospek yang dinyatakanNya dengan 2 terobosan langsung atau pandangan ke depan:

(1)”Aku datang kembali kepadamu.” (Yoh 14:18) KepergianNya akan membawa kembali penyertaan hidup yang takkan pernah dilepas. Itulah pertama kali kebangkitanNya diberitakan sebelum Ia sungguh bangkit. Setelah kebangkitanNya, dalam ruang tertutup Ia datang dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19) Dengan demikian, kebangkitanNya merupakan bukti penyertaan pertama.

(2)Setelah itu, Ia harus naik ke Surga. Sebelumnya, Ia menyuruh para murid menunggu di Yerusalem karena Roh Kudus akan turun ke atas mereka dan memberi kuasa untuk bersaksi hingga ke Yudea, Samaria dan ujung bumi (Kis 1:4-5, 8). Banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud “kuasa” ialah otoritas. Padahal sesungguhnya yaitu kekuatan penginjilan yang mampu mengalahkan Setan. Dalam berita terakhirNya, Ia memberi amanat agung yang tercatat di Mat 28:19-20.

Di jaman sekarang, orang Kristen juga menghadapi tantangan dan menjalani kehidupan iman yang sama. Ketika situasi aman dan segala terjamin, kebanyakan orang takkan berpikir tentang yatim piatu. Tapi ketika encounter moment tiba, orang dunia tak tahu pada siapa ia bersandar paling kokoh. Seperti anak yang hidup nyaman tanpa tantangan, takkan berpikir membutuhkan orangtua. Tapi ketika ancaman, kesulitan dan penderitaan terjadi, ia mulai bingung mencari pertolongan mereka. Jikalau tak mendapat jawaban maka saat itu jadi sangat mencekam dan ia mulai frightened (takut), dan lonely karena merasa tak ada yang memelihara, melindungi serta memperhatikan. Demikian pula bayi akan trauma jika tak ada orang yang mendekatinya. Setelah itu, ia jadi acuh tak acuh dan tak takut apapun bahkan siapapun. Selanjutnya, ia tumbuh jadi pemberontak. Di Eropa, orangtua sangat membanggakan anak yang supermandiri. Padahal sikap tersebut merupakan bukti ia trauma hingga tak mau berelasi. Itulah orang humanis murni. Ia beranggapan tak seorang pun dapat diharapkan dan diandalkan. Maka ia berjuang keras sendirian karena menganggap diri sangat tough. Ketika putus asa, yang dipikirkannya hanya bunuh diri. Tak heran banyak anak remaja yang suicide.

Kondisi nyaman juga dapat membuat manusia merasa tak butuh Tuhan. Tapi ketika berada dalam kondisi terjepit dan sangat susah, ia baru memanggil Tuhan. Jikalau tak ada jawaban maka that’s the most terrible condition (kondisi paling menakutkan) sepanjang hidup. Namun Ia tak seperti itu. Ia tak pernah mengecewakan. Sebenarnya, kehidupan paling nyaman bukan ketika dapat berbuat dan mengatur apapun sekehendak hati. Sebaliknya, hidup semacam itu paling susah karena tak tahu rencananya akan berjalan atau tidak. Hidup nyaman justru ketika tunduk perintahNya karena Ia janji akan memimpin sekaligus memberi jaminan kepastian. Tindakan tersebut bukan sekedar kerelaan hati melainkan atribusi dan statusNya. Kesulitan, penderitaan dan pergumulan terkurangi dengan kembali bersandar kepadaNya.

Kedua, dalam Yoh 14:19 dengan 2 perbandingan, Tuhan mengatakan, “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi.” Hingga saat itu, para murid masih hidup di realita pertama sehingga hanya dapat melihat di wilayah material. Padahal ada realita kedua, “tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.” Ayat tersebut merupakan ke­kuat­an sekaligus evaluasi tiap orang percaya.

Hingga di bagian tertentu, perspektif Kristen dan dunia mungkin sama tapi di bagian lain beda total. Hidup melampaui materi. Mati berarti unsur hidup berhenti lalu diproses terbalik. Semua yang di alam semesta pasti berproses. Mahluk hidup mengalami pembaharuan sedangkan benda mati proses pengrusakan pelan tapi pasti. Berarti, tiap benda mati tak statis melainkan pasif. Tapi mahluk hidup takkan membiarkan diri rusak melainkan terus berubah dan bertumbuh. Sel rusak akan langsung diganti yang baru. Kalau tak demikian, berarti sudah dekat kematian.

Alkitab mengatakan bahwa realita hidup terpecah menjadi 2: (1)realita dalam kematian, (2)realita dalam kehidupan. Keduanya tak dapat diperspektifkan sama. Perspektif realita kematian berhenti hanya pada aspek materi dan terkunci di wilayah dunia. Padahal dalam hidup, manusia dapat memikirkan sesuatu yang tak di depan mata tapi riil. Contoh, suami yang berada jauh dari rumah selama beberapa minggu, dapat merasa kangen pada istri dan anaknya karena hidup mereka berelasi personal. Relasi tersebut melampaui ruang, waktu dan batasan indera manusia. Kalau tak demikian, berarti orang tersebut sebenarnya sudah mati walaupun masih hidup.

Alkitab mengajarkan untuk memandang secara iman. Sebenarnya Tuhan sanggup terus menyertai para murid di dunia karena kematian tak dapat merenggutNya. Ia mampu memberitakan Injil dari Yudea, Samaria hingga ke ujung bumi selama bertahun-tahun sampai saat ini sekalipun. Tapi Ia malah pergi karena tak mau mereka terikat olehNya dengan batasan inderawi. Suatu saat semua orang percaya akan berelasi denganNya bukan sebatas materi melainkan relasi yang bersifat hidup.

Orang Kristen yang sadar bahwa dirinya ialah mahluk hidup, takkan mau dikunci oleh dunia materi. Apalagi dalam Yoh 14:19 dikatakan bahwa tiap orang yang sudah dalam Tuhan secara rohani akan tetap hidup agar dapat berelasi dengan Kristus secara personal. Itulah jaminan iman Kristen.

Banyak agama merelasikan Allah dan manusia sebatas hukum dan aturan. Kierkegaard menekankan relasi tersebut dalam ajaran eksistensialisme. Nietzsche juga seorang eksistensial sejati tapi aspek rohaninya sangat berbeda dengan Kirkegaard yang berpikiran bagaimana ia secara pribadi berhadapan dengan Allah sendiri sehingga terjadi personal encounter (pertemuan pribadi) antara keduanya yang hidup.

Kehidupan Gereja tak boleh lepas dari unsur hidup. Pelayanannya juga bukan sekedar activity melainkan hubungan denganNya. Jadi, orang Kristen melayani bukan karena kesediaannya melainkan Tuhan memintanya sehingga ia harus merelakan diri mengerjakannya dengan sungguh. Keinginannya belum tentu sama dengan kehendakNya. Itulah konflik kepentingan yang perlu selalu digumulkan. Ia hendaknya mengerti isi hati Allah dan menjalankannya. Inilah hubungan pribadi dan hidup dalam persekutuan denganNya.

Ketiga, “Pada waktu itulah (saat kebangkitan Kristus) kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam BapaKu dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20) Dengan demikian Kristus jadi mediator sehingga hubungan Allah dan manusia tak lagi jauh. Inilah mistical union yang pertama kali diungkap dalam exclusive teaching of Christ. Dengan semua orang, Ia berhubungan secara dunia. Tapi hanya dengan umat pilihanNya, Ia bersekutu secara essensial dan sangat dekat. Istilah mistical union (kesatuan mistik) tak boleh dimengerti secara duniawi. Dalam pengertian Theology, istilah tersebut berarti hubungan supranatural unik antara Allah kekal dalam rupa Roh dengan manusia yang sementara karena terdiri dari tubuh dan roh.

Dalam konsep agama, yang terjadi malah penyamaan natur. Contohnya, New Age berpendapat bahwa manusia sebenarnya ialah allah. Tubuh yang terlihat hanyalah semu. Aslinya, tiap orang merupakan bagian universal power/mind. Dengan kondisi demikian barulah manusia dan Allah dapat bersekutu. Konsep tersebut logis tapi salah karena terjadi pengrusakan natur dan penyelewengan yang membuat manusia tak kenal diri sendiri. 

Kunci pengertian tersebut tak boleh lepas dari konsep Imago Dei yaitu manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:27). Dalam Rm 8:29 baru dijelaskan bahwa manusia dicipta serupa gambaran AnakNya. Maka Kristus jadi pattern (model) manusia meskipun beda kualitas. Lalu kemungkinan persekutuan Kristus dan umatNya dikatakan, “menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

Relasi tersebut berimplikasi bahwa iman Kristen tak mengapung di atas realita dunia. Maka orang Kristen bersatu dengan Kristus bukan hanya ketika merenung, meditasi, kebaktian atau berada dalam nuansa rohani di Gereja. Konsep Kristen sejati tak membatasi seperti itu. Total life orang Kristen sesungguhnya ialah hubungannya dengan Tuhan. Amin.

Roh Kudus & Pengajaran Iman

Nats: : Yohanes 14:25-26

Pentakosta merupakan kekuatan besar dan indah dalam kehidupan orang percaya di tengah jaman yang semakin gelap. Dalam perjalanan sejarah, dunia makin menjadi postmodern yang relativistik, skeptik dan agnostik karena pada hakekatnya manusia telah mencapai titik dimana ia mulai kecewa serta putus asa khususnya ketika hendak mengerti kebenaran, melakukan pertimbangan dengan tepat, mengambil keputusan dan hidup secara benar. Ketika ia meyakini sesuatu itu benar, suatu saat terbukti anggapannya salah.

Karl Popper, filsuf science, pernah menekankan bahwa dunia terus berteori dan tiap teori hanya menunggu kejatuhannya. Tapi manusia tak boleh berhenti berteori karena sangat diperlukan. Akhirnya muncullah falsification (false = salah) dimana tiap orang hanya melempar teori termasuk science. Contohnya, dulu selama ribuan tahun, teori geosentris (oleh Ptolemeus) dipercaya benar. Suatu saat Galileo menumbangkannya dengan teori heliosentris yang kemudian didukung oleh Copernicus. Padahal juga belum tentu benar. Contoh lain, dulu orang juga percaya pada teori Newton. Sekarang, teori tersebut dianggap kuno dan tak akurat. Sebagai gantinya, muncullah teori relativitas oleh Einstein. Maka terjadilah pergeseran paradigma. Ilustrasinya, teori falsifikasi diibaratkan seperti segenggam jagung dilempar ke tengah sekumpulan ayam. O­rang yang melemparkannya tinggal menunggu jagung tersebut habis. Setelah itu, dilemparkan lagi segenggam jagung dan seterusnya. Selain Karl Popper, ada filsuf science lain yang juga sangat terkenal yaitu Thomas Kuhn. Ia berpendapat bahwa dunia science menjadi sekedar permainan pergeseran paradigma. Sebenarnya dengan segala macam teori, dunia hanya ingin mencapai kebenaran asasi.

Di dunia, manusia masuk ke dalam ketegangan dimana sifat skeptisisme dan pragmatisme mulai meracuni hingga tak seorangpun berhak menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa pegangan hidupnya benar. Abad 21 sungguh mendapat warisan postmodern system dari abad 20 yang mirip gerakan sophies di jaman filsafat Yunani kuno. Dalam gerakan tersebut juga tiap hari ada orang berteori baru hingga dibentuk teater khusus yaitu aeropagus. Paulus pernah mengajar Kekristenan di sana. Bahkan 200 tahun sebelum Tuhan lahir ke dunia, skeptisisme, agnostik dan relativisme telah merajalela. Harus disadari bahwa masalah tersebut memang tak dapat diselesaikan selamanya.

Sesungguhnya dunia mendapat conviction (keyakinan) akan kebenaran hanya dari Kristus (Yoh 18:37). Ironisnya, ketika berhadapan denganNya, Pilatus dengan sinis langsung jawab, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh 18:38a) Sebenarnya ia tak bermaksud bertanya melainkan justru tak mau tahu tentang kebenaran. Ayat 38b mencatat bahwa setelah itu ia langsung keluar.

Semakin mau belajar, dunia makin jatuh ke dalam skeptisisme karena ketika mencari kebenaran, mereka malah melupakan, menolak dan tak berusaha menemukan sumbernya terlebih dulu yaitu Allah. Padahal semakin pandai, seharusnya makin sadar sedang bermain dengan kebenaran palsu. Inilah gejala ironik yang fatal dalam dunia akademis modern. Itu pula titik pertama mereka membodohi diri sendiri karena mengabaikan Ams 1:7. 

Secara signifikan, orang yang bukan anak Tuhan sejati takkan memiliki Roh Kudus dalam dirinya. Tuhan pernah berdoa, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu.” (Yoh 17:9)

Pengajaran Kristus sesungguhnya terdiri dari 3 level berdasarkan cara Ia mengajarkannya yang berbeda dengan kebanyakan guru: (1)general teaching (pengajaran umum). Seringkali Ia menggunakan cerita dan perumpamaan tanpa penjelasan lebih jauh apalagi doktrin penting karena didengar oleh banyak orang. Pengajaran tersebut bersifat sangat dasar. (2)extensial teaching. Pengajaran tersebut diberikan pada kelompok kecil terdiri dari mereka yang berkomitmen kepadaNya. Mereka biasanya bertanya dan minta penjelasan yang tak diperoleh dalam general teaching. Contohnya tercatat di Mat 13. Dan mereka mampu mengerti karena telah mendapat anugerah (Mat 13:10-13). Namun Ia tetap tak membuka beberapa bagian. (3)exclusive teaching. Pengajaran tersebut hanya bagi murid sejati. Jikalau didengar oleh murid palsu, ia takkan mampu mengerti. Sebaliknya malah memanipulasi dan menyesatkannya.

Banyak orang Kristen berpikir bahwa Roh Kudus akan membuat hal spektakuler. Padahal itu bukan misiNya. Kalau sekedar mukjizat dsb, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sebelum Roh Kudus turun, semua dapat dikerjakan. Banyak juga yang menyalahgunakan dengan menyatakan bahwa Ia menyebabkan kesurupan. Pengertian tentang Ia tinggal dalam diri anak Tuhan memang sulit dimengerti sebelum terjadi pertobatan. Cara kerjaNya tentu beda dengan Setan yang suka menguasai dan merasuk orang hingga tak sadar sedangkan Ia memimpin. Beberapa Gereja rusak karena mengatasnamakan pekerjaan Setan sebagai karyaNya. Contoh, ketawa sambil berguling-guling tiada henti bahkan berhari-hari.

Pekerjaan Roh Kudus membuat orang Kristen berada dalam Tuhan. Inilah the main point. Yoh 14:25-26 menunjukkan bahwa pengertian tentang Dia harus dikoneksikan dengan pusatNya yaitu Kristus. Selain itu juga dijelaskan bahwa Ia memiliki 2 tugas di dunia, “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah (Kristus) Kukatakan kepadamu.” Ia takkan pernah mengajar dari DiriNya karena Kristuslah Firman yang berinkarnasi (Yoh 16:13-15). Maka jikalau ada yang mengatakan bahwa Ia memberi ajaran baru yang bertentangan dengan Kristus, itu pasti pekerjaan Setan. Dengan demikian, signifikansi hari Pentakosta antara lain:   

Pertama, peranan Roh Kudus dalam pengajaran iman, kebenaran dan prinsip Firman. Di dunia, Roh Kudus berposisi sebagai pengganti Kristus setelah kenaikanNya. Maka Ia menjadi sumber kebenaran dalam diri orang percaya. Inilah anugerah pertama terbesar dan terutama. Betapa bahagia anak Tuhan yang dididik dengan ketajaman pengertian karena sumber kebenaran telah jadi bagian hidupnya. Berbahagialah orang yang takluk dan tunduk kepada Allah. Realita tersebut tak dapat dimengerti dengan logika apalagi perasaan. Tanpa semua itu, orang berani menaikkan diri melampaui segalanya, melakukan dan mengatakan apapun.

Roh Kudus takkan berbagi dengan kegelapan. Prinsip kebenaran timbul dalam hidup orang Kristen karena Ia mulai mencerahkan pikirannya. Untuk itu, takkan ada gejala aneh. Memang Alkitab mencatat 4 tanda turunnya Roh Kudus yaitu di Yerusalem, Yudea, Samaria dan ujung bumi. Setelah itu, takkan pernah terjadi lagi. Di Yerusalem, Ia turun dalam rupa lidah api ke atas kepala para rasul agar semua orang mengetahui penggenapan janjiNya. Lalu mereka langsung berkhotbah dalam bahasa Yahudi tapi terdengar dalam 14 bahasa (Kis 2:1-13). Akibatnya, 3000 orang bertobat. Namun intinya bukan pada lidah api melainkan adanya perubahan internal.

Ketika belum bertobat, Paulus menganggap diri paling pandai dan benar. IQnya memang sangat tinggi dan tahu segala pengetahuan seperti Taurat, filsafat Yunani dan Yahudi. Tapi setelah pertobatan, ia mengaku bodoh karena tak mengerti bahwa kebenaran sejati justru berada dalam Kristus sehingga tega membunuh para murid.

Kedua, pekerjaan Roh Kudus memimpin dan mencerahkan pengertian interpretasi orang Kristen tentang kebenaran. Ketika Tuhan mengajar, tak semuanya dapat segera dimengerti karena tak mudah menangkap terobosan pemikiran melampaui logika. Contoh, Yoh 14:1-14. Namun suatu hari Roh Kudus pasti membuat mereka mengerti maksud Tuhan. Orang Kristen cenderung lebih suka iman yang sesuai logika. Padahal bagian tertinggi Alkitab justru sangat tajam dan teliti hingga melampaui pemikiran. Maka diperlukan interpretasi realita yang tepat. Dan itu di luar kuasa manusia. Ironisnya, mereka seringkali take it for granted.

Ketiga, Roh Kudus mengingatkan orang Kristen akan segala perkataan Kristus atau Firman yang sangat solid. Hanya mereka yang lahir baru dan mendapat pembasuhan darahNya boleh menikmati anugerah tersebut. Ia mencelikkan dan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:7-11). Ia takkan membiarkan umat Allah bermain dengan dosa. TanpaNya, manusia dengan tenang berbuat dosa mengikuti bisikan Setan. Ketika diingatkan, ia malah marah dan melawan.

Selain mengingatkan, Ia juga memberitahukan kebenaran yang seharusnya dijalankan. Ia memimpin anak Tuhan masuk ke dalam righteousness (kebenaran berproses) dan bukan truth (kebenaran azasi). Hanya Kristuslah the Truth sedangkan manusia masih harus diproses dalam kebenaran.

Kadangkala orang Kristen enggan membaca Alkitab dengan sungguh. Padahal Roh menyatakan Diri melalui Firman. Semua yang pernah dikatakan sebelumnya pasti digenapi. Alkitab mencatat mulai dari dunia dicipta hingga kesudahannya, atau dari alpha menuju omega point. Dengan kata lain, Firman menyatakan totality sejarah manusia.

Orang Kristen seharusnya membaca Alkitab mulai dari bagian awal hingga terakhir berulang kali namun tak perlu dihafalkan. Dengan demikian, ia dapat mengalami Roh Kudus yang senantiasa mengingatkan dan menguatkannya. Di tengah kondisi sulit, tiba-tiba Firman muncul kembali dalam ingatan meskipun ayatnya tak hafal. Ketika mendengar ajaran sesat, Firman langsung menyadarkannya. Sedangkan ketika tak ada masalah, Firman yang pernah dibaca sepertinya mengendap dalam pikiran.

Roh Kudus juga mengingatkan adanya keadilan mutlak dari Tuhan. Penghakiman yang tercatat di Yoh 16:11 sangat positif. Orang Kristen seharusnya menyadari bahwa penghakiman pasti datang. Jadi, ketika difitnah atau diperlakukan secara tak adil, ia sebaiknya tenang dan tak membantah karena Roh Kudus mengetahui perbuatan dan pikirannya. Karena orang lain tak tahu motivasinya hingga timbul rasa tak percaya maka penjelasan tak berguna sama sekali. Makin bereaksi menunjukkan Roh Kudus tak ada dalam dirinya hingga ia merasa ketakutan. Padahal ketika anak Tuhan dipermainkan maka itu menjadi urusan Allah.

Selain itu, penghakiman juga dapat berkonotasi negatif. Ketika berdosa, orang Kristen pasti menerima hukuman karena Roh penghakiman tinggal dalam dirinya. Ia berusaha menghalanginya berbuat dosa. Orang lain dapat dikelabui tapi Roh Kudus tidak.

Jadi, penghakiman seharusnya membuat orang Kristen lebih tenang dalam pelayanan. Roh Kudus merupakan kekuatan untuk melangkah dan tetap hidup dalam terang di tengah dunia yang makin gelap. Di dunia yang skeptik, ia telah memiliki kebenaran pasti. Ketika dunia bingung dengan segala keputusan hidup, ia dengan tenang dapat minta pimpinanNya yang tak mungkin salah. Amin.

Dosa & Keselamatan

Nats: Roma 3: 23-24

Di dunia modern, ketika orang belajar banyak pengetahuan, mendalami realita dan berjuang dengan biaya research sangat besar, justru masih ada yang terlewat. Alkitab dengan tegas dan jelas membukakan realita yang exclusive yaitu, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Rm 3:23) Statement Paulus tersebut seringkali bukan dimengerti sebagai realita yang seharusnya diterima tapi justru ditolak oleh banyak orang. Padahal pernyataan itu bukan tuduhan yang dibangun dengan fanatisme. Ia membangun argumentasi dengan sangat teliti mulai dari konsep general (umum) mengenai dosa dalam Rm 1 hingga Rm 3:20 agar manusia akhirnya sadar.

Dalam Rm 1 Paulus menegaskan 2 statement terpenting mengenai realita hidup yaitu  bahwa dunia sedang dikuasai oleh kondisi fasik dan lalim. Fasik ialah sikap sengaja melawan Allah bukan karena tak tahu akan keberadaanNya. Ketika diajar tentang Dia, dalam hati manusia selalu timbul sensus divinitas yaitu perasaan atau kesadaran bahwa ada penguasa lebih besar dari dirinya. Setelah mati atau berbuat kejahatan, ia harus berhadapan dengan pengadilanNya. Ia sangat tergantung kepadaNya. Kekristenan di Indonesia menyebutNya Allah sedangkan agama atau bangsa lain memakai nama berbeda. Namun yang terpenting bukan istilah melainkan personifikasi atau konsepnya mengacu pada yang lebih tinggi dari manusia.

Sensus divinitas bukan semakin dikembangkan tapi justru makin ditekan karena essensi dosa mencengkeram hingga manusia sengaja memberontak dan tak mau tunduk pada otoritas di atasnya. Ia menyatakan dirinya tertinggi maka yang lain harus tunduk. Inilah essensi dosa yang pertama yaitu sengaja menolak dan tak menghormati Allah. Ia makin dewasa semakin keras dan otoritatif hingga ingin selalu jadi pemimpin. Jiwa semacam itu tak baik karena sebenarnya ia yang relatif dan bisa salah tak berhak memiliki otoritas tertinggi.

Lalim ialah sengaja menentang kebenaran dan dengan segala dalih, cara, alasan mencoba mengalihkan, membenarkan atau seolah boleh mentolerir. Manusia juga diberi konsep righteousness (kebenaran keadilan) yang ditanam dalam hati. Maka tak ada pencuri yang tak tahu bahwa tindakannya tak diperbolehkan.

Sejak lahir, bayi langsung mampu menilai. Jangan berpikir ia tak mengerti hingga bisa dibohongi. Ia mungkin lebih peka daripada orang dewasa. Ia bisa tiba-tiba mempertanyakan soal keadilan. Tapi ketika memiliki pengertian, ia justru tak menjalankannya. Ia juga sangat egois hingga selalu berusaha menutupi kesalahan sendiri. Padahal ia tak pernah diajar berbohong. Tiba-tiba ia melakukan kesalahan. Setelah itu, ia jadi malu dan ketakutan karena tahu akan menghadapi kesulitan. Tapi ketika ditanya, ia berani menyangkal. Padahal kebohongan terlihat dari wajah dan tingkah lakunya.

Dalam Rm 2 Paulus mengargumentasikan bahwa tak ada toleransi atau alasan bagi o­rang Atheis yang tak percaya akan adanya Allah sehingga ia berhak melawanNya lalu tak mau mengaku dosa. Pengetahuan tentang keberadaanNya telah ditanam dalam hati terlebih dulu. Jadi, bukan karena rasa ingin tahu manusia. Tapi pengetahuan tersebut tak dikembangkan untuk mencari dan mengetahui Allah sejati.

Di Eropa, banyak orang tak mau mengaku diri Atheis karena terlalu negatif. Sebagai gantinya, mereka menggunakan istilah “free-thinkers” (pemikir bebas). Padahal konsep yang dipikirkan muncul dari diri. Maka otoritas tertinggi di tangannya sendiri. Mereka menolak keberadaanNya supaya bisa jadi allah. Mereka sebenarnya merasa terancam dengan adanya Oknum di atas yang kelak mengadili. Inilah penyataan Nietzsche, filsuf abad 20 awal. Ia juga menyatakan telah membunuh Allah (the Death of God Theology). Itulah thesisnya dalam buku “Ecce Homo” dan “Thus Spake Zarathustra” yang sangat disukai di seluruh dunia karena mewakili kesenangan mereka.

Paulus mengatakan bahwa ketika manusia tak mau memikirkan Allah, keberadaanNya bukan menjadi tak ada. Ia tetap exists. Sesuatu bersifat faktual atau realita sejati tak mungkin diadakan atau ditiadakan oleh pikiran orang. Contoh, seseorang dengan susah hati terus memikirkan anaknya yang telah mati. Walaupun demikian, anak itu takkan hidup kembali. New Age Movement justru mencampurkan virtual (ilusi) dan reality.

Paulus juga mengatakan bahwa ketika manusia melawan kebenaran Allah, hatinya tetap tak dapat ditipu dan akan terus membisikkan Dia ada. Konon ada cerita tentang pemimpin komunis yang ketika mendekati ajal, tiba-tiba dengan gentar mengatakan bahwa ia harus menghadap Tuhan. Pa­dahal seumur hidup ia tak pernah memikirkanNya. Saat itu ia harus berhadapan dengan momen eksistensial. Ia mulai sadar bahwa realita tak mungkin dipungkiri. Alkitab mengatakan suatu saat semua orang harus bertekuk lutut dan tundukkan kepala lalu mengaku bahwa Yesus Kristus ialah Tuhan, entah dengan ucapan syukur atau ketakutan.

Dalam Rm 3 bagian awal, Paulus berargumen tentang mereka yang percaya pada tuhan tapi bukan Tuhan Yesus. Allah yang dipercaya masih belum jelas. Ia mengatakan bahwa percaya kepadaNya belum tentu tak berdosa karena essensi dosa tak tergantung pada kepercayaan. Banyak orang berpikir kepercayaan menyelesaikan dosa. Orang Reformed juga seringkali beranggapan bahwa yang penting ialah percaya kepadaNya sehingga dosa takkan mengganggu jaminan masuk ke Surga. Padahal cara berpikir semacam itu malah membawanya ke Neraka. Dalam Rm 6:23 Paulus mengatakan upah dosa ialah maut. Maka fakta dosa harus dimengerti dengan tepat oleh tiap orang termasuk yang beragama. Realita tersebut tak boleh diabaikan karena memang tak dapat dilepaskan dari hidup di dunia.

Konsep beragama dan iman sejati sangat berbeda. Ada orang dengan sesuka hati memilih agama yang menguntungkan dan dapat memenuhi keinginan pribadi. Ini teori bisnis. Kalau selama mengikut tuhan yang dipilih, dirasa tak mendapat banyak berkat atau malah merugikan maka ia segera cari penggantinya. Sebenarnya yang dicari ialah pembantu supranatural. Seharusnya Tuhanlah yang berdaulat memerintah dan mengatur manusia. Sebagai ciptaan, ia harus taat dan menjalankan kehendakNya. Adapula yang mempunyai konsep tuhan mudah disogok dan diajak dealing. Misalnya, ketika diberi ayam putih seharga Rp 50.000,-, ia langsung memberi berkat sebesar Rp 100.000,-.

Di dunia, banyak konsep agama tak sejati karena menjadi refleksi atau cerminan keinginan manusia. Inilah pemikiran Ludwig Feuerbach, filsuf Jerman yang sangat sinis terhadap semua agama termasuk Kekristenan padahal backgroundnya juga Kristen karena ia anak Pendeta namun akhirnya jadi Atheis. Sebelumnya, ia berbeban dan dipanggilNya untuk menjadi Pendeta. Ia masuk ke sekolah Teologi liberal. Tapi karena salah sekolah, imannya rusak. Ia berpendapat bahwa Tuhan yang ada di dunia merupakan ciptaan manusia menurut gambar dan rupanya sendiri. Jadi, bukan manusia diciptakanNya oleh Allah menurut gambar dan rupaNya. Maka tak ada guna percaya kepadaNya. Orang dunia pada hakekatnya seringkali berkonsep demikian. Ada anak remaja berpendapat Ia kejam karena di Perjanjian Lama dikisahkan sekian banyak orang, baik pria, wanita dan anak-anak yang melawanNya langsung dibunuh. Allah seharusnya penuh cinta kasih dan tak boleh marah. Selain itu, Ia semestinya tua dan bijaksana, memiliki rambut serta janggut panjang dan putih.

Di dunia telah muncul keterbalikan konsep agama. Maka Paulus berpendapat bahwa semakin manusia taat beragama, ia makin berdosa karena menciptakan tuhannya sendiri dan menolak Tuhan sejati. Kesimpulannya tercatat di Rm 3:23. Ironisnya, di jaman sekarang banyak orang merasa diri baik. Seharusnya mereka menyadari diri berdosa hingga tak ada jalan keluar selain berhadapan dengan murka Allah. Tak ada usaha yang dapat dilakukan untuk kembali ke jalurNya. Berita tersebut tak disukai karena membuat tertekan dan tegang. Maka dunia lebih suka narkoba. Dengan demikian, mereka dapat melupakan kesulitan hidup. Tapi hanya sementara. Kalau overdosis maka langsung pergi ke Neraka.

Iman Kristen mengabarkan bahwa Tuhan membuka jalan, “oleh kasih karunia (anugerah Allah) telah dibenarkan (memperoleh keselamatan) dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Rm 3:24) Paulus berani menulis kalimat tersebut berdasarkan pengalaman hidupnya. Di Yoh 3:16 dicatat, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Hutang tak mungkin mendadak lunas kecuali orang lain bersedia menggantinya. Ketika hutang makin besar tapi ia semakin bangkrut maka tak mungkin mampu melunasinya. Demikian pula dengan dosa. Namun tak seorangpun rela berkorban menanggung beban orang lain kecuali ia sangat mencintainya. Apalagi hutang nyawa. PenebusanNya sangat tuntas dan merupakan pembayaran termahal bagi jemaatNya meskipun sesungguhnya tak ada tuntutan dan keharusan untuk itu. Seharusnya, Ia menghukum seluruh umat manusia.

Alkitab menyatakan bahwa Allah menghendaki manusia bertobat dengan sungguh dan Ia dikembalikan pada posisi yang seharusnya dalam hatinya. Inilah yang menjamin ketika selesai dengan perjalanan sejarah, umatNya takkan dibuang melainkan kembali bersama Dia. Maka kebahagiaan sejati yaitu ketika hidup dalam pimpinanNya. Ia senantiasa memelihara umatNya sehingga tak terus menerus terjebak dosa. Itulah kehidupan terindah. Tapi orang yang hidup menurut keinginan sendiri, setelah selesai pun Ia melepaskannya karena tak pernah bersekutu denganNya. Tuhan yang mengasihi juga adil. Ia menyediakan Surga sekaligus Neraka. Amin.

Mengikut Yesus

Nats: Mrk 10:17-31

Tindakan ‘meminta’ jadi biasa, sejak kecil sampai mati, mulai dari minta makan dengan bahasa tangisan hingga meninggalkan pesan: ‘Kalau mati, dibakar saja supaya tak merepotkan.’ Ada beragam cara dan bentuk permintaan. Hidup akan jadi kaku dan dingin tanpa relasi tersebut. Sepanjang hidup, ia terlatih meminta. Kalau cara satu gagal, digunakan yang lain.

Permintaan kepada Tuhan tak sekedar minta seperti pada orangtua, guru, dosen, polisi atau yang berotoritas lebih kuat dimana sikap, perkataan dan mimik wajah harus diatur sehingga berkenan, disertai dengan kesediaan hati untuk bayar harga. Tapi manusia seringkali minta karena ada objek lebih tinggi.

Kepada Allah, ia seringkali tak bersikap demikian melainkan malah lebih kurang ajar daripada dengan orangtua. Ia mungkin minta dengan mengancam. Misal­nya, jikalau permintaan tak dikabulkan atau sakit penyakit tak disembuhkan maka ia tak lagi mau jadi Kristen apalagi mencariNya. Sebaliknya, Tuhan dipermalukan.

Padahal Allah lebih hebat, besar, tinggi, kuat dan agung. Maka seharusnya sebelum masuk ke baitkudusNya, jemaat harus membuka sepatu, seperti yang pernah diajarkan pada Musa.         

Banyak orang pindah dari Gereja karena minta kepadaNya sangat melelahkan dan harus sabar. Cara berpikir seperti itu tak beda dengan orang kaya yang saleh di Mrk 10:17-27. Mungkin ia cukup berumur, sekitar 40 tahun, sebab katanya di ayat 20, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku (+ 15-20 tahun).” Pada usia 40 tahun, manusia mulai memikirkan sakit dan kematian. Usaha juga harus mantap karena setelah masa tersebut takkan ada peluang lebih baik.

Tapi caranya tak beda dengan para murid. Ia berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk 10:17) Namun Tuhan menjawab, “Mengapa kau kata­kan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja.” (ayat18) Artinya, Ia menegur sekaligus membangun supaya orang tersebut tak basa-basi melainkan langsung mengatakan keinginannya. Sebenarnya Ia mengetahui hatinya yang menganggap diri sendiri baik lalu hendak mengadakan pengesahan. Tapi Ia tetap appreciate.

Ketika minta kepada Tuhan, seharusnya tak boleh menganggapNya sebagai sumber otoritas. Jika tidak, orang Kristen akan terus bermain drama karena kalau tak sesuai keinginanNya maka Ia takkan mengabulkan. Padahal di Mat 6:8 Kristus mengatakan, “… Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.” Maka di ayat 6 tercatat, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”

Selain itu juga tak boleh beranggapan Tuhan memberi tanpa resiko. Ketika minta kendaraan, anak tak memikirkan resiko. Juga tak terpikir andaikata harus beli dengan biaya sendiri. Orangtua bijaksana akan menjelaskan bahwa bukan karena sudah lulus SMA ia harus memperoleh SIM. Jikalau dikabulkan, ia harus menanggung resiko karena biaya pemeliharaan dan perbaikan tak murah. Nilainya jadi tak sekedar harga beli saja. Yesus mengatakan bahwa manusia boleh minta tapi sebelumnya harus melakukan beberapa syarat (Mrk 10:19 & 21).  

Banyak Pendeta menggunakan Mrk 10:21 untuk memeras orang kaya dan membuat mereka ketakutan. Sesungguhnya ayat tersebut bukan untuk mereka melainkan orang yang merasa diri kaya atau mampu.

Tak seorang pun boleh menghina karena semua manusia sebenarnya kaya. Bahkan orang miskin pasti memiliki nilai kekayaan tersendiri diekspresikan dalam bentuk barang. Dan juga tak ada orang mau dihina sebab memiliki dignity/self-confidence yang membuatnya survive. Kalau ada kesempatan, ia pasti membalas orang yang menghinanya. Semakin merasa susah, ia makin menanamkan dalam diri bahwa masih memiliki kemampuan. Maka banyak cerita mengisahkan tentang orang kaya yang awal mulanya miskin sehingga harus melalui perjuangan berat. Tapi motivasi hanya Tuhan yang tahu.

Permintaan harus disertai reason (alasan) jelas, bukan untuk sekarang tapi kelak. Seharusnya para murid langsung pandai setelah mendengar khotbah Yesus. Namun mereka malah berpikir untuk gerakan yang masih baru, dibutuhkan orang kaya semacam itu karena belum ada di kelompok Tuhan. Orang tersebut sangat saleh, secara sosial terkenal dan financially kuat.

Isi hati para murid tercatat di Mrk 10:28 dan lebih jelas lagi di Mat 19:27, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Itu merupakan ungkapan kekecewaan mereka. Sesungguhnya inti permasalahannya ialah perolehan yang mendorong mereka minta.

Biasanya orang tak mempermasalahkan cara, entah mengelabui, merampas dll. Namun perikop tersebut menekankan tujuan. Misalnya, untuk memperlengkapi diri hingga hidup lebih nyaman atau menambah sesuatu yang sebenarnya telah ada. Namun yang kedua membuat seseorang diperbudak oleh keinginannya sendiri. Maka ia tak boleh berhenti hanya untuk sekedar fun karena itu berarti bermain dengan dosa.     

Yesus tak menggugurkan keinginan orang tersebut. Ia juga tak mengurungkan niat memberi hidup kekal pada mereka yang minta. Ia sangat mengasihinya (Mrk 10:21). Tapi ia pergi karena kecewa. Rupanya tak hanya orang kaya terhormat itu yang mengalami kendala dalam menerima Kristus. Para murid juga demikian.

Problem Kingdom terjadi sejak awal Injil ditulis untuk menunjukkan bahwa para nabi dan raja terkecoh tentang Allah karena sifatNya tak sesuai pemikiran mereka. Padahal Dialah Sang Penguasa dan Pencipta. Klimaksnya ketika Nabi Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel diutus untuk mengatakan bahwa mereka harus menyerahkan diri ke Babel (Yer 25:11). Padahal saat itu mereka berjaya. Maka Yesaya dipasung sedangkan Yeremia diikat lalu dimasukkan ke sumur karena terjadi konflik dalam pikiran mereka. Berulangkali pula Yeremia mengalami konflik diri (Yer 20:7-18). Tapi semua itu merupakan proses transforming dimana perubahan harus terjadi. Predestinasi dan kedaulatanNya sulit dimengerti kecuali pernah mengalaminya.

Tuhan sangat mengerti manusia. Maka Ia melayani pertanyaan seperti Mat 19:27. Seharusnya para murid yang mengikutiNya selama 2,5 tahun tak boleh bertanya semacam itu sebab telah menyaksikan keajaiban dan kehebatan Anak Allah. Semestinya mereka langsung bersembah sujud dan mengucap syukur.

Petrus memang mantan orang besar yaitu bandar ikan dengan 3 perahu. Ikan yang ditangkapnya adalah kesukaan Kaisar. Ia juga yang tertua di antara para murid. Maka ia representatif ketika bertanya seperti di Mat 19:27. Kenyataan tersebut merupakan permainan emosi, motivasi dan logika bagi mereka.

Setelah mendengar jawaban Yesus (Mrk 10:29-31), Petrus baru menyadari, bukan karena Tuhan dan Injil ia meninggalkan semuanya. Kristus telah mengetahui bahwa kalkulasi masih terlalu kuat dan erat mengikat pikiran mereka. Sehingga berpikir akan mendapat posisi dan keuntungan. Konsep tersebut tak pernah berhenti hingga diselesaikan oleh tulisan para Rasul.

Seringkali manusia sulit memilih antara harta dan Yesus karena merasa masih hidup di dunia. Penyebab utama sebenarnya ialah karena Injil membongkar dan membuat hidupnya bertumbuh hingga timbul kerelaan untuk meninggalkan yang lama. Injil tak menghukum melainkan sangat revolusioner (mengembalikan pada yang asli) sekaligus memberitahukan berita yang sungguh membahagiakan tapi ia malah ketakutan hingga tak mudah menerimanya. Di Mat 6:24 Ia menegaskan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Perikop tersebut membicarakan prioritas.

Kemudian dilanjutkan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu,…” (Mat 6:25) Kalau pengajaran tersebut berhenti hanya di ayat ini, berarti Kristen gagal membangun kembali. Ayat tersebut sebenarnya mengatakan bahwa hendaklah rasa kuatir diarahkan secara tepat. Maka kebenaran harus dicari terlebih dulu. Ia tak menghapus perasaan tersebut melainkan membuat perbandingan (ayat 26-30) untuk menunjukkan bahwa sebenarnya tak perlu kuatir berlebihan. Kekuatiran itu natural karena mendorong manusia untuk mencari nafkah.

Para murid sebenarnya juga ragu menerima Tuhan karena lebih miskin daripada Yohanes Pembaptis yang berkharisma dan masih termasuk keturunan imam besar Zakaria. Kebanyakan pengikut Yohanes ialah soldiers. Tapi ia  mati muda karena dimusuhi banyak orang. Sedangkan Yesus hanyalah keturunan tukang kayu dari Nazaret.Padahal Dialah Mesias. KehadiranNya secara fisik dan fenomenal sangat meragukan (Yes 53:2-3). Tapi ketika mendekati, mendengar serta memperhatikan Firman dan kebesaran jiwaNya, manusia takkan ragu lagi untuk terus ikut Dia dalam suka duka. 

Di Mrk 11:28 tercatat para imam bertanya untuk menjebakNya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadaMu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Sebab 3 partai politik Yahudi (Farisi, ahli Taurat dan Saduki) saling memperebutkan kekuasaan. Ketika Ia menjawab bahwa kuasaNya dari Allah, jawaban tersebut dianggap pelecehan. Padahal Ia berkata yang sebenarnya.

Mrk 10:31 menegaskan bahwa para pengikutNya akan memperoleh semua dengan adil. Akan ada pembagian, perhatian dan pemeliharaan yang adil. Amin.

Dipilih untuk Berbuah

Nats: Yoh 15: 9-17 (16)

Yoh 15:9-17 memberi prinsip dan kekuatan panggilan Allah. Ketika boleh diangkat jadi anak-Nya, itu merupakan anugerah-Nya yang sangat besar. Perikop tersebut dimulai dengan pernyataan-Nya, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu.” (ayat 9). Lalu diakhiri dengan perintah­Nya, “Kasihilah seorang akan yang lain.” (ayat 17) Inilah inti iman Kristen.

Panggilan Kristen merupakan ikatan kasih sangat erat karena Tuhan menganggap orang percaya sebagai sahabat maka diceritakan-Nya semua. Sebenarnya status orang Kristen hanyalah hamba atau budak karena telah dibeli lunas maka tak boleh tahu yang dikerjakan oleh tuannya (ayat 15). Selain itu, ia seharusnya binasa karena berada dalam cengkeraman setan. Lalu Kristus menyerahkan nyawa dan mati baginya. Padahal ia tak lebih baik, layak, pandai dan talented di tengah seluruh umat manusia hingga sangat dibutuhkan sedangkan yang lain tak boleh dekat dengan-Nya. Seharusnya ia mengerti dan menyadari bahwa Tuhan ingin membangun relasi yang sangat intim dengannya hingga boleh memanggil Bapa kepada Allah.

Maksud perlakuan Tuhan semacam itu jangan dipikirkan memakai konsep dunia yang bisa salah dimana sahabat harus saling mengerti dan dealing karena keduanya punya hak sama. Sahabat dalam konteks Yoh 15:9-17 bukanlah yang berdialog dengan posisi sejajar tapi justru tak boleh melupakan sejarah yaitu status hamba. Jadi, ordonya vertikal namun Allah yang berdaulat bukan malah harus mengikuti keinginan manusia berdosa. Kristus memberi syarat atau patokan penting, “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (ayat 14) Itulah keselamatan. Maka orang Kristen harus kembali ke posisi yang benar dan tak boleh bersikap kurang ajar terhadap-Nya. Bagian tersebut menunjukkan nuansa paradoxical.

Banyak orang Kristen berpikir, Allah memilihnya supaya masuk ke Surga. Pemikiran seperti itu egois. Alkitab tak pernah mencatat janji semacam itu. Bahkan baptisan pun belum menjamin. Surga hanyalah fasilitas sekunder yang diberikan setelah ia menjalankan kehendak­Nya sebaik mungkin. 

Di ayat 16 Tuhan membicarakan tujuan panggilan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (kekal),…” Ayat tersebut sangat keras menekankan prinsip predestinasi dimana inisiatif pertobatan bukan dari manusia melainkan selalu Allah menyentuh hatinya lalu ia berespon. Tak seorang pun sanggup memilih Dia. Di Rm 8:29 juga dicatat, “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula…” Di Ef 2:8-10 Paulus menegaskan lagi, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Seharusnya orang Kristen berterimakasih atas penebusan-Nya.

Ironisnya, kebanyakan lebih ingat bagian terakhir Yoh 15:16, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu.” Padahal sesungguhnya Allah tak perlu diklaim. Sebelum manusia sadar, Ia telah mengetahui kebutuhannya karena jauh lebih bijaksana.              

Allah tak pernah memberi janji tanpa tuntutan tugas. Contoh, di Mat 28:19-20 dikatakan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (JanjiNya) Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (The God of Immanuel/providensia Allah) Tuhan memberikan hak tersebut hanya pada orang Kristen yang dipanggil untuk melayaniNya dan memberitakan Injil.

Ketika orang Kristen disebut sebagai sahabat sekaligus anak Tuhan, apa maksudnya? Pertama, membawa pengertian bahwa hidup penuh makna. Di dunia banyak orang kehilangan arah hidup. Ada yang kerja keras mencari nafkah tapi hidupnya lama kelamaan jadi kosong. Ada pula yang hidupnya sangat susah dan makin terjepit. Lalu mereka jadi stres, lelah dan jenuh. Padahal ketika mengerjakan proyek dan mengejar sasaran, semua itu tak mungkin terjadi. Sebaliknya, mereka akan excited. Setelah mencapai satu sasaran, muncul yang lain. Maka hidup jadi dinamis. Namun orang dunia tak punya pegangan atau purpose. Kalaupun ada, itu makna yang mereka berikan sendiri. Lama kelamaan kecewa juga karena makna tersebut tak sejati.

Pekerjaan di Ef 2:10 bukan hanya pelayanan di Gereja hingga seluruh jemaat jadi pendeta. Tuhan memanggil orang Kristen di segala bidang. Maka mereka harus bergumul mengenai penempatan, tujuan dan pertimbangan sesuai kehendak-Nya sehingga makna tertinggi dapat dicapai. Di bawah pimpinanNya, etos kerja seharusnya berubah. Bahkan pindah kerja pun harus menurut rencanaNya. Dengan demikian makna hidup tak terkunci oleh situasi, uang atau segala sesuatu. Hidup semacam itu nyaman sekali. Allah juga takkan membiarkan jemaat­Nya menganggur. Pengangguran sebenarnya akibat ketidaktaatan manusia kepada-Nya. Di Kis 20:24 Paulus dengan jelas mengatakan, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Kedua, hidup jadi dinamis (powerful life). Orang Kristen seharusnya mampu mengajak yang lain supaya giat, rajin dan semangat menjalankan pekerjaan Allah demi kemuliaan-Nya meskipun sulit. Selama pelayanan, jangan menggunakan standard yang sama dengan kafir. Walaupun tak secara materi, sesungguhnya para pelayan-Nya telah dibayar jauh lebih mahal yaitu dengan darah Tuhan yang mati menebus dosa manusia sehingga terbebas dari ikatan belenggu Iblis. Ironisnya, ada Gereja membayar jemaat supaya lebih giat pelayanan karena pikiran mereka terlanjur tercemar materialisme.

Ketiga, hidup jadi fruitful. Di Yoh 15 dicatat, Kerajaan Allah seperti kebun anggur dengan Bapa sebagai pengusaha, Kristus pokok anggur dan semua pengikut ialah carangnya yang harus berbuah. Dalam ilustrasi tersebut meskipun tak bersifat alegori, tampak 2 aspek dari anggur:

(1)buah itu mempunyai unsur banyak (kuantitas). Alkitab berulangkali menekankan ‘berbuah banyak’. Di ayat 2, Tuhan mengatakan, “Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotong­Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Kemudian di ayat 6 ditegaskan lagi, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Allah menghendaki jemaatNya tak sekedar kerja tapi harus strategis. Pohon anggur memang membutuhkan perawatan sangat teliti dan waktu yang lama.

(2)anggur juga punya kualitas. Anggur asam meskipun dalam jumlah banyak, takkan terpakai. Tuhan menghendaki anggur manis. Artinya, struktur makanan harus tepat. Vitamin yang dibutuhkan cukup. Nutrisi ada. Jadi kalau ingin menghasilkan buah yang baik maka harus memperlengkapi diri. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan, seperti Tuhan mengajarkan supaya berbuah, 2 hal yang seringkali dikontraskan atau didualismekan seharusnya digabungkan. Jadi, kuantitas sekaligus kualitas harus baik. Tak ada yang boleh dikorbankan. Orang yang berpikir semacam itu mungkin tak banyak. Memang tak mudah mencapainya tapi harus melalui pelatihan jiwa yang sungguh bersedia dipakai oleh Tuhan. Mitos yang membatasi diri kadang perlu didobrak.

Theologi Reformed tak berhenti hanya di kota besar tapi telah masuk ke desa. Selama ini pelayanan hamba Tuhan pedesaan sangat bersemangat namun tak berisi karena belum ada pembinaan kualitatif yang baik. Maka ketika dilatih, menurut mereka Theologi Reformed belum pernah dipelajari.

Theologi Reformed juga bukan hanya untuk orang pandai. Sebenarnya semua orang dari berbagai kalangan mampu mengerti, hanya cara mengajarkannya beda. Masalahnya, mau belajar atau tidak. Sesungguhnya, hidup orang Kristen hendak dijadikan saluran sehingga buah yang dihasilkan manis dan bermutu tinggi. Maka carang harus mendapat makanan yang cukup dari pokoknya. Kalau Tuhan bersedia memakai, biarlah kemuliaan senantiasa bagi-Nya. Amin.

Essensi Iman

Nats: Yoh 14:29

Yoh 14:29 termasuk pergumulan kesimpulan dari seluruh pembicaraan (Yoh 13:31 s/d Yoh 14:28). Ada 2 aspek keunikannya. Ayat tersebut termasuk prinsip nubuatan yaitu berita dinyatakan terlebih dahulu lalu ditunggu waktunya hingga akhirnya digenapi dan menghasilkan iman. Sebelum masuk ke konsep tersebut, intinya harus diperdalam.

Injil Yohanes ditulis sekitar 40-50 tahun setelah Injil Matius, Markus, Lukas yang mengungkap sejarah keberadaan Kristus di dunia, beredar. Ketiga Injil tersebut mempunyai tujuan dan sasaran masing-masing maka kronologinya beda. Maksud penulisan Injil Yohanes merupakan essensi pemberitaan pasal 14 dan juga menjadi target Tuhan yaitu supaya banyak orang percaya. Itulah prinsip terakhir semua tindakan dan perkataanNya. Sedangkan Yoh 20:30-31 merupakan kesimpulan Injil tersebut. Selain kronologi, ada penataan topikal yang diharapkan tercapai. Juga diperlukan multidimensi untuk melihat kehadiranNya sehingga tak cukup hanya 1 Injil dengan 1 segmen sudut pandang karena dimensi pengertian Injil jadi sangat terbatas. Injil Yohanes justru memberi wawasan sangat beda yang diungkap bukan secara kronologis melainkan Theologis (prinsip iman sejati).

Yoh 14:29 sepintas seperti sekedar urutan logis. Sebenarnya ayat tersebut merupakan essensi kehidupan terutama yang Kristen. Dalam hidup, kepercayaan dasar atau iman sangat serius hingga mempengaruhi tingkah laku, perkataan, pilihan dan keputusan. Tiap orang pasti memilikinya dalam diri dan memutlakkannya tanpa mempertimbangkan kebenaran. Maka ketika orang lain mulai mengusik isi hatinya terdalam yang disembunyikan dengan sangat rapi, ia marah. Dalam kondisi terdesak, akhirnya keluar modal terakhir yaitu ‘pokoknya …’. Setelah itu sebaiknya lawan bicara tak bertanya lagi dan diskusi segera diakhiri karena akan menimbulkan pertengkaran.

Sosiolog Erich Fromm mengatakan, “Don’t ask whether they have faith or not, but please ask what kind of faith they have.” Mungkin 80 % manusia di dunia tak menggumulkannya secara serius. Orang Kristen juga belum tentu sejati imannya. Di jaman sekarang, iman berada dalam kondisi sangat rumit. Dulu selalu timbul protes dan konflik jikalau ada yang pindah agama. Setelah tahun 60, peristiwa semacam itu tak terjadi. Apalagi dengan trend postmodernisme relativisme, para anak muda memiliki filosofi sangat beda dengan orang berusia 50-70 tahun. Mereka dapat beriman Kristen sekaligus atheist, humanist, Buddhist hingga berani menyatakan percaya semua aliran dan agamayang sebenarnya saling kontradiksi dan takkan  bersatu. Dalam pengertian mereka terjadi dan terbiasa dengan kondisi multilayers of faith (iman berlapis-lapis). Sebenarnya mereka menutupi iman sejatinya. Kondisi semacam ini paling bahaya.

Pengalaman para murid tak terlalu beda dengan kondisi di atas. Dalam pembicaraan Yoh 14 mereka telah mengikut Tuhan selama 3,5 tahun, menjelang penganiayaan, penyaliban, kematian dan kebangkitanNya. Pembicaraan tersebut telah mencapai kondisi advance dan kalau ditanya, mereka pasti tegas menyatakan percaya kepada Yesus, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup. Itulah statement of faith dari Petrus di Mat 16:16. Tapi mereka belum sungguh percaya melainkan masih dalam dualisme konsep karena iman tak sederhana.

Ada orang beranggapan, yang penting dan mendasar bagi keselamatan hanyalah percaya kepada Tuhan. Kalau demikian, sama dengan Setan percaya kepadaNya. Seharusnya beda. Matius 7:21-23 mengatakan, mereka yang memanggilNya Tuhan tak jadi masuk ke Surga melainkan dibuang ke Neraka. Padahal telah membuat banyak mukjizat hebat. Kadangkala manusia memudahkan istilah ‘percaya’.

Maka di Yoh 14:29 Kristus mengatakan, “Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.” Kalau Ia tak memberitahu lebih dahulu, para murid pasti sulit percaya. Mereka terus mendebatNya sepanjang pembicaraan tersebut, merupakan bukti belum percaya. Kalau sungguh percaya, jawaban mereka seharusnya sangat simple yaitu amin. Iman bukan kalimat yang boleh sekedar diungkapkan lalu dianggap selesai. Namun iman Kristen sejati belum terjadi hingga saat ini. Dalam pergumulan Yoh 14 ada beberapa hal untuk merefleksi dan mengevaluasi iman tiap orang Kristen:

Pertama, kaitan iman dan realita. Fakta dan iman beda. Para murid mengetahui fakta Tuhan mengadakan mukjizat dan mengajar lalu akhirnya harus pergi ke Yerusalem. Namun semua realita tersebut tak membuat mereka percaya.

Kadang dalam situasi tertentu orang Kristen harus menerima fakta karena memang tak mampu menolaknya. Banyak orang dihadapkan dengan fakta dunia jahat, rusak dan hancur, seperti penyakit, penderitaan, kematian dll karena manusia berdosa. Ada pula dosa tak dianggap kejahatan. Meskipun terpaksa dan hati berontak, mereka harus mengakui fakta tersebut.

Ketika orang Kristen menyadari berdosa, tindakan tersebut bukan sekedar logis tapi iman yang mengaitkan realita ke dirinya. Seharusnya penginjilan dan pertobatan mulai dari kondisi seperti itu. Tapi banyak yang tak melampauinya. Tak ada pertobatan yang sungguh terjadi.

Sesungguhnya manusia hanyalah sampah karena terlalu melawan Tuhan. Ia tak punya kapasitas, kehebatan, keistimewaan dan ketaatan untuk dibanggakan di hadapan Allah berdaulat. Seharusnya realita tersebut masuk ke dalam hati jadi kepercayaan.

Paulus juga mengatakan demikian. Dulu ia bangga sebagai orang Yahudi asli dengan otak Farisi. Kemampuan dan semangat kerjanya tak meragukan. Maka ia berhak merasa something. Tapi setelah mengenal Kristus, semua itu jadi sampah. Ia mengungkapkannya dengan keras. Itulah nuansa iman, bukan rasionya. Iman timbul setelah ia dihancurkan oleh Tu­han. Maka Saulus berganti nama jadi Paulus untuk mengekspresikan essensi imannya.        

Iman para rasul tak seperti itu. Mrk 9:34 mencatat bahwa mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar. Bahkan di Yoh 18:10 tercatat, Petrus menghunus pedang dan memutus telinga kanan Iman Besar. Padahal mereka belum pernah berlatih perang. Pikiran mereka terlalu jauh karena merasa dekat dengan Tuhan. Ketika Ia harus pergi, mereka jadi merasa nothing meskipun sulit menerima realita tersebut.

Fakta dan iman seringkali senjang dalam hidup manusia. Ketika sadar bahwa dirinya nothing, realita sejati jadi bagian dari iman. Hanya iman sejati membuatnya bersandar pada objek iman sesungguhnya yaitu Kristus. Mereka yang merasa something hanya mampu menjalankan keinginan dunia. Justru di tengah reruntuhan hati yang hancur, Tuhanlah yang akan membentuk dan menata kembali.

Kedua, iman membentuk kacamata hidup. Ketika melihat, memperhatikan dan menanggapi sesuatu, seseorang tak pernah mengerti secara plain (terbuka) tapi selalu dengan kacamata tertentu. Maka realita tersebut tak sejati melainkan hasil interpretasi. Kacamata iman sangat menentukan.

Di Yoh 14:29 Tuhan berkata demikian karena menginterpretasi realita tak mudah. Kesuksesan seseorang mungkin menurut kacamata orang lain jadi kegagalan. Demikian pula sebaliknya. Kadang juga terlalu cepat mengambil kesimpulan. Contoh, orang kaya belum tentu sukses. Sulit untuk mencapai orang kaya yang sukses. Mungkin 95% orang kaya termasuk gagal. Lebih baik hidup enak tapi miskin daripada kaya tapi susah. Kalimat tersebut paradoksikal dan sulit dimengerti karena kacamatanya bermasalah. Tapi itulah Firman Tuhan. Manusia cenderung melinierkan jadi ‘kaya itu enak’.

Bagi banyak orang, kepergian Tuhan dan Paulus ke Yerusalem termasuk kebodohan karena mereka akan disiksa dan dibunuh di sana. Tapi itulah jalan kesuksesan mereka karena pimpinan Allah. Kalau Paulus tak ke sana, ia takkan menembus ke Roma. Tak ada cara lain. Ia berkewarganegaraan Roma maka berkapasitas menghadap Kaisar. CaraNya memakai manusia memang sangat unik.

Orang juga memandang Yusuf bodoh karena sebagai anak kesayangan Yakub, ia malah dibuang oleh saudaranya. Tapi akhirnya ia memberi kesimpulan sangat tepat yaitu Kej 50:20 yang menunjukkan adanya 2 kacamata: (1)saudaranya, (2)Firman Allah. Kalau ia memakai kacamata saudaranya maka mereka harus dihukum karena mencelakakannya. Tapi ia justru memilih kacamata Tuhan (ayat 21).

Tuhan mempersiapkan para murid (Yoh 14:29) supaya cara pandang mereka beda dengan dunia yang memandang penyalibanNya sebagai kegagalan fatal total. Ia pergi ke Yerusalem justru untuk memenangkan semua pertentangan dan menghancurkan kuasa Iblis. Namun banyak orang Kristen tetap memakai kacamata selain yang Kristus berikan.

Ketiga, iman harus untuk tujuan terakhir. Kristus menghendaki umatNya percaya bahwa Ialah Mesias, Juruselamat, Penebus dan Anak Allah yang hidup. Kepercayaan yang salah sebaiknya mulai dibongkar dan dihancurkan. Sebagai ganti, ia harus kembali kepada Allah. Tindakan tersebut memang sangat sulit tapi harus dijalankan sebelum terlambat.

Ketika Tuhan akan pergi, para murid ketakutan karena berpikir harus mengatasi hidup mereka sendirian. Saat ini juga banyak orang ketakutan karena tak bersandar mutlak kepada­Nya. Padahal prinsip dunia seringkali tak sesuai dan malah merusak iman Kristen. Contoh, konsep positive thinking membuat orang tak menyandarkan hidup kepadaNya. Namun planning manusia dapat dibatalkan olehNya. Maka seharusnya digumulkan dan menunggu pimpinan Al­lah jelas agar resiko tak terlalu besar. Banyak orang berpikir, hidup menurut jalan­Nya sangat susah. Seharusnya justru lebih ringan meskipun memang tak mudah menjalankan pekerjaan-Nya. Tapi hidup yang tak mengandalkan-Nya pasti jauh lebih susah. Amin.

Hidup yang Berbuah

Nats: Yoh 15:4-7; Mat 7:15-23

Tuhan berulang kali memberi gambaran mengenai prinsip orang Kristen harus terus menerus berbuah. Salah satu prinsip penting, Kekristenan tak diarahkan jadi iman yang mati secara essensial melainkan hidup.

Materi tak mengalami proses dan tak punya nuansa hidup. Batu tak mungkin beranak melainkan terkikis oleh erosi. Tapi tumbuhan bahkan sel amoeba hidup. Dan unsur vitalitas termasuk paling penting dalam hidup. Ada pula unsur mortalitas dan kekuatan prokreasi. Maka pohon tak hanya cari makan tapi juga bertunas dan berbuah. Kalau tidak, ia akan terancam punah. Jadi, hidup punya qualitative difference. Kemungkinan hidup terus diperjuangkan oleh dunia medis. Tapi benda mati jadi hidup ialah tipuan palsu ilmu pengetahuan tak bertanggung jawab karena tak terbukti.

Kalau kerohanian mati, demikian pula Gereja. Kalau hidup, harus berbuah. Kalau tidak, akan dipotong, dibuang dan dibakar karena sebenarnya ia sudah mati. Bukan berarti Tuhan membunuhnya tapi ia telah mati terlebih dulu. Kalau berbuah dan kualitasnya bagus, akan dipelihara serta dibersihkan (pruned) supaya hasil berlimpah (Yoh 15:2) sehingga namaNya makin dipermuliakan. Kalau tak lagi mampu mengembang dan berbuah bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan jadi berkat bagi orang di sekelilingnya, berarti sudah mencapai tingkat kemandulan yang membahayakan.

Saat ini banyak orang Kristen hanya memikirkan keuntungan yang dapat dinikmatinya sendiri. Ketika melayani Tuhan, mereka tak memikirkan buah yang dihasilkan. Padahal ketika baru bertobat, mereka punya jiwa penginjilan dan semangat rela berkorban yang sangat besar untuk melayani. Contoh, pergi ke Gereja untuk mempelajari ilmu seperti teknik pelayanan, struktur organisasi, administrasi, dll yang improving/memperkaya diri sendiri. Motivasi tersebut kelihatan baik tapi sebenarnya tak seimbang. Gereja jadi tempat magang. Seharusnya ia mencari kekurangan Gereja tersebut lalu mau sharing. Hidup Kristen bukan mencari hak melainkan mengejar kewajiban dan takkan puas sebelum berbuah banyak. Selain itu, ia harus berdoa agar berkenan di hadapanNya.

John F. Kennedy pernah mengatakan, “Don’t ask what the country can do for you, but ask what you can do for your country.” Tapi Allah telah berbuat banyak untuk jemaatNya maka Ia mengharapkan mereka berbuah. Kristus yang mati disalib telah menjadikan mereka hidup padahal seharusnya binasa. Ia telah menebus dosa mereka. Yang rusak juga telah diperbaikiNya.

Ketika carang berbuah banyak, pemilik kebun anggur datang lalu memotong dan membawa buah yang terbaik. Bijinya akan ditanam lagi. Sedangkan bibit jelek takkan dipakai.

Di dunia yang hanya memikirkan rights dan meniadakan responsibility, Allah mengajak umatNya kembali mengerti essensi kehidupan Kristen yaitu berbuah karena seseorang berada di kampus, kantor, lingkungan atau keluarga tertentu bukanlah kebetulan melainkan pimpinanNya. Ada 2 prinsip pelayanan Kristen yang harus dijalankan yaitu:

(1)Sebagai terang, ia melakukan iluminasi/memancar/menyinari. Untuk tugas tersebut, Tuhan tak menuntutnya jadi sempurna seperti malaikat melainkan harus sungguh bertobat hingga terjadi perubahan hidup yang drastis. Orang yang melihatnya, langsung menyadari bedanya. Dulu gelap, sekarang terang.

(2)Sebagai garam, ia melakukan penetrasi. Untuk merasakan masakan yang pakai dan tanpa garam, tak perlu keahlian khusus meskipun garamnya tak terlihat. Setelah masuk ke dalam masakan, garam langsung larut seluruhnya. Masakan yang kelihatan enak, tanpa garam jadi hambar.

Ketika orang Kristen masuk ke dalam lingkungan tertentu, mungkin keberadaannya tak disadari oleh yang lain tapi mereka merasakan pengaruhnya. Suasana jadi berubah. Dulu beku, sekarang enak.

Tuhan menghendaki kehidupan orang Kristen tak berorientasi pada diri sendiri. Di ayat 7 Ia berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Kalau ayat tersebut selalu diingat tapi ayat 1-6 tak dimengerti secara tepat berdasarkan konteks pengertian semula, ia jadi sangat egois. Sesungguhnya ayat tersebut bukan himbauan melainkan perintah. Lalu buah seperti apa yang Allah inginkan?

Pertama, buah harus sesuai/menentukan jenis pohonnya. Di Mat 7:15 Tuhan memberi perumpamaan sangat tajam, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Di ayat 21-23 Ia berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Logika terlalu dangkal beranggapan orang semacam itu pasti bukan hamba setan. Padahal iblis punya taktik licik luar biasa. Tuhan tak dapat berbohong atau melakukan yang tak benar dan tak bermoral. Iblis sanggup berdusta, membunuh dll. Tampaknya ikut iblis lebih enak. Ketika menyaksikan orang mengadakan mujizat, kebanyakan beranggapan dia itu hamba Tuhan. Padahal dukun juga mampu melakukannya.

Di Mat 7:16 Ia melanjutkan, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Di ayat 17 Ia mengatakan, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Maka buah Kekristenan tak dapat lepas dari kepribadian Kristus dan seluruh misi panggilanNya. Tanpa pengetahuan cukup, orang Kristen akan jadi korban kebodohannya sendiri.

Kedua, Tuhan menuntut kualitas buah baik. Anggur yang bagus, jumlahnya banyak dan rasanya enak. Kualitas buah harus tetap diperjuangkan agar mempermuliakan Bapa di Surga.

Ada ilustrasi mengenai pelayanan. Seorang kakak yang sudah SMA punya adik berusia 6 tahun. Si kakak melayani di Gereja sebagai guru sekolah minggu. Ia berencana akan mempersiapkan aktivitas prakarya bagi para muridnya di kelas kecil. Lalu ia pergi ke perpustakaan sekolah untuk mencari gambar yang bagus dan mudah digunting. Akhirnya ia menemukannya lalu gambar tersebut difotocopy sebanyak 41 kali karena muridnya berjumlah 40 anak dan 1 lembar untuk dirinya memberi contoh pada mereka. Pada hari Sabtu dipersiapkannya semua yang diperlukan untuk mengajar antara lain 41 lembar fotocopy, gunting dan pensil warna. Semua peralatan tersebut diletakkannya di atas meja di ruang tamu. Setelah itu, mamanya memanggil dan memintanya pergi belanja ke supermarket. Ia diberi daftar belanjaan dan uang. Lalu ia berangkat dengan bersepeda. Si adik merasa kasihan pada kakaknya. Lalu ia bermaksud membantu menyelesaikan pekerjaan kakaknya. Ketika melihat gambar, gunting dan pensil warna, ia langsung mengerti. Ia mulai menggunting gambar tersebut satu per satu. Setelah selesai menggunting seluruhnya, si kakak masih belum pulang. Lalu ia mulai  mewarnai gambar tersebut. Sesudah mewarnai 6 gambar, kakaknya pulang. Ia segera merapikan ruangan. Bekas guntingan dikumpulkannya dan dibuang ke tong sampah. Gunting dan pensil warna disusun rapi kembali. Ia mengira akan mendapat pujian dari kakaknya. Setelah mengembalikan sisa uang ke mamanya, si kakak langsung masuk ke ruang tamu untuk menyelesaikan persiapannya. Ia sangat terkejut dan berteriak, “Siapa yang mengerjakan semua ini?” Si adik dengan innocent muncul dan berkata, “Saya.” Kakaknya langsung putus asa karena rencananya hancur berantakan. Sedangkan si adik tak merasa bersalah melainkan berjasa.        

Kegiatan pelayanan Gereja harus dimulai dari beban yang Tuhan tanamkan dalam hati jemaat. Maka diperlukan pergumulan dan doa. Kalau ada beban pelayanan yang dirasa perlu dikerjakan, sebaiknya dishare dengan orang lain terlebih dulu. Kalau setelah itu tak ada yang menanggapi, berarti mungkin hanya ambisi pribadi. Tapi kalau beban tersebut dari Allah, Ia pasti membakar semangat bukan hanya 1 orang melainkan beberapa orang. Dan semangat mereka makin lama semakin besar. Setelah itu, coba delay untuk sementara waktu. Tindakan tersebut untuk menguji. Kalau sesudah masa delay, semangat bertambah besar, beban tersebut boleh dikerjakan karena Tuhan memimpin. Tantangan mungkin sangat berat tapi tak perlu takut melainkan tetap yakin. Orang boleh coba menghambat atau memadamkan semangat tersebut tapi rencanaNya tak dapat digagalkan. Lebih baik support dan menjalankannya, pasti semua tergenapi.

Anak Tuhan harus peka terhadap prinsipNya sehingga dapat dipakaiNya. Allah tentu sangat bersukacita. Tapi Ia tak pernah memaksa. Menurut Pdt. Stephen Tong, Ia kelihatan diktator tapi sebenarnya demokrat. Ia memberi kebebasan pada manusia, mau menjalankan atau malah melawan perintahNya. Kadang ada orang yang kurang ajar hingga berani mengatakan Tuhan jahat. Padahal Ia sangat sabar dan mau memberi kesempatan bertobat. Kalau tetap tak mau bertobat, berarti salah orang itu sendiri. Amin.

“Di luar Kristus, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Nats: Yoh 15:5-6

Yoh 15:5 termasuk salah satu bagian yang mungkin sulit diterima bahkan sangat tak disukai oleh banyak orang karena dianggap terlalu kuno, melecehkan dan menjengkelkan. Orang humanis berupaya menonjolkan potensi dan jiwanya yang egois. Dalam sejarah filsafat, sejak  Renaissance (abad 14) muncul humanisme sebagai akibat ditemukan kembali buku dan karya Aristotle yang telah 1000 tahun lebih hilang. Di abad 12 ajarannya mulai merebak di Eropa. Beberapa filsuf Islam akhirnya melakukan sinkritisme antara iman mereka dan Aristotelian. Demikian pula di Kekristenan muncul tokoh seperti Thomas Aquinas dsb. Mereka mencoba mengkombinasikan antara pemikiran Aristotelian dan religius yang berorientasi kepada Allah. Maka muncul ketegangan.

Salah satu moment terpenting adalah lukisan Monalisa oleh Leonardo da Vinci yang mendobrak sejarah seni. Sebelumnya, semua seni memandang kepada Tuhan. Lukisan pra-renaissance di Eropa bernuansa agama dimana selalu ada salib, gereja, orang suci (saint) dengan lingkaran di atas kepala, Maria, Tuhan Yesus, tangan menghadap ke atas dan mata juga melihat ke atas. Tapi Monalisa digambarkan tersenyum sinis, mata tak memandang ke atas dan tangan berada di bawah. Latar belakangnya adalah sawah. Artinya, orang diajak berpikir duniawi. Maka lukisan tersebut dianggap sebagai perubahan.

Pemikiran tersebut terus berkembang hingga August Comte masuk ke dalam konsep positivisme. Di abad 19 ia mempelopori semangat enlightment sebagai lanjutan dari Renaissance. Menurutnya, hanya orang primitif atau bodoh yang masih percaya kepada Allah. Orang yang lebih pandai atau maju percaya pada metafisik (sesuatu melampaui dunia fisik tapi masih dalam analisa fisika). Artinya, science jadi citra yang harus dipelajari. Sedangkan orang positif percaya logika, dunia fisik serta kekinian dan tak perlu Allah. Iman dan agama harus dibuang karena dulu cara pikir orang seringkali negatif. Contoh, ketika ada petir, berarti Tuhan marah. Padahal dengan sarana otak manusia, dunia mampu. Tak boleh ada ungkapan ‘tak mampu’ melainkan ‘belum mampu’ karena kelak pasti mampu. Manusia memang sangat sombong.

Di Yoh 15:5 Tuhan berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Meskipun manusia punya gelar doktor, rumah besar atau kedudukan tinggi. Tapi istilah tersebut juga bukan berarti total. Sebenarnya ada ‘apa-apa’ yaitu ‘apa-apa’ yang tak ada apa-apanya (nihilisme). Jadi, ia melakukan aktivitas tak bermakna. Setelah itu, ia menyesalinya. Di ayat 6 Ia melanjutkan, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Inilah yang sering tak disadari oleh manusia.

Tujuan anak dibimbing dan dididik hingga bertumbuh dalam studi yaitu agar ia tahu mengerjakan sesuatu yang bernilai. Kalau tidak, semua yang dilakukan akhirnya terbuang sia-sia. Sejak kecil, anak diajar bergerak terkontrol oleh otaknya. Itulah latihan motorik. Sehingga tiap gerakannya meaningful dan cocok/sinkron dengan pikiran serta perkataannya.

Orang Kristen harus dilatih mencakup nilai dalam kekekalan. Di luar Kristus ia lepas dari sumber hidup serta potensi tindakan dan kelakuan tepat. Di Rm 6:15-23 Paulus menjelaskan, manusia terkunci hanya di 2 posisi perhambaan: (1)Sebagai hamba dosa, ia dijerat, dicengkeram dan akan terus diperbudak atau tunduk di bawah kuasa Iblis. Lama kelamaan ia menganggapnya wajar dan terbaik karena telah terbiasa; (2)Sebagai hamba kebenaran, ia dipimpin oleh Tuhan. Posisinya tak boleh naik di atas kebenaran sejati yaitu Kristus. Jadi, selamanya ia takkan pernah jadi tuan. Fakta tersebut tak disadari oleh orang humanis.

Di Yoh 14:6 Tuhan berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Dan Ia membuktikan perkataanNya. Hingga saat kematianNya, tak ada yang membuktikan Ia berdosa. Lalu Ia bangkit mengalahkan kuasa maut dan naik ke Surga. Maka manusia tak berhak mengucapkan ayat tersebut.

Di Yoh 8:31-32 Tuhan berkata pada orang Yahudi, “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Di ayat 33 mereka menjawab, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun.” Lalu di ayat 34 Ia menegaskan, “…, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Di akhir pembicaraan tersebut mereka mengambil batu untuk melempari Dia. Tindakan tersebut menunjukkan kekakuan dan kebodohan mereka hingga tak mau mengerti.            

Di dunia hanya manusia yang diajar mengerti konsep nilai dan makna. Orang dunia menganggap uang sebagai nilai tertinggi hidup. Manusia secara umum telah ditipu oleh kelicikan Setan. Iblis tak punya hidup maka menawarkan uang/harta dan sebagai gantinya ia minta hidup manusia. Di Luk 4:6-7 ia berkata kepada Tuhan, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepadaMu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milikMu.” Kalau manusia ditawari seperti itu, mungkin langsung berdoa, “Tuhan, roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Akibatnya, ia kelak masuk ke Neraka. Manusia sangat ceroboh hingga berambisi mengejar sesuatu yang dianggap bernilai tapi akhirnya ia mati. Di Mat 6:19 Kristus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya …“ Jadi, manusia lahir dan mati tanpa membawanya. Bukan berarti ia tak boleh cari uang. Tapi uang sekedar sarana.

Ada yang bertanya, “Orang Kristen boleh kaya atau tidak?” Ketika ditanya, “Kenapa bertanya seperti itu?”, ia tak menjawab karena takut motivasinya terbongkar. Lalu ia menjawab, “Di Alkitab, Abraham tergolong kaya.” Maka kalau ia kaya, seharusnya seperti Abraham. Di Kej 13:1-12 tercatat, antara para gembala Abraham dan Lot terjadi perkelahian. Untuk menghentikannya, di ayat 9 Abraham berkata pada Lot, “Baiklah pisahkan dirimu daripadaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” Lalu Lot memilih Lembah Yordan yang banyak airnya, seperti taman Tuhan. Tindakan tersebut menunjukkan, Abraham sungguh kaya hingga tak takut kekurangan uang. Ia juga dapat predikat “bapa orang beriman”. 

Ada orang berpendapat, kalau tak pelit, takkan bisa kaya. Di Mrk 12:41-44 tercatat mengenai persembahan janda miskin. Di ayat 43-44 Tuhan berkata pada para murid­Nya, “…, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” 

Ayub juga jadi berkat sangat besar bagi orang lain melalui attitude/sikapnya dalam pergumulan. Sejarah kemenangannya dibaca dan dipelajari di seluruh dunia, bukan hanya oleh orang Kristen tapi termasuk sosiolog, psikolog, ahli budaya dll.

Banyak orang berusaha mencapai double happiness. Sebenarnya kebahagiaan berlimpah bukanlah tujuan. Kebahagiaan seperti fatamorgana yang menghilang ketika dikejar. Happiness seharusnya termasuk daily life. Menurut Alkitab, point terpenting ialah hidup di dalam Kristus dan berbuah banyak. Itulah the true life. Sesungguhnya orang Kristen sekarang telah mencapai dan menikmati happiness tapi belum sempurna. Inilah konsep paradoksikal Alkitab. Seharusnya hidup Kristen sejati itu ringan karena tak tergantung pada permainan dunia melainkan pengaturan Allah yang mutlak. Di Mat 18:3 Tuhan berkata, “…, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Maka orang Kristen seharusnya hidup sebagai anak yang taat di hadapanNya. Pasti aman dan tak mungkin salah. Biarpun kelihatan gelap tapi ketika melewatinya, Ia buka satu per satu dan semua tergenapi. Badai akan segera teratasi dan hidupnya kembali bersukacita. 

Kebanyakan orang Kristen belum terbiasa hidup bergaul dekat dengan Allah melalui doa dan Firman. Akibatnya, ia tak mengerti kehendakNya. Padahal di Yoh 15:7 Tuhan berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”  

Jemaat GRII hendaknya mencapai 2 tujuan yang harus diperjuangkan dan dipergumulkan seumur hidup: (1)in­ternal goal yaitu Ef 4:13, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” (2)external goal yaitu amanat agung di Mat 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Jadi, bergereja bukan sekedar tiap Minggu datang kebaktian. Amin.

“Mintalah apa saja . . .”

Nats: Yoh 15:7-8

Ayat 7 tersebut sangat riskan dan sering disalahgunakan serta dimanipulasi hingga tampaknya orang Kristen berhak minta lalu pasti akan menerima. Inilah jiwa egois yang hanya memuaskan keinginan duniawi dan sikap kedagingan tak bertanggung jawab. Maka  Yoh 15 terbatas hanya untuk murid sejati yang mengerti dengan tepat.

Ayat tersebut dibahas dalam kerangka yang menggambarkan mystical union tapi tak seperti versi dunia melainkan hubungan mutual/personal sangat unik serta dekat antara Tuhan dan umatNya. Ayat 4-6 membicarakan 2 kondisi: (1)orang Kristen yang berada dalam Kristus diumpamakan seperti ranting tinggal pada pokok anggur sebagai sumber hidup; (2)di luar Kristus ia tak dapat berbuat apa-apa. Di ayat 8 Ia menekankan, yang berhak dapat fasilitas terse­but di ayat 7 ialah mereka yang berbuah banyak dan termasuk murid sejati. Agar buahnya bagus, saluran makanan dari akar ke carang harus lancar. Maka buah tersebut akan mempermuliakanNya dan menyatakan pada semua orang bahwa merekalah murid­Nya. Ini seharusnya jadi cara pikir/paradigma dan format pengambilan keputusan orang Kristen.

Orang Kristen seharusnya menyadari dirinya ialah ranting dan bukan pohon yang independent. Kalau tak berbuah,ia akan dipotong, dibuang, dikumpulkan lalu dibakar. Hidup di dunia sangat risky dan dipilah jadi 2: (1)terpelihara dalam Kristus, (2)di luar Kristus ia jadi mandul hingga akhirnya dibinasakan. Tuhan yang maha kasih menyayangi manusia tapi juga menyediakan Neraka. Sebelum mengetahui aksi yang dapat dikerjakan dan porsi bagiannya, harus terlebih dulu secara jelas ditentukan eksistensi, identity serta posisi diri dalam kaitan dengan pokok anggur sejati. Maka diperlukan kemampuan memilah. Hidup orang dunia sebenarnya siap dibuang tapi belum saatnya. Sedangkan citra Kristen ialah hidup dalam Kristus.

Orang Kristen sejati pasti berbuah banyak dan bagus. Maka ia dapat jaminan tersebut di ayat 7. Seringkali kebanyakan orang mau claim janji Tuhan tapi mengabaikan tugas. Padahal ayat 7a merupakan penyebab dan 7b sebagai akibat. Kalau tak ada tugas, ayat 7 juga takkan dinyatakan. Dan Ia tak mungkin bohong maka janjiNya pasti terjadi. Sedangkan manusia tak dapat diandalkan karena ada kemungkinan tak menepati janji.

Di Mat 7:16-18 Tuhan berkata, 1 pohon sejati pasti menghasilkan buah yang sejenis. Di ayat 16 Ia mengatakan, dari buahnyalah diketahui jenis pohon. Jadi, buah mencerminkan identifikasi pohon.

Banyak orang mudah menyatakan diri sebagai anak Tuhan karena beranggapan takkan ada ancaman/resiko. Banyaknya kegiatan sosial Kristen dan janji teologi sukses membuat orang terkecoh hingga mau jadi Kristen. Tapi akhirnya ia kecewa karena menurut logikanya, “apa saja” di Yoh 15:7 berarti tanpa perkecualian. Jadi, ia menyatakan kenal dan percaya kepada Kristus karena adanya nats tersebut dan janji keselamatan masuk ke Surga. Akibatnya, rusaklah Kekristenan.

 Di Gal 4:9 Paulus menulis, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, (kalimat tersebut tak salah tapi kurang tepat dan berbahaya karena subyektif) atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, …?” 2 pendekatan tersebut beda. Kalau yang pertama, ada kemungkinan Tuhan tak kenal mereka. NamaNya memang lebih beneficial untuk dicatut. Padahal yang menentukan ialah Allah. Yang perlu diperhatikan dari Yoh 15:7:

Pertama, “… firmanKu tinggal di dalam kamu, …” Artinya, obyektivitas kebenaran harus diutamakan. Tuhan tak mau umatNya terkunci oleh semangat humanisme. Kalau “firmanKu” diganti dengan “Aku”, hubungan manusia dan Kristus jadi mistik versi dunia, seperti hubungan dengan Setan/roh. Contoh, ada orang meyakini, yang diucapkannya ialah yang Kristus katakan. Keyakinan semacam ini sesat. Banyak orang Kristen tak mau belajar Firman karena takut tak bisa minta seperti versi humanistik.    

Ketika jatuh ke dalam cengkeraman dosa, pikiran manusia akan terbelenggu. Perkataan Tuhan di Yoh 8:31-32, “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, …, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” malah membuat orang Yahudi yang percaya kepadaNya jadi sangat marah hingga terakhir di ayat 59. 

Karl Barth, tokoh teologi modern memilah antara Kristus dan Firman. Menurutnya, iman hanya kepada Tuhan. Sedangkan Alkitab tak boleh dipedulikan karena sekedar kesaksian beberapa orang secara subyektif mengenai pengenalan mereka akan Yesus. Di Yoh 15:4-7 Tuhan justru langsung memparalelkan DiriNya dan Firman.

Kedua, “…, mintalah apa saja …” Kadang manusia terpilah jadi 2: (1)Berani minta hingga memaksa. Padahal Tuhan pasti melengkapi kebutuhannya. (2)Tak berani minta dan hanya menerima nasib. 2 ekstrim tersebut jelek.

Permintaan orang Kristen seharusnya sesuai kehendak Tuhan dalam kebenaran Firman dan mempermuliakan Bapa serta jadi berkat bagi sesama. Dalam menggumulkan rencana­Nya, ia harus berani maju dan minta di hadapanNya dengan motivasi murni. Inilah the true freedom in God. Kekristenan sesungguhnya tak dibatasi oleh boleh atau tidak, seperti Taurat melainkan justru kebebasan bergerak/melangkah tapi harus dalam kerangka Firman.     

Kadang orang Kristen tertipu oleh konsep dunia yang terbalik. Dunia kelihatannya lebih bebas. Sebenarnya mereka terikat dan terkunci oleh perkataan fiktif serta bohong untuk membius diri. Sedangkan orang bebas pasti hidup normal, tenang dan santai karena Tuhan menyertainya.

Ketiga, “…, dan kamu akan menerimanya.” Garansi tersebut didasarkan pada kedaulatan, kemahadahsyatan dan kemahakuasaan Allah sehingga tak ada yang dapat menghalangi anugerah­Nya. Ia tak dapat dipermainkan.

Sepanjang sejarah penebusan, dari Kej 2 sampai Mat 1 Setan berulang kali berusaha menggagalkan kedatangan Kristus. Hingga saat ini Kekristenan diupayakan untuk dilenyapkan dari muka bumi tapi tak berhasil. Sebaliknya ketika belum waktunya Ia naik ke Surga, tak ada yang dapat membunuhNya.

Keempat, “… yang kamu kehendaki, …” Inilah the free will. Kehendak selalu jadi produk/ efek, bukan pemicu. Mungkin produk dari perasaan atau rasio. Akan aneh kalau keinginan muncul tanpa alasan. Itulah keinginan tak terkontrol.

Kalau perasaan dan pikiran orang Kristen sama dengan Kristus maka kehendaknya pasti tepat sesuai Firman. Perasaan dan pikirannya telah dikuasai oleh Firman. Justru dari keinginannya diketahui siapa dia sebenarnya.

Jangan biarkan kehendak dikuasai oleh nafsu karena akan membuatnya jadi liar. Maka diperlukan introspeksi diri agar bertumbuh sesuai kehendak­Nya. Perbaikilah hubungan dengan Tuhan. Lalu periksalah apakah hubungan tersebut sudah berbuah. Kalau sudah, periksalah kualitas buahnya. Sudahkah jadi saksi di rumah tangga/keluarga? Bagaimana dengan kesaksian di lingkungan, tempat kerja, sekolah dan di Gereja? Kebanyakan orang Kristen mau dilayani tapi tak bersedia melayani. Kalau begitu, bagaimana mereka dapat berbuah? Inilah beberapa hal yang perlu dievaluasi kembali. Diharapkan apa yang telah dipelajari saat ini jadi warning keras mengenai bagaimana hidup di tengah dunia yang semakin berdosa. Amin.

Yesus Terang Dunia

Nats: Yes 8:23-9:6; Yoh 1:4,5; 8:12

Sebentar lagi kita akan merayakan Natal, memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Apa makna kelahiran Yesus bagi dunia ini, bagi kita? Bagi Nabi Yesaya, kelahiran Yesus berarti datangnya terang yang besar bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan (Yes. 9:1). Tetapi ketika dikatakan bahwa kedatangan Yesus membawa terang, lalu apa artinya terang itu? Berkat dan anugerah apa yang dibawa masuk ke dalam kehiudpan kita melaui kedatangan-Nya? Apa artinya ketika Yesus berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12) Dalam renungan ini kita akan melihat beberapa pengertian pernyataan bahwa Yesus adalah terang dunia. Terang adalah konsep yang umum yang dipakai oleh banyak agama, namun mempunyai pengertian yang cukup rumit. Kita akan menghindari segala macam spekulasi filosofis maupun teologis, dan menggali arti kata ini sepenuhnya dari pemakaiannya di dalam Alkitab.

1. Dalam Yesus terang dunia, kita mendapatkan hidup kekal (hidup dalam segala keberkatan dari Allah), kelepasan dari penghukuman, pengampunan dosa, keselamatan serta shalom.

Bagi nabi Yesaya, Israel yang berada di dalam kehancuran di bawah penaklukan Asyur akibat dosa mereka tidak akan terus berada dalam keadaan yang terhimpit, sebab anugerah Tuhan akan dicurahkan kepada mereka. Mereka yang “berdiam di negeri kekelaman” atau “in the land of the shadow of death” (NKJV;NIV) atasnya terang telah bersinar(Yes 9:1). Jadi terang adalah kebalikan dari hukuman dan maut, yaitu hidup kekal, pengampunan dosa, keselamatan, dan shalom. Imam Zakharia yang mengutip nubuat ini menegaskan kembali pengertian ini ketika ia menubuatkan pelayanan anaknya, Yohanes Pembaptis. Ia memahami bahwa berkat yang dibawa Mesias kepada umat manusia ialah “keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa” (Luk. 1:77), bahwa terbitnya “Surya pagi dari tempat yang tinggi,” yaitu terang itu adalah “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut, untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera atau shalom” (Luk 1:78c-79). Terang adalah keselamatan sempurna dari Allah yang dibawa masuk oleh Yesus Kristus.

Seluruh umat manusia telah berdosa. Kita semua berada di bawah kuasa dosa yang  memperbudak kita dan membawa kita pada kematian. Keselamatan dari kuasa dosa dan maut adalah kebutuhan eksistensial setiap orang. Inilah yang menjadi alasan munculnya agama-agama. Tetapi siapakah yang dapat memberikan keselamatan sejati kepada kita? Hanya Allah sendiri yang dapat memberikan keselamatan sejati kepada kita. Di dalam diri Yesus Allah telah melakukan tindakan penyelamatan yang konkrit dalam sejarah manusia. Allah bukan ide yang jauh di sana, tanpa relevansi nyata dengan kenyataan hidup kita yang celaka. Dalam diri Yesus, Allah telah mendatangi kita sebagai terang yang mengusir kegelapan kita (perbudakan dosa, penghukuman, kehidupan yang hancur, dan kematian). Me­sias yang menyelamatkan kita itu adalah Mesias ilahi, yaitu Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan kita (Yes 9:5).

Penegasan diri Yesus, “Aku adalah terang dunia” (Yoh. 8:12) adalah satu dari tujuh pernyataan “Aku adalah” (ego eimi) di dalam Injil Yohanes. Enam pernyataan lain ialah: “Akulah roti hidup” (6:35); “Akulah pintu” (10:7,9); “Akulah gembala yang baik” (10:11,14); “Akulah kebangkitan dan hidup” (11:25); “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (14:6); dan “Akulah pokok anggur yang benar” (15:1,5). Penyelidikan Alkitab menunjukkan bahwa penegasan yang unik “Aku adalah” yang ditegaskan Yesus dalam Injil Yohanes mempunyai kesejajaran arti dengan penegasan “Aku adalah Aku” dari Allah ketika ia menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan perjanjian (YHWH) kepada Musa  dalam Keluaran 3:14. Jadi melalui penegasan “Akulah terang dunia,” Yesus sedang menegaskan identitas dan otoritas dan hak keilahian-Nya, sekaligus penyataan karakter diri dan tindakan penyelamatan-Nya bagi umat manusia. Ia yang adalah Tuhan Allah, adalah pemberi terang keselamatan kepada manusia berdosa. Penyataan diri Yesus ini juga harus kita lihat dalam latar belakang ungkapan orang saleh Perjanjian Lama yang menyebutkan bahwa “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku” (Mzm. 27:1). Sekarang, terang itu, yaitu Tuhan sendiri, datang dalam diri Yesus, untuk membawa keselamatan kepada umat manusia. Inilah berita Injil yang dinubuatkan oleh Yesaya, yang direalisasikan pada malam natal di Betlehem.

Identitas diri dan pekerjaan Yesus sebagai terang dunia juga ditegaskan di dalam Yohanes 1:1-5. Dalam Yohanes 1:1-3, rasul Yohanes menegaskan bahwa Sang Firman, yaitu Yesus Kristus adalah Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sejak kekekalan, Dia sendiri bukanlah ciptaan, sebaliknya melalui Dialah segala sesuatu diciptakan, dan sebelum Dia menciptakan, belum ada suatu apa pun yang telah diciptakan. Dalam ayat 4 dikatakan bahwa “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Di sini Yesus ditegaskan sebagai sumber hidup, yang daripada-Nya seluruh alam semesta dan manusia memperoleh hidupnya.

Tetapi “hidup” di sini, bukan sekadar hidup biologis, melainkan hidup dalam berkat dan perkenanan Allah. Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang dipakai untuk kata ‘hidup’, yaitu ’bios’ dan ’zoe’. Bios ialah hidup biologis; sedangkan zoe ialah hidup ilahi, hidup dalam segala berkat ilahi. Orang bisa memiliki bios, hidup fisik, tanpa memiliki hidupilahi, zoe. Dalam contoh kehidupan sehari-hari, banyak orang yang memiliki hidup, tetapi dalam penderitaan yang begitu berat, sehingga mereka berpikir lebih baik tidak pernah dilahirkan. Dalam arti rohani, bios tanpa zoe, kehidupan atau keberadaan tanpa berkat dan perkenanan Allah, inilah keadaan mereka yang dijauhkan dari hadirat Allah, mereka yang berada dalam penghukuman dan kebinasaan kekal.

Siapakah yang dapat memberikan zoe itu kepada kita? Yesus Kristus, sumber hidup manusia itulah satu-satunya yang sanggup memberikan zoe, hidup kekal, keselamatan sempurna kepada kita. Penebusan Yesus memungkinkan kita untuk hidup dalam segala berkat dan perkenanan Allah. Di zaman sekarang agama telah saling belajar. Walaupun kita memiliki agama yang sejati, tetapi mungkin umat telah gagal memahami dan menampilkan keunikan kekristenan. Sehingga orang mulai berpikir kekristenan sama dengan semua agama lain. Orang Kristen seharusnya punya zoe, hidup dengan kuasa ilahi yang memerdekakannya dari cengkeraman dosa, bukan sekadar datang beribadah dan melayani secara formal di Gereja tetapi tidak mengalami kuasa hidup yang memerdekakan.

2. Dalam DiriNya, orang Kristen menemukan pernyataan pengajaran/wahyu kebenaran Allah.

Inilah arti Terang yang dijelaskan di Mzm 119:105, Yes 2:5b dan Yes 51:4c-d. Berarti, itulah tuntunan atau jalan untuk menjalankan hidup. Firman, perintah, pengajaran dan wahyu Tuhan ialah Terang lalu puncaknya hanya dalam Kristus. Di zaman dulu, Allah telah memakai para nabi­Nya untuk menyatakan Diri. Manusia perlu dituntun.

Melalui pernyataan Yesus, orang mengenal Allah sejati (Yoh 14:9 dan Mat 11:27). Tanpa Kristus sebagai puncak kesaksian para nabi, ia hanya menemukan allah hasil imajinasi dan filosofi sesat. Bagi Martin Luther, itulah teologi kemuliaan yang justru tak membawa manusia kepada Tuhan. Terang yang dibawa oleh Yesus untuk menuntun langkah hidup umatNya. 

Manusia berada dalam kegelapan/kesesatan/ignorance, bukan sekedar tak tahu. Kebodohan sering berakibat kesalahan dan juga terkait dengan kebebalan serta kejahatan/immoralitas. Orang yang berjalan dalam kegelapan tak dapat melihat secara jelas. Ia akan tersandung dan jatuh. Ia tak tahu arti dan tujuan hidupnya (Yoh 12:35). Orang Kristen seharusnya tak seperti yang ditulis oleh Paulus di Ef 2:12 dan Rm 1:21. Orang mungkin menyembah tuhan/dewa tapi tersesat tanpa Allah.

Manusia merasa sangat pandai tapi sebenarnya hati dan pikirannya jadi gelap, bebal serta bodoh bukan karena IQ rendah. Banyak orang terkenal dan punya IQ tinggi tapi tak memiliki Terang Firman, seperti Nietzsche yang cerdas luar biasa tapi hidupnya rusak. Ia merasa bijaksana. Tulisannya sangat sombong dan keras tapi melawan Tuhan. Ia berani menyatakan diri anti-Kristus lalu merusak orang lain. Ia menumpuk murka Allah. Pengetahuan Bertrand Russell sangat luas dan kepandaiannya luar biasa. Ia ahli Matematika, Filsafat dsb tapi tak percaya kepada­Nya. Ia berpendapat Kekristenan pasti jatuh. Ia lebih bodoh daripada orang sederhana dengan kebijaksanaan. Seperti di Mzm 119:97-100, orang yang mentaati Firman akan lebih bijaksana daripada pengajar.    

Banyak agama menawarkan jalan, ajaran, moralitas dsb tapi tak selalu membawa pencerahan pengertian kebenaran sejati. Di agama manusia ada banyak kepalsuan, kefasikan dan penyesatan. Dalam dialog antara Kristus dan pemuda kaya yang hebat di masyarakat, moralnya baik dan kebajikannya luar biasa (Mat 19:16-26) diketahui ternyata agama, kerohanian dan kesalehan manusia kosong belaka. Yesus menyatakan manusia itu hancur binasa, keji dan penuh kesesatan maka membutuhkan anugerah hidup baru yang hanya diberi olehNya. Mereka tak sungguh menjalankan kesalehan, kebajikan dan Firman. Ketika ditantang, mereka tak lebih mengasihi Allah dan sesama daripada uang. Pemuda tersebut mengatakan telah melakukan semua Firman. Tapi ketika Tuhan memintanya menjual dan memberikan hartanya pada orang miskin lalu mengikutiNya, ia dengan sedih meninggalkanNya serta mengabaikan sesama. Orang Farisi yang paling ketat berusaha melakukan Firman hanya punya keagamaan lahiriah. Tapi Kristus menunjukkan esensi agama dalam hati/motivasi terdalam. Ketika melakukan kebajikan, kesalehan, ibadah, puasa dan pengorbanan diri, orang beragama merasa sudah hebat sekali. Padahal hanya melalui Kristus, ia menemukan arti dan kuasa kesalehan sejati. Bukan dengan kekuatan sendiri. Ia tak mampu mengerti dan melakukannya. Hanya dengan anugerah yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri, ia baru dapat berjalan dalam Terang­Nya serta tahu kebenaran yang mendatangkan kesejahteraan dan berkenan kepada-Nya. Orang Kristen seharusnya tahu tujuan dan arah hidup yang berkenan kepadaNya sehingga beda dengan dunia karena tak lagi dikuasai oleh kegelapan.    

3. Yesus datang bukan hanya mengajarkan tapi mewujudkan kehidupan yang paling berkenan kepada Allah.

Semua orang berdosa. Tak ada yang hidup berkenan kepadaNya. Di Mzm 8 ada ungkapan yang sangat indah mengenai manusia. Betapa luar biasa ia diciptakanNya. Ia juga ditempatkan hampir sama denganNya. Ia diberi mahkota dan kemuliaan. Tapi ia penuh kehinaan dan kehancuran. Hatinya sempit dan lebih mementingkan diri sendiri. Ia mudah terpikat oleh dosa. Tak ada yang memenuhi gambaran manusia di Mzm 8. Bahkan ia bisa jadi lebih buruk daripada binatang. Hanya Kristus yang menggenapi jadi manusia sejati (Mat 3:17). Ia datang tak hanya sebagai anak Allah tapi juga anak manusia untuk mewujudkan kehidupan sempurna agar Ia layak jadi korban penebusan/Juruselamat yang tak bercacat cela. Orang mungkin tahu hidup yang benar tapi hanya Yesus yang melaksanakannya. Mereka yang mengalami kuasa penebusan dan menerima inspirasi dariNya akan mewujudkan hidup yang berkenan kepada-Nya. 

Yesus ialah Terang di dunia yang gelap, jahat dan beda denganNya meskipun sangat berat. Ketika menyatakan kesaksian hidup dalam Firman, orang Kristen merasa akan dilawan, ditindas, dimusuhi dan dihancurkan. Inilah yang dialami oleh Kristus ketika menyatakan hidup yang saleh luar biasa. Ia menghadapi segala resiko. Maka Ia dianggap idiot oleh dunia karena terlalu jujur, tulus, murni, sopan, baik dan pengampun. Akhirnya Ia harus mati.

Yoh 1:5 sangat luar biasa. Di dunia gelap dan bengkok, terang Kekristenan seharusnya bersinar. Kalau tidak, kegelapan mengalahkan dan menguasainya. Politik itu kotor. Bisnis harus berbohong agar dapat keuntungan dan jadi kaya. Kebanyakan orang berpendapat kalau tidak seperti itu, tak bisa hidup. Orang dapat keuntungan sebenarnya bukan karena berbohong melainkan berkat Tuhan. Kondisi jemaat Kristen pertama lebih sulit daripada sekarang. Mereka dihina tapi percaya kepada Mesias yang disalib dan harus menyaksikan iman tersebut serta menghadapi Romawi dan bangsa kafir meskipun mengalami kesulitan, desakan, siksaan dsb. Saat ini banyak orang pandai dan kaya jadi Kristen. Cukup membanggakan tapi mungkin kadang juga sangat memalukan. Orang Kristen seharusnya punya hati serta keberanian untuk bersaksi dan membayar harga, bukan jadi pengecut yang menjual Tuhan. Kalau tidak, takkan ada yang mengabarkan Injil. Kalau tak ada yang mengorbankan jiwa dan nyawa, takkan ada orang percaya. Mereka patut dikagumi dan harus diteladani.

Kalau Kristus tak memulai, takkan ada orang melakukan kebajikan dan pengorbanan diri untuk jadi terang bagi yang lain. Ia seperti lilin. DiriNyalah yang hancur. Seluruh hidupNya diserahkan dan dikorbankan bagi umatNya agar Terang itu bercahaya. Pelayanan membutuhkan pengorbanan. Ini terinspirasi dari Yesus. Tapi dalam beribadah dan memuji Tuhan kadang orang Kristen tak bersemangat. Di pelayanan mungkin juga mengadakan perhitungan. Pemberian orangtua pada anak yang dikasihinya merupakan hasil keringat dan darahnya.

Martin Luther King Jr. mengajarkan ketika mengalami berkat dan kondisi lancar, ingatlah  orang yang telah berjuang serta berkorban memungkinkan semua itu dapat dinikmati. Manusia berada dalam waktu dan tak lepas dari orangtua serta generasi sebelumnya. Orang jadi Kristen karena ada yang mengabarkan Injil padanya. Ada yang melalui siaran radio meskipun tak jadi kaya karena ia sangat mengasihi jiwa. Tongkat estafet ini dimulai dari Kristus lalu diteruskan oleh Paulus dst.

Tiap kali melayani, Paulus menghadapi tantangan, penindasan dan kesulitan. Padahal ia juga menginginkan kesenangan dan kenyamanan. Tapi baginya sebagai hamba Tuhan, ia mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mencari jiwa. Ia hidup untuk berkorban bagi orang lain.

Orang Kristen mungkin tak mencapai taraf luar biasa tapi harus meneruskan estafet dari Terang. Ia seharusnya membawa Terang ke sekitarnya dengan mengabarkan Injil serta menyaksikan kebaikan, kebajikan dan kejujuran meskipun sulit. Amin.

Dimensi Doa

Nats: Mat 6:5-7

PENDAHULUAN

“Berdoalah” … itulah yang kerap dikatakan sebagai nasehat ketika berbicara tentang salah satu aspek dari kehidupan Kristen. Di satu pihak kita mendengar bagaimana orang-orang memiliki pengalaman di dalam doa-doa mereka … mereka memiliki pengalaman merasakan kehangatan, kasih dan pertolongan Allah pada saat mereka berdoa. Jamahan tangan Allah yang lembut mereka rasakan di dalam kehidupan mereka sehingga kehidupan doa menjadi sesuatu yang sangat indah. Tapi di lain pihak kita melihat adanya orang-orang yang sudah berdoa juga, tapi tidak mengalami hal yang sama. Kehidupan doa menjadi sesuatu yang kering dan menjemukan. Apa sebenarnya yang terjadi? 

Pada suatu kali murid-murid melihat Yesus sedang berdoa dan kemudian memperbandingkan Guru mereka dengan Yohanes Pembaptis dan bertanya, mengapa Yohanes mengajar mereka berdoa sedangkan Yesus tidak?  Pertanyaan ini mempunyai arti yang dalam sekali karena menunjukkan esensi dari keberadaan manusia yang mencari dan membutuhkan persekutuan dengan Allah. Kita akan melihat apa yang Yesus sendiri ajarkan tentang berdoa tersebut.  

1. BERDOA : LUAR & DALAM SAMA

Yesus pertama-tama mengajarkan kalau berdoa jangan seperti orang munafik yang berdoa di tikungan jalan supaya dapat dilihat oleh orang lain kalau mereka sedang menjalankan sebuah kegiatan agama. Ini bukan berdoa, melainkan sedang memamerkan kebiasaan di dalam sebuah pola beribadah. Ketika Yesus mengatakan bahwa tindakan ini munafik, maka kita dapat mengerti bahwa sesungguhnya orang yang sepertinya berdoa itu sebenarnya sedang tidak berdoa. Allah tidak menghendaki orang-orang yang sedemikian. Ia mencari orang yang luar dan dalam sama ketika menghampiri tahta Allah … yang tidak munafik. Dia mencari orang-orang yang sungguh mencari Dia. 

2. MENCARI ALLAH DI DALAM KEHENINGAN

Sebagai kontras yang Yesus ajarkan ketika seorang berdoa adalah, masuk ke dalam kamar, tutup pintu dan berbicara dengan Allah. Alkitab mengatakan selanjutnya bahwa Bapa ada di dalam tempat yang tersembunyi … dan Bapa itu melihat yang tersembunyi yaitu orang yang berdoa di dalam kamar tersebut dan akan membalasnya  bukan memberi upah. Tentu ayat ini tidak berarti kalau setiap kali kita mau berdoa harus masuk kamar, bukan itu maksudnya. Tapi Alkitab di sini dengan tegas pula mengatakan adanya suatu tempat tertentu, tempat yang sunyi … yang tidak ada kebisingan dan gangguan dimana seorang dapat datang dan berdoa kepada Allah. 

Terkadang kita memang memerlukan tempat seperti itu untuk berdoa. Sebuah lagu dengan lirik yang indah mengungkapkan kebenaran ini, “Indahlah saat yang teduh menghadap tahta Bapaku …” memberikan kesan ketenangan ini. Jiwa kita memerlukan keteduhan itu dimana kita dapat bersekutu dengan Bapa. Kita tidak dapat melihat Allah tidak dapat dilihat di dalam kebisingan, ketergesa-gesaan. Kita perlu saat di mana kita dapat berdua saja dengan-Nya … di dalam keheningan.  

Seorang rekan di dalam pelayanan mempunyai kebiasaan yang unik ketika berdoa pada saat kami berada di dalam Seminari. Waktu doa pribadinya adalah pada saat lampu kamar di dalam asrama sudah harus dimatikan dan kami semua sudah harus tidur. Apa yang dia lakukan? Di dalam kegelapan itu, dia mengambil sebuah lilin, membakar dan menaruhnya di meja belajar dan mulai dia bercakap-cakap dengan Bapa di dalam doanya. Sendiri di dalam keheningan.  

Hadirat Allah adalah tempat yang tepat bagi perteduhan jiwa yang letih dan merindukannya. “Datanglah padaku … dan kamu akan beroleh kelegaan” (Bd: Mat 11:28). Di dalam keheningan, berdua saja dengan Allah … di sana ada perhentian dan perteduhan yang sejati bagi jiwa.

3. BERDOA DAN KEBUTUHAN

Hal yang ketiga yang diajarkan Yesus adalah berkaitan dengan kebutuhan di dalam doa dan banyaknya kata-kata yang diucapkan. Allah tidak menyukai doa yang bertele-tele, yaitu doa dengan kata-kata yang banyak dengan harapan Allah menjawab doa tersebut. Ini adalah kon­sep berusaha mempengaruhi Allah untuk menjawab doa dengan kata-kata. Alkitab menyatakan bahwa kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan kafir, yaitu kebiasaan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka dapat menyogok Allah dengan kata-kata.  

Allah sama sekali tidak menghendaki cara seperti ini. Allah tahu semua yang kita perlukan. Perhatikan sekali lagi bahwa Allah tahu apa yang kita perlukan. Mungkin sekali kita sendiri tidak tahu apa yang kita perlukan. Di sini perlu dibedakan dengan apa yang kita inginkan. Tidak selalu apa yang kita inginkan adalah apa yang kita perlukan. Kita melihat gambaran yang indah sekali antara doa dan pemeliharaan Allah. Kita berdoa dan mengatakan kepada-Nya akan apa yang kita perlukan dan Allah mengetahui dengan jelas isi doa itu. Kita perlu belajar memikirkan apa yang kita sungguh-sungguh perlukan ketika berdoa.  

Di dalam hal pengabulan doa, Alkitab mencatat hal yang jelas sekali bahwa penilaian akan keperluan kita itu berasal dari Bapa. Bapa yang menilai itu benar menjadi keperluan kita dan Bapa melihat mana yang baik. Hal inilah yang akan diberikan kepada kita. Jadi bukan kita yang menganggap itu baik dan bahwa Bapa harus memberikannya, melainkan kita menerima apa yang Bapa anggap itu baik bagi kita. Inilah yang harus kita terima. 

Alkitab mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang doa itu. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kenyataan tentang doa dan hidup doa di dalam hidup orang percaya setiap harinya. Ternyata kehidupan doa ini banyak sekali dimensinya, dalam arti segala hal yang dimengerti tentang doa terkadang menjadi hal yang sulit untuk dipahami dan diterima di dalam kenyataan hidup. Timbulnya penolakan-penolakan bahkan mungkin, marah kepada Tuhan karena Dia tidak datang dan menolong pada saat dibutuhkan menjadi gambaran nyata dan dialami banyak orang percaya.  

4. Kehidupan Doa : Sebuah “Petualangan”

Suatu saat saya membaca sebuah majalah yang di dalamnya ada sebuah kalimat yang ditulis oleh seorang yang bernama Harold L. Myra. Dia menuliskan sebuah artikel yang berjudul, “Hidup dengan mujizat-mujizat Allah”. Di bagian awal tulisannya itu, dia mengatakan demikian, “Kehidupan doa adalah suatu petualangan …”  

Doa adalah sebuah petualangan? Apa maksudnya? Memikirkan kata-kata ini, kita masuk kepada sebuah pemahaman yang lebih lagi tentang apa itu doa. Di dalam tulisannya ini, Myra mencoba memaparkan beberapa pengalamannya tentang doa yang justru ia pelajari pada saat ia pergi menyendiri di sebuah tempat di tepi hutan. Dia menceritakan situasi dan keadaan yang menyelimutinya, keadaan dimana di dalamnya dia memikirkan dan merenungkan pengalaman berdoa di dalam kehidupannya. Membaca bagian demi bagian cerita itu, ada beberapa kebenaran penting tentang doa dan pengalaman berdoa; bahwa ada banyak hal yang Allah lakukan dan nyatakan di dalam hidupnya yang tidak terpikirkan sebelumnya. 

5. Allah, Tragedi Hidup & Karya-Nya yang Menakjubkan

Kita harus jujur terhadap diri bahwa ada banyak hal yang tidak kita inginkan yang justru terjadi di dalam kehidupan kita ini. Ada banyak kesakitan serta kesedihan-kesedihan yang mendalam terukir. Di mana Allah pada saat seperti ini datang? Kenapa Dia tidak melepaskan dari kesulit­an semacam ini? Apakah Dia diam dan tidak melakukan apa-apa? Kalau dapat dikatakan, sebenarnya ada banyak hal yang kita mungkin tidak akan pahami seumur hidup kita bahkan sampai kita kembali kepada-Nya.  

Apakah memang Bapa tidak peduli sama sekali? Tentu tidak! Alkitab mengatakan bahwa Dia sungguh peduli. Tetapi kenapa kita tidak dapat menangkap kepedulian-Nya ini. Justru inilah pokok persoalannya. Kita memikirkan apa yang kita anggap baik dan bukan apa yang Bapa anggap baik. Di dalam doa nampaknya kita kerap bersikap “Ini yang aku mau” dengan mengatakan “Tuhan, inilah yang saya pikir baik dan biarlah Tuhan menjawabnya berdasarkan hal ini”. Akibatnya kita tidak siap hati ketika melihat cara lain, jalan lain yang Tuhan tempuh berdasarkan apa yang Dia anggap baik untuk menjawab doa kita itu. Bapa membawa kita dengan kasih-Nya masuk ke dalam rencana-Nya yang kekal. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa Allah tidak peduli. Sesungguhnya Dia sangat peduli dan mengetahui apa yang kita perlukan.

Di dalam ceritanya ini Harold L. Myra menceritakan tentang anak angkatnya yang terlibat di dalam pemakaian obat bius. Dia kemudian melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat. Namun kemudian ada seorang ibu yang mengetahui lalu memberitahukan kepada polisi. Tentu saja dia menjadi kalut dan sangat tidak senang kepada ibu ini. Ia kemudian menghadang dan menembak ibu tersebut dengan sebuah senapan. Akibatnya dia dipenjara seumur hidup. Harold kemudian bertanya di dalam diri, “Mengapa doa-doa kita terdahulu yang kita panjatkan untuknya tidak dapat mencegah penderitaannya yang mendalam?” Ini adalah sebuah tragedi hidup. Kita sulit memahami kenapa Allah tidak menjaganya sedemikian rupa sehingga ia tidak melakukan kesalahan fatal itu. Apakah ini yang terbaik bagi anak tersebut dari sudut pandang Allah? Mungkin sekali. Sekali lagi ada banyak hal yang mungkin kita tidak pahami saat ini.

Dimana karya-Nya yang menakjubkan itu? Adakah Allah di dalam situasi seperti ini? “Ya”, Dia tetap ada bahkan di dalam situasi yang sangat tidak menentu. Daud mengatakan, “Di dalam bayang-bayang maut … Allah ada bersamanya” (Mzm 23).  

6. Suatu “Kebetulan” yang berasal dari Allah

Apakah maksud “kebetulan” di sini? Menarik sekali, cara Allah menjawab doa itu terkadang membawa kita kepada situasi kita merasa itu hanya “kebetulan” saja. Seperti sebuah pandangan sekilas dan akibatnya, kita tidak merasakan sebagai suatu yang khusus. Ada banyak jawaban doa yang diberikan Allah di dalam konteks “kebetulan”. “Akh … memang kebetulan saja koq … “ Hal seperti ini yang biasa terdengar atau muncul di dalam hati kita mengomentari peristiwa yang sedang terjadi. Di sini seperti ada bias antara pengertian bahwa Allah sungguh memelihara dan memperhatikan setiap umat-Nya dengan konsep “kebetulan”.  

Setiap “kebetulan” sebenarnya adalah mujizat yang Allah beri di dalam hidup kita dan kebetulan ini memang merupakan bagian dari rencana-Nya. Kita berdoa dan meminta sesuatu kepada-Nya dan Dia menjawab doa tersebut dan kita menganggap ini kebetulan saja?  

Kita dapat saja diperdaya oleh konsep ini sehingga akibatnya kita tidak melihat dan memahami bagaimana Allah bertindak. Maksudnya, di dalam hal yang terlihat sebagai alamiahpun merupakan bagian dari rencana Allah mengajar kita. Di dalam kitab Amsal kita memahami bagaimana hikmat berseru-seru di jalan-jalan untuk memberikan pengertian kepada kita.  

7. Allah & Kejutan-kejutan-Nya

Allah bertindak penuh dengan kejutan. Di dalam Alkitab kita melihat beberapa catatan tentang hal ini. Misalnya ketika Allah memberi perintah kepada Nuh untuk membangun bahtera di tengah-tengah daratan. Siapa yang menyangka akan mendapat perintah seperti ini. Demikian juga cerita tentang seorang pemilik ladang yang mencari pekerja yang dapat bekerja di ladangnya. Antara pekerja yang bekerja lebih awal dan yang terakhir, upahnya sama. Selain itu cerita tentang perumpamaan kedatangan-Nya kali kedua. Semua penuh dengan kejutan.

Adakalanya Allah menjawab doa-doa kita dengan kejutan-kejutan. Dengan cara yang kita tidak pernah antisipasi dan pantau sebelumnya. Mungkinkah Allah menjawab doa melalui cara kepedihan? Mungkin sekali. Akibatnya ada orang yang mengatakan bahwa Allah memiliki “humor” yang tinggi.  

Banyak orang merasa tersiksa dan kebingungan karena melihat dunia ini seperti sebuah teka-teki. Ada banyak kejutan yang terjadi di dalamnya. Seorang pernah berkata bahwa ketika berhubungan dengan Allah, maka saat inilah yang memberi ketidakpastian. Apa maksudnya? Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Allah selanjutnya. Yang pasti adalah Allah membalut hidup kita. Sehingga di sini muncul konsep paradoks, “Ketidakpastian yang menyenangkan”. Tidak pasti karena tidak tahu apa yang akan Allah lakukan, tetapi menyenangkan karena tahu bahwa hidup kita tidak pernah terlepas dari pengamatan-Nya.  Amin.

Reformasi, Injil dan Taurat

Nats: Gal 3:1-14

I. Setiap orang mendambakan keselamatan: hidup dalam kesejahteraan dan dijauhkan dari kesengsaraan. Walaupun ini bukan tujuan hidup yang mulia dan yang tertinggi, bahkan agak egois, tetapi ini dipakai oleh Tuhan untuk membawa orang untuk datang kepada Tuhan, karena hanya di dalam Dialah orang mendapatkan kebahagiaan sejati. Dan setelah dididik dalam kebenaran ia baru dapat memiliki motivasi yang seharusnya: memuliakan Tuhan di atas segala-galanya.

Tetapi tidak semua orang yang menginginkan keselamatan pasti selamat, karena: (1) Dia mencarinya di tempat yang salah. Salah memilih bengkel mobil bukan saja mengakibatkan pemborosan uang yang banyak, tetapi juga membuat mobil menjadi tambah rusak; mencari dokter yang salah, bukannya tambah sembuh tetapi penyakitnya tambah parah, selain harus membayar biaya yang besar. Jika percaya kepada Allah yang salah, walaupun yang kita inginkan adalah keselamatan, tetapi yang akan kita dapatkan justru adalah kebinasaan.

(2) Dia tidak bersungguh hati untuk mendapatkannya. Semua orang ingin sehat dan tidak mau sakit, tetapi betapa banyak orang yang justru mengabaikan kesehatannya. Kebanyakan orang baru sungguh-sungguh memperhatikan kesehatannya ketika penyakit mulai mengganggu atau membahayakan hidupnya. Orang seperti baru sadar betapa berharganya kesehatan dan mau membayar harga yang mahal untuk menjadi sehat, hanya setelah tahu apa itu sakit dengan akibatnya yang sangat menyengsarakan.

Ada begitu banyak orang yang menganggap enteng keselamatanya, dan memperlakukannya sebagai hal yang boleh ada dan boleh tidak ada. Buktinya mereka begitu mudah untuk meninggalkan Tuhan ketika mendapatkan tawaran lain. Yesus menuntut setiap orang yang mengikuti Dia harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat 16:24), dan ini adalah hal yang sulit; lalu bagaimana orang mau membayar harga untuk mengikut Yesus jika mereka belum menyadari bahwa dirinya berada dalam kebinasaan dan anugerah keselamatan Yesus adalah satu-satunya sumber sejahteranya. Hanya ketika orang yang sadar akan keadaannya yang celaka dan merasakan kengerian akan kebinasaan, dia akan mencari  keselamatan dengan sungguh-sungguh; dan ketika orang mencari keselamatan dengan serius saja yang akan menerimanya dengan penghargaan dan kesiapan membayar harga. Hanya orang sakit yang menghargai dan mau menerima perawatan dokter, itulah sebabnya Yesus berkata bahwa Dia datang untuk mencari orang yang sakit supaya disembuhkan; berdosa supaya diselamatkan.

Tidak ada orang yang begitu bersungguh-sungguh mencari keselamatan seperti Martin Luther. Di bawah ancaman sambaran petir ia berjanji untuk masuk biara, dan sejak itu ia berusaha sekuat tenaga untuk memupuk kesalehan supaya dapat berkenan kepada Allah. Kesadaran akan dosa dan keadaannya yang celaka telah mendorong dia untuk sungguh-sungguh mendapatkan keselamatan. Tetapi semua usaha kesalehannya itu tidak menolong dia. Baru dalam keadaan yang frustasi itulah ia menemukan Injil anugerah Yesus Kristus, bahwa dia dapat diselamatkan karena jasa penebusan Kristus yang sempurna. Dengan menemukan kembali Injil anugerah ini pintu sorga telah terbuka baginya. Hidupnya mendapatkan arah dan semangat yang baru, penuh iman dan pengharapan. Karena itulah Injil anugerah ini begitu berharga maka dia rela menghadapi segala ancaman dan kesulitan dari gereja Katolik Roma. 

II. Ketika berada di dalam biara Martin Luther dengan sungguh-sungguh melakukan semua tuntutan yang diajarkan sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan. Ia banyak membaca Alkitab, berdoa, berpuasa, menyiksa diri, mengumpulkan barang peninggalan orang suci dan berziarah, untuk mendapatkan keselamatan dan kedamaian, tetapi semua itu sia-sia. Ketika ia berusaha mengasihi Allah, sebagai ketaatannya kepada perintah Allah, tetapi ia menyadari betapa kasihnya itu egois dan cacat, karena itu ia sadar bahwa tidak ada sesuatu yang dapat ia lakukan yang melayak dia untuk diterima oleh Allah. Keadaan ini membuatnya sangat putus asa.

Kesulitan rohani yang dialami oleh Martin Luther ini terjadi karena pada waktu itu gereja telah mengabaikan Injil anugerah, dan telah menjadikan kekristenan hanya suatu bentuk agama Taurat. Orang-orang beranggapan bahwa dengan melakukan peraturan Gereja, mengejar kekudusan dan berbuat baik orang akan diselamatkan. Itulah prinsip Taurat: Lakukanlah, maka kamu akan hidup (Gal. 3:12). Semua agama manusia pada dasarnya dilandasi oleh prinsip Taurat ini. Dengan standar buatan sendiri yang rendah sebagian orang merasa telah memenuhi tuntutan untuk dapat diselamatkan. Dalam terang hukum Taurat yang sempurna, kita menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup melakukan perintah Allah, karena itu semua orang berusaha dibenarkan dengan melakukan Taurat pasti berada di bawah kutuk (3:10).

Berada di jalan buntu inilah Martin Luther belajar mengenai kegagalan dari keagamaan yang bersandar pada usaha / kesalehan manusia, dan ini merupakan langkah penting untuk mengerti Injil anugerah. Inilah fungsi pertama dari Taurat yaitu menghancurkan kecongkakan hati manusia yang merasa dirinya cukup hebat dan mampu untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya setelah orang menjadi rendah hati dan menyadari keadaannya yang hancur, nestapa, miskin, buta, dan sangat najis di hadapan Allah, ia mulai menghargai dan menerima Injil Yesus Kristus dengan rasa syukur. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3).

Melalui studi Alkitabnya Martin Luther dibukakan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia yang rapuh, tetapi karunia pembenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus dan yang diterima dengan iman. Kini dia telah mendapatkan kelegaan dan kebahagiaan. Bagi Luther Injil Yesus Kristus adalah harta yang paling berharga. Hanya melalui Taurat Tuhan yang sempurna orang sadar akan kebutuhan akan Injil anugerah. Itulah sebabnya kita meragukan orang dapat mengerti Injil dengan benar tanpa Taurat.

III. Kita yang telah diselamatkan tanpa hukum taurat, tetapi berdasarkan iman tidak dimaksudkan menjadi pelanggar hukum Taurat, tetapi supaya menjadi pelaku kebenaran Allah. Taurat tidak dibatalkan, tetapi justru harus dilakukan secara lebih penuh dan murni di dalam semangat dan terang Perjanjian Baru.  Dan ini dimungkinkan karena adanya hidup baru yang dihasilkan oleh Injil.

Dalam Galatia 3:1-5 Paulus mengkontraskan dua macam kehidupan: mereka yang percaya kepada pemberitaan Injil dan yang bersandar kepada hukum Tau­rat. Mereka percaya kepada Injil menerima karunia Roh yang berlimpah-limpah dan mujizat; dan ini tidak diperoleh oleh mereka yang hidup berdasarkan pada Taurat. Melalui ini, Paulus mau menegaskan bahwa iman dalam Injil Yesus Kristus menghasilkan suatu pengalaman rohani yang tidak akan kita peroleh dari Taurat.

Melalui percaya kepada Injil, Allah mengaruniakan Roh Kudus ke dalam hati kita; Roh Kudus mengerjakan kelahiran baru dalam diri kita, menjadikan kita manusia baru, memberi hati yang baru, nilai dan selera yang baru, dan kekuatan rohani untuk melakukan kehendak Allah. Walaupun kita masih manusia yang memiliki yang banyak kelemahan, tetapi kuasaNya yang bekerja dalam diri kita mengerjakan pembaharuan yang menjadikan kita menjadi manusia rohani.

Hal ini berbeda dengan agama Taurat yang bersifat lahiriah / kedagingan. Karena tidak ada pembaharuan dari Roh Allah, maka orang melakukan perintah Allah karena kewajiban agama, bukan karena dorongan kasih karena telah diubah dari dalam diri mereka. Inilah fungsi kedua dari Taurat yaitu mengekang orang fasik yang tak peduli akan keadilan dan kebenaran sehingga menahan diri dari melakukan kejahatan karena takut pada ancaman hukuman. Anugerah umum ini diperlukan untuk dimungkinkannya masyarakat umum.

Jika keagamaan kita hanyalah dorongan kewajiban karena takut pada hukuman Allah, maka walaupun tubuh jasmani kita masih di rumah Tuhan, sebenarnya kita adalah orang-orang yang masih terhilang seperti si sulung (perumpamaan anak terhilang). Akibatnya kita tidak pernah merasakan kebahagiaan di dalam mengasihi Tuhan dan menaati Dia. Orang yang telah diubahkan oleh Tuhan akan merasakan sukacita dan berkat di dalam melakukan kehendak Tuhan, semua pelayanannya tidak akan dirasakan sebagai pengorbanan tetapi sebagai ungkapan kasih dalam hubungan kasih yang indah dengan Allah.

Kita belum sempurna, tetapi berdasarkan iman dalam Yesus Kristus kita akan terus bertumbuh dalam anugerahNya. Melalui mempelajari hukum Taurat, kita belajar mengenal kehendak Allah dan didorong untuk melakukan perintah­Nya. Inilah yang oleh John Calvin dijelaskan sebagai fungsi ketiga dari Taurat yaitu menuntun dan mengarahkan orang percaya untuk hidup kudus. Taurat sangat berguna bagi kita, supaya kita mengenal kehendakNya dan didorong untuk melakukannya.

Mengenai hubungan Injil dan Taurat kita harus memelihara keseimbangan antara keduanya, dan menghindari 2 ekstrim ini: (1) antinomian, yaitu hidup yang mengabaikan ketaatan kepada perintah Allah. Orang percaya yang telah dimerdekakan dalam Kristus dimaksudkan untuk menjadi pelaku kehendak Allah yang dinyatakan di dalam seluruh Alkitab. (2) Moralis/Legalis, dengan pengertian akan Injil yang kaku dan salah, orang menerapkan secara paksa dan akhirnya menjadi beban berat yang tidak membangun kesalehan sejati, kecuali keagamaan yang kecut dan menjadi musuh Allah dan sesama.

Orang Kristen perlu memiliki keseimbangan Injil anugerah dan Taurat yang kudus, sehingga dengan pengertian yang benar akan maksud Tuhan, kita dengan kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam kita, kita memakai kemerdekaan kita untuk melakukan berbagai kebajikan dan memuliakan Allah. Inilah hidup Kristen yang indah. GerejaNya diharapkan dapat mewujudkannya dengan pertolonganNya. Amin.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *