Kumpulan Khotbah Ibadah Rumah Tangga Terbaru Dan Terlengkap

khotbah ibadah rumah tangga

Berikut ini kumpulan khotbah ibadah rumah tangga yang bisa anda gunakan untuk pelayanan Firman agar banyak orang menjadi terberkati oleh Firman Tuhan

Jalan Hidup yang Penuh Kemenangan Bersama Tuhan

Nats: Filipi
4: 11b-13; 21-24; Roma 8: 37; 2Kor 2:14

Ada dua macam orang:
Pertama, orang yang ketika dalam kesusahan, dan kondisi sulit itu tidak berubah
menurut pemikirannya setelah ia berdoa kepada Tuhan, ia me­rasa Allah tidak
mempedulikan dia, karena itu ia marah dan meninggalkan Tuhan. Kedua, orang yang
ketika hidupnya lancar dipenuhi dengan kesenangan justru terlena dan
mengabaikan Tuhan. Dua macam orang ini saya sebut orang yang dikalahkan oleh
kesulitan dan orang yang dihanyutkan oleh kenikmatan. Ternyata tidak ada
jaminan dalam kondisi hidup fisik yang dapat membuat seseorang tetap setia
kepada Tuhan. Karena memang bukan kondisi luar, tetapi hati (sikap batin)
itulah yang menentukan respon seseorang kepada Tuhan. Allah yang adil memberi
situasi yang berbeda kepada setiap orang. Jika seseorang memiliki hati yang
benar kepada Allah, walaupun dalam penderitaan yang berat ia tetap memuliakan
Tuhan, dan ketika berada dalam kehidupan yang penuh berkat, ia lebih mencintai
Tuhan daripada segala berkat-berkat Tuhan yang siap untuk diambil daripadanya.
Tanpa sikap hati yang benar, dalam situasi apa pun orang yang akan selalu
meresponi Allah secara salah.

Paulus memberikan
teladannya yang indah ketika ia mengungkapkan sikapnya dalam perkataan berikut:
“Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa
itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam
segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal
kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal
kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan
kepadaku”
(Flp 4:11b-13). Dalam mengalami kesulitan, deraan, ancaman, kengerian
ia tidak menjadi kecewa, ketika ia menerima keadaan yang diberkati, kesukaan,
kenyamanan, kelimpahan dan anugerah Tuhan ia tidak menjadi hanyut.

Kesulitan maupun
kelancaran merupakan suatu situasi yang sama-sama beresiko untuk mengikis
kesetiaan kita kepada Tuhan. Dalam perenungan ini, kita akan memfokuskan kepada
bagaimana kita dapat menang atas situasi sulit yang kita hadapi. Saya akan
mensharingkan 4 prinsip, yang diharapkan dapat menolong kita ketika menghadapi
situasi hidup yang sulit dengan sikap yang benar. Dengan pemahaman dan
perspektif iman Kristen yang benar, ia akan dimampukan untuk berespon benar
supaya boleh mengalami hidup berkemenangan bersama Tuhan.

Pertama, sadarilah bahwa
kita hidup dalam suatu drama kosmik yang sangat menentukan
. Kebenaran ini
terungkap dalam kitab Ayub. Seluruh kehidupan Ayub, termasuk kehidupan batinnya
terbuka bagi pengamatan dan penilaian Allah, malaikat dan Iblis. Ia ditempatkan
di dalam posisi yang crucial, di mana seakan-akan kehormatan Allah
dipertaruhkan dalam respon Ayub, dan jika dia gagal Iblis mendapat alasan untuk
mencemooh Allah. Namun melalui kehidupan Ayub, Allah mau menunjukkan bahwa ada
manusia yang akan tetap beriman dan mengasihiNya walaupun mengalami kesulitan
terberat. Jikalau ia gagal maka iblis berkesempatan melawan serta mencemooh
Tuhan. Tapi, yang terjadi justru melalui respon Ayub yang penuh kesetiaan
kepada Allah itu ia mempermalukan Iblis. Inilah kehidupan yang mestinya
diwujudkan oleh orang Kristen yang telah menerima anugerah Perjanjian Baru yang
melebihi tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

Setiap orang diberi
kondisi hidup yang berbeda oleh Tuhan. Namun seperti dalam film, yang menjadi
ukuran bukanlah kenyamanan peran si aktor, tetapi bagaimana ia memerankannya.
Jika dalam film yang menjadi penilaian adalah kemampuan acting, maka
dalam hal rohani yang menjadi penilaian ialah bagaimana menjalankan perannya
dilihat dari sudut moral dan rohani: yang menjadi ukuran bukanlah apakah kita
kaya atau miskin, pintar atau bodoh, sehat walfaiat atau didera oleh penyakit
yang berkepanjangan, panjang umur atau hidup yang singkat; yang menjadi ukuran
ialah apakah dalam

Ada orang yang
sepanjang hidupnya tetap miskin bukan karena malas atau bodoh, sebaliknya ada
orang yang dari kecil hingga tua selalu hidup dalam kelimpahan. Ada yang seumur
hidupnya dipenuhi dengan kesulitan, sebaliknya ada yang jalan hidupnya begitu
mulus. Cara berpikir yang duniawi akan menilai orang yang hidupnya dipenuhi
kesusahan itu bernasib buruk dan gagal, dan orang yang hidupnya enak itu
bernasib baik dan sukses. Jika orang Kristen masih terjebak dalam cara pandang
yang duniawi ini, maka perhatiannya hanya tertuju kepada mengusahakan
kenyamanan hidup dan kelepasan dari kesulitan, dan bukannya pada kualitas hidup
yang harus ia wujudkan. Karena itu, tidak heran, ketika dilanda kesulitan,
mereka penuh dengan sungut dan keluhan kepada Allah (mengkorfirmasikan tuduhan
Iblis, yang tentu saja salah), dan kehilangan fokus untuk dalam situasi hidup
mereka untuk semakin memuliakan Allah. Di tengah-tengah kesulitan hidup yang
memuncak, justru Ayub menyatakan kesaksian hidup yang sulit dilampaui. Di
tengah-tengah kehidupan yang hancur oleh kelumpuhannya, Joni Erickson Tada
justru menyatakan suatu kehidupan yang begitu mulia.

Kedua, bagi anak Allah,
keadaan sulit yang kita alami bukanlah keadaan tak diberkati, sebaliknya
mungkin itu adalah saat yang paling indah dalam hidup kita.
Ketika berada
dalam kondisi yang sulit, terjepit, merasa lemah, keadaan yang memaksa kita
bergantung penuh kepada Allah, seringkali kita menganggapnya sebagai bad
time
(waktu yang buruk), kondisi buruk yang tidak diberkati. Inilah alasan
ketika berada dalam kondisi tersebut satu-satunya keinginan kita ialah
cepat-cepat keluar dari situasi itu, setelah itu baru kita merasa diberkati.
Tetapi dalam pengalaman saya, saya belajar bahwa saat berada di dalam kelemahan
itu adalah saat-saat di mana saya paling dekat dengan Tuhan, itulah saat yang
indah bersama Tuhan. Dan saat saya merasa kuat, mantap, dewasa, mandiri,
mungkin itu adalah saat saya mulai tidak begitu bergantung lagi kepada Tuhan
dan mulai agak liar atau bahkan sangat liar.

Jangan salah mengerti
bahwa saya mengajarkan supaya kita menginginkan kehidupan yang terus dalam
kesuraman dan penderitaan, karena itu bukan maksud Tuhan atas hidup kita.
Kekristenan adalah agama yang positif, yang penuh dengan pujian kemenangan dan
sukacita. Karena itu, tidak salah jika dalam kesulitan, sakit, kesedihan, kita
menginginkan Tuhan memberikan kelepasan, kelimpahan dan sukacita kepada kita.
Tetapi apa yang mau saya tegaskan di sini ialah marilah kita belajar untuk
melihat masa suram itu secara positif dari perspektif Kristen, bahwa jika saya
berada dalam situasi seperti itu di situ pun Allah hadir dan kasih rahmatNya
menopang aku, bahkan lebih penuh kasih mesra.

Ada sesuatu yang unik
dalam kehidupan ma­nu­sia, seringkali masa-masa sulit yang pernah kita alami
dulu, seperti krisis, bahaya, kesulitan hidup, dsb kita ingat kembali dengan
perasaan nostalgia. Demikian juga, dikatakan mengenai hubungan dalam
pernikahan: krisis pernikahan yang dilalui dengan penuh ketabahan bahkan
berguna untuk membangun kasih dan kepercayaan yang kokoh antara keduanya, suatu
hal yang tidak pernah akan dimengerti dan dialami oleh mereka yang telah
menyerah.

Ketiga, dengan
memfokuskan pikiran hanya pada kebahagiaan di masa yang akan datang, kita telah
menyia-nyiakan realitas kehidupan masa kini, yang sebenarnya merupakan sesuatu
yang indah dan sangat berharga.
Sayur pare itu pahit, jangan dibuang,
sebaliknya belajarlah untuk menikmatinya, karena itu sayur yang baik/berguna
dan enak. Hidup ini sulit, ini adalah fakta tidak dapat kita tolak. Namun jika
kita menyikapinya dengan benar, maka masa-masa sulit itu dapat menjadi
pengalaman yang indah bersama Tuhan. Andaikan kita diberi umur 40 tahun, dan 20
tahun terisi oleh kesulitan, apakah berarti kita hanya akan memiliki 20 tahun
hidup yang bermakna? Bagi saya, asal kita berjalan bersama Tuhan, maka kita
tetap akan memiliki 40 tahun bermakna yang sangat berharga.

Blaise Pascal
mengatakan: kita tidak pernah [sungguh-sungguh] hi­dup hanya untuk masa kini
…. Kita bersikap tidak bijaksana dengan mengembara dari satu masa ke masa
lain yang sesungguhnya bukan milik kita. Kita … mengabaikan apa yang
sungguh-sungguh ada. Kita bersikap demikian karena momen sekarang biasanya
adalah sesuatu yang menyakitkan, itulah sebabnya kita menekannya…

Kita cenderung
membebani pikiran kita dengan masa lalu dan masa yang akan datang, dan jarang
memikirkan masa kini…. Kita menjadikan masa  masa lalu dan masa kini
sebagai sarana, dan hanya menjadikan masa yang akan datang sebagai tujuan kita.
Dengan cara berpikir demikian, kita tidak pernah sungguh-sunguh hidup, sebab
kita hanya hidup dalam pengharapan, mengharapkan sesuatu yang belum ada, sedangkan
yang ada dibuang-buang. Dengan selalu merencenakan bagaimana kita dapat menjadi
bahagia, kita tidak pernah berada dalam kebahagiaan itu.
(Pensees).

Keempat, dengan memandang
masa “sulit” sekarang sebagai hal yang negatif dan hanya memikirkan kebahagiaan
yang belum tiba maka kita lalai
menyambut maksud Tuhan dalam situasi
kita itu.
Tidak ada pengalaman kita yang alami yang terjadi di luar kontrol
Allah. Dan jika Ia mengizinkan kita mengalami suatu kesulitan  pasti ada
maksud baik dari Allah bagi kita. Kita tahu bahwa: “Allah … bekerja dalam
segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
yaitu bagi mereka yagn terpanggil sesuai dengn rencana Allah.” (Rm 8:28). Dan
jika dalam setiap situasi hidup kita terdapat maksud Allah yang baik, maka
marilah kita menyambut maksudNya itu.

Saint John of the
Cross

(Santo Yohanes dari Salib) mengungkapkan apa yang dinamainya the dark night
of the soul
(jiwa yang berada dalam kegelapan malam). Ia mengatakan
demikian, “Berada di dalam kegelapan malam bukanlah sesuatu yang buruk dan
destruktif. Sebaliknya ini bagaikan pengalaman orang sakit yang menyambut ahli
bedah yang menjanjikan kesehatan dan kesembuhan kepadanya. Tujuan dari
kegelapan ini tidak dimaksudkan untuk menyakiti atau menghukum kita tetapi
untuk menyembuhkan kita. Inilah kesempatan yang Tuhan pakai untuk menarik kita
lebih dekat kepadaNya.”
Inilah pengalaman dan prinsip rohani yang mendalam
untuk menghadapi realita hidup sebagai anak Allah yang mendapat identitas dan destiny
penuh kemuliaan.

Ia melanjutkan, “Dalam
saat-saat seperti ini mungkin kita akan merasa kering, depresi bahkan putus
asa. Tetapi ini merupakan keadaan yang baik karena melucuti setiap
ketergantungan kita yang berlebihan kepada perasaan ataupun kondisi-kondisi
fisik di luar. Pandangan yang sering kita dengar adalah bahwa pengalaman
kekelaman ini harus kita hindari sebagai syarat untuk mengalami kedamaian,
penghiburan dan sukacita adalah pikiran yang salah. Sebab berada di dalam
keadaan yang gelap ini adalah salah satu cara yang Allah pakai untuk memberikan
kepada kita keheningan, ketenangan sehingga Ia dapat melakukan transformasi
batin dari dalam kita. Ketika Allah membawa kita ke dalam keadaan demikian,
bersyukurlah, karena Allah dalam kasih sayangNya yang besar sedang menarik kita
keluar dari gangguan supaya kita dapat melihat Dia secara lebih jelas. Dalam
keadaan demikian jangan memberontak atau melawan tapi belajarlah untuk diam dan
menantikan Tuhan.”

Allah mempunyai
program yang mulia dalam hidup kita, membawa kita ke dalam kemuliaan. Ia ingin
membentuk kita menjadi baru dan yang mulia. Dan kesulitan merupakan keadaan
yang sangat kondusif untuk pekerjaan ini. Saat kita sedang hancur, saat ego
kita telah dihancurkan, itulah saat kita bagaikan tanah liat yang telah
dihancurkan untuk siap dibentuk ulang secara baru. Jika dalam saat demikian,
kita salah mengerti dan memberontak, kita telah berlaku bodoh dan merugikan
diri kita sendiri. Sebagian tidak tahan dalam kegelapan yang kelam ini sehingga
ia mencari pengalaman rohani palsu yang menimbulkan gairah dalam hatinya yang
kering, tetapi tindakan ini justru mengganggu program Tuhan. Guru-guru palsu
telah menawarkan pengalaman agama palsu untuk mengisi kekeringan yang
seharusnya diisi oleh Tuhan, akibatnya kepekaan rohani mereka menjadi tumpul.
Apa yang mestinya kita miliki pada saat-saat seperti ini ialah berdiam diri di
hadapan Allah dan menantikan Tuhan. Manusia tidak selalu menolong, terkadang
mereka justru menjadi pengganggu yang mengalihkan perhatian kita dari suara
Tuhan. Nabi Yesaya berkata: “dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan
diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi
kamu enggan, kamu berkata, ‘Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat’, maka
kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula, ‘Kami mau mengendarai kuda tangkas’,
maka para pengejarmu akan lebih tangkas pula.” (Yesaya 30:15-16).

Setiap kali kita
mengalami kesulitan, carilah maksud Tuhan dalam situasi yang kita hadapi itu.
Jangan kita dilumpuhkan oleh kesulitan, tetapi temukan ‘mutiara’ (berkat
rohani) di balik kondisi sulit itu. Justru saat di dalam di penjara, Paulus
menulis surat-suratnya yang paling penting dan menjadi berkat besar bagi gereja
Kristen sepanjang masa, yaitu surat Efesus, Filipi, Kolose, Filemon dan Roma.
Demikian juga saat dipenjarakan John Bunyan menulis Pilgrim Progress,
karya sastra alegoris terindah dan bermutu tinggi di antara literatur Kristen.
Perhatikanlah respon kita dalam masa-masa sulit itu supaya jangan kesulitan itu
dilewati tanpa mendapatkan berkat rohani dari Tuhan itu. Amin.

Motivasi Dosa & Perlunya Pertobatan

Nats: Lukas
9: 46-48; Yohanes 21: 17-18

Dalam Luk 9 terdapat
essensi kehidupan manusia. Kegagalan orang Kristen untuk memahami siapa manusia
yang sesungguhnya akan membuatnya terjebak ke dalam format dimana ia menjadi
orang palsu yang sebenarnya tak mengerti arah hidupnya. Problemnya bukan di
permukaan dan jalannya juga bukan di fenomena tapi sungguh masuk ke hakekat
terdalam.

Sikap para murid Tuhan
Yesus justru seringkali tak sesuai konsep kerohanian. Ketika kelihatan sangat
baik, setia, giat melayani dan saleh beragama, ternyata di belakangNya mereka
bertengkar mengenai siapa yang terbesar hingga berhak duduk di sebelah Tuhan.
Motivasi mereka sebenarnya adalah mencari keuntungan. Mereka pikir akan
memiliki prospek besar kelak ketika Kristus menjadi Raja. Maka Tuhan memberi
kritikan tajam.

Iman kepercayaan tentu
mempengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan. Lalu pemikiran akan
mempengaruhi tindakan. Inilah pendapat Francis Schaeffer, “I do what I think
and I think what I believe”
(Saya melakukan apa yang saya pikirkan dan saya
memikirkan apa yang saya percaya). Jadi, kepercayaan juga mempengaruhi
tindakan. Dan tak ada tindakan yang tak berakibat. Salah bertindak pasti berakibat
buruk yang akan membawanya ke Neraka. Sebaliknya, jika imannya benar maka cara
berpikir pun tepat hingga mampu mengambil keputusan dengan baik, bertindak
benar dan membuahkan hasil yang kelak membawanya pada kehidupan kekal di Surga.

Ternyata selama
mengikut Kristus, belum ada komitmen dalam hati para murid untuk merubah iman
secara total. Ketika memberitakan Injil dan mengerjakan segalanya dengan
bertanggung jawab, mereka bertindak bukan dengan jiwa pelayanan yang sungguh
kepadaNya karena tujuan akhir mereka adalah untuk mencapai prestasi hingga
akhirnya meminta Tuhan memberikan posisi tertinggi. Orang semacam itu tak
mungkin beriman melainkan sangat humanis. Ia berusaha mencelakakan Kekristenan
dengan meninggikan diri secara tersembunyi. Mereka telah mempermainkan Tuhan
namun tak berhasil karena Ia mengetahui semuanya termasuk pemikiran, keinginan
serta isi hati. Di akhir seluruh pelayananNya sebelum naik ke Surga, Ia sempat
bertemu dengan Petrus terakhir kalinya untuk merubahnya secara essensial. 

Kemudian Tuhan Yesus
mengambil anak kecil dan menempatkannya di sampingNya. Dalam bahasa Yunani, ada
2 istilah anak kecil yaitu teknon (anak pada umumnya) dan paidion
(invent). Dalam konteks ini, yang dimaksudkan adalah anak balita dan
bukan a child. Lalu Yesus mengatakan, “Barangsiapa menyambut anak ini
dalam namaKu, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut
Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah
yang terbesar”
(Luk 9:48). Prinsip ini bersifat paradoxical dan
diungkapkan untuk memutarbalik pikiran mereka yang terlalu egois dan kehilangan
prinsip kebenaran.

Di tengah dunia, orang
Kristen dikunci dengan pemahaman bahwa manusia  dewasa pasti memiliki
banyak pengetahuan, informasi dan pengalaman. Mereka sebenarnya tak mengerti
proses yang dialami. Terkadang orang dewasa tak menyadari arti proses bagi
hidupnya. Maka ia perlu belajar beberapa aspek dari anak kecil (invent).

Pertama, orang dewasa
seringkali kehilangan ketulusan hati
. Anak balita masih memiliki pure
heart
(hati yang murni). Perkataan dan tindakannya sungguh keluar dari
kemurnian. Makin dewasa, pikirannya semakin tricky hingga mampu menutupi
keberdosaannya. Karena dosa yang sangat jahat, hidup manusia berproses bukannya
makin suci dan benar melainkan liar dan rusak. Akhirnya, ia kehilangan hubungan
sejati dengan Tuhan.

Di depan Tuhan, para
murid bersikap manis. Di belakangNya, mereka memiliki trick untuk
mencari pengganti Tuhan yang kelak akan menjadi Raja atas segala raja dengan
kedaulatan lebih besar daripada Romawi. Manusia boleh menjadi dewasa dengan
pengetahuan yang makin banyak tapi jangan kehilangan kemurnian seperti anak
kecil.

Kedua, Tuhan Yesus
menghendaki orang dewasa kembali belajar dengan anak kecil yang selalu
mempertahankan integrity yaitu hidup dalam kemurnian, kesungguhan, kebenaran
dan kesucian.
Ia menunjukkan bahwa anak kecil memiliki jiwa yang mau
belajar dengan melihat, meneladani, menyerap dan meniru orang tuanya karena
sungguh ingin bertumbuh. Kalau orangtua salah mendidik atau kurang
memperhatikannya maka seumur hidup ia akan sulit diubah karena telah menerima
ajaran yang salah. Tapi, orang dewasa merasa tak perlu belajar. Kalaupun
belajar, mereka hanya mencari informasi yang menkonfirmasikan atau sesuai
dengan prinsip diri karena tak bersedia dibentuk dan diubah. Maka Kekristenan
mengajak orang dewasa untuk merubah jiwa, karakter dan hidupnya hingga menjadi
lebih baik. Ketika mempelajari Firman, seringkali bukan untuk diri sendiri
melainkan orang lain. Padahal seharusnya, Firman Tuhan sanggup merubah sikap
hidup dan jiwa pelayanan orang Kristen hingga makin tunduk di hadapanNya.

Ketika hidup di
hadapan Tuhan, orang dewasa seharusnya belajar menerima anak kecil. Di sisi
lain, mereka harus menjadi teladan kesucian hidup, kejujuran, ketulusan,
kemurnian, keadilan dan kebenaran. Ironisnya, kadangkala anak kecil lebih
murni, jujur, adil, benar dan berintegritas daripada orangtua. Berarti, ordo
terbalik karena kegagalan orangtua. Maka Tuhan menuntut orang dewasa memiliki
konsep kehidupan yang berintegritas.       

Walaupun masih terlalu
muda, seorang anak telah memiliki konsep integritas dimana perkataan dan
tindakan harus sinkron. Jika tidak, akan terjadi konflik yang beresiko besar
yaitu terkena hukuman. Maka kalau tak sanggup melakukan, ia takkan berjanji.
Sebaliknya, orang dewasa seringkali mengabaikan integritas hingga akhirnya
harus menerima akibat dan menjadi korban effect non-integritas.

Tindakan dan perkataan
para murid Tuhan Yesus sangat tak berintegritas. Dalam konsep tubuh Kristus
terdapat prinsip yang berbeda dengan dunia. Sangat mungkin, Tuhan tak pernah
menunjuk Yudas untuk menjadi bendahara melainkan terjadi secara natural karena
Alkitab tak mencatat demikian. Dalam pelayanan, memungkinkan terjadinya
permainan motivasi karena salah pengertian.

Dalam pelayanan di
Gereja Reformed, Pdt. Stephen Tong memakai cara yang berbeda dengan
prinsip organisasi dunia tapi disesuaikan dengan Alkitab. Seluruh organisasi
pasti mempunyai job description namun Gereja Reformed memiliki burden
description
(deskripsi beban). Konsep job description sangat
membahayakan pelayanan pekerjaan Tuhan. Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil
seseorang dan memberinya beban untuk mengerjakan sesuatu. Ia menginginkan tiap
orang Kristen berbeban melakukan pekerjaanNya dengan baik dan rela hidup di
dalamnya. Jadi, bukan karena diperintah.

Ketika Tuhan Yesus
bekerja dan mengajak para muridNya, sangat mungkin terjadi secara natural.
Ketika diadakan pengumpulan dana atau pengaturan keuangan, mungkin yang paling concern
(peduli) adalah Yudas. Lama-kelamaan, mereka mempercayakan keuangan padanya.
Tapi, ternyata ia peduli bukan sebagai beban pelayanan melainkan karena
mendapat kesempatan untuk mencuri. Dengan kata lain, kepeduliannya tak
terintegritas. Dan setiap tindakan non-integrity pasti berakibat
kebinasaan. Itulah hukum yang ditetapkan oleh Tuhan. Murid Tuhan Yesus pun
sanggup berbuat demikian di belakangNya karena berpikir Ia tak mengetahuinya.
Yudas sempat berbicara dengan sangat simpatik, “Mengapa minyak narwastu ini
tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

(Yoh 12:5). Tetapi, motivasinya sangat jahat.

Ketiga, anak kecil
memiliki perasaan kebergantungan (dependent) yang sangat besar.
Dengan kata
lain, anak kecil sangat helpless (butuh pertolongan, bimbingan,
pembinaan, perlindungan dan pemeliharaan). Anak kecil yang mendapat
pemeliharaan dan perlindungan akan merasa bergantung mutlak pada orangtuanya.
Ia akan bertumbuh dengan confidence yang sangat kuat, keberanian dan
ketegasan. Banyak pula anak kecil yang tumbuh dalam kondisi terbuang hingga
menjadi anak yang minder, cari perhatian, selalu ketakutan serta mudah
dipengaruhi bahkan dirusak. Sedangkan orang dewasa makin menyombongkan diri
hingga merasa tak membutuhkan Tuhan karena merasa diri mampu. Itulah titik
pembentukan fatigue. Dengan kata lain, titik puncak kemampuan sekaligus
merupakan titik kehancuran. Ia telah melupakan bahwa dirinya terbatas dan
kehilangan jiwa kebergantungan. Padahal sebenarnya ia butuh bergantung pada
kekuatan yang lebih besar dan tak terbatas yaitu Tuhan sendiri. Makin modern,
dunia merasa semakin independent.

Jiwa independence
para murid sangat besar. Hingga setelah Tuhan Yesus mati dan bangkit kembali,
Petrus masih sanggup mengajak murid lain untuk kembali menjadi nelayan (Yoh
21). Dan tak seorang pun protes atau mengingatkannya. Padahal Tuhan telah
membina mereka sebagai penjala manusia. Mereka merasa hopeless (tak
berpengharapan) dan desparate (putus asa). Walaupun telah berusaha semalaman,
mereka tetap tak mendapat seekor ikan pun. Keesokan paginya, Tuhan mendatangi
mereka dan bertanya, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?”
(Yoh 21:5). Lalu Ia berkata, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu,
maka akan kamu peroleh”
(Yoh 21:6). Akhirnya, mereka memperoleh 153 ekor
ikan. Setelah itu, Tuhan mengajak mereka makan bersama karena Ia telah
menyediakannya. Dengan demikian, Ia hendak menunjukkan bahwa manusia sebenarnya
tak mampu berbuat apapun. Saat makan, tak seorang pun berani bertanya
kepadaNya.

Sesudah sarapan, Tuhan
bertanya pada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”
(Yoh 21). Pertanyaan ini merupakan resolusi kerohanian orang Kristen. Jawab
Petrus, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau.”
Lalu Tuhan berkata, “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Ia mempertanyakan hal
ini sampai 3 kali untuk menyadarkan Petrus akan cintanya kepada Tuhan. Setelah
Ia bertanya untuk ketiga kalinya, Petrus menangis karena baru menyadari bahwa
ia kurang mengasihi Tuhan. Memang Petrus ikut Tuhan dan melakukan banyak hal
bagiNya tapi ia masih sangat cinta diri. Setelah ditanya oleh Tuhan, barulah ia
mencintaiNya dengan sungguh. Seseorang yang mencintai Tuhan tentu akan
melakukan yang terbaik bagiNya. Kadangkala, manusia membiarkan dirinya dan
orang lain merenggut cinta Tuhan. Ketika Ia bertanya untuk ketiga kalinya,
Petrus hanya sanggup menjawab, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau
tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”
(Yoh 21:17).  Amin.

Ketergantungan Manusia kepada Allah & Arti Percaya kepada Tuhan

Nats: 1 Raja-raja 18:21; Yesaya 29:13

Kita sudah mempelajari
bahwa dalam diri setiap orang diberikan oleh Tuhan natur untuk mengasihi diri
dan merawat diri sehingga setiap orang bertanggung jawab mengusahakan apa yang
baik bagi dirinya sendiri. Ini merupakan karunia yang harus kita syukur. Betapa
mengerikan jika hal ini tidak kita miliki. Dalam Rasa Sakit sebagai Karunia
(The Gift of Pain), Dr. Paul Brand menceritakan suatu kasus penyakit
yang ditemui pada seorang gadis kecil bernama Tanya – ia berusia empat tahun
ketika dibawa menemui Dr. Brand. Ibunya menceritakan bagaimana saat Tanya
berusia tujuhbelas bulan, dengan terkejut dia melihat Tanya ditinggal di baby
box
sedang menggambar dengan jarinya yang berdarah. Rupanya ia telah
menggigit ujung jarinya dan bermain-main dengan darahnya sendiri. Masalah pada
anak ini ialah ia menderita cacat genetik di mana ia tidak dapat merasa sakit.”
Syaraf-syaraf di tubuhnya [dapat] mengirimkan  pesan-pesan mengenai perubahan
tekanan dan suhu – ia merasakan sesuatu ketika ia membakar dirinya sendiri atau
menggigit-gigit jarinya – namun pesan yang diterimanya tidak mengisyaratkan
suatu ketidaknyamanan. Tanya tidak memiliki kesadaran mental tentang rasa
sakit. Akibatnya, dia tidak memiliki insting untuk melindungi dirinya sendiri.

Ketika ia mulai
belajar berjalan, kakinya penuh luka karena ia menginjak paku payung dan tidak
mau repot-repot menyingkirkannya. Sering ada saja luka baru yang ditemukan,
belum lagi masalah lain muncul di pergelangan tangan dan kakinya, akibat
perilakunya yang mengakibatkan kerusakan pada tubuhnya sendiri. Ketika berusia
sebelas tahun ia telah menjalani kehidupan yang menyedihkan di sebuah panti
perawatan. Ia kehilangan kedua kakinya karena diamputasi, ia hampir saja
kehilangan seluruh jari tangannya. Kedua sikunya berubah letak. Ia menderita
karena infeksi kronis yang disebabkan oleh luka-luka pada tangannya dan bekas
amputasi di kakinya. Lidahnya penuh dengan luka dan goresan-goresan karena
kebiasaannya mengunyah lidah. Inilah suatu contoh ekstrim tentang orang yang
tidak memiliki kesadaran akan rasa sakit sehingga kehilangan insting untuk
melindungi dirinya dari bahaya.

Orang yang apatis
patut dikasihani karena mereka sudah putus asa terhadap hidup dan dengan
menjadi mati rasa terhadap rasa sakit dan senang, mereka tidak peduli lagi
terhadap malapetaka yang mengancam mereka atau kebahagiaan yang disediakan bagi
mereka. Mereka tidak takut terhadap ancaman sehingga tidak merasa perlu
menghindari tindakan yang destruktif, mereka juga tidak dapat dibujuk untuk
melakukan hal-hal yang dapat membawa dia untuk memiliki kehidupan yang lebih
baik dan bahagia. Orang yang sudah mati rasa terhadap kengerian penderitaan
tidak lagi memiliki rasa takut terhadap murka Allah maupun neraka, karena itu
mereka tidak peduli jika mereka hidup secara berdosa dan melawan Allah dan
menumpuk murka Allah atas diri mereka karena tidak memiliki insting untuk
melindungi diri mereka dari bahaya mereka terus menerus merusak diri mereka dengan
hebat.

2. Kesadaran akan diri
dan dorongan untuk mengasihi diri dengan benar adalah suatu karunia Tuhan yang
baik. Tetapi dalam kehidupan banyak orang kita melihat ini telah diselewengkan
dalam suatu kehidupan yang egosentris. Perhatian dan cinta diri telah menjadi
begitu berlebihan sehingga menjadi kecenderungan yang destruktif dalam diri
mereka. Mereka begitu memikirkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, hidup
hanya untuk diri sendiri sampai rela mengorbankan orang lain. Akhirnya mereka
terjebak dalam penjara egosentris mereka diri. Mereka tidak mengerti bahwa
menjadikan diri sebagai fokus dan tujuan adalah jalan menuju ketidakbahagiaan
dan kehancuran. Manusia telah diciptakan oleh Tuhan untuk mencapai pemenuhan
dan makna hidupnya bukan di dalam dirinya tetapi di luar dirinya, yaitu di
dalam Sesuatu yang lebih besar dari dirinya, yaitu Tuhan.

Jika dalam suatu
keluarga setiap orang hanya memikirkan diri sendiri, pasti semuanya akan
menderita; ketika suatu masyarakat setiap orang hanya memikirkan keuntungannya
sendiri, walaupun yang kuat untuk sementara akan lebih nyaman, tetapi pada
akhirnya semuanya akan hancur. Inilah gambaran masyarakat Indonesia. Hidup yang
saling mengasihi akan menolong semuanya untuk lebih berbahagia, bahkan di
tengah-tengah penderitaan mereka.

Dalam novel Silas
Marner
, dikisahkan perubahan yang dialami oleh seorang yang hidup tanpa
kasih dan persekutuan dengan orang lain menjadi salah seorang yang paling
berbahagia, ketika ia mulai mengalihkan perhatiannya dari diri kepada orang
lain. Silas Marner pindah ke suatu desa, dengan menyimpan kepahitan karena
pengkhiatan temannya dan fitnahan kecurangan. Karena itu, ia menjauhi pergaulan
dengan orang lain, dan hanya sibuk bekerja mengumpulkan uang. Suatu hari,
uangnya ludes dicuri orang. Di tengah kesedihannya itu, ia menemukan seorang
bayi perempuan mungil yang ditinggal mati oleh ibunya saat dalam perjalanan
bersalju di dekat rumahnya. Silas memungut anak tersebut dan merawatnya hingga
dewasa. Bayi itulah yang membuka interaksi Silas dengan penduduk desa itu.
Ibu-ibu mengajari dia cara merawat bayi, memberikan baju bekas untuk si bayi,
dan mulai berteman dan pergi ke gereja. Sejak itu, ia merasa sangat bahagia,
walaupun kehilangan seluruh uangnya, tetapi kini ia memiliki sesuatu yang lebih
berharga, yaitu Eppi, anak angkatnya. Setelah dewasa, ayah kandung Eppi yang
kaya memperkenalkan diri dan meminta Eppi untuk tinggal bersamanya, tetapi Eppi
memilih untuk tinggal bersama orang tua angkatnya yang telah menyelamatkan dan
mengasihi dengan tulus.

Kehidupan Silas Marner
yang suram dan pahit diubah menjadi penuh arti dan kebahagiaan karena ia
mengasihi orang lain. Ketika kita mengasihi dan menolong orang lain, bukan dia
saja yang mendapat berkat, tetapi kita sendiri juga diberkati. Ketika menolong
orang lain, tanpa disadari kita sedang menolong diri kita sendiri. Pengalaman
Sadhu Sundar Singh yang ketika menolong orang yang sedang kedinginan di bawah
hujan salju justru menyelamatkan dirinya sendiri. Kita tidak dapat hidup
sendiri, kita memerlukan orang lain, tetapi di atas semuanya kita memerlukan
Tuhan.

3. Orang yang
betul-betul memikirkan kebaikan bagi dirinya dengan benar, pasti akan datang
kepada Tuhan. Karena sebagai mahluk yang begitu kecil di tengah alam semesta
yang begitu dahsyat dengan kuasa destruktifnya, kita membutuhkan Pribadi yang
memiliki kuasa tertinggi untuk menopang hidup kita. Adalah suatu kekacauan
dalam diri kita, jika kita yang menginginkan hidup yang bahagia justru menolak
Tuhan. Masyarakat masa kini yang telah melihat dampak-dampak buruk modernisme
sadar bahwa mereka membutuhkan suatu kuasa ilahi di atas diri mereka untuk
mengisi hati mereka yang kosong. Dalam masyarakat postmodern kita melihat
kesadaran akan pentingnya spiritualitas, dan maraknya kegiatan keagamaan.

4. Tetapi apakah itu
berarti orang sudah menemukan Allah sejati? Belum tentu! Karena ketika orang
datang kepada Tuhan ia mungkin mencari Dia dengan sikap yang salah ini:

(i) Ia mencari Allah
yang dapat ia manipulasi / peralat. Ia percaya kepada Tuhan karena ada maunya,
yaitu untuk mendapatkan uang, kesehatan, kekasih, kesejahteraan dan lain-lain
yang umunya bersifat kedagingan. Dan Allah tidak pernah dengan sungguh-sungguh
diakui sebagai Pribadi tertinggi yang berdaulat atau berotoritas penuh atas
hidupnya. Allah sejati pasti tak mau diperlakukan demikian. Ia menghendaki
kasih yang tulus dari umatNya. Inilah rahasia rohani yang besar. Ayub adalah
bukti masih adanya umat Tuhan yang mau mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan
bukan karena berkat-berkat Tuhan. Dengan demikian, Iblis telah dipermalukan.
Allah sendiri telah memberi kepada kita teladan mengenai mengasihi tanpa
syarat.

Orang mungkin akan
bertanya: jika bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Allah lalu untuk apa kita
percaya kepadaNya? Orang yang memperalat Allah untuk mendapatkan sesuatu yang
dianggapnya lebih utama dari Tuhan melakukan penghinaan terhadap Tuhan. Ia
tidak sadari bahwa tanpa Tuhan, semua berkat itu sia-sia dan dapat menjadi
kutuk baginya. Sebaliknya, orang yang mengutamakan Tuhan justru adalah yang
paling berbahagia, karena Allah dalam kasihNya memberikan segala berkatNya yang
terbaik demi kebaikan kita.

(ii) Ia mencari Allah
yang ia sukai, yang sesuai dengan selera dan kepribadiannya, yaitu allah yang
dapat ia atur. Inilah penyesatan dan penipuan diri yang sering kita lakukan.
Allah semacam ini pasti tidak akan membawa kita ke dalam transformasi menuju
kemuliaan, seperti yang direncanakan Allah dalam Kristus bagi kita. Sebaliknya,
justru akan membiarkan kita di dalam kebusukan pribadi kita.

Mengapa dua cara
mendekati Tuhan ini salah dan bodoh? Karena allah yang dapat kita manipulasi
dan atur, pasti bukan allah sejati yang memiliki kuasa tertinggi untuk menopang
hidup kita dan memberi jaminan bagi hidup kita sekarang dan kehidupan yang akan
datang. Orang yang waras dan bijaksana akan mencari Allah sejati, walaupun itu
berarti Tuhan mengatur dia menurut standar-Nya yang sempurna, bukan Tuhan yang
diatur oleh dia. Ia mau menerima otoritas Allah ini karena hanya Allah sejati
saja yang sanggup menopang hidup kita dan memberikan berkat sejati bagi kita
untuk selama-lamanya.

Jean Paul Sartre
mengungkapkan bahwa manusia harus memilih satu dari dua pilihan ini: (1) Allah
sejati itu ada, dan Ia memberikan aturanNya kepada kita dan berotoritas atas hidup
kita, tetapi dengan tunduk kepadaNya hidup kita menjadi bermakna dan bahagia;
atau (2) tidak ada Allah, dan tidak ada yang berhak mengatur semua. Karena itu,
setiap orang menjadi allah bagi dirinya sendiri, dan da­pat berbuat sesuka
hatinya, tetapi itu berarti kekacauan kehancuran. Nabi Elia menantang kita: “Kalau
Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah Dia”
(1 Raj 18:21).
Kita harus memilih.

Respon manusia yang
paling buruk ialah bersikap indifference (tak acuh), bahkan setelah
kebenaran diungkapkan kepadanya. Orang semacam itu tak mau banyak pikir
bersusah payah mencari kebenaran. Ia membiarkan hidupnya dihanyutkan oleh arus
kesesatan. Dan jika ia kebetulan percaya kepada Allah sejati, ia selalu
bercabang hati dan mengkhianati Tuhan.Tidak ada kasih dan ibadah yang tulus.
Seperti yang ditegur oleh Yesaya: “bangsa ini datang mendekat dengan
mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh
daripadaKu, dan ibadahnya kepadaKu hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.”

(29:13)

Kalau kita sadar bahwa
kita membutuhkan Allah lebih dari apa pun, biarlah kita mencari Allah yang
sejati, dan mendekati Dia dengan sikap yang benar. Dan percaya kepada Allah bagi
kita berarti:

a. mengaku bahwa kita
adalah milik Tuhan. Dialah yang telah menciptakan kita, menopang hidup kita,
dan yang menyelamatkan kita dengan sempurna. Seluruh keberadaan kita: nyawa,
harta, kesehatan, talenta, orang-orang yang kita kasihi, semua adalah milik
Tuhan. Ia yang memiliki hak dan otoritas penuh untuk mengatur bagaimana semua
itu dipakai bagi kemuliaanNya. Pada diri kita, dan semua yang dipercayakan
Tuhan itu, seharusnya diberi cap ROFGU (Reserved Only for God’s Use,
artinya “dikhususkan hanya untuk digunakan bagi tujuan Allah”.

b. menerima
kedaulatanNya yang mutlak atas hidup kita. Dia adalah Tuhan kita di kantor, di
rumah, di mana saja. Dia berotoritas penuh atas seluruh hidup kita. Terhadap
pertanyaan esensial ini: Who is really in charge of my life – God or me? jawaban
kita adalah jelas, yaitu: God. Allah adalah Tuhan dan Pemimpin yang
berotoritas penuh atas hidupku. Hidupku adalah untuk menjalankan perintahNya.
Dia yang menetapkan programNya untuk kita jalani, bukan kita yang mengatur
Allah. Apapun juga jalan hidup yang ditetapkan Allah bagi kita, apakah harus
bersabar seperti Abrham, diperlakukan dengan tidak adil seperti Yusuf,
mengalami penderitaan seperti Ayub, kita hanya dapat menerima ketetapan Allah
dengan ketaatan. Always say Yes to God dan say No to sinful self

c. memberikan tempat
yang terutama dalam hati kita hanya bagi Allah. Kita tidak membiarkan adanya
suatu berhala, apapun itu dalam hati kita (Kel 20:3) Orang beriman lebih
mengutamakan Allah daripada bapa atau ibunya, anaknya laki-laki atau
perempuan, bahkan nyawanya sekalipun
(Mat 10:37). Walaupun sangat mengasihi
Ishak, tetapi Abraham mempersembahkan kepada Tuhan, sesuai perintah Tuhan,
karena ia lebih mengutamakan Tuhan dan mentaati Dia. Karena itu, Ia dan
keturunannya diberkati. Orang yang mengutamakan anaknya, dirinya, hartanya
lebih dari Tuhan akan menemukan semua yang dikasihinya itu akan hancur dan
membawa dia kepada kehancuran. Hanya dengan menempatkan Tuhan sebagai yang
utama dan pemimpin hidup kita, seluruh hidup kita akan mendapatkan tatanan yang
akan membawa kita kepada kesejahteraan. Amin.

Mengikut Yesus Tidak Dapat Tanpa Menyangkal Diri

Nats: :
Matius 16: 24-27; Lukas 14: 26-27

Tuhan Yesus berkata
kepada murid-muridNya dalam Matius 16:24: “Setiap orang yang mau mengikut
Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Dalam
perenungan hari ini, kita akan memfokuskan pembahasan hanya pada hal menyangkal
diri. Yesus mengatakan menyangkal diri adalah tuntutanNya bagi setiap orang
yang mau mengikuti Dia. Apa artinya menyangkal diri? Menyangkal berarti
menolak, menanggalkannya, atau menurut Lukas 14:26-27 berarti membenci (“Jikalau
seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya,
isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan
nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Barangsiapa tidak memikul
salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu.”
)

Benarkah Yesus
mengajarkan suatu agama yang membenci diri dan semua orang yang kita kasihi?
Tidak! Apa yang ditekankan Yesus di dalam Lukas 14 itu ialah bahwa kesetiaan
kita kepada Allah harus mengatasi semua keterikatan alami yang lebih rendah
dari keterikatan kita kepada Allah, dan hanya dengan mengutamakan Allah semua
hubungan kita baru akan menjadi baik dan sehat. Ini bukan perintah untuk
memperlakukan diri dengan buruk, karena dalam tuntutan ini Yesus bukan
memerintahkan kita untuk meniadakan identitas diri kita, dan menjadi “nobody”
(“bukan siapa-siapa”); juga bukan perintah untuk menghina diri atau
memperlakukan diri kita sebagai orang yang tidak berharga; karena Ia sendiri
menunjukkan perhargaan yang demikian besar kepada kita sehingga rela berkorban
bagi kita.

Dalam perintah ini
terkandung kebenaran paradoks mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap
kepada diri kita sendiri. (1) Di balik perintah untuk menyangkal diri
terkandung maksud Allah yang positif bagi kita yaitu membawa kita ke dalam
kepenuhan kemanusiaan yang telah Ia rencanakan bagi kita. Seperti yang
diungkapkan dalam 2 Kor 3:18, Ia senantiasa membawa kita ke dalam kemuliaan
yang semakin besar (band. 2Kor 11:2). (2) Namun karena di dalam diri kita, yang
walaupun telah ditebus, masih memiliki banyak keinginan daging atau sifat-sifat
dosa yang akan menghalangi maksud Allah bagi kita, bahkan dapat menghancurkan
kita, maka kita harus menghancurkan sifat-sifat buruk ini atau kita yang akan
dihancurkannya. Simson dikalahkan bukan oleh banyaknya tombak dan pedang
tentara Filistin, juga bukan tipu muslihat Delilah, ia terutama dan
pertama-tama, dikalahkan oleh nafsu dan kedagingannya sendiri, sehingga ia menyerahkan
rahasia kekuatannya kepada seorang wanita dan dihina dan disiksa oleh
orang-orang Filistin. (3) Musuh terbesar setiap orang adalah diri sendiri,
yaitu segala kebodohannya, kedagingannya dan keinginannya yang jahat. Hanya
dengan menyangkal semua sisi buruk dan mengembangkan sisi positif dalam diri
kita, kita akan mencapai kepenuhan maksud Allah yang mulia bagi kita. Karena
itu, orang yang menyangkal diri adalah orang yang mengasihi dirinya sendiri,
dan orang yang tidak mau menyangkal diri justru adalah orang yang membenci
dirinya sendiri. Kekristenan tanpa penyangkalan diri bukanlah Kekristenan versi
Yesus. Itu hanya Kekristenan buatan manusia yang akan membiarkan kita di dalam
kemandegan rohani.

Lalu Apa arti
menyangkal diri itu? Inti penyangkalan diri bukanlah menolak kesenangan atau
menyiksa diri seperti yang diajarkan dalam asketisme. Perlu kita ingat selalu
bahwa Kekristenan bukanlah agama yang negatif, yang merendahkan, tetapi agama
positif, yang justru mengangkat hidup kita dalam kelimpahan dan berkat sejati
dari Allah. Kerohanian sejati juga bukan sekedar menjalankan aktivitas agama
seperti berdoa puasa, berbuat amal, dsb. Semua aktivitas agama ini pada
dasarnya adalah hal yang baik,  tetapi jika kehilangan essensinya, semua
kegiatan itu menjadi kemunafikan. Inilah kegagalan dari orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat. Tanpa penyangkalan diri yang penuh kerelaan kepada Allah
sebagai Penguasa mutlak hidup kita, semua aktivitas agama dan pengalaman rohani
kita akan kehilangan maknanya. Inti dari penyangkalan diri Kristen ialah:

Pertama, menyangkal diri
berarti menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah.
Manusia tidak pernah dimaksudkan sebagai makhluk otonom, yang menjalankan
hidupnya berda sarkan hikmat dan kekuatannya sendiri. Setiap orang yang
mencobanya pasti akan menemui kegagalan. Dalam kasus Adam dan Hawa kita belajar
kebenaran yang berharga ini. Sebelumnya Adam dan Hawa hidup dalam
kebergantungan mutlak kepada Allah, dan mereka berbahagia. Kemudian datanglah
cobaan dari Iblis, yang menawarkan opsi yang berlawanan dengan firman Allah.
Jika mereka tetap bergantung mutlak kepada Allah, mereka akan langsung menolak
perkataan Iblis. Namun mereka menerimanya dan mempertimbangkannya opsi/pilihan
kedua itu sebagai yang mungkin benar. Untuk berbuat demikian, mereka pasti
harus terlebih dahulu menarik komitmen mereka kepada Allah, dan mengangkat diri
sebagai penentu kebenaran antara Allah dan Iblis. Kesalahan mereka itu harus
dibayar mahal, yaitu kematian mereka.

Menyangkal diri berarti
mengakui ketergantungan kita kepada Allah, dan karena itu, kita menyerahkan hak
dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah. Kita mengakui bahwa hidup yang
diserahkan kepada Tuhan, sebagai pemegang hak dan otoritas penuh untuk
menentukan bagaimana hidup kita dijalani bukan saja sudah seharusnya tetapi
juga akan membawa kebaikan bagi kita. Frances Havergal mengungkapkan penyerahan
diri yang total kepada Allah ini dengan indah dalam syair lagunya: Take My
Life and Let It Be Consecrated.
Semua yang ia miliki, ia baktikan kepada
Tuhan: tangannya untuk melakukan kehendak Tuhan, kakinya untuk menyebarkan
Injil, suaranya untuk memuji Sang Raja selamanya, hartanya semuanya menjadi
milik Tuhan dan waktunya hanya untuk memuliakan Tuhan. Ia memeteraikan lagu tersebut
dalam kesaksian hidupnya.

Dalam kehidupanNya di
bumi, Kristus memberikan teladan yang indah bagi kita. Seluruh hidupNya adalah
suatu penyerahan penuh untuk melakukan kehendak Bapa, dan puncaknya ialah
ketika bergumul di taman Getsemani, Ia dengan konsisten menyerahkan diriNya
untuk melakukan kehendak Allah sampai tuntas. Doa ‘Bapa Kami’ yang kita selalu
kita ucapkan sebenarnya merupakan ungkapan kerinduan terbesar dari setiap
pengikut Kristus; yaitu nama Allah, kerajaan Allah dan kehendak Allah sebagai concern
terbesar hidup kita, dan bukan ambisi dan kehendak kita.

Dalam buku kecil
‘Hatiku Rumah Kristus,’ Robert Boyd Munger mengungkapkan dengan indah bagaimana
suatu kehidupan yang diserahkan sepenuhnya kepada Kristus sebagai penguasa
hidup kita adalah cara terbaik untuk menjalani kehidupan Kristen. Ibu Teresa
pernah mengatakan bahwa dirinya hanyalah pensil sederhana yang diserahkan ke
dalam tangan Tuhan untuk Ia pakai sesukaNya untuk maksud Allah.

Kedua, menyangkal diri
berarti pertempuran seumur hidup menaklukkan dosa dalam diri kita. Mau
tidak mau, harus kita akui bahwa ada banyak sifat buruk di dalam diri kita.
Untuk lepas dari keinginan dosa (indwelling sin) yang melekat dalam
dirinya sampai inilah rasul Paulus bergumul sampai ia mendapatkan kemenangan
rohani dalam diri Allah Tritunggal (Rom 7:13-8:17).

Buku kecil Hati
Manusia
mengungkapkan bahwa di dalam hati setiap orang ada banyak
sifat-sifat dosa yang mau menguasai kita. Penulis menggunakan berbagai macam
binatang untuk melukiskan bermacam-macam dosa kita: burung merak (kesombongan),
kambing (keras kepala), babi (hawa nafsu), kura-kura (kemalasan), harimau
(amarah), ular (kelicikan) dan serigala (pencuri), dengan otaknya si Iblis.
Kita harus menaklukkannya atau kita akan ditaklukkannya.

Dalam novel The
Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde
diceritakan seorang dokter yang
begitu baik, namun membiarkan sisi buruk kehidupannya secara bebas melampiaskan
segala kesenangan daging, sampai akhirnya sisi buruknya itu menelan sisi
baiknya, dan akhirnya menghancurkan hidupnya. Demikianlah, dosa yang dibiarkan
bertumbuh dan berkembang di dalam diri kita, akhirnya akan menjadi kekuatan
destruktif yang akan menghancurkan kita. Banyak kebiasaan buruk yang telah kita
biarkan berurat akar di dalam diri kita, begitu sulit untuk kita atasi,
sehingga kalau bukan anugerah Allah, hampir mustahil kita dapat terbebas
darinya.

Pentingnya
penyangkalan atau penguasaan diri adalah hal yang dimengerti semua orang. Dalam
buku Emotional Inteligence diceritakan eksperimen yang dilakukan pada
sekelompok anak-anak sekolah. Dalam satu kelas, si guru membagikan kue mashmallow
kepada setiap anak, tetapi mereka diminta untuk menunggu sampai guru kembali
baru boleh dimakan. Siapa yang menuruti akan diberi kue ekstra. Lalu selam beberapa
menit guru meninggalkan mereka. Dan segala tingkah laku anak-anak itu diawasi
dan dicatat melalui kamera tersembunyi. Ada anak tidak dapat menahan, dan ada
juga yang bisa menahannya. Riwayat anak-anak itu dicatat sampai mereka dewasa.
Dan ditemukan penguasaan diri mereka itu berkorelasi dengan masa depan mereka.
Mereka yang belajar menunda kesenangan ternyata lebih berhasil dalam studi dan
karir.

Baca Juga  Ilustrasi Khotbah: Kasih, Ketekunan dan Iman Yang Teguh

Dalam Gal 5:19-21
Paulus memperingatkan kita bahwa orang yang menuruti keinginan daging tidak
layak mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah. Tidak seorangpun dari kita yang
bebas dari dosa; karena itu, jangan ada orang yang menyombongkan diri. Biarlah
setiap kita yang jatuh dalam berbagai macam dosa ini, berusaha untuk bangkit
kembali dengan pertolongan Tuhan. Biarlah kita menyalibkan tubuh dosa kita
sehingga dosa kehilangan kuasaNya di dalam diri kita. Inilah pengalaman rasul
Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan
lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan
hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam
Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.“

(Gal 2:19-20)

Ketiga, menyangkal diri
berarti meneguhkan maksud Allah yang mulia dalam diri kita. Penyangkalan
diri bertujuan memulihkan gambar Allah dalam diri kita, supaya maksud Allah
yang mulia terwujud di dalam diri kita. Karena itu, penyangkalan diri harus
selalu disertai usaha pengembangan diri seperti yang dikehendaki Allah, yaitu
bertumbuh dalam keserupaan Kristus, memiliki karakter ilahi, atau buah-buah Roh
Kudus. Tanpa disertai sisi positif ini, maka penyangkalan diri akan menjadi
sekedar tindakan agama yang negatif dan membebani, bukannya menimbulkan
sukacita. Ingat, kekristenan bukan agama negatif, tetapi positif dan
konstruktif.

Jika telah belajar
untuk menyangkal diri kita akan terbebas dari penjara egoisme yang membuat kita
demikian terobsesi oleh diri sendiri (narciscus), inilah sebabnya orang
tega-teganya memperalat dan mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri.
Hanya setelah belajar untuk menyangkal diri, kita mampu melakukan kebaikan
sejati kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Selama belum menyangkal
diri, bahkan ketika berbuat baik sekalipun, semua itu kita lakukan demi
dirinya. Kita hanya berbuat baik kepada yang baik kepada kita, kepada orang
yang kita sukai, kepada orang yang akan memberikan keuntungan kepada kita, atau
yang suatu hari dapat menolong kita. Bahkan berbuat amal pun itu untuk
mengumpulkan amal bagi kita, atau melaukan kebajikan yang sangat mulia, karena
itu memberikan kesenangan rohani kita. Demikian juga, hanya setelah belajar
untuk menyangkal diri kita baru dimampukan untuk mengampuni orang yang bersalah
kepada kita.

Penyangkalan diri
memampukan kita untuk mengakui diri kita hanya penatalayan Tuhan dan segala
sesuatu yang ada pada diri kita: talenta, kepandaian, kekayaan, waktu,
kesempatan, kelancaran, kesehatan, dsb adalah karunia dari Tuhan. Dan semua itu
bukan untuk dipakai bagi kepentingan kita sendiri, apalagi untuk diboroskan
atau untuk tujuan yang berdosa, sebaliknya kita akan memakai semua itu dengan
rendah hati, disiplin dan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan maksud dan
ketetapan Allah.

Penyangkalan diri juga
membuat orang Kristen percaya bahwa berkat sejati berasal dari Tuhan. Karena
itu, ia tidak akan secara tamak memakai cara-cara licik dan mencelakakan orang
lain untuk mendapatkan keuntungan. Kita tidak akan iri karena orang lain
mendapatkan keuntungan lebih besar, karena tahu ia tidak berhak mengatur
bagaimana Tuhan memberi anugerahNya. Selain itu ia tahu, bahwa tanpa penyertaan
Tuhan, semua keuntungan duniawi dapat menjadi kutuk baginya. Penyangkalan diri
akan memampukan kita untuk bersyukur dan berbahagia dalam segala keadaan.
Karena tahu bahwa Tuhan senantiasa memelihara kita menurut caraNya yang Ia
pandang terbaik untuk kita, bukan maunya kita. Penyangkalan diri menjadikan
orang tak terikat pada dunia sehingga ketika segalanya diambil kembali oleh
Tuhan, walaupun ia dapat merasa susah, tetapi tidak akan tenggelam dalam
keputusasaan.

Musuh setiap orang
ialah dirinya sendiri: keegoisannya, hawa nafsu dan keinginan daging di dalam
dirinya; bukanlah situasi luar seperti kurang pintar, kaya, kurang tampan atau
kurang cantik, kurang mendapat kesempatan, dan sebagainya. Anak Tuhan harus
berjuang menaklukkan dosa sehingga rencana Tuhan yang indah dapat terwujud
dalam dirinya. Kemenangan pribadi atas atas diri sendiri inilah rahasia
kemenangan rohani yang memberikan kesuksesan di bidang lain. Sebaliknya
kegagalan untuk menaklukkan sifat-sifat buruk dalam diri kita secara pasti
menghambat kemajuan yang diharapkan Tuhan dari kita. Kiranya Tuhan menolong
kita menjadi muridNya yang sejati. Amin.

Kuasa Penebusan Allah terhadap Kehidupan Manusia

Nats: : Mazmur 90

Mazmur 90 merupakan doa Musa (ay.
1a), yang ditulisnya ketika ia sudah tua dan menyaksikan kefanaan hidup
manusia. Allah telah memakai dia memimpin umat Israel keluar dari perbudakan
Mesir dengan maksud membawa mereka masuk ke tanah Kanaan. Tapi harapan tersebut
pupus oleh pemberontakan yang terus mereka lakukan sehingga mengakibatkan murka
Allah atas diri mereka. Sebagai hukumannya mereka tidak diizinkan masuk ke
Kanaan, dan keturunan merekalah yang mewarisi  tanah perjanjian itu. Maka
selama empat puluh tahun Musa menyaksikan ratusan ribu orang Israel yang
bersamanya keluar dari Mesir hanya berkeliling di padang gurun, sampai mati
semuanya. Sebagai bapa rohani yang begitu mengasihi bangsanya ini, namun
sekarang harus menyaksikan mereka menjalani kehidupan yang terhukum: di bawah
bayang-bayang kesulitan, penderitaan dan kesia-siaan, hal ini sangat
menyedihkan hatinya. Adakah pertolongan dan harapan bagi hidup manusia? Inilah
yang mendorong dia menghampiri Allah dalam doa: “Ajarlah kami menghitung
hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
(Mzm 90:12) Seperti apakah memiliki hati bijaksana dalam menjalani kehidupan
ini? Hati yang berbijaksana setidaknya memiliki tiga hal yang akan saya
sharingkan ini:

 I. 
Menghadapi realitas kehidupan secara realistis dan bukannya menghindarinya
karena itu sulit

Tuhan mencipta manusia untuk memuliakan Dia,
dan bersama itu mereka akan berbahagia. Maka wajar jika setiap orang memiliki
dorongan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi kenyataannya berapa banyak orang
yang sungguh-sungguh berbahagia? Kehidupan dalam dunia ini, ada begitu banyak
masalah (berskala internasional, nasional atau pribadi): kesukaran, bencana,
penyakit, ketidakadilan, kekerasan, kejahatan dan kematian. Dapatkah kita
menutup mata dan berpura-pura bahwa semua masalah ini tidak pernah ada dan
menyetujui bahwa satu-satunya tujuan hidup manusia ialah untuk
bersenang-senang? Mungkin orang yang memiliki hidup yang lancar akan berpikir
begitu. Tetapi kita yang sadar bahwa ada begitu banyak orang yang menghadapi
masalah yang menggoncangkan jiwa mereka, seperti: kesehatan yang terancam, anak
yang cacat atau bermasalah, kesulitan ekonomi, hubungan keluarga yang rusak,
menghadapi teror orang jahat, bencana dan kematian, maka kita mau tidak mau
harus mengakui bahwa ada yang tidak beres dengan dunia ini, dan ini harus
membawa kita datang kepada Allah untuk mendapatkan jawaban yang tuntas atas
pertanyaan hidup ini.

Dalam fabel Watership Down,
dikisahkan suatu koloni kelinci liar yang dicabut dari habitatnya dan
ditempatkan bersama sekelompok kelinci peliharaan yang besar, cantik dan
bersih. Bagaimana kamu dapat hidup demikian enak? Tanya kelinci liar itu,
tidakkah kamu mengusahakan makananmu? Kelinci peliharaan menjelaskan bahwa
makan disediakan bagi mereka. Hidup ini nyaman dan indah. Namun setelah
beberapa hari, kelinci liar memperhatikan kelinci-kelinci yang gemuk menghilang
satu persatu. O, itu memang kadang-kadang terjadi, jelas kelinci peliharaan.
Tetapi jangan biarkan itu mengganggu hidupmu. Ada banyak hal menyenangkan untuk
dinikmati. Kelinci liar itu menemukan di tempat itu ada banyak bahaya yang
mengancam nyawa mereka. Tetapi kelinci peliharaan demi menikmati hidup yang
menyenangkan telah menutup mata dari kenyataan bahaya kematian yang mengancam
mereka. Fabel ini mau menyampaikan ajaran moral. Seperti kelinci gemuk itu kita
mau mempercayai bahwa satu-satunya tujuan hidup di dunia ini adalah kesenangan
dan kenyamanan. Dan banyak orang yang mempercayainya. Tetapi ada banyaknya
penderitaan dan ketidakadilan membuat gaya hidup demikian harus dipertanyakan.
Orang bukannya tak tahu dunia ini abnormal, mereka juga memikirkannya, tetapi
karena sulit mendapatkan makna kehidupan ini, maka mereka pun menyerah, dan
mengabaikannya. Hidup ini sudah sulit, masih ditambah dengan berpikir hal-hal
yang sulit, menyusahkan diri saja. Lebih baik lupkan saja dan carilah hiburan
dan nikmatilah hidup selagi masih bisa, karena nanti kita akan mati.
Demikianlah orang-orang zaman sekarang mengabaikan kebenaran hanya mencari
kesenangan.

Blaise Pascal berusaha menyadarkan
orang-orang dari kebodohan ini. Ia mengatakan bahwa kita semua tahu suatu hari
kita akan mati, kita tidak dapat menghindari ini. Namun kita tidak tahu kemana
ia akan pergi, apakah ia akan lenyap selamanya atau jatuh ke tangan murka
Allah  yang akan menghukum dosa kita. Keadaan ini harus membuat kita
berusaha menemukan jawaban nasib kekal kita itu. tidak ada hal yang lebih
penting dari ini, tetapi apakah kita lakukan. Kita menghabiskan waktu kita
untuk mengerjakan hal-hal yang remeh, atau bahkan yang penting, tetapi hal yang
paling penting bagi keberadaan kekal kita ini, kita abaikan. Bukankah ini
merupakan suatu ketertiduran rohani yang mengerikan sekali. Tuhan mengizinkan berbagai
kesulitan dalam kehidupan ini untuk menyadarkan dunia yang tuli supaya mereka
tergugah dan boleh menengadah hati mereka ke atas dan menemukan Allah,
satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka. Orang Kristen perlu waspada
supaya tak jatuh ke dalam sikap hidup hedonisme dan pragmatisme sehingga kita
terobsesi hanya mencari kesenangan untuk memuaskan hati yang kering dan
bukannya mencari kebenaran yang akan memberikan kemerdekaan sejati kepada kita.

 II. 
Berusaha menemukan jawaban yang sungguh-sungguh dapat mengatasi per­masalahan
hidup ki­ta ini walaupun itu sulit dan pahit, dan bukannya melarikan diri ke
dalam khayalan

Kebenaran
seringkali menyakitkan. Tetapi jika hanya itu yang dapat menyembuhkan kita maka
mau tidak mau kita harus menerimanya walaupun itu menyakitkan dan harus
membayar harga yang mahal. Jika kita sadar akan nilai keberadaan kita dan
keseriusan masalah yang kita hadapi, maka biarlah kita berusaha menemukan
jawaban kita dalam kebenaran dan bukannya dalam dongeng-dongeng yang menyesatkan.
Kita adalah makhluk yang kekal, karena itu kita membutuhkan pertolongan dari
Allah sejati yang kekal. Dan jika kita datang kepada Allah sejati, biarlah kita
mengakui otoritas Dia untuk berfirman kepada kita, dan bukannya mengatur apa
yang mau kita dengar. Dan karena harapan pertolongan hanya datang dari Allah,
maka walaupun Ia berbicara dengan keras kepada kita, kita tetap harus
mendengarkan Dia. Apalagi kita mengerti bahwa Allah yang baik tidak bermaksud
menghempaskan kita dalam keputusasaan, melainkan untuk menyembuhkan kita.
Bahkan sekalipun Ia menghukum, itu bukan untuk membinasakan, melainkan untuk
menyucikan dan menyelamatkan kita.

Biarlah
dengan sikap batin yang benar ini kita mendengarkan apa yang mau dikatakan
Allah kepada kita mengenai kehidupan di planet bumi ini:

(1)
kehidupan ini ketika diciptakan oleh Allah, baik adanya; kejahatan adalah
diakibatkan oleh dosa dan bukan kesalahan Allah. Jika kita masih da­pat
menjalani kehidupan dan menikmati banyak kebaikan di dalam dunia ini, itu
adalah anugerahNya kepada kita yang berdosa.

(2)
Permasalahan kehidupan yang begitu banyak ini mau meng­ingatkan bahwa kita
sedang hidup di bawah bayang-bayang murka Allah. Inilah masalah serius yang
harus kita selesaikan.

(3)
Karena kehidupan abnormal ini adalah akibat kesalahan manusia dan bukan maksud
Allah, berarti kehidupan ini dapat ditebus. Orang Kristen patut bersyukur bahwa
Allah telah menjanjikan untuk melakukan penciptaan kembali dunia ciptaanNya
ini. Seluruh ciptaan menantikan hari itu.

(4)
Kehidupan ini harus kita jalani dengan segala masalahnya. Tidak ada janji Allah
bahwa semua masalah akan disingkirkan, sekali umatNya, tidak akan terkecuali.
Namun Ia memberikan kuasa penebusan sehingga kita dapat memiliki hidup yang
berkemenangan di tengah-tengah dunia ini.

Dengan
pengertian demikian, Musa datang kepada Allah dalam doa, 14Kenyangkanlah
kami di waktu pagi dengan kasih setiaMu, supaya kami bersorak-sorai dan
bersukacita semasa hidup kami. 15Buatlah kami bersukacita seimbang
dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami
mengalami celaka.”
(90:14-15). Dari Tuhanlah ia mengharapkan kuasa
penebusan bukan menurut cara dan maunya sendiri, tetapi menurut hikmat dan
kedaulatan Allah. Orang Kristen sejati takkan memaksa Allah mengerjakan semua
permohonannya melainkan mengakui Allah memiliki hak penuh untuk memperlakukan
dia menurut apa yang baik dalam pandanganNya.
               

III.  Mengalami
kuasa penebusan Allah dalam kehidupan kita

Hikmat sejati tidak
berhenti di otak hanya sebagai pengetahuan untuk menjadi bahan diskusi, tetapi
berakar di hati. Tujuan mendapatkan pengetahuan iman sejati ialah untuk kita
hayati, kita hidupi, kita  integrasikan dalam kehidupan kita sehingga
kebenaran itu memerdekakan kita. Ciri-ciri kehidupan Kristen yang mengalami
penebusan Allah akan ditandai dengan kemerdekaan Kristen berikut ini:

(1) Kuasa penebusan
Kristus memerdekakan kita dari jerat dosa dan melepaskan kita dari murka Allah.
Inilah kebutuhan kita yang terutama karena tanpa kelepasan dari kutuk, ia
takkan pernah memiliki kebahagiaan dan damai sejahtera sejati. Seseorang
non-Kristen pernah mengungkapkan bahwa apa yang iri dari orang Kristen ialah
karena mereka memiliki satu Pribadi yang mengampuni mereka, sedangkan ia tidak
memiliki satu pun yang dapat mengampuni dia. Biarlah kita yang telah
mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan injil keselamatan, bahkan yang
berbagian dalam pelayanan gerejawi, betul-betul mengalami kuasa pembaharuan
Allah yang menjadikannya kita anak-anak Allah yang sejati.

(2) Kuasa penebusan
Allah merubah hidup yang terjerat oleh kefanaan dan kesia-siaan menjadi hidup
yang bermakna dan bernilai kekal. Biarlah kuasa penebusan Allah melepaskan kita
dari banyak kebodohan dan tipu daya dunia yang akan menghanyutkan kita dalam
kehidupan yang hanya berbuahkan penyesalan. Biarlah kemerdekaan Kristen
mengarahkan pandangan kita ke Sorga. Tetapi kemerdekaan dari jerat dunia tidak
menjadikan kita bersikap negatif terhadap ciptaan Allah. Kebalikan dari
diperbudak oleh dunia ialah dimampukan untuk menjadi tuan yang bijaksana atas
segala karunia Tuhan. Orang yang duniawi berpikir dengan meninggalkan Tuhan ia
dapat menikmati hidup, tetapi sebaliknyalah benar, hanya dengan mengutamakan
Tuhan kita baru betul-betul menikmati setiap karunia dalam dunia ini.

(3) Kuasa penebusan
Allah memampukan kita untuk menghadapi setiap situasi hidup kita yang tidak
menentu ini dengan berkemenangan, dan bukannya menjadi korban situasi dan
lingkungan yang seringkali sangat kejam. Dengan bersandar kepada Tuhan yang
memberi kekuatan kepada kita, kita dapat menghadapi apa saja yang menghadang
kita (Flp 4:13): tidak dihanyutkan oleh kelimpahan dan tidak dihempaskan oleh
kesulitan; dan dapat bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu, dan tahu bahwa
segala sesuatu yang terjadi hanya akan mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm
8:28)

(4) Kuasa penebusan
Allah merubah kehidupan kita dari kehidupan yang rusak menjadi kehidupan yang
penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh 1:17). Gabungan kedua hal ini dalam diri
kita akan menghasilkan kehidupan terindah. Inilah teladan Tuhan Yesus. Biarlah
orang lain melihat dapat keindahan Kristus yang hidup dalam diri kita: suatu
kehidupan yang menarik sebagai alternatif bagi dunia yang kecut, membusuk dan
kejam.

Dalam kehidupan Gereja,
mungkin sekali terjadi bahwa kita saling melukai dan berlaku sangat kejam satu
sama lain. Biarlah kita tidak menjadi orang Kristen yang kaku, keras dan tanpa
belas kasihan; juga tidak menjadi orang Kristen mengabaikan kebenaran dan
membolehkan apa saja. Kasih karunia dan kebenaran adalah dua hal yang tidak
terpisahkan. Kasih karunia tanpa kebenaran bukanlah ka­ih karunia, melainkan
sentimentil yang menjijikkan; dan kebenaran tanpa kasih karunia bukanlah
kebenaran, melainkan farisiisme yang kejam. Dua macam kegagalan ini selalu
terjadi dalam gereja. Biar­lah oleh kuasa penebusan Allah, kita dijadikan orang
Kristen yang bertulangkan kebenaran (teguh, tegas, dan tanpa kompromi dalam hal
kebenaran), tetapi sekaligus memiliki hati dan daging yang penuh kasih karunia
yang berasal dari kasih Kristus. Tetapi siapakah yang telah mencapainya?
Keseimbangan ini bukan sifat alamiah kita, tetapi kita dipanggil untuk menuju
ke situ. Dan keseimbangan kasih karunia dan kebenaran ini baru kita terbentuk
di dalam diri kita, ketika kuasa penebusan Allah memperbaharui kita. Amin.

Immanuel

Nats: :
Yohanes 14:18-20

Ketika Tuhan
memberitahukan kepergianNya, semua murid merasa ketakutan karena posisi mereka
sangat critical (kritis). Seperti anak yang hendak ditinggal oleh
orangtuanya. Dalam kehidupan pelayanan bersamaNya selama 3,5 tahun, keadaan
secara fenomena manusia bukan semakin nyaman melainkan tegang walaupun
merupakan wadah rohani terindah. Padahal pertama kali mengikutiNya, mereka
melihat sepertinya semua baik dan indah.

Tapi makin Tuhan
berbuat kebaikan, mengadakan mukjizat, mengajar, menegur kehidupan dosa serta
mengajak bertobat, orang Farisi dan ahli Taurat semakin benci dan marah.
Puncaknya yaitu ketika Ia membangkitkan Lazarus. Mereka langsung menyatakan
perang dan Ia harus mati. Semua tercatat di Yoh 1 – 11.

Para murid mulai
bertanya-tanya siapa yang akan menang jikalau Tuhan harus berperang melawan
ahli Taurat dan orang Farisi serta pemerintah Romawi. Tapi kenyataan justru
terbalik dan mereka harus berhadapan dengan kekuatan besar.

Di tengah situasi
seperti itu, Tuhan hendak memberi comfort (penghiburan) dan kekuatan
untuk menyadari bahwa realita tak sesederhana yang mereka lihat. Terkadang
manusia berpikir hanya dalam keterbatasan otaknya serta yang dunia bicarakan
dan ajarkan. Inilah kefatalan dalam iman Kristen dan kegagalan menerobos beyond
(melampaui) realita dunia.

Kekristenan tak diajar
untuk terkunci pada segala yang terjadi di sekeliling. Secara manusia memang
wajar tapi kondisi tersebut tak sesuai kehendak Tuhan. Ia ingin umatNya
menerobos keluar sehingga tak terjebak fenomena empiris sebatas panca indera
dan logika. Maka dalam Yoh 14:18-20 terdapat beberapa hal dapat dipelajari:

Pertama, Tuhan mengajak
umatNya kembali mengingat akan Imanuel (Allah menyertai kita).

Sesungguhnya, 600 tahun sebelum Ia datang ke dunia, Yesaya telah mendapat
nubuat bahwa kelak akan lahir Sang Juruselamat yaitu Imanuel. Malaikat juga
memberitahukannya pada Yusuf (Mat 1:20-24).

Banyak orang Kristen
mengerti “Allah menyertai kita” dalam konteks seperti Tuhan beserta para
murid tiap hari muka dengan muka, makan, memberitakan Injil dsb bersama.
Meskipun harus pergi, dalam Yoh 14:18 Ia berjanji, “Aku tidak akan
meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.”
Dengan demikian, prinsip God of
Immanuel
tak berhenti pada indera penglihatan, fenomena dan materi. Ia
pasti menjaga umatNya selamanya dalam seluruh keberadaan secara materi maupun
spiritual. Inilah prospek yang dinyatakanNya dengan 2 terobosan langsung atau
pandangan ke depan:

(1)”Aku datang kembali
kepadamu.”

(Yoh 14:18) KepergianNya akan membawa kembali penyertaan hidup yang takkan
pernah dilepas. Itulah pertama kali kebangkitanNya diberitakan sebelum Ia
sungguh bangkit. Setelah kebangkitanNya, dalam ruang tertutup Ia datang dan berkata,
“Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19) Dengan demikian, kebangkitanNya
merupakan bukti penyertaan pertama.

(2)Setelah itu, Ia harus
naik ke Surga. Sebelumnya, Ia menyuruh para murid menunggu di Yerusalem karena
Roh Kudus akan turun ke atas mereka dan memberi kuasa untuk bersaksi hingga ke
Yudea, Samaria dan ujung bumi (Kis 1:4-5, 8). Banyak orang beranggapan bahwa
yang dimaksud “kuasa” ialah otoritas. Padahal sesungguhnya yaitu
kekuatan penginjilan yang mampu mengalahkan Setan. Dalam berita terakhirNya, Ia
memberi amanat agung yang tercatat di Mat 28:19-20.

Di jaman sekarang,
orang Kristen juga menghadapi tantangan dan menjalani kehidupan iman yang sama.
Ketika situasi aman dan segala terjamin, kebanyakan orang takkan berpikir
tentang yatim piatu. Tapi ketika encounter moment tiba, orang
dunia tak tahu pada siapa ia bersandar paling kokoh. Seperti anak yang hidup
nyaman tanpa tantangan, takkan berpikir membutuhkan orangtua. Tapi ketika
ancaman, kesulitan dan penderitaan terjadi, ia mulai bingung mencari
pertolongan mereka. Jikalau tak mendapat jawaban maka saat itu jadi sangat
mencekam dan ia mulai frightened (takut), dan lonely karena
merasa tak ada yang memelihara, melindungi serta memperhatikan. Demikian pula
bayi akan trauma jika tak ada orang yang mendekatinya. Setelah itu, ia jadi
acuh tak acuh dan tak takut apapun bahkan siapapun. Selanjutnya, ia tumbuh jadi
pemberontak. Di Eropa, orangtua sangat membanggakan anak yang supermandiri.
Padahal sikap tersebut merupakan bukti ia trauma hingga tak mau berelasi.
Itulah orang humanis murni. Ia beranggapan tak seorang pun dapat diharapkan dan
diandalkan. Maka ia berjuang keras sendirian karena menganggap diri sangat tough.
Ketika putus asa, yang dipikirkannya hanya bunuh diri. Tak heran banyak anak
remaja yang suicide.

Kondisi nyaman juga
dapat membuat manusia merasa tak butuh Tuhan. Tapi ketika berada dalam kondisi
terjepit dan sangat susah, ia baru memanggil Tuhan. Jikalau tak ada jawaban
maka that’s the most terrible condition (kondisi paling menakutkan)
sepanjang hidup. Namun Ia tak seperti itu. Ia tak pernah mengecewakan.
Sebenarnya, kehidupan paling nyaman bukan ketika dapat berbuat dan mengatur
apapun sekehendak hati. Sebaliknya, hidup semacam itu paling susah karena tak
tahu rencananya akan berjalan atau tidak. Hidup nyaman justru ketika tunduk
perintahNya karena Ia janji akan memimpin sekaligus memberi jaminan kepastian.
Tindakan tersebut bukan sekedar kerelaan hati melainkan atribusi dan statusNya.
Kesulitan, penderitaan dan pergumulan terkurangi dengan kembali bersandar
kepadaNya.

Kedua, dalam Yoh 14:19
dengan 2 perbandingan, Tuhan mengatakan, “Tinggal sesaat lagi dan dunia
tidak akan melihat Aku lagi.”
Hingga saat itu, para murid masih hidup di
realita pertama sehingga hanya dapat melihat di wilayah material. Padahal ada
realita kedua, “tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan
hidup.”
Ayat tersebut merupakan ke­kuat­an sekaligus evaluasi tiap orang
percaya.

Hingga di bagian
tertentu, perspektif Kristen dan dunia mungkin sama tapi di bagian lain beda
total. Hidup melampaui materi. Mati berarti unsur hidup berhenti lalu diproses
terbalik. Semua yang di alam semesta pasti berproses. Mahluk hidup mengalami
pembaharuan sedangkan benda mati proses pengrusakan pelan tapi pasti. Berarti,
tiap benda mati tak statis melainkan pasif. Tapi mahluk hidup takkan membiarkan
diri rusak melainkan terus berubah dan bertumbuh. Sel rusak akan langsung
diganti yang baru. Kalau tak demikian, berarti sudah dekat kematian.

Alkitab mengatakan
bahwa realita hidup terpecah menjadi 2: (1)realita dalam kematian, (2)realita
dalam kehidupan. Keduanya tak dapat diperspektifkan sama. Perspektif realita
kematian berhenti hanya pada aspek materi dan terkunci di wilayah dunia.
Padahal dalam hidup, manusia dapat memikirkan sesuatu yang tak di depan mata
tapi riil. Contoh, suami yang berada jauh dari rumah selama beberapa minggu,
dapat merasa kangen pada istri dan anaknya karena hidup mereka berelasi personal.
Relasi tersebut melampaui ruang, waktu dan batasan indera manusia. Kalau tak
demikian, berarti orang tersebut sebenarnya sudah mati walaupun masih hidup.

Alkitab mengajarkan
untuk memandang secara iman. Sebenarnya Tuhan sanggup terus menyertai para
murid di dunia karena kematian tak dapat merenggutNya. Ia mampu memberitakan
Injil dari Yudea, Samaria hingga ke ujung bumi selama bertahun-tahun sampai
saat ini sekalipun. Tapi Ia malah pergi karena tak mau mereka terikat olehNya
dengan batasan inderawi. Suatu saat semua orang percaya akan berelasi denganNya
bukan sebatas materi melainkan relasi yang bersifat hidup.

Orang Kristen yang
sadar bahwa dirinya ialah mahluk hidup, takkan mau dikunci oleh dunia materi.
Apalagi dalam Yoh 14:19 dikatakan bahwa tiap orang yang sudah dalam Tuhan
secara rohani akan tetap hidup agar dapat berelasi dengan Kristus secara personal.
Itulah jaminan iman Kristen.

Banyak agama
merelasikan Allah dan manusia sebatas hukum dan aturan. Kierkegaard menekankan
relasi tersebut dalam ajaran eksistensialisme. Nietzsche juga seorang
eksistensial sejati tapi aspek rohaninya sangat berbeda dengan Kirkegaard yang
berpikiran bagaimana ia secara pribadi berhadapan dengan Allah sendiri sehingga
terjadi personal encounter (pertemuan pribadi) antara keduanya yang
hidup.

Kehidupan Gereja tak
boleh lepas dari unsur hidup. Pelayanannya juga bukan sekedar activity
melainkan hubungan denganNya. Jadi, orang Kristen melayani bukan karena
kesediaannya melainkan Tuhan memintanya sehingga ia harus merelakan diri
mengerjakannya dengan sungguh. Keinginannya belum tentu sama dengan
kehendakNya. Itulah konflik kepentingan yang perlu selalu digumulkan. Ia
hendaknya mengerti isi hati Allah dan menjalankannya. Inilah hubungan pribadi
dan hidup dalam persekutuan denganNya.

Ketiga, “Pada waktu
itulah
(saat kebangkitan Kristus) kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam
BapaKu dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
(Yoh 14:20) Dengan
demikian Kristus jadi mediator sehingga hubungan Allah dan manusia tak lagi
jauh. Inilah mistical union yang pertama kali diungkap dalam exclusive
teaching of Christ
. Dengan semua orang, Ia berhubungan secara dunia. Tapi
hanya dengan umat pilihanNya, Ia bersekutu secara essensial dan sangat dekat.
Istilah mistical union (kesatuan mistik) tak boleh dimengerti secara
duniawi. Dalam pengertian Theology, istilah tersebut berarti hubungan
supranatural unik antara Allah kekal dalam rupa Roh dengan manusia yang
sementara karena terdiri dari tubuh dan roh.

Dalam konsep agama,
yang terjadi malah penyamaan natur. Contohnya, New Age berpendapat bahwa
manusia sebenarnya ialah allah. Tubuh yang terlihat hanyalah semu. Aslinya,
tiap orang merupakan bagian universal power/mind. Dengan kondisi
demikian barulah manusia dan Allah dapat bersekutu. Konsep tersebut logis tapi
salah karena terjadi pengrusakan natur dan penyelewengan yang membuat manusia
tak kenal diri sendiri. 

Kunci pengertian
tersebut tak boleh lepas dari konsep Imago Dei yaitu manusia dicipta menurut
gambar dan rupa Allah (Kej 1:27). Dalam Rm 8:29 baru dijelaskan bahwa manusia
dicipta serupa gambaran AnakNya. Maka Kristus jadi pattern (model)
manusia meskipun beda kualitas. Lalu kemungkinan persekutuan Kristus dan
umatNya dikatakan, “menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

Relasi tersebut
berimplikasi bahwa iman Kristen tak mengapung di atas realita dunia. Maka orang
Kristen bersatu dengan Kristus bukan hanya ketika merenung, meditasi, kebaktian
atau berada dalam nuansa rohani di Gereja. Konsep Kristen sejati tak membatasi
seperti itu. Total life orang Kristen sesungguhnya ialah hubungannya
dengan Tuhan. Amin.

Roh Kudus & Pengajaran Iman

Nats: :
Yohanes 14:25-26

Pentakosta merupakan
kekuatan besar dan indah dalam kehidupan orang percaya di tengah jaman yang
semakin gelap. Dalam perjalanan sejarah, dunia makin menjadi postmodern
yang relativistik, skeptik dan agnostik karena pada hakekatnya manusia telah
mencapai titik dimana ia mulai kecewa serta putus asa khususnya ketika hendak
mengerti kebenaran, melakukan pertimbangan dengan tepat, mengambil keputusan
dan hidup secara benar. Ketika ia meyakini sesuatu itu benar, suatu saat
terbukti anggapannya salah.

Karl Popper, filsuf science,
pernah menekankan bahwa dunia terus berteori dan tiap teori hanya menunggu
kejatuhannya. Tapi manusia tak boleh berhenti berteori karena sangat
diperlukan. Akhirnya muncullah falsification (false = salah)
dimana tiap orang hanya melempar teori termasuk science. Contohnya, dulu
selama ribuan tahun, teori geosentris (oleh Ptolemeus) dipercaya benar. Suatu
saat Galileo menumbangkannya dengan teori heliosentris yang kemudian didukung
oleh Copernicus. Padahal juga belum tentu benar. Contoh lain, dulu orang juga
percaya pada teori Newton. Sekarang, teori tersebut dianggap kuno dan tak
akurat. Sebagai gantinya, muncullah teori relativitas oleh Einstein. Maka
terjadilah pergeseran paradigma. Ilustrasinya, teori falsifikasi diibaratkan
seperti segenggam jagung dilempar ke tengah sekumpulan ayam. O­rang yang
melemparkannya tinggal menunggu jagung tersebut habis. Setelah itu, dilemparkan
lagi segenggam jagung dan seterusnya. Selain Karl Popper, ada filsuf science
lain yang juga sangat terkenal yaitu Thomas Kuhn. Ia berpendapat bahwa dunia science
menjadi sekedar permainan pergeseran paradigma. Sebenarnya dengan segala macam
teori, dunia hanya ingin mencapai kebenaran asasi.

Di dunia, manusia
masuk ke dalam ketegangan dimana sifat skeptisisme dan pragmatisme mulai
meracuni hingga tak seorangpun berhak menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa
pegangan hidupnya benar. Abad 21 sungguh mendapat warisan postmodern system
dari abad 20 yang mirip gerakan sophies di jaman filsafat Yunani kuno.
Dalam gerakan tersebut juga tiap hari ada orang berteori baru hingga dibentuk
teater khusus yaitu aeropagus. Paulus pernah mengajar Kekristenan di
sana. Bahkan 200 tahun sebelum Tuhan lahir ke dunia, skeptisisme, agnostik dan
relativisme telah merajalela. Harus disadari bahwa masalah tersebut memang tak
dapat diselesaikan selamanya.

Sesungguhnya dunia
mendapat conviction (keyakinan) akan kebenaran hanya dari Kristus (Yoh
18:37). Ironisnya, ketika berhadapan denganNya, Pilatus dengan sinis langsung
jawab, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh 18:38a) Sebenarnya ia tak bermaksud
bertanya melainkan justru tak mau tahu tentang kebenaran. Ayat 38b mencatat
bahwa setelah itu ia langsung keluar.

Semakin mau belajar,
dunia makin jatuh ke dalam skeptisisme karena ketika mencari kebenaran, mereka
malah melupakan, menolak dan tak berusaha menemukan sumbernya terlebih dulu
yaitu Allah. Padahal semakin pandai, seharusnya makin sadar sedang bermain
dengan kebenaran palsu. Inilah gejala ironik yang fatal dalam dunia akademis
modern. Itu pula titik pertama mereka membodohi diri sendiri karena mengabaikan
Ams 1:7. 

Secara signifikan,
orang yang bukan anak Tuhan sejati takkan memiliki Roh Kudus dalam dirinya.
Tuhan pernah berdoa, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa,
tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu.”
(Yoh 17:9)

Pengajaran Kristus
sesungguhnya terdiri dari 3 level berdasarkan cara Ia mengajarkannya yang
berbeda dengan kebanyakan guru: (1)general teaching (pengajaran umum).
Seringkali Ia menggunakan cerita dan perumpamaan tanpa penjelasan lebih jauh
apalagi doktrin penting karena didengar oleh banyak orang. Pengajaran tersebut
bersifat sangat dasar. (2)extensial teaching. Pengajaran tersebut diberikan
pada kelompok kecil terdiri dari mereka yang berkomitmen kepadaNya. Mereka
biasanya bertanya dan minta penjelasan yang tak diperoleh dalam general
teaching
. Contohnya tercatat di Mat 13. Dan mereka mampu mengerti karena
telah mendapat anugerah (Mat 13:10-13). Namun Ia tetap tak membuka beberapa
bagian. (3)exclusive teaching. Pengajaran tersebut hanya bagi murid
sejati. Jikalau didengar oleh murid palsu, ia takkan mampu mengerti. Sebaliknya
malah memanipulasi dan menyesatkannya.

Banyak orang Kristen
berpikir bahwa Roh Kudus akan membuat hal spektakuler. Padahal itu bukan
misiNya. Kalau sekedar mukjizat dsb, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian
Baru sebelum Roh Kudus turun, semua dapat dikerjakan. Banyak juga yang
menyalahgunakan dengan menyatakan bahwa Ia menyebabkan kesurupan. Pengertian
tentang Ia tinggal dalam diri anak Tuhan memang sulit dimengerti sebelum
terjadi pertobatan. Cara kerjaNya tentu beda dengan Setan yang suka menguasai
dan merasuk orang hingga tak sadar sedangkan Ia memimpin. Beberapa Gereja rusak
karena mengatasnamakan pekerjaan Setan sebagai karyaNya. Contoh, ketawa sambil
berguling-guling tiada henti bahkan berhari-hari.

Pekerjaan Roh Kudus
membuat orang Kristen berada dalam Tuhan. Inilah the main point. Yoh
14:25-26 menunjukkan bahwa pengertian tentang Dia harus dikoneksikan dengan
pusatNya yaitu Kristus. Selain itu juga dijelaskan bahwa Ia memiliki 2 tugas di
dunia, “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan
mengingatkan kamu akan semua yang telah
(Kristus)
Kukatakan kepadamu
.” Ia takkan pernah mengajar dari DiriNya
karena Kristuslah Firman yang berinkarnasi (Yoh 16:13-15). Maka jikalau ada
yang mengatakan bahwa Ia memberi ajaran baru yang bertentangan dengan Kristus,
itu pasti pekerjaan Setan. Dengan demikian, signifikansi hari Pentakosta antara
lain:   

Pertama, peranan Roh Kudus
dalam pengajaran iman, kebenaran dan prinsip Firman
. Di dunia, Roh Kudus
berposisi sebagai pengganti Kristus setelah kenaikanNya. Maka Ia menjadi sumber
kebenaran dalam diri orang percaya. Inilah anugerah pertama terbesar dan
terutama. Betapa bahagia anak Tuhan yang dididik dengan ketajaman pengertian
karena sumber kebenaran telah jadi bagian hidupnya. Berbahagialah orang yang
takluk dan tunduk kepada Allah. Realita tersebut tak dapat dimengerti dengan
logika apalagi perasaan. Tanpa semua itu, orang berani menaikkan diri melampaui
segalanya, melakukan dan mengatakan apapun.

Roh Kudus takkan
berbagi dengan kegelapan. Prinsip kebenaran timbul dalam hidup orang Kristen
karena Ia mulai mencerahkan pikirannya. Untuk itu, takkan ada gejala aneh.
Memang Alkitab mencatat 4 tanda turunnya Roh Kudus yaitu di Yerusalem, Yudea,
Samaria dan ujung bumi. Setelah itu, takkan pernah terjadi lagi. Di Yerusalem,
Ia turun dalam rupa lidah api ke atas kepala para rasul agar semua orang
mengetahui penggenapan janjiNya. Lalu mereka langsung berkhotbah dalam bahasa
Yahudi tapi terdengar dalam 14 bahasa (Kis 2:1-13). Akibatnya, 3000 orang
bertobat. Namun intinya bukan pada lidah api melainkan adanya perubahan
internal.

Ketika belum bertobat,
Paulus menganggap diri paling pandai dan benar. IQnya memang sangat tinggi dan
tahu segala pengetahuan seperti Taurat, filsafat Yunani dan Yahudi. Tapi
setelah pertobatan, ia mengaku bodoh karena tak mengerti bahwa kebenaran sejati
justru berada dalam Kristus sehingga tega membunuh para murid.

Kedua, pekerjaan Roh
Kudus memimpin dan mencerahkan pengertian interpretasi orang Kristen tentang
kebenaran.
Ketika Tuhan mengajar, tak semuanya dapat segera dimengerti
karena tak mudah menangkap terobosan pemikiran melampaui logika. Contoh, Yoh
14:1-14. Namun suatu hari Roh Kudus pasti membuat mereka mengerti maksud Tuhan.
Orang Kristen cenderung lebih suka iman yang sesuai logika. Padahal bagian
tertinggi Alkitab justru sangat tajam dan teliti hingga melampaui pemikiran.
Maka diperlukan interpretasi realita yang tepat. Dan itu di luar kuasa manusia.
Ironisnya, mereka seringkali take it for granted.

Ketiga, Roh Kudus
mengingatkan orang Kristen akan segala perkataan Kristus atau Firman yang
sangat solid.
Hanya mereka yang lahir baru dan mendapat pembasuhan darahNya
boleh menikmati anugerah tersebut. Ia mencelikkan dan menginsafkan dunia akan
dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:7-11). Ia takkan membiarkan umat Allah
bermain dengan dosa. TanpaNya, manusia dengan tenang berbuat dosa mengikuti
bisikan Setan. Ketika diingatkan, ia malah marah dan melawan.

Selain mengingatkan,
Ia juga memberitahukan kebenaran yang seharusnya dijalankan. Ia memimpin anak
Tuhan masuk ke dalam righteousness (kebenaran berproses) dan bukan truth
(kebenaran azasi). Hanya Kristuslah the Truth sedangkan manusia masih
harus diproses dalam kebenaran.

Kadangkala orang
Kristen enggan membaca Alkitab dengan sungguh. Padahal Roh menyatakan Diri
melalui Firman. Semua yang pernah dikatakan sebelumnya pasti digenapi. Alkitab
mencatat mulai dari dunia dicipta hingga kesudahannya, atau dari alpha
menuju omega point. Dengan kata lain, Firman menyatakan totality
sejarah manusia.

Orang Kristen
seharusnya membaca Alkitab mulai dari bagian awal hingga terakhir berulang kali
namun tak perlu dihafalkan. Dengan demikian, ia dapat mengalami Roh Kudus yang
senantiasa mengingatkan dan menguatkannya. Di tengah kondisi sulit, tiba-tiba
Firman muncul kembali dalam ingatan meskipun ayatnya tak hafal. Ketika
mendengar ajaran sesat, Firman langsung menyadarkannya. Sedangkan ketika tak
ada masalah, Firman yang pernah dibaca sepertinya mengendap dalam pikiran.

Roh Kudus juga
mengingatkan adanya keadilan mutlak dari Tuhan. Penghakiman yang tercatat di
Yoh 16:11 sangat positif. Orang Kristen seharusnya menyadari bahwa penghakiman
pasti datang. Jadi, ketika difitnah atau diperlakukan secara tak adil, ia
sebaiknya tenang dan tak membantah karena Roh Kudus mengetahui perbuatan dan
pikirannya. Karena orang lain tak tahu motivasinya hingga timbul rasa tak
percaya maka penjelasan tak berguna sama sekali. Makin bereaksi menunjukkan Roh
Kudus tak ada dalam dirinya hingga ia merasa ketakutan. Padahal ketika anak
Tuhan dipermainkan maka itu menjadi urusan Allah.

Selain itu,
penghakiman juga dapat berkonotasi negatif. Ketika berdosa, orang Kristen pasti
menerima hukuman karena Roh penghakiman tinggal dalam dirinya. Ia berusaha
menghalanginya berbuat dosa. Orang lain dapat dikelabui tapi Roh Kudus tidak.

Jadi, penghakiman
seharusnya membuat orang Kristen lebih tenang dalam pelayanan. Roh Kudus
merupakan kekuatan untuk melangkah dan tetap hidup dalam terang di tengah dunia
yang makin gelap. Di dunia yang skeptik, ia telah memiliki kebenaran pasti.
Ketika dunia bingung dengan segala keputusan hidup, ia dengan tenang dapat
minta pimpinanNya yang tak mungkin salah. Amin.

Dosa & Keselamatan

Nats: Roma 3: 23-24

Di dunia modern,
ketika orang belajar banyak pengetahuan, mendalami realita dan berjuang dengan
biaya research sangat besar, justru masih ada yang terlewat. Alkitab
dengan tegas dan jelas membukakan realita yang exclusive yaitu, “Semua
orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
(Rm 3:23) Statement
Paulus tersebut seringkali bukan dimengerti sebagai realita yang seharusnya
diterima tapi justru ditolak oleh banyak orang. Padahal pernyataan itu bukan
tuduhan yang dibangun dengan fanatisme. Ia membangun argumentasi dengan sangat
teliti mulai dari konsep general (umum) mengenai dosa dalam Rm 1 hingga
Rm 3:20 agar manusia akhirnya sadar.

Dalam Rm 1 Paulus
menegaskan 2 statement terpenting mengenai realita hidup yaitu 
bahwa dunia sedang dikuasai oleh kondisi fasik dan lalim. Fasik ialah sikap
sengaja melawan Allah bukan karena tak tahu akan keberadaanNya. Ketika diajar
tentang Dia, dalam hati manusia selalu timbul sensus divinitas yaitu perasaan
atau kesadaran bahwa ada penguasa lebih besar dari dirinya. Setelah mati atau
berbuat kejahatan, ia harus berhadapan dengan pengadilanNya. Ia sangat
tergantung kepadaNya. Kekristenan di Indonesia menyebutNya Allah sedangkan
agama atau bangsa lain memakai nama berbeda. Namun yang terpenting bukan
istilah melainkan personifikasi atau konsepnya mengacu pada yang lebih tinggi
dari manusia.

Sensus divinitas bukan
semakin dikembangkan tapi justru makin ditekan karena essensi dosa mencengkeram
hingga manusia sengaja memberontak dan tak mau tunduk pada otoritas di atasnya.
Ia menyatakan dirinya tertinggi maka yang lain harus tunduk. Inilah essensi dosa
yang pertama yaitu sengaja menolak dan tak menghormati Allah. Ia makin dewasa
semakin keras dan otoritatif hingga ingin selalu jadi pemimpin. Jiwa semacam
itu tak baik karena sebenarnya ia yang relatif dan bisa salah tak berhak
memiliki otoritas tertinggi.

Lalim ialah sengaja
menentang kebenaran dan dengan segala dalih, cara, alasan mencoba mengalihkan,
membenarkan atau seolah boleh mentolerir. Manusia juga diberi konsep righteousness
(kebenaran keadilan) yang ditanam dalam hati. Maka tak ada pencuri yang tak
tahu bahwa tindakannya tak diperbolehkan.

Sejak lahir, bayi
langsung mampu menilai. Jangan berpikir ia tak mengerti hingga bisa dibohongi.
Ia mungkin lebih peka daripada orang dewasa. Ia bisa tiba-tiba mempertanyakan
soal keadilan. Tapi ketika memiliki pengertian, ia justru tak menjalankannya.
Ia juga sangat egois hingga selalu berusaha menutupi kesalahan sendiri. Padahal
ia tak pernah diajar berbohong. Tiba-tiba ia melakukan kesalahan. Setelah itu,
ia jadi malu dan ketakutan karena tahu akan menghadapi kesulitan. Tapi ketika
ditanya, ia berani menyangkal. Padahal kebohongan terlihat dari wajah dan
tingkah lakunya.

Dalam Rm 2 Paulus
mengargumentasikan bahwa tak ada toleransi atau alasan bagi o­rang Atheis yang
tak percaya akan adanya Allah sehingga ia berhak melawanNya lalu tak mau
mengaku dosa. Pengetahuan tentang keberadaanNya telah ditanam dalam hati
terlebih dulu. Jadi, bukan karena rasa ingin tahu manusia. Tapi pengetahuan
tersebut tak dikembangkan untuk mencari dan mengetahui Allah sejati.

Di Eropa, banyak orang
tak mau mengaku diri Atheis karena terlalu negatif. Sebagai gantinya, mereka
menggunakan istilah “free-thinkers” (pemikir bebas). Padahal konsep yang
dipikirkan muncul dari diri. Maka otoritas tertinggi di tangannya sendiri.
Mereka menolak keberadaanNya supaya bisa jadi allah. Mereka sebenarnya merasa
terancam dengan adanya Oknum di atas yang kelak mengadili. Inilah penyataan
Nietzsche, filsuf abad 20 awal. Ia juga menyatakan telah membunuh Allah (the
Death of God Theology
). Itulah thesisnya dalam buku “Ecce Homo
dan “Thus Spake Zarathustra” yang sangat disukai di seluruh dunia karena
mewakili kesenangan mereka.

Paulus mengatakan
bahwa ketika manusia tak mau memikirkan Allah, keberadaanNya bukan menjadi tak
ada. Ia tetap exists. Sesuatu bersifat faktual atau realita sejati tak
mungkin diadakan atau ditiadakan oleh pikiran orang. Contoh, seseorang dengan
susah hati terus memikirkan anaknya yang telah mati. Walaupun demikian, anak
itu takkan hidup kembali. New Age Movement justru mencampurkan virtual
(ilusi) dan reality.

Paulus juga mengatakan
bahwa ketika manusia melawan kebenaran Allah, hatinya tetap tak dapat ditipu
dan akan terus membisikkan Dia ada. Konon ada cerita tentang pemimpin komunis
yang ketika mendekati ajal, tiba-tiba dengan gentar mengatakan bahwa ia harus
menghadap Tuhan. Pa­dahal seumur hidup ia tak pernah memikirkanNya. Saat itu ia
harus berhadapan dengan momen eksistensial. Ia mulai sadar bahwa realita tak
mungkin dipungkiri. Alkitab mengatakan suatu saat semua orang harus bertekuk
lutut dan tundukkan kepala lalu mengaku bahwa Yesus Kristus ialah Tuhan, entah
dengan ucapan syukur atau ketakutan.

Dalam Rm 3 bagian
awal, Paulus berargumen tentang mereka yang percaya pada tuhan tapi bukan Tuhan
Yesus. Allah yang dipercaya masih belum jelas. Ia mengatakan bahwa percaya
kepadaNya belum tentu tak berdosa karena essensi dosa tak tergantung pada
kepercayaan. Banyak orang berpikir kepercayaan menyelesaikan dosa. Orang Reformed
juga seringkali beranggapan bahwa yang penting ialah percaya kepadaNya sehingga
dosa takkan mengganggu jaminan masuk ke Surga. Padahal cara berpikir semacam
itu malah membawanya ke Neraka. Dalam Rm 6:23 Paulus mengatakan upah dosa ialah
maut. Maka fakta dosa harus dimengerti dengan tepat oleh tiap orang termasuk yang
beragama. Realita tersebut tak boleh diabaikan karena memang tak dapat
dilepaskan dari hidup di dunia.

Konsep beragama dan
iman sejati sangat berbeda. Ada orang dengan sesuka hati memilih agama yang
menguntungkan dan dapat memenuhi keinginan pribadi. Ini teori bisnis. Kalau
selama mengikut tuhan yang dipilih, dirasa tak mendapat banyak berkat atau
malah merugikan maka ia segera cari penggantinya. Sebenarnya yang dicari ialah
pembantu supranatural. Seharusnya Tuhanlah yang berdaulat memerintah dan mengatur
manusia. Sebagai ciptaan, ia harus taat dan menjalankan kehendakNya. Adapula
yang mempunyai konsep tuhan mudah disogok dan diajak dealing. Misalnya,
ketika diberi ayam putih seharga Rp 50.000,-, ia langsung memberi berkat
sebesar Rp 100.000,-.

Di dunia, banyak
konsep agama tak sejati karena menjadi refleksi atau cerminan keinginan
manusia. Inilah pemikiran Ludwig Feuerbach, filsuf Jerman yang sangat sinis
terhadap semua agama termasuk Kekristenan padahal backgroundnya juga
Kristen karena ia anak Pendeta namun akhirnya jadi Atheis. Sebelumnya, ia
berbeban dan dipanggilNya untuk menjadi Pendeta. Ia masuk ke sekolah Teologi
liberal. Tapi karena salah sekolah, imannya rusak. Ia berpendapat bahwa Tuhan
yang ada di dunia merupakan ciptaan manusia menurut gambar dan rupanya sendiri.
Jadi, bukan manusia diciptakanNya oleh Allah menurut gambar dan rupaNya. Maka
tak ada guna percaya kepadaNya. Orang dunia pada hakekatnya seringkali
berkonsep demikian. Ada anak remaja berpendapat Ia kejam karena di Perjanjian
Lama dikisahkan sekian banyak orang, baik pria, wanita dan anak-anak yang
melawanNya langsung dibunuh. Allah seharusnya penuh cinta kasih dan tak boleh
marah. Selain itu, Ia semestinya tua dan bijaksana, memiliki rambut serta
janggut panjang dan putih.

Di dunia telah muncul
keterbalikan konsep agama. Maka Paulus berpendapat bahwa semakin manusia taat
beragama, ia makin berdosa karena menciptakan tuhannya sendiri dan menolak
Tuhan sejati. Kesimpulannya tercatat di Rm 3:23. Ironisnya, di jaman sekarang
banyak orang merasa diri baik. Seharusnya mereka menyadari diri berdosa hingga
tak ada jalan keluar selain berhadapan dengan murka Allah. Tak ada usaha yang
dapat dilakukan untuk kembali ke jalurNya. Berita tersebut tak disukai karena
membuat tertekan dan tegang. Maka dunia lebih suka narkoba. Dengan demikian,
mereka dapat melupakan kesulitan hidup. Tapi hanya sementara. Kalau overdosis
maka langsung pergi ke Neraka.

Baca Juga  Khotbah Ibadah Oikumene "Supaya Mereka Semua Menjadi Satu"

Iman Kristen
mengabarkan bahwa Tuhan membuka jalan, “oleh kasih karunia (anugerah
Allah) telah dibenarkan (memperoleh keselamatan) dengan cuma-cuma
karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
(Rm 3:24) Paulus berani menulis
kalimat tersebut berdasarkan pengalaman hidupnya. Di Yoh 3:16 dicatat, “Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan
AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Hutang tak mungkin mendadak lunas
kecuali orang lain bersedia menggantinya. Ketika hutang makin besar tapi ia
semakin bangkrut maka tak mungkin mampu melunasinya. Demikian pula dengan dosa.
Namun tak seorangpun rela berkorban menanggung beban orang lain kecuali ia
sangat mencintainya. Apalagi hutang nyawa. PenebusanNya sangat tuntas dan
merupakan pembayaran termahal bagi jemaatNya meskipun sesungguhnya tak ada
tuntutan dan keharusan untuk itu. Seharusnya, Ia menghukum seluruh umat
manusia.

Alkitab menyatakan
bahwa Allah menghendaki manusia bertobat dengan sungguh dan Ia dikembalikan
pada posisi yang seharusnya dalam hatinya. Inilah yang menjamin ketika selesai
dengan perjalanan sejarah, umatNya takkan dibuang melainkan kembali bersama
Dia. Maka kebahagiaan sejati yaitu ketika hidup dalam pimpinanNya. Ia
senantiasa memelihara umatNya sehingga tak terus menerus terjebak dosa. Itulah kehidupan
terindah. Tapi orang yang hidup menurut keinginan sendiri, setelah selesai pun
Ia melepaskannya karena tak pernah bersekutu denganNya. Tuhan yang mengasihi
juga adil. Ia menyediakan Surga sekaligus Neraka. Amin.

Mengikut Yesus

Nats: Mrk
10:17-31

Tindakan ‘meminta’
jadi biasa, sejak kecil sampai mati, mulai dari minta makan dengan bahasa
tangisan hingga meninggalkan pesan: ‘Kalau mati, dibakar saja supaya tak
merepotkan.’ Ada beragam cara dan bentuk permintaan. Hidup akan jadi kaku dan
dingin tanpa relasi tersebut. Sepanjang hidup, ia terlatih meminta. Kalau cara
satu gagal, digunakan yang lain.

Permintaan kepada
Tuhan tak sekedar minta seperti pada orangtua, guru, dosen, polisi atau yang
berotoritas lebih kuat dimana sikap, perkataan dan mimik wajah harus diatur
sehingga berkenan, disertai dengan kesediaan hati untuk bayar harga. Tapi
manusia seringkali minta karena ada objek lebih tinggi.

Kepada Allah, ia
seringkali tak bersikap demikian melainkan malah lebih kurang ajar daripada
dengan orangtua. Ia mungkin minta dengan mengancam. Misal­nya, jikalau
permintaan tak dikabulkan atau sakit penyakit tak disembuhkan maka ia tak lagi
mau jadi Kristen apalagi mencariNya. Sebaliknya, Tuhan dipermalukan.

Padahal Allah lebih
hebat, besar, tinggi, kuat dan agung. Maka seharusnya sebelum masuk ke
baitkudusNya, jemaat harus membuka sepatu, seperti yang pernah diajarkan pada
Musa.         

Banyak orang pindah
dari Gereja karena minta kepadaNya sangat melelahkan dan harus sabar. Cara
berpikir seperti itu tak beda dengan orang kaya yang saleh di Mrk 10:17-27.
Mungkin ia cukup berumur, sekitar 40 tahun, sebab katanya di ayat 20, “Guru,
semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku
(+ 15-20 tahun).”
Pada usia 40 tahun, manusia mulai memikirkan sakit dan kematian. Usaha juga
harus mantap karena setelah masa tersebut takkan ada peluang lebih baik.

Tapi caranya tak beda
dengan para murid. Ia berkata, “Guru yang baik, apa yang harus
kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
(Mrk 10:17) Namun
Tuhan menjawab, “Mengapa kau kata­kan Aku baik? Tak seorang pun yang baik
selain daripada Allah saja.”
(ayat18) Artinya, Ia menegur sekaligus
membangun supaya orang tersebut tak basa-basi melainkan langsung mengatakan
keinginannya. Sebenarnya Ia mengetahui hatinya yang menganggap diri sendiri
baik lalu hendak mengadakan pengesahan. Tapi Ia tetap appreciate.

Ketika minta kepada
Tuhan, seharusnya tak boleh menganggapNya sebagai sumber otoritas. Jika tidak,
orang Kristen akan terus bermain drama karena kalau tak sesuai keinginanNya
maka Ia takkan mengabulkan. Padahal di Mat 6:8 Kristus mengatakan, “… Bapamu
mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.”
Maka di
ayat 6 tercatat, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu,
tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”

Selain itu juga tak
boleh beranggapan Tuhan memberi tanpa resiko. Ketika minta kendaraan, anak tak
memikirkan resiko. Juga tak terpikir andaikata harus beli dengan biaya sendiri.
Orangtua bijaksana akan menjelaskan bahwa bukan karena sudah lulus SMA ia harus
memperoleh SIM. Jikalau dikabulkan, ia harus menanggung resiko karena biaya
pemeliharaan dan perbaikan tak murah. Nilainya jadi tak sekedar harga beli
saja. Yesus mengatakan bahwa manusia boleh minta tapi sebelumnya harus
melakukan beberapa syarat (Mrk 10:19 & 21).  

Banyak Pendeta
menggunakan Mrk 10:21 untuk memeras orang kaya dan membuat mereka ketakutan.
Sesungguhnya ayat tersebut bukan untuk mereka melainkan orang yang merasa diri
kaya atau mampu.

Tak seorang pun boleh
menghina karena semua manusia sebenarnya kaya. Bahkan orang miskin pasti
memiliki nilai kekayaan tersendiri diekspresikan dalam bentuk barang. Dan juga
tak ada orang mau dihina sebab memiliki dignity/self-confidence yang
membuatnya survive. Kalau ada kesempatan, ia pasti membalas orang yang
menghinanya. Semakin merasa susah, ia makin menanamkan dalam diri bahwa masih
memiliki kemampuan. Maka banyak cerita mengisahkan tentang orang kaya yang awal
mulanya miskin sehingga harus melalui perjuangan berat. Tapi motivasi hanya
Tuhan yang tahu.

Permintaan harus
disertai reason (alasan) jelas, bukan untuk sekarang tapi kelak.
Seharusnya para murid langsung pandai setelah mendengar khotbah Yesus. Namun
mereka malah berpikir untuk gerakan yang masih baru, dibutuhkan orang kaya
semacam itu karena belum ada di kelompok Tuhan. Orang tersebut sangat saleh,
secara sosial terkenal dan financially kuat.

Isi hati para murid
tercatat di Mrk 10:28 dan lebih jelas lagi di Mat 19:27, “Kami ini telah
meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami
peroleh?”
Itu merupakan ungkapan kekecewaan mereka. Sesungguhnya inti
permasalahannya ialah perolehan yang mendorong mereka minta.

Biasanya orang tak
mempermasalahkan cara, entah mengelabui, merampas dll. Namun perikop tersebut
menekankan tujuan. Misalnya, untuk memperlengkapi diri hingga hidup lebih
nyaman atau menambah sesuatu yang sebenarnya telah ada. Namun yang kedua
membuat seseorang diperbudak oleh keinginannya sendiri. Maka ia tak boleh
berhenti hanya untuk sekedar fun karena itu berarti bermain dengan
dosa.     

Yesus tak menggugurkan
keinginan orang tersebut. Ia juga tak mengurungkan niat memberi hidup kekal
pada mereka yang minta. Ia sangat mengasihinya (Mrk 10:21). Tapi ia pergi karena
kecewa. Rupanya tak hanya orang kaya terhormat itu yang mengalami kendala dalam
menerima Kristus. Para murid juga demikian.

Problem Kingdom
terjadi sejak awal Injil ditulis untuk menunjukkan bahwa para nabi dan raja
terkecoh tentang Allah karena sifatNya tak sesuai pemikiran mereka. Padahal
Dialah Sang Penguasa dan Pencipta. Klimaksnya ketika Nabi Yesaya, Yeremia dan
Yehezkiel diutus untuk mengatakan bahwa mereka harus menyerahkan diri ke Babel
(Yer 25:11). Padahal saat itu mereka berjaya. Maka Yesaya dipasung sedangkan
Yeremia diikat lalu dimasukkan ke sumur karena terjadi konflik dalam pikiran
mereka. Berulangkali pula Yeremia mengalami konflik diri (Yer 20:7-18). Tapi
semua itu merupakan proses transforming dimana perubahan harus terjadi.
Predestinasi dan kedaulatanNya sulit dimengerti kecuali pernah mengalaminya.

Tuhan sangat mengerti
manusia. Maka Ia melayani pertanyaan seperti Mat 19:27. Seharusnya para murid
yang mengikutiNya selama 2,5 tahun tak boleh bertanya semacam itu sebab telah
menyaksikan keajaiban dan kehebatan Anak Allah. Semestinya mereka langsung
bersembah sujud dan mengucap syukur.

Petrus memang mantan
orang besar yaitu bandar ikan dengan 3 perahu. Ikan yang ditangkapnya adalah
kesukaan Kaisar. Ia juga yang tertua di antara para murid. Maka ia
representatif ketika bertanya seperti di Mat 19:27. Kenyataan tersebut
merupakan permainan emosi, motivasi dan logika bagi mereka.

Setelah mendengar
jawaban Yesus (Mrk 10:29-31), Petrus baru menyadari, bukan karena Tuhan dan
Injil ia meninggalkan semuanya. Kristus telah mengetahui bahwa kalkulasi masih
terlalu kuat dan erat mengikat pikiran mereka. Sehingga berpikir akan mendapat
posisi dan keuntungan. Konsep tersebut tak pernah berhenti hingga diselesaikan
oleh tulisan para Rasul.

Seringkali manusia
sulit memilih antara harta dan Yesus karena merasa masih hidup di dunia.
Penyebab utama sebenarnya ialah karena Injil membongkar dan membuat hidupnya
bertumbuh hingga timbul kerelaan untuk meninggalkan yang lama. Injil tak
menghukum melainkan sangat revolusioner (mengembalikan pada yang asli)
sekaligus memberitahukan berita yang sungguh membahagiakan tapi ia malah
ketakutan hingga tak mudah menerimanya. Di Mat 6:24 Ia menegaskan, “Kamu
tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Perikop tersebut
membicarakan prioritas.

Kemudian dilanjutkan, “Karena
itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu,…”
(Mat 6:25)
Kalau pengajaran tersebut berhenti hanya di ayat ini, berarti Kristen gagal
membangun kembali. Ayat tersebut sebenarnya mengatakan bahwa hendaklah rasa
kuatir diarahkan secara tepat. Maka kebenaran harus dicari terlebih dulu. Ia
tak menghapus perasaan tersebut melainkan membuat perbandingan (ayat 26-30)
untuk menunjukkan bahwa sebenarnya tak perlu kuatir berlebihan. Kekuatiran itu natural
karena mendorong manusia untuk mencari nafkah.

Para murid sebenarnya
juga ragu menerima Tuhan karena lebih miskin daripada Yohanes Pembaptis yang
berkharisma dan masih termasuk keturunan imam besar Zakaria. Kebanyakan
pengikut Yohanes ialah soldiers. Tapi ia  mati muda karena dimusuhi
banyak orang. Sedangkan Yesus hanyalah keturunan tukang kayu dari Nazaret.Padahal
Dialah Mesias. KehadiranNya secara fisik dan fenomenal sangat meragukan (Yes
53:2-3). Tapi ketika mendekati, mendengar serta memperhatikan Firman dan
kebesaran jiwaNya, manusia takkan ragu lagi untuk terus ikut Dia dalam suka
duka. 

Di Mrk 11:28 tercatat
para imam bertanya untuk menjebakNya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan
hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadaMu, sehingga Engkau
melakukan hal-hal itu?”
Sebab 3 partai politik Yahudi (Farisi, ahli Taurat
dan Saduki) saling memperebutkan kekuasaan. Ketika Ia menjawab bahwa kuasaNya
dari Allah, jawaban tersebut dianggap pelecehan. Padahal Ia berkata yang sebenarnya.

Mrk 10:31 menegaskan
bahwa para pengikutNya akan memperoleh semua dengan adil. Akan ada pembagian,
perhatian dan pemeliharaan yang adil. Amin.

Dipilih untuk Berbuah

Nats: Yoh 15: 9-17 (16)

Yoh 15:9-17 memberi
prinsip dan kekuatan panggilan Allah. Ketika boleh diangkat jadi anak-Nya, itu
merupakan anugerah-Nya yang sangat besar. Perikop tersebut dimulai dengan
pernyataan-Nya, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku
telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu.”
(ayat 9). Lalu
diakhiri dengan perintah­Nya, “Kasihilah seorang akan yang lain.” (ayat
17) Inilah inti iman Kristen.

Panggilan Kristen
merupakan ikatan kasih sangat erat karena Tuhan menganggap orang percaya
sebagai sahabat maka diceritakan-Nya semua. Sebenarnya status orang Kristen
hanyalah hamba atau budak karena telah dibeli lunas maka tak boleh tahu yang
dikerjakan oleh tuannya (ayat 15). Selain itu, ia seharusnya binasa karena
berada dalam cengkeraman setan. Lalu Kristus menyerahkan nyawa dan mati
baginya. Padahal ia tak lebih baik, layak, pandai dan talented di tengah
seluruh umat manusia hingga sangat dibutuhkan sedangkan yang lain tak boleh
dekat dengan-Nya. Seharusnya ia mengerti dan menyadari bahwa Tuhan ingin
membangun relasi yang sangat intim dengannya hingga boleh memanggil Bapa kepada
Allah.

Maksud perlakuan Tuhan
semacam itu jangan dipikirkan memakai konsep dunia yang bisa salah dimana
sahabat harus saling mengerti dan dealing karena keduanya punya hak
sama. Sahabat dalam konteks Yoh 15:9-17 bukanlah yang berdialog dengan posisi
sejajar tapi justru tak boleh melupakan sejarah yaitu status hamba. Jadi,
ordonya vertikal namun Allah yang berdaulat bukan malah harus mengikuti
keinginan manusia berdosa. Kristus memberi syarat atau patokan penting, “Kamu
adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”

(ayat 14) Itulah keselamatan. Maka orang Kristen harus kembali ke posisi yang
benar dan tak boleh bersikap kurang ajar terhadap-Nya. Bagian tersebut
menunjukkan nuansa paradoxical.

Banyak orang Kristen
berpikir, Allah memilihnya supaya masuk ke Surga. Pemikiran seperti itu egois.
Alkitab tak pernah mencatat janji semacam itu. Bahkan baptisan pun belum
menjamin. Surga hanyalah fasilitas sekunder yang diberikan setelah ia
menjalankan kehendak­Nya sebaik mungkin. 

Di ayat 16 Tuhan
membicarakan tujuan panggilan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah
yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan
menghasilkan buah dan buahmu itu tetap
(kekal),…” Ayat tersebut
sangat keras menekankan prinsip predestinasi dimana inisiatif pertobatan bukan
dari manusia melainkan selalu Allah menyentuh hatinya lalu ia berespon. Tak
seorang pun sanggup memilih Dia. Di Rm 8:29 juga dicatat, “Sebab semua orang
yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula…”
Di Ef
2:8-10 Paulus menegaskan lagi, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan
oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil
pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan
Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang
dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
Seharusnya
orang Kristen berterimakasih atas penebusan-Nya.

Ironisnya, kebanyakan
lebih ingat bagian terakhir Yoh 15:16, “supaya apa yang kamu minta kepada
Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu.”
Padahal sesungguhnya Allah tak
perlu diklaim. Sebelum manusia sadar, Ia telah mengetahui kebutuhannya karena
jauh lebih
bijaksana.              

Allah tak pernah
memberi janji tanpa tuntutan tugas. Contoh, di Mat 28:19-20 dikatakan, “Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu.
(JanjiNya) Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
(The God of
Immanuel/providensia Allah
) Tuhan memberikan hak tersebut hanya
pada orang Kristen yang dipanggil untuk melayaniNya dan memberitakan Injil.

Ketika orang Kristen
disebut sebagai sahabat sekaligus anak Tuhan, apa maksudnya? Pertama, membawa
pengertian bahwa hidup penuh makna.
Di dunia banyak orang kehilangan arah
hidup. Ada yang kerja keras mencari nafkah tapi hidupnya lama kelamaan jadi
kosong. Ada pula yang hidupnya sangat susah dan makin terjepit. Lalu mereka
jadi stres, lelah dan jenuh. Padahal ketika mengerjakan proyek dan mengejar
sasaran, semua itu tak mungkin terjadi. Sebaliknya, mereka akan excited.
Setelah mencapai satu sasaran, muncul yang lain. Maka hidup jadi dinamis. Namun
orang dunia tak punya pegangan atau purpose. Kalaupun ada, itu makna
yang mereka berikan sendiri. Lama kelamaan kecewa juga karena makna tersebut
tak sejati.

Pekerjaan di Ef 2:10
bukan hanya pelayanan di Gereja hingga seluruh jemaat jadi pendeta. Tuhan
memanggil orang Kristen di segala bidang. Maka mereka harus bergumul mengenai
penempatan, tujuan dan pertimbangan sesuai kehendak-Nya sehingga makna
tertinggi dapat dicapai. Di bawah pimpinanNya, etos kerja seharusnya berubah.
Bahkan pindah kerja pun harus menurut rencanaNya. Dengan demikian makna hidup
tak terkunci oleh situasi, uang atau segala sesuatu. Hidup semacam itu nyaman
sekali. Allah juga takkan membiarkan jemaat­Nya menganggur. Pengangguran
sebenarnya akibat ketidaktaatan manusia kepada-Nya. Di Kis 20:24 Paulus dengan
jelas mengatakan, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal
saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan
oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia
Allah.”

Kedua, hidup jadi
dinamis (powerful life).
Orang Kristen seharusnya mampu mengajak yang lain
supaya giat, rajin dan semangat menjalankan pekerjaan Allah demi kemuliaan-Nya
meskipun sulit. Selama pelayanan, jangan menggunakan standard yang sama
dengan kafir. Walaupun tak secara materi, sesungguhnya para pelayan-Nya telah
dibayar jauh lebih mahal yaitu dengan darah Tuhan yang mati menebus dosa
manusia sehingga terbebas dari ikatan belenggu Iblis. Ironisnya, ada Gereja
membayar jemaat supaya lebih giat pelayanan karena pikiran mereka terlanjur
tercemar materialisme.

Ketiga, hidup jadi
fruitful
. Di Yoh 15 dicatat, Kerajaan Allah seperti kebun anggur dengan
Bapa sebagai pengusaha, Kristus pokok anggur dan semua pengikut ialah carangnya
yang harus berbuah. Dalam ilustrasi tersebut meskipun tak bersifat alegori,
tampak 2 aspek dari anggur:

(1)buah itu mempunyai
unsur banyak (kuantitas).

Alkitab berulangkali menekankan ‘berbuah banyak’. Di ayat 2, Tuhan
mengatakan, “Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotong­Nya dan
setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”

Kemudian di ayat 6 ditegaskan lagi, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku,
ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan
orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Allah menghendaki
jemaatNya tak sekedar kerja tapi harus strategis. Pohon anggur memang
membutuhkan perawatan sangat teliti dan waktu yang lama.

(2)anggur juga punya
kualitas.

Anggur asam meskipun dalam jumlah banyak, takkan terpakai. Tuhan menghendaki
anggur manis. Artinya, struktur makanan harus tepat. Vitamin yang dibutuhkan
cukup. Nutrisi ada. Jadi kalau ingin menghasilkan buah yang baik maka harus
memperlengkapi diri. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan, seperti Tuhan
mengajarkan supaya berbuah, 2 hal yang seringkali dikontraskan atau
didualismekan seharusnya digabungkan. Jadi, kuantitas sekaligus kualitas harus
baik. Tak ada yang boleh dikorbankan. Orang yang berpikir semacam itu mungkin
tak banyak. Memang tak mudah mencapainya tapi harus melalui pelatihan jiwa yang
sungguh bersedia dipakai oleh Tuhan. Mitos yang membatasi diri kadang perlu
didobrak.

Theologi Reformed
tak berhenti hanya di kota besar tapi telah masuk ke desa. Selama ini pelayanan
hamba Tuhan pedesaan sangat bersemangat namun tak berisi karena belum ada
pembinaan kualitatif yang baik. Maka ketika dilatih, menurut mereka Theologi Reformed
belum pernah dipelajari.

Theologi Reformed
juga bukan hanya untuk orang pandai. Sebenarnya semua orang dari berbagai
kalangan mampu mengerti, hanya cara mengajarkannya beda. Masalahnya, mau
belajar atau tidak. Sesungguhnya, hidup orang Kristen hendak dijadikan saluran
sehingga buah yang dihasilkan manis dan bermutu tinggi. Maka carang harus
mendapat makanan yang cukup dari pokoknya. Kalau Tuhan bersedia memakai,
biarlah kemuliaan senantiasa bagi-Nya. Amin.

Essensi Iman

Nats: Yoh 14:29

Yoh 14:29 termasuk
pergumulan kesimpulan dari seluruh pembicaraan (Yoh 13:31 s/d Yoh 14:28). Ada 2
aspek keunikannya. Ayat tersebut termasuk prinsip nubuatan yaitu berita
dinyatakan terlebih dahulu lalu ditunggu waktunya hingga akhirnya digenapi dan
menghasilkan iman. Sebelum masuk ke konsep tersebut, intinya harus diperdalam.

Injil Yohanes ditulis
sekitar 40-50 tahun setelah Injil Matius, Markus, Lukas yang mengungkap sejarah
keberadaan Kristus di dunia, beredar. Ketiga Injil tersebut mempunyai tujuan
dan sasaran masing-masing maka kronologinya beda. Maksud penulisan Injil
Yohanes merupakan essensi pemberitaan pasal 14 dan juga menjadi target Tuhan
yaitu supaya banyak orang percaya. Itulah prinsip terakhir semua tindakan dan
perkataanNya. Sedangkan Yoh 20:30-31 merupakan kesimpulan Injil tersebut.
Selain kronologi, ada penataan topikal yang diharapkan tercapai. Juga
diperlukan multidimensi untuk melihat kehadiranNya sehingga tak cukup hanya 1
Injil dengan 1 segmen sudut pandang karena dimensi pengertian Injil jadi sangat
terbatas. Injil Yohanes justru memberi wawasan sangat beda yang diungkap bukan
secara kronologis melainkan Theologis (prinsip iman sejati).

Yoh 14:29 sepintas
seperti sekedar urutan logis. Sebenarnya ayat tersebut merupakan essensi
kehidupan terutama yang Kristen. Dalam hidup, kepercayaan dasar atau iman
sangat serius hingga mempengaruhi tingkah laku, perkataan, pilihan dan
keputusan. Tiap orang pasti memilikinya dalam diri dan memutlakkannya tanpa
mempertimbangkan kebenaran. Maka ketika orang lain mulai mengusik isi hatinya
terdalam yang disembunyikan dengan sangat rapi, ia marah. Dalam kondisi
terdesak, akhirnya keluar modal terakhir yaitu ‘pokoknya …’. Setelah itu
sebaiknya lawan bicara tak bertanya lagi dan diskusi segera diakhiri karena
akan menimbulkan pertengkaran.

Sosiolog Erich Fromm
mengatakan, “Don’t ask whether they have faith or not, but please ask what
kind of faith they have.”
Mungkin 80 % manusia di dunia tak menggumulkannya
secara serius. Orang Kristen juga belum tentu sejati imannya. Di jaman
sekarang, iman berada dalam kondisi sangat rumit. Dulu selalu timbul protes dan
konflik jikalau ada yang pindah agama. Setelah tahun 60, peristiwa semacam itu
tak terjadi. Apalagi dengan trend postmodernisme relativisme, para anak muda
memiliki filosofi sangat beda dengan orang berusia 50-70 tahun. Mereka dapat
beriman Kristen sekaligus atheist, humanist, Buddhist
hingga berani menyatakan percaya semua aliran dan agamayang sebenarnya
saling kontradiksi dan takkan  bersatu. Dalam pengertian mereka terjadi
dan terbiasa dengan kondisi multilayers of faith (iman berlapis-lapis).
Sebenarnya mereka menutupi iman sejatinya. Kondisi semacam ini paling bahaya.

Pengalaman para murid
tak terlalu beda dengan kondisi di atas. Dalam pembicaraan Yoh 14 mereka telah
mengikut Tuhan selama 3,5 tahun, menjelang penganiayaan, penyaliban, kematian
dan kebangkitanNya. Pembicaraan tersebut telah mencapai kondisi advance
dan kalau ditanya, mereka pasti tegas menyatakan percaya kepada Yesus, Sang
Mesias, Anak Allah yang hidup. Itulah statement of faith dari Petrus di
Mat 16:16. Tapi mereka belum sungguh percaya melainkan masih dalam dualisme
konsep karena iman tak sederhana.

Ada orang beranggapan,
yang penting dan mendasar bagi keselamatan hanyalah percaya kepada Tuhan. Kalau
demikian, sama dengan Setan percaya kepadaNya. Seharusnya beda. Matius 7:21-23
mengatakan, mereka yang memanggilNya Tuhan tak jadi masuk ke Surga melainkan
dibuang ke Neraka. Padahal telah membuat banyak mukjizat hebat. Kadangkala
manusia memudahkan istilah ‘percaya’.

Maka di Yoh 14:29
Kristus mengatakan, “Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum
hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.”
Kalau Ia
tak memberitahu lebih dahulu, para murid pasti sulit percaya. Mereka terus
mendebatNya sepanjang pembicaraan tersebut, merupakan bukti belum percaya.
Kalau sungguh percaya, jawaban mereka seharusnya sangat simple yaitu
amin. Iman bukan kalimat yang boleh sekedar diungkapkan lalu dianggap selesai.
Namun iman Kristen sejati belum terjadi hingga saat ini. Dalam pergumulan Yoh
14 ada beberapa hal untuk merefleksi dan mengevaluasi iman tiap orang Kristen:

Pertama, kaitan iman dan
realita
. Fakta dan iman beda. Para murid mengetahui fakta Tuhan mengadakan
mukjizat dan mengajar lalu akhirnya harus pergi ke Yerusalem. Namun semua
realita tersebut tak membuat mereka percaya.

Kadang dalam situasi
tertentu orang Kristen harus menerima fakta karena memang tak mampu menolaknya.
Banyak orang dihadapkan dengan fakta dunia jahat, rusak dan hancur, seperti
penyakit, penderitaan, kematian dll karena manusia berdosa. Ada pula dosa tak
dianggap kejahatan. Meskipun terpaksa dan hati berontak, mereka harus mengakui
fakta tersebut.

Ketika orang Kristen
menyadari berdosa, tindakan tersebut bukan sekedar logis tapi iman yang
mengaitkan realita ke dirinya. Seharusnya penginjilan dan pertobatan mulai dari
kondisi seperti itu. Tapi banyak yang tak melampauinya. Tak ada pertobatan yang
sungguh terjadi.

Sesungguhnya manusia
hanyalah sampah karena terlalu melawan Tuhan. Ia tak punya kapasitas,
kehebatan, keistimewaan dan ketaatan untuk dibanggakan di hadapan Allah
berdaulat. Seharusnya realita tersebut masuk ke dalam hati jadi kepercayaan.

Paulus juga mengatakan
demikian. Dulu ia bangga sebagai orang Yahudi asli dengan otak Farisi.
Kemampuan dan semangat kerjanya tak meragukan. Maka ia berhak merasa something.
Tapi setelah mengenal Kristus, semua itu jadi sampah. Ia mengungkapkannya
dengan keras. Itulah nuansa iman, bukan rasionya. Iman timbul setelah ia
dihancurkan oleh Tu­han. Maka Saulus berganti nama jadi Paulus untuk
mengekspresikan essensi
imannya.        

Iman para rasul tak
seperti itu. Mrk 9:34 mencatat bahwa mereka mempertengkarkan siapa yang
terbesar. Bahkan di Yoh 18:10 tercatat, Petrus menghunus pedang dan memutus
telinga kanan Iman Besar. Padahal mereka belum pernah berlatih perang. Pikiran
mereka terlalu jauh karena merasa dekat dengan Tuhan. Ketika Ia harus pergi,
mereka jadi merasa nothing meskipun sulit menerima realita tersebut.

Fakta dan iman
seringkali senjang dalam hidup manusia. Ketika sadar bahwa dirinya nothing,
realita sejati jadi bagian dari iman. Hanya iman sejati membuatnya bersandar
pada objek iman sesungguhnya yaitu Kristus. Mereka yang merasa something
hanya mampu menjalankan keinginan dunia. Justru di tengah reruntuhan hati yang
hancur, Tuhanlah yang akan membentuk dan menata kembali.

Kedua, iman membentuk
kacamata hidup
. Ketika melihat, memperhatikan dan menanggapi sesuatu,
seseorang tak pernah mengerti secara plain (terbuka) tapi selalu dengan
kacamata tertentu. Maka realita tersebut tak sejati melainkan hasil
interpretasi. Kacamata iman sangat menentukan.

Di Yoh 14:29 Tuhan
berkata demikian karena menginterpretasi realita tak mudah. Kesuksesan
seseorang mungkin menurut kacamata orang lain jadi kegagalan. Demikian pula
sebaliknya. Kadang juga terlalu cepat mengambil kesimpulan. Contoh, orang kaya
belum tentu sukses. Sulit untuk mencapai orang kaya yang sukses. Mungkin 95%
orang kaya termasuk gagal. Lebih baik hidup enak tapi miskin daripada kaya tapi
susah. Kalimat tersebut paradoksikal dan sulit dimengerti karena kacamatanya
bermasalah. Tapi itulah Firman Tuhan. Manusia cenderung melinierkan jadi ‘kaya
itu enak’.

Bagi banyak orang, kepergian
Tuhan dan Paulus ke Yerusalem termasuk kebodohan karena mereka akan disiksa dan
dibunuh di sana. Tapi itulah jalan kesuksesan mereka karena pimpinan Allah.
Kalau Paulus tak ke sana, ia takkan menembus ke Roma. Tak ada cara lain. Ia
berkewarganegaraan Roma maka berkapasitas menghadap Kaisar. CaraNya memakai
manusia memang sangat unik.

Orang juga memandang
Yusuf bodoh karena sebagai anak kesayangan Yakub, ia malah dibuang oleh
saudaranya. Tapi akhirnya ia memberi kesimpulan sangat tepat yaitu Kej 50:20
yang menunjukkan adanya 2 kacamata: (1)saudaranya, (2)Firman Allah. Kalau ia
memakai kacamata saudaranya maka mereka harus dihukum karena mencelakakannya.
Tapi ia justru memilih kacamata Tuhan (ayat 21).

Tuhan mempersiapkan
para murid (Yoh 14:29) supaya cara pandang mereka beda dengan dunia yang
memandang penyalibanNya sebagai kegagalan fatal total. Ia pergi ke Yerusalem
justru untuk memenangkan semua pertentangan dan menghancurkan kuasa Iblis.
Namun banyak orang Kristen tetap memakai kacamata selain yang Kristus berikan.

Ketiga, iman harus untuk
tujuan terakhir.
Kristus menghendaki umatNya percaya bahwa Ialah Mesias,
Juruselamat, Penebus dan Anak Allah yang hidup. Kepercayaan yang salah
sebaiknya mulai dibongkar dan dihancurkan. Sebagai ganti, ia harus kembali
kepada Allah. Tindakan tersebut memang sangat sulit tapi harus dijalankan
sebelum terlambat.

Ketika Tuhan akan
pergi, para murid ketakutan karena berpikir harus mengatasi hidup mereka
sendirian. Saat ini juga banyak orang ketakutan karena tak bersandar mutlak
kepada­Nya. Padahal prinsip dunia seringkali tak sesuai dan malah merusak iman
Kristen. Contoh, konsep positive thinking membuat orang tak menyandarkan
hidup kepadaNya. Namun planning manusia dapat dibatalkan olehNya. Maka
seharusnya digumulkan dan menunggu pimpinan Al­lah jelas agar resiko tak
terlalu besar. Banyak orang berpikir, hidup menurut jalan­Nya sangat susah.
Seharusnya justru lebih ringan meskipun memang tak mudah menjalankan
pekerjaan-Nya. Tapi hidup yang tak mengandalkan-Nya pasti jauh lebih susah.
Amin.

Hidup yang Berbuah

Nats: Yoh 15:4-7; Mat 7:15-23

Tuhan berulang kali
memberi gambaran mengenai prinsip orang Kristen harus terus menerus berbuah.
Salah satu prinsip penting, Kekristenan tak diarahkan jadi iman yang mati secara
essensial melainkan hidup.

Materi tak mengalami
proses dan tak punya nuansa hidup. Batu tak mungkin beranak melainkan terkikis
oleh erosi. Tapi tumbuhan bahkan sel amoeba hidup. Dan unsur vitalitas
termasuk paling penting dalam hidup. Ada pula unsur mortalitas dan kekuatan
prokreasi. Maka pohon tak hanya cari makan tapi juga bertunas dan berbuah.
Kalau tidak, ia akan terancam punah. Jadi, hidup punya qualitative
difference
. Kemungkinan hidup terus diperjuangkan oleh dunia medis. Tapi
benda mati jadi hidup ialah tipuan palsu ilmu pengetahuan tak bertanggung jawab
karena tak terbukti.

Kalau kerohanian mati,
demikian pula Gereja. Kalau hidup, harus berbuah. Kalau tidak, akan dipotong,
dibuang dan dibakar karena sebenarnya ia sudah mati. Bukan berarti Tuhan membunuhnya
tapi ia telah mati terlebih dulu. Kalau berbuah dan kualitasnya bagus, akan
dipelihara serta dibersihkan (pruned) supaya hasil berlimpah (Yoh 15:2)
sehingga namaNya makin dipermuliakan. Kalau tak lagi mampu mengembang dan
berbuah bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan jadi berkat bagi orang
di sekelilingnya, berarti sudah mencapai tingkat kemandulan yang membahayakan.

Saat ini banyak orang
Kristen hanya memikirkan keuntungan yang dapat dinikmatinya sendiri. Ketika
melayani Tuhan, mereka tak memikirkan buah yang dihasilkan. Padahal ketika baru
bertobat, mereka punya jiwa penginjilan dan semangat rela berkorban yang sangat
besar untuk melayani. Contoh, pergi ke Gereja untuk mempelajari ilmu seperti
teknik pelayanan, struktur organisasi, administrasi, dll yang improving/memperkaya
diri sendiri. Motivasi tersebut kelihatan baik tapi sebenarnya tak seimbang.
Gereja jadi tempat magang. Seharusnya ia mencari kekurangan Gereja tersebut
lalu mau sharing. Hidup Kristen bukan mencari hak melainkan mengejar
kewajiban dan takkan puas sebelum berbuah banyak. Selain itu, ia harus berdoa
agar berkenan di hadapanNya.

John F. Kennedy pernah
mengatakan, “Don’t ask what the country can do for you, but ask what you can
do for your country
.” Tapi Allah telah berbuat banyak untuk jemaatNya maka
Ia mengharapkan mereka berbuah. Kristus yang mati disalib telah menjadikan
mereka hidup padahal seharusnya binasa. Ia telah menebus dosa mereka. Yang
rusak juga telah diperbaikiNya.

Ketika carang berbuah
banyak, pemilik kebun anggur datang lalu memotong dan membawa buah yang
terbaik. Bijinya akan ditanam lagi. Sedangkan bibit jelek takkan dipakai.

Di dunia yang hanya
memikirkan rights dan meniadakan responsibility, Allah mengajak
umatNya kembali mengerti essensi kehidupan Kristen yaitu berbuah karena
seseorang berada di kampus, kantor, lingkungan atau keluarga tertentu bukanlah
kebetulan melainkan pimpinanNya. Ada 2 prinsip pelayanan Kristen yang harus
dijalankan yaitu:

(1)Sebagai terang, ia melakukan
iluminasi/memancar/menyinari. Untuk tugas tersebut, Tuhan tak menuntutnya jadi
sempurna seperti malaikat melainkan harus sungguh bertobat hingga terjadi
perubahan hidup yang drastis. Orang yang melihatnya, langsung menyadari
bedanya. Dulu gelap, sekarang terang.

(2)Sebagai garam, ia melakukan
penetrasi. Untuk merasakan masakan yang pakai dan tanpa garam, tak perlu
keahlian khusus meskipun garamnya tak terlihat. Setelah masuk ke dalam masakan,
garam langsung larut seluruhnya. Masakan yang kelihatan enak, tanpa garam jadi
hambar.

Ketika orang Kristen
masuk ke dalam lingkungan tertentu, mungkin keberadaannya tak disadari oleh
yang lain tapi mereka merasakan pengaruhnya. Suasana jadi berubah. Dulu beku,
sekarang enak.

Tuhan menghendaki
kehidupan orang Kristen tak berorientasi pada diri sendiri. Di ayat 7 Ia
berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam
kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Kalau ayat tersebut selalu diingat tapi ayat 1-6 tak dimengerti secara tepat berdasarkan
konteks pengertian semula, ia jadi sangat egois. Sesungguhnya ayat tersebut
bukan himbauan melainkan perintah. Lalu buah seperti apa yang Allah inginkan?

Pertama, buah harus
sesuai/menentukan jenis pohonnya.
Di Mat 7:15 Tuhan memberi perumpamaan
sangat tajam, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu
dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang
buas.”
Di ayat 21-23 Ia berkata, “Bukan setiap orang yang berseru
kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang
melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan
berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan
mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Logika terlalu dangkal
beranggapan orang semacam itu pasti bukan hamba setan. Padahal iblis punya
taktik licik luar biasa. Tuhan tak dapat berbohong atau melakukan yang tak
benar dan tak bermoral. Iblis sanggup berdusta, membunuh dll. Tampaknya ikut
iblis lebih enak. Ketika menyaksikan orang mengadakan mujizat, kebanyakan
beranggapan dia itu hamba Tuhan. Padahal dukun juga mampu melakukannya.

Di Mat 7:16 Ia
melanjutkan, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Di ayat 17 Ia
mengatakan, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik,
sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.”
Maka buah
Kekristenan tak dapat lepas dari kepribadian Kristus dan seluruh misi
panggilanNya. Tanpa pengetahuan cukup, orang Kristen akan jadi korban
kebodohannya sendiri.

Kedua, Tuhan menuntut
kualitas buah baik.
Anggur yang bagus, jumlahnya banyak dan rasanya enak.
Kualitas buah harus tetap diperjuangkan agar mempermuliakan Bapa di Surga.

Ada ilustrasi mengenai
pelayanan. Seorang kakak yang sudah SMA punya adik berusia 6 tahun. Si kakak
melayani di Gereja sebagai guru sekolah minggu. Ia berencana akan mempersiapkan
aktivitas prakarya bagi para muridnya di kelas kecil. Lalu ia pergi ke
perpustakaan sekolah untuk mencari gambar yang bagus dan mudah digunting.
Akhirnya ia menemukannya lalu gambar tersebut difotocopy sebanyak 41 kali
karena muridnya berjumlah 40 anak dan 1 lembar untuk dirinya memberi contoh
pada mereka. Pada hari Sabtu dipersiapkannya semua yang diperlukan untuk
mengajar antara lain 41 lembar fotocopy, gunting dan pensil warna. Semua
peralatan tersebut diletakkannya di atas meja di ruang tamu. Setelah itu,
mamanya memanggil dan memintanya pergi belanja ke supermarket. Ia diberi daftar
belanjaan dan uang. Lalu ia berangkat dengan bersepeda. Si adik merasa kasihan
pada kakaknya. Lalu ia bermaksud membantu menyelesaikan pekerjaan kakaknya.
Ketika melihat gambar, gunting dan pensil warna, ia langsung mengerti. Ia mulai
menggunting gambar tersebut satu per satu. Setelah selesai menggunting
seluruhnya, si kakak masih belum pulang. Lalu ia mulai  mewarnai gambar
tersebut. Sesudah mewarnai 6 gambar, kakaknya pulang. Ia segera merapikan
ruangan. Bekas guntingan dikumpulkannya dan dibuang ke tong sampah. Gunting dan
pensil warna disusun rapi kembali. Ia mengira akan mendapat pujian dari
kakaknya. Setelah mengembalikan sisa uang ke mamanya, si kakak langsung masuk
ke ruang tamu untuk menyelesaikan persiapannya. Ia sangat terkejut dan
berteriak, “Siapa yang mengerjakan semua ini?” Si adik dengan innocent
muncul dan berkata, “Saya.” Kakaknya langsung putus asa karena rencananya hancur
berantakan. Sedangkan si adik tak merasa bersalah melainkan
berjasa.        

Kegiatan pelayanan
Gereja harus dimulai dari beban yang Tuhan tanamkan dalam hati jemaat. Maka
diperlukan pergumulan dan doa. Kalau ada beban pelayanan yang dirasa perlu dikerjakan,
sebaiknya dishare dengan orang lain terlebih dulu. Kalau setelah itu tak ada
yang menanggapi, berarti mungkin hanya ambisi pribadi. Tapi kalau beban
tersebut dari Allah, Ia pasti membakar semangat bukan hanya 1 orang melainkan
beberapa orang. Dan semangat mereka makin lama semakin besar. Setelah itu, coba
delay untuk sementara waktu. Tindakan tersebut untuk menguji. Kalau
sesudah masa delay, semangat bertambah besar, beban tersebut boleh
dikerjakan karena Tuhan memimpin. Tantangan mungkin sangat berat tapi tak perlu
takut melainkan tetap yakin. Orang boleh coba menghambat atau memadamkan
semangat tersebut tapi rencanaNya tak dapat digagalkan. Lebih baik support
dan menjalankannya, pasti semua tergenapi.

Anak Tuhan harus peka
terhadap prinsipNya sehingga dapat dipakaiNya. Allah tentu sangat bersukacita.
Tapi Ia tak pernah memaksa. Menurut Pdt. Stephen Tong, Ia kelihatan diktator
tapi sebenarnya demokrat. Ia memberi kebebasan pada manusia, mau menjalankan
atau malah melawan perintahNya. Kadang ada orang yang kurang ajar hingga berani
mengatakan Tuhan jahat. Padahal Ia sangat sabar dan mau memberi kesempatan
bertobat. Kalau tetap tak mau bertobat, berarti salah orang itu sendiri. Amin.

“Di luar Kristus, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Nats: Yoh 15:5-6

Yoh 15:5 termasuk
salah satu bagian yang mungkin sulit diterima bahkan sangat tak disukai oleh
banyak orang karena dianggap terlalu kuno, melecehkan dan menjengkelkan. Orang
humanis berupaya menonjolkan potensi dan jiwanya yang egois. Dalam sejarah
filsafat, sejak  Renaissance (abad 14) muncul humanisme sebagai
akibat ditemukan kembali buku dan karya Aristotle yang telah 1000 tahun lebih
hilang. Di abad 12 ajarannya mulai merebak di Eropa. Beberapa filsuf Islam
akhirnya melakukan sinkritisme antara iman mereka dan Aristotelian. Demikian
pula di Kekristenan muncul tokoh seperti Thomas Aquinas dsb. Mereka mencoba
mengkombinasikan antara pemikiran Aristotelian dan religius yang berorientasi
kepada Allah. Maka muncul ketegangan.

Salah satu moment terpenting
adalah lukisan Monalisa oleh Leonardo da Vinci yang mendobrak sejarah seni.
Sebelumnya, semua seni memandang kepada Tuhan. Lukisan pra-renaissance di Eropa
bernuansa agama dimana selalu ada salib, gereja, orang suci (saint)
dengan lingkaran di atas kepala, Maria, Tuhan Yesus, tangan menghadap ke atas
dan mata juga melihat ke atas. Tapi Monalisa digambarkan tersenyum sinis, mata
tak memandang ke atas dan tangan berada di bawah. Latar belakangnya adalah
sawah. Artinya, orang diajak berpikir duniawi. Maka lukisan tersebut dianggap
sebagai perubahan.

Pemikiran tersebut
terus berkembang hingga August Comte masuk ke dalam konsep positivisme. Di abad
19 ia mempelopori semangat enlightment sebagai lanjutan dari Renaissance.
Menurutnya, hanya orang primitif atau bodoh yang masih percaya kepada Allah.
Orang yang lebih pandai atau maju percaya pada metafisik (sesuatu melampaui
dunia fisik tapi masih dalam analisa fisika). Artinya, science jadi citra
yang harus dipelajari. Sedangkan orang positif percaya logika, dunia fisik
serta kekinian dan tak perlu Allah. Iman dan agama harus dibuang karena dulu
cara pikir orang seringkali negatif. Contoh, ketika ada petir, berarti Tuhan
marah. Padahal dengan sarana otak manusia, dunia mampu. Tak boleh ada ungkapan
‘tak mampu’ melainkan ‘belum mampu’ karena kelak pasti mampu. Manusia memang
sangat sombong.

Di Yoh 15:5 Tuhan
berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa
tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku
kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Meskipun manusia punya gelar
doktor, rumah besar atau kedudukan tinggi. Tapi istilah tersebut juga bukan
berarti total. Sebenarnya ada ‘apa-apa’ yaitu ‘apa-apa’ yang tak ada apa-apanya
(nihilisme). Jadi, ia melakukan aktivitas tak bermakna. Setelah itu, ia
menyesalinya. Di ayat 6 Ia melanjutkan, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam
Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan
orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Inilah yang sering tak
disadari oleh manusia.

Tujuan anak dibimbing
dan dididik hingga bertumbuh dalam studi yaitu agar ia tahu mengerjakan sesuatu
yang bernilai. Kalau tidak, semua yang dilakukan akhirnya terbuang sia-sia.
Sejak kecil, anak diajar bergerak terkontrol oleh otaknya. Itulah latihan
motorik. Sehingga tiap gerakannya meaningful dan cocok/sinkron dengan
pikiran serta perkataannya.

Orang Kristen harus
dilatih mencakup nilai dalam kekekalan. Di luar Kristus ia lepas dari sumber
hidup serta potensi tindakan dan kelakuan tepat. Di Rm 6:15-23 Paulus
menjelaskan, manusia terkunci hanya di 2 posisi perhambaan: (1)Sebagai hamba
dosa, ia dijerat, dicengkeram dan akan terus diperbudak atau tunduk di bawah
kuasa Iblis. Lama kelamaan ia menganggapnya wajar dan terbaik karena telah
terbiasa; (2)Sebagai hamba kebenaran, ia dipimpin oleh Tuhan. Posisinya tak
boleh naik di atas kebenaran sejati yaitu Kristus. Jadi, selamanya ia takkan
pernah jadi tuan. Fakta tersebut tak disadari oleh orang humanis.

Di Yoh 14:6 Tuhan
berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang
datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Dan Ia membuktikan
perkataanNya. Hingga saat kematianNya, tak ada yang membuktikan Ia berdosa.
Lalu Ia bangkit mengalahkan kuasa maut dan naik ke Surga. Maka manusia tak
berhak mengucapkan ayat tersebut.

Di Yoh 8:31-32 Tuhan
berkata pada orang Yahudi, “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu
benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran
itu akan memerdekakan kamu.”
Di ayat 33 mereka menjawab, “Kami adalah
keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun.”
Lalu di ayat 34
Ia menegaskan, “…, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba
dosa.”
Di akhir pembicaraan tersebut mereka mengambil batu untuk melempari
Dia. Tindakan tersebut menunjukkan kekakuan dan kebodohan mereka hingga tak mau
mengerti.            

Di dunia hanya manusia
yang diajar mengerti konsep nilai dan makna. Orang dunia menganggap uang
sebagai nilai tertinggi hidup. Manusia secara umum telah ditipu oleh kelicikan
Setan. Iblis tak punya hidup maka menawarkan uang/harta dan sebagai gantinya ia
minta hidup manusia. Di Luk 4:6-7 ia berkata kepada Tuhan, “Segala kuasa itu
serta kemuliaannya akan kuberikan kepadaMu, sebab semuanya itu telah diserahkan
kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau
Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milikMu.”
Kalau manusia
ditawari seperti itu, mungkin langsung berdoa, “Tuhan, roh memang penurut,
tetapi daging lemah.” Akibatnya, ia kelak masuk ke Neraka. Manusia sangat
ceroboh hingga berambisi mengejar sesuatu yang dianggap bernilai tapi akhirnya
ia mati. Di Mat 6:19 Kristus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di
bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya …“
Jadi, manusia lahir dan
mati tanpa membawanya. Bukan berarti ia tak boleh cari uang. Tapi uang sekedar
sarana.

Ada yang bertanya,
“Orang Kristen boleh kaya atau tidak?” Ketika ditanya, “Kenapa bertanya seperti
itu?”, ia tak menjawab karena takut motivasinya terbongkar. Lalu ia menjawab,
“Di Alkitab, Abraham tergolong kaya.” Maka kalau ia kaya, seharusnya seperti
Abraham. Di Kej 13:1-12 tercatat, antara para gembala Abraham dan Lot terjadi
perkelahian. Untuk menghentikannya, di ayat 9 Abraham berkata pada Lot, “Baiklah
pisahkan dirimu daripadaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau
ke kanan, maka aku ke kiri.”
Lalu Lot memilih Lembah Yordan yang banyak
airnya, seperti taman Tuhan. Tindakan tersebut menunjukkan, Abraham sungguh
kaya hingga tak takut kekurangan uang. Ia juga dapat predikat “bapa orang
beriman”. 

Ada orang berpendapat,
kalau tak pelit, takkan bisa kaya. Di Mrk 12:41-44 tercatat mengenai
persembahan janda miskin. Di ayat 43-44 Tuhan berkata pada para murid­Nya, “…,
sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang
memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari
kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada
padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
 

Ayub juga jadi berkat
sangat besar bagi orang lain melalui attitude/sikapnya dalam pergumulan.
Sejarah kemenangannya dibaca dan dipelajari di seluruh dunia, bukan hanya oleh
orang Kristen tapi termasuk sosiolog, psikolog, ahli budaya dll.

Banyak orang berusaha
mencapai double happiness. Sebenarnya kebahagiaan berlimpah bukanlah
tujuan. Kebahagiaan seperti fatamorgana yang menghilang ketika dikejar. Happiness
seharusnya termasuk daily life. Menurut Alkitab, point terpenting
ialah hidup di dalam Kristus dan berbuah banyak. Itulah the true life.
Sesungguhnya orang Kristen sekarang telah mencapai dan menikmati happiness
tapi belum sempurna. Inilah konsep paradoksikal Alkitab. Seharusnya hidup
Kristen sejati itu ringan karena tak tergantung pada permainan dunia melainkan
pengaturan Allah yang mutlak. Di Mat 18:3 Tuhan berkata, “…, sesungguhnya
jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Maka orang Kristen seharusnya hidup sebagai
anak yang taat di hadapanNya. Pasti aman dan tak mungkin salah. Biarpun
kelihatan gelap tapi ketika melewatinya, Ia buka satu per satu dan semua
tergenapi. Badai akan segera teratasi dan hidupnya kembali bersukacita. 

Baca Juga  Makna Clerical Collar Yang Biasa Di Pakai Pendeta

Kebanyakan orang
Kristen belum terbiasa hidup bergaul dekat dengan Allah melalui doa dan Firman.
Akibatnya, ia tak mengerti kehendakNya. Padahal di Yoh 15:7 Tuhan berjanji, “Jikalau
kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja
yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
  

Jemaat GRII hendaknya
mencapai 2 tujuan yang harus diperjuangkan dan dipergumulkan seumur hidup: (1)in­ternal
goal
yaitu Ef 4:13, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan
pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”
(2)external goal yaitu
amanat agung di Mat 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan
ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Jadi,
bergereja bukan sekedar tiap Minggu datang kebaktian. Amin.

“Mintalah apa saja . . .”

Nats: Yoh 15:7-8

Ayat 7 tersebut sangat
riskan dan sering disalahgunakan serta dimanipulasi hingga tampaknya orang
Kristen berhak minta lalu pasti akan menerima. Inilah jiwa egois yang hanya
memuaskan keinginan duniawi dan sikap kedagingan tak bertanggung jawab.
Maka  Yoh 15 terbatas hanya untuk murid sejati yang mengerti dengan tepat.

Ayat tersebut dibahas
dalam kerangka yang menggambarkan mystical union tapi tak seperti versi
dunia melainkan hubungan mutual/personal sangat unik serta dekat antara
Tuhan dan umatNya. Ayat 4-6 membicarakan 2 kondisi: (1)orang Kristen yang
berada dalam Kristus diumpamakan seperti ranting tinggal pada pokok anggur
sebagai sumber hidup; (2)di luar Kristus ia tak dapat berbuat apa-apa. Di ayat 8
Ia menekankan, yang berhak dapat fasilitas terse­but di ayat 7 ialah mereka
yang berbuah banyak dan termasuk murid sejati. Agar buahnya bagus, saluran
makanan dari akar ke carang harus lancar. Maka buah tersebut akan
mempermuliakanNya dan menyatakan pada semua orang bahwa merekalah murid­Nya.
Ini seharusnya jadi cara pikir/paradigma dan format pengambilan keputusan orang
Kristen.

Orang Kristen
seharusnya menyadari dirinya ialah ranting dan bukan pohon yang independent.
Kalau tak berbuah,ia akan dipotong, dibuang, dikumpulkan lalu dibakar.
Hidup di dunia sangat risky dan dipilah jadi 2: (1)terpelihara dalam
Kristus, (2)di luar Kristus ia jadi mandul hingga akhirnya dibinasakan. Tuhan
yang maha kasih menyayangi manusia tapi juga menyediakan Neraka. Sebelum mengetahui
aksi yang dapat dikerjakan dan porsi bagiannya, harus terlebih dulu secara
jelas ditentukan eksistensi, identity serta posisi diri dalam kaitan
dengan pokok anggur sejati. Maka diperlukan kemampuan memilah. Hidup orang
dunia sebenarnya siap dibuang tapi belum saatnya. Sedangkan citra Kristen ialah
hidup dalam Kristus.

Orang Kristen sejati
pasti berbuah banyak dan bagus. Maka ia dapat jaminan tersebut di ayat 7.
Seringkali kebanyakan orang mau claim janji Tuhan tapi mengabaikan
tugas. Padahal ayat 7a merupakan penyebab dan 7b sebagai akibat. Kalau tak ada
tugas, ayat 7 juga takkan dinyatakan. Dan Ia tak mungkin bohong maka janjiNya
pasti terjadi. Sedangkan manusia tak dapat diandalkan karena ada kemungkinan
tak menepati janji.

Di Mat 7:16-18 Tuhan berkata,
1 pohon sejati pasti menghasilkan buah yang sejenis. Di ayat 16 Ia mengatakan,
dari buahnyalah diketahui jenis pohon. Jadi, buah mencerminkan identifikasi
pohon.

Banyak orang mudah
menyatakan diri sebagai anak Tuhan karena beranggapan takkan ada ancaman/resiko.
Banyaknya kegiatan sosial Kristen dan janji teologi sukses membuat orang
terkecoh hingga mau jadi Kristen. Tapi akhirnya ia kecewa karena menurut
logikanya, “apa saja” di Yoh 15:7 berarti tanpa perkecualian. Jadi, ia
menyatakan kenal dan percaya kepada Kristus karena adanya nats tersebut dan
janji keselamatan masuk ke Surga. Akibatnya, rusaklah Kekristenan.

 Di Gal 4:9
Paulus menulis, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, (kalimat
tersebut tak salah tapi kurang tepat dan berbahaya karena subyektif) atau
lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, …?”
2 pendekatan tersebut
beda. Kalau yang pertama, ada kemungkinan Tuhan tak kenal mereka. NamaNya
memang lebih beneficial untuk dicatut. Padahal yang menentukan ialah
Allah. Yang perlu diperhatikan dari Yoh 15:7:

Pertama, “… firmanKu
tinggal di dalam kamu, …”
Artinya, obyektivitas kebenaran harus diutamakan.
Tuhan tak mau umatNya terkunci oleh semangat humanisme. Kalau “firmanKu”
diganti dengan “Aku”, hubungan manusia dan Kristus jadi mistik versi
dunia, seperti hubungan dengan Setan/roh. Contoh, ada orang meyakini, yang
diucapkannya ialah yang Kristus katakan. Keyakinan semacam ini sesat. Banyak
orang Kristen tak mau belajar Firman karena takut tak bisa minta seperti versi
humanistik.    

Ketika jatuh ke dalam
cengkeraman dosa, pikiran manusia akan terbelenggu. Perkataan Tuhan di Yoh
8:31-32, “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, …, dan kebenaran itu
akan memerdekakan kamu”
malah membuat orang Yahudi yang percaya kepadaNya
jadi sangat marah hingga terakhir di ayat 59. 

Karl Barth, tokoh
teologi modern memilah antara Kristus dan Firman. Menurutnya, iman hanya kepada
Tuhan. Sedangkan Alkitab tak boleh dipedulikan karena sekedar kesaksian
beberapa orang secara subyektif mengenai pengenalan mereka akan Yesus. Di Yoh
15:4-7 Tuhan justru langsung memparalelkan DiriNya dan Firman.

Kedua, “…, mintalah apa
saja …”
Kadang manusia terpilah jadi 2: (1)Berani minta hingga memaksa.
Padahal Tuhan pasti melengkapi kebutuhannya. (2)Tak berani minta dan hanya
menerima nasib. 2 ekstrim tersebut jelek.

Permintaan orang
Kristen seharusnya sesuai kehendak Tuhan dalam kebenaran Firman dan
mempermuliakan Bapa serta jadi berkat bagi sesama. Dalam menggumulkan rencana­Nya,
ia harus berani maju dan minta di hadapanNya dengan motivasi murni. Inilah the
true freedom in God
. Kekristenan sesungguhnya tak dibatasi oleh boleh atau
tidak, seperti Taurat melainkan justru kebebasan bergerak/melangkah tapi harus
dalam kerangka Firman.     

Kadang orang Kristen
tertipu oleh konsep dunia yang terbalik. Dunia kelihatannya lebih bebas.
Sebenarnya mereka terikat dan terkunci oleh perkataan fiktif serta bohong untuk
membius diri. Sedangkan orang bebas pasti hidup normal, tenang dan santai
karena Tuhan menyertainya.

Ketiga, “…, dan kamu akan
menerimanya.”
Garansi tersebut didasarkan pada kedaulatan,
kemahadahsyatan dan kemahakuasaan Allah sehingga tak ada yang dapat menghalangi
anugerah­Nya. Ia tak dapat dipermainkan.

Sepanjang sejarah
penebusan, dari Kej 2 sampai Mat 1 Setan berulang kali berusaha menggagalkan
kedatangan Kristus. Hingga saat ini Kekristenan diupayakan untuk dilenyapkan
dari muka bumi tapi tak berhasil. Sebaliknya ketika belum waktunya Ia naik ke
Surga, tak ada yang dapat membunuhNya.

Keempat, “… yang kamu kehendaki,
…”
Inilah the free will. Kehendak selalu jadi produk/ efek, bukan
pemicu. Mungkin produk dari perasaan atau rasio. Akan aneh kalau keinginan
muncul tanpa alasan. Itulah keinginan tak terkontrol.

Kalau perasaan dan
pikiran orang Kristen sama dengan Kristus maka kehendaknya pasti tepat sesuai
Firman. Perasaan dan pikirannya telah dikuasai oleh Firman. Justru dari
keinginannya diketahui siapa dia sebenarnya.

Jangan biarkan
kehendak dikuasai oleh nafsu karena akan membuatnya jadi liar. Maka diperlukan
introspeksi diri agar bertumbuh sesuai kehendak­Nya. Perbaikilah hubungan
dengan Tuhan. Lalu periksalah apakah hubungan tersebut sudah berbuah. Kalau
sudah, periksalah kualitas buahnya. Sudahkah jadi saksi di rumah
tangga/keluarga? Bagaimana dengan kesaksian di lingkungan, tempat kerja,
sekolah dan di Gereja? Kebanyakan orang Kristen mau dilayani tapi tak bersedia
melayani. Kalau begitu, bagaimana mereka dapat berbuah? Inilah beberapa hal
yang perlu dievaluasi kembali. Diharapkan apa yang telah dipelajari saat ini
jadi warning keras mengenai bagaimana hidup di tengah dunia yang semakin
berdosa. Amin.

Yesus Terang Dunia

Nats: Yes
8:23-9:6; Yoh 1:4,5; 8:12

Sebentar lagi kita akan
merayakan Natal, memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Apa makna kelahiran
Yesus bagi dunia ini, bagi kita? Bagi Nabi Yesaya, kelahiran Yesus berarti
datangnya terang yang besar bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan (Yes.
9:1). Tetapi ketika dikatakan bahwa kedatangan Yesus membawa terang, lalu apa
artinya terang itu? Berkat dan anugerah apa yang dibawa masuk ke dalam
kehiudpan kita melaui kedatangan-Nya? Apa artinya ketika Yesus berkata, “Akulah
terang dunia” (Yoh. 8:12) Dalam renungan ini kita akan melihat beberapa
pengertian pernyataan bahwa Yesus adalah terang dunia. Terang adalah konsep
yang umum yang dipakai oleh banyak agama, namun mempunyai pengertian yang cukup
rumit. Kita akan menghindari segala macam spekulasi filosofis maupun teologis,
dan menggali arti kata ini sepenuhnya dari pemakaiannya di dalam Alkitab.

1. Dalam Yesus terang
dunia, kita mendapatkan hidup kekal (hidup dalam segala keberkatan dari Allah),
kelepasan dari penghukuman, pengampunan dosa, keselamatan serta shalom.

Bagi nabi Yesaya,
Israel yang berada di dalam kehancuran di bawah penaklukan Asyur akibat dosa mereka
tidak akan terus berada dalam keadaan yang terhimpit, sebab anugerah Tuhan akan
dicurahkan kepada mereka. Mereka yang “berdiam di negeri kekelaman” atau “in
the land of the shadow of death”
(NKJV;NIV) atasnya terang telah bersinar(Yes 9:1). Jadi terang adalah kebalikan dari hukuman dan maut, yaitu hidup
kekal, pengampunan dosa, keselamatan, dan shalom. Imam Zakharia yang
mengutip nubuat ini menegaskan kembali pengertian ini ketika ia menubuatkan
pelayanan anaknya, Yohanes Pembaptis. Ia memahami bahwa berkat yang dibawa
Mesias kepada umat manusia ialah “keselamatan yang berdasarkan pengampunan
dosa” (Luk. 1:77), bahwa terbitnya “Surya pagi dari tempat yang tinggi,” yaitu
terang itu adalah “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam
naungan maut, untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera atau shalom
(Luk 1:78c-79). Terang adalah keselamatan sempurna dari Allah yang dibawa masuk
oleh Yesus Kristus.

Seluruh umat manusia
telah berdosa. Kita semua berada di bawah kuasa dosa yang  memperbudak
kita dan membawa kita pada kematian. Keselamatan dari kuasa dosa dan maut
adalah kebutuhan eksistensial setiap orang. Inilah yang menjadi alasan
munculnya agama-agama. Tetapi siapakah yang dapat memberikan keselamatan sejati
kepada kita? Hanya Allah sendiri yang dapat memberikan keselamatan sejati
kepada kita. Di dalam diri Yesus Allah telah melakukan tindakan penyelamatan
yang konkrit dalam sejarah manusia. Allah bukan ide yang jauh di sana, tanpa
relevansi nyata dengan kenyataan hidup kita yang celaka. Dalam diri Yesus,
Allah telah mendatangi kita sebagai terang yang mengusir kegelapan kita
(perbudakan dosa, penghukuman, kehidupan yang hancur, dan kematian). Me­sias
yang menyelamatkan kita itu adalah Mesias ilahi, yaitu Allah yang menjadi manusia
untuk menyelamatkan kita (Yes 9:5).

Penegasan diri Yesus, “Aku
adalah terang dunia”
(Yoh. 8:12) adalah satu dari tujuh pernyataan “Aku
adalah” (ego eimi) di dalam Injil Yohanes. Enam pernyataan lain ialah:
“Akulah roti hidup” (6:35); “Akulah pintu” (10:7,9); “Akulah gembala yang baik”
(10:11,14); “Akulah kebangkitan dan hidup” (11:25); “Akulah jalan dan kebenaran
dan hidup” (14:6); dan “Akulah pokok anggur yang benar” (15:1,5). Penyelidikan
Alkitab menunjukkan bahwa penegasan yang unik “Aku adalah” yang
ditegaskan Yesus dalam Injil Yohanes mempunyai kesejajaran arti dengan
penegasan “Aku adalah Aku” dari Allah ketika ia menyatakan diri-Nya
sebagai Tuhan perjanjian (YHWH) kepada Musa  dalam Keluaran 3:14. Jadi
melalui penegasan “Akulah terang dunia,” Yesus sedang menegaskan identitas dan
otoritas dan hak keilahian-Nya, sekaligus penyataan karakter diri dan tindakan
penyelamatan-Nya bagi umat manusia. Ia yang adalah Tuhan Allah, adalah pemberi
terang keselamatan kepada manusia berdosa. Penyataan diri Yesus ini juga harus
kita lihat dalam latar belakang ungkapan orang saleh Perjanjian Lama yang
menyebutkan bahwa “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku” (Mzm. 27:1).
Sekarang, terang itu, yaitu Tuhan sendiri, datang dalam diri Yesus, untuk
membawa keselamatan kepada umat manusia. Inilah berita Injil yang dinubuatkan
oleh Yesaya, yang direalisasikan pada malam natal di Betlehem.

Identitas diri dan
pekerjaan Yesus sebagai terang dunia juga ditegaskan di dalam Yohanes 1:1-5.
Dalam Yohanes 1:1-3, rasul Yohanes menegaskan bahwa Sang Firman, yaitu Yesus
Kristus adalah Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, yang telah ada bersama-sama
dengan Allah Bapa sejak kekekalan, Dia sendiri bukanlah ciptaan, sebaliknya
melalui Dialah segala sesuatu diciptakan, dan sebelum Dia menciptakan, belum
ada suatu apa pun yang telah diciptakan. Dalam ayat 4 dikatakan bahwa “Dalam
Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Di sini Yesus ditegaskan
sebagai sumber hidup, yang daripada-Nya seluruh alam semesta dan manusia
memperoleh hidupnya.

Tetapi “hidup” di sini,
bukan sekadar hidup biologis, melainkan hidup dalam berkat dan perkenanan
Allah. Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang dipakai untuk kata ‘hidup’, yaitu
’bios’ dan ’zoe’. Bios ialah hidup biologis; sedangkan zoe ialah
hidup ilahi, hidup dalam segala berkat ilahi. Orang bisa memiliki bios,
hidup fisik, tanpa memiliki hidupilahi, zoe. Dalam contoh
kehidupan sehari-hari, banyak orang yang memiliki hidup, tetapi dalam
penderitaan yang begitu berat, sehingga mereka berpikir lebih baik tidak pernah
dilahirkan. Dalam arti rohani, bios tanpa zoe, kehidupan atau
keberadaan tanpa berkat dan perkenanan Allah, inilah keadaan mereka yang
dijauhkan dari hadirat Allah, mereka yang berada dalam penghukuman dan
kebinasaan kekal.

Siapakah yang dapat
memberikan zoe itu kepada kita? Yesus Kristus, sumber hidup manusia
itulah satu-satunya yang sanggup memberikan zoe, hidup kekal,
keselamatan sempurna kepada kita. Penebusan Yesus memungkinkan kita untuk hidup
dalam segala berkat dan perkenanan Allah. Di zaman sekarang agama telah saling
belajar. Walaupun kita memiliki agama yang sejati, tetapi mungkin umat telah
gagal memahami dan menampilkan keunikan kekristenan. Sehingga orang mulai
berpikir kekristenan sama dengan semua agama lain. Orang Kristen seharusnya
punya zoe, hidup dengan kuasa ilahi yang memerdekakannya dari
cengkeraman dosa, bukan sekadar datang beribadah dan melayani secara formal di
Gereja tetapi tidak mengalami kuasa hidup yang memerdekakan.

2. Dalam DiriNya, orang Kristen menemukan pernyataan
pengajaran/wahyu kebenaran Allah.

Inilah
arti Terang yang dijelaskan di Mzm 119:105, Yes 2:5b dan Yes 51:4c-d. Berarti,
itulah tuntunan atau jalan untuk menjalankan hidup. Firman, perintah,
pengajaran dan wahyu Tuhan ialah Terang lalu puncaknya hanya dalam Kristus. Di
zaman dulu, Allah telah memakai para nabi­Nya untuk menyatakan Diri. Manusia
perlu dituntun.

Melalui
pernyataan Yesus, orang mengenal Allah sejati (Yoh 14:9 dan Mat 11:27). Tanpa
Kristus sebagai puncak kesaksian para nabi, ia hanya menemukan allah hasil
imajinasi dan filosofi sesat. Bagi Martin Luther, itulah teologi kemuliaan yang
justru tak membawa manusia kepada Tuhan. Terang yang dibawa oleh Yesus untuk
menuntun langkah hidup umatNya. 

Manusia
berada dalam kegelapan/kesesatan/ignorance, bukan sekedar tak tahu.
Kebodohan sering berakibat kesalahan dan juga terkait dengan kebebalan serta
kejahatan/immoralitas. Orang yang berjalan dalam kegelapan tak dapat melihat
secara jelas. Ia akan tersandung dan jatuh. Ia tak tahu arti dan tujuan
hidupnya (Yoh 12:35). Orang Kristen seharusnya tak seperti yang ditulis oleh
Paulus di Ef 2:12 dan Rm 1:21. Orang mungkin menyembah tuhan/dewa tapi tersesat
tanpa Allah.

Manusia
merasa sangat pandai tapi sebenarnya hati dan pikirannya jadi gelap, bebal
serta bodoh bukan karena IQ rendah. Banyak orang terkenal dan punya IQ tinggi
tapi tak memiliki Terang Firman, seperti Nietzsche yang cerdas luar biasa tapi
hidupnya rusak. Ia merasa bijaksana. Tulisannya sangat sombong dan keras tapi
melawan Tuhan. Ia berani menyatakan diri anti-Kristus lalu merusak orang lain.
Ia menumpuk murka Allah. Pengetahuan Bertrand Russell sangat luas dan
kepandaiannya luar biasa. Ia ahli Matematika, Filsafat dsb tapi tak percaya
kepada­Nya. Ia berpendapat Kekristenan pasti jatuh. Ia lebih bodoh daripada
orang sederhana dengan kebijaksanaan. Seperti di Mzm 119:97-100, orang yang
mentaati Firman akan lebih bijaksana daripada pengajar.    

Banyak
agama menawarkan jalan, ajaran, moralitas dsb tapi tak selalu membawa pencerahan
pengertian kebenaran sejati. Di agama manusia ada banyak kepalsuan, kefasikan
dan penyesatan. Dalam dialog antara Kristus dan pemuda kaya yang hebat di
masyarakat, moralnya baik dan kebajikannya luar biasa (Mat 19:16-26) diketahui
ternyata agama, kerohanian dan kesalehan manusia kosong belaka. Yesus
menyatakan manusia itu hancur binasa, keji dan penuh kesesatan maka membutuhkan
anugerah hidup baru yang hanya diberi olehNya. Mereka tak sungguh menjalankan
kesalehan, kebajikan dan Firman. Ketika ditantang, mereka tak lebih mengasihi
Allah dan sesama daripada uang. Pemuda tersebut mengatakan telah melakukan
semua Firman. Tapi ketika Tuhan memintanya menjual dan memberikan hartanya pada
orang miskin lalu mengikutiNya, ia dengan sedih meninggalkanNya serta mengabaikan
sesama. Orang Farisi yang paling ketat berusaha melakukan Firman hanya punya
keagamaan lahiriah. Tapi Kristus menunjukkan esensi agama dalam hati/motivasi
terdalam. Ketika melakukan kebajikan, kesalehan, ibadah, puasa dan pengorbanan
diri, orang beragama merasa sudah hebat sekali. Padahal hanya melalui Kristus,
ia menemukan arti dan kuasa kesalehan sejati. Bukan dengan kekuatan sendiri. Ia
tak mampu mengerti dan melakukannya. Hanya dengan anugerah yang dikerjakan oleh
Roh Kudus dalam diri, ia baru dapat berjalan dalam Terang­Nya serta tahu
kebenaran yang mendatangkan kesejahteraan dan berkenan kepada-Nya. Orang
Kristen seharusnya tahu tujuan dan arah hidup yang berkenan kepadaNya sehingga
beda dengan dunia karena tak lagi dikuasai oleh kegelapan.    

3. Yesus datang bukan
hanya mengajarkan tapi mewujudkan kehidupan yang paling berkenan kepada Allah.

Semua orang berdosa.
Tak ada yang hidup berkenan kepadaNya. Di Mzm 8 ada ungkapan yang sangat indah
mengenai manusia. Betapa luar biasa ia diciptakanNya. Ia juga ditempatkan
hampir sama denganNya. Ia diberi mahkota dan kemuliaan. Tapi ia penuh kehinaan
dan kehancuran. Hatinya sempit dan lebih mementingkan diri sendiri. Ia mudah
terpikat oleh dosa. Tak ada yang memenuhi gambaran manusia di Mzm 8. Bahkan ia
bisa jadi lebih buruk daripada binatang. Hanya Kristus yang menggenapi jadi
manusia sejati (Mat 3:17). Ia datang tak hanya sebagai anak Allah tapi juga
anak manusia untuk mewujudkan kehidupan sempurna agar Ia layak jadi korban
penebusan/Juruselamat yang tak bercacat cela. Orang mungkin tahu hidup yang
benar tapi hanya Yesus yang melaksanakannya. Mereka yang mengalami kuasa
penebusan dan menerima inspirasi dariNya akan mewujudkan hidup yang berkenan
kepada-Nya. 

Yesus ialah Terang di
dunia yang gelap, jahat dan beda denganNya meskipun sangat berat. Ketika
menyatakan kesaksian hidup dalam Firman, orang Kristen merasa akan dilawan,
ditindas, dimusuhi dan dihancurkan. Inilah yang dialami oleh Kristus ketika
menyatakan hidup yang saleh luar biasa. Ia menghadapi segala resiko. Maka Ia
dianggap idiot oleh dunia karena terlalu jujur, tulus, murni, sopan, baik dan
pengampun. Akhirnya Ia harus mati.

Yoh 1:5 sangat luar
biasa. Di dunia gelap dan bengkok, terang Kekristenan seharusnya bersinar.
Kalau tidak, kegelapan mengalahkan dan menguasainya. Politik itu kotor. Bisnis
harus berbohong agar dapat keuntungan dan jadi kaya. Kebanyakan orang
berpendapat kalau tidak seperti itu, tak bisa hidup. Orang dapat keuntungan
sebenarnya bukan karena berbohong melainkan berkat Tuhan. Kondisi jemaat
Kristen pertama lebih sulit daripada sekarang. Mereka dihina tapi percaya
kepada Mesias yang disalib dan harus menyaksikan iman tersebut serta menghadapi
Romawi dan bangsa kafir meskipun mengalami kesulitan, desakan, siksaan dsb.
Saat ini banyak orang pandai dan kaya jadi Kristen. Cukup membanggakan tapi
mungkin kadang juga sangat memalukan. Orang Kristen seharusnya punya hati serta
keberanian untuk bersaksi dan membayar harga, bukan jadi pengecut yang menjual
Tuhan. Kalau tidak, takkan ada yang mengabarkan Injil. Kalau tak ada yang
mengorbankan jiwa dan nyawa, takkan ada orang percaya. Mereka patut dikagumi
dan harus diteladani.

Kalau Kristus tak
memulai, takkan ada orang melakukan kebajikan dan pengorbanan diri untuk jadi
terang bagi yang lain. Ia seperti lilin. DiriNyalah yang hancur. Seluruh
hidupNya diserahkan dan dikorbankan bagi umatNya agar Terang itu bercahaya.
Pelayanan membutuhkan pengorbanan. Ini terinspirasi dari Yesus. Tapi dalam
beribadah dan memuji Tuhan kadang orang Kristen tak bersemangat. Di pelayanan
mungkin juga mengadakan perhitungan. Pemberian orangtua pada anak yang
dikasihinya merupakan hasil keringat dan darahnya.

Martin Luther King Jr.
mengajarkan ketika mengalami berkat dan kondisi lancar, ingatlah  orang
yang telah berjuang serta berkorban memungkinkan semua itu dapat dinikmati.
Manusia berada dalam waktu dan tak lepas dari orangtua serta generasi
sebelumnya. Orang jadi Kristen karena ada yang mengabarkan Injil padanya. Ada
yang melalui siaran radio meskipun tak jadi kaya karena ia sangat mengasihi
jiwa. Tongkat estafet ini dimulai dari Kristus lalu diteruskan oleh Paulus dst.

Tiap kali melayani,
Paulus menghadapi tantangan, penindasan dan kesulitan. Padahal ia juga
menginginkan kesenangan dan kenyamanan. Tapi baginya sebagai hamba Tuhan, ia
mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mencari jiwa. Ia hidup untuk berkorban
bagi orang lain.

Orang Kristen mungkin tak mencapai taraf luar biasa tapi harus
meneruskan estafet dari Terang. Ia seharusnya membawa Terang ke sekitarnya
dengan mengabarkan Injil serta menyaksikan kebaikan, kebajikan dan kejujuran
meskipun sulit. Amin.

Dimensi Doa

Nats: Mat 6:5-7

PENDAHULUAN

“Berdoalah” … itulah
yang kerap dikatakan sebagai nasehat ketika berbicara tentang salah satu aspek
dari kehidupan Kristen. Di satu pihak kita mendengar bagaimana orang-orang
memiliki pengalaman di dalam doa-doa mereka … mereka memiliki pengalaman
merasakan kehangatan, kasih dan pertolongan Allah pada saat mereka berdoa.
Jamahan tangan Allah yang lembut mereka rasakan di dalam kehidupan mereka
sehingga kehidupan doa menjadi sesuatu yang sangat indah. Tapi di lain pihak
kita melihat adanya orang-orang yang sudah berdoa juga, tapi tidak mengalami
hal yang sama. Kehidupan doa menjadi sesuatu yang kering dan menjemukan. Apa
sebenarnya yang terjadi? 

Pada suatu kali
murid-murid melihat Yesus sedang berdoa dan kemudian memperbandingkan Guru
mereka dengan Yohanes Pembaptis dan bertanya, mengapa Yohanes mengajar mereka
berdoa sedangkan Yesus tidak?  Pertanyaan ini mempunyai arti yang dalam
sekali karena menunjukkan esensi dari keberadaan manusia yang mencari dan
membutuhkan persekutuan dengan Allah. Kita akan melihat apa yang Yesus sendiri
ajarkan tentang berdoa tersebut.  

1. BERDOA : LUAR &
DALAM SAMA

Yesus pertama-tama
mengajarkan kalau berdoa jangan seperti orang munafik yang berdoa di tikungan
jalan supaya dapat dilihat oleh orang lain kalau mereka sedang menjalankan
sebuah kegiatan agama. Ini bukan berdoa, melainkan sedang memamerkan kebiasaan
di dalam sebuah pola beribadah. Ketika Yesus mengatakan bahwa tindakan ini
munafik, maka kita dapat mengerti bahwa sesungguhnya orang yang sepertinya
berdoa itu sebenarnya sedang tidak berdoa. Allah tidak menghendaki orang-orang
yang sedemikian. Ia mencari orang yang luar dan dalam sama ketika menghampiri
tahta Allah … yang tidak munafik. Dia mencari orang-orang yang sungguh mencari
Dia. 

2. MENCARI ALLAH DI
DALAM KEHENINGAN

Sebagai kontras yang
Yesus ajarkan ketika seorang berdoa adalah, masuk ke dalam kamar, tutup pintu dan
berbicara dengan Allah. Alkitab mengatakan selanjutnya bahwa Bapa ada di dalam
tempat yang tersembunyi … dan Bapa itu melihat yang tersembunyi yaitu orang
yang berdoa di dalam kamar tersebut dan akan membalasnya  bukan memberi
upah. Tentu ayat ini tidak berarti kalau setiap kali kita mau berdoa harus
masuk kamar, bukan itu maksudnya. Tapi Alkitab di sini dengan tegas pula
mengatakan adanya suatu tempat tertentu, tempat yang sunyi … yang tidak ada
kebisingan dan gangguan dimana seorang dapat datang dan berdoa kepada
Allah. 

Terkadang kita memang
memerlukan tempat seperti itu untuk berdoa. Sebuah lagu dengan lirik yang indah
mengungkapkan kebenaran ini, “Indahlah saat yang teduh menghadap tahta Bapaku
…” memberikan kesan ketenangan ini. Jiwa kita memerlukan keteduhan itu dimana
kita dapat bersekutu dengan Bapa. Kita tidak dapat melihat Allah tidak dapat
dilihat di dalam kebisingan, ketergesa-gesaan. Kita perlu saat di mana kita
dapat berdua saja dengan-Nya … di dalam keheningan.  

Seorang rekan di dalam
pelayanan mempunyai kebiasaan yang unik ketika berdoa pada saat kami berada di
dalam Seminari. Waktu doa pribadinya adalah pada saat lampu kamar di dalam
asrama sudah harus dimatikan dan kami semua sudah harus tidur. Apa yang dia
lakukan? Di dalam kegelapan itu, dia mengambil sebuah lilin, membakar dan
menaruhnya di meja belajar dan mulai dia bercakap-cakap dengan Bapa di dalam
doanya. Sendiri di dalam keheningan.  

Hadirat Allah adalah
tempat yang tepat bagi perteduhan jiwa yang letih dan merindukannya. “Datanglah
padaku … dan kamu akan beroleh kelegaan” (Bd: Mat 11:28). Di dalam keheningan,
berdua saja dengan Allah … di sana ada perhentian dan perteduhan yang sejati
bagi jiwa.

3. BERDOA DAN
KEBUTUHAN

Hal yang ketiga yang
diajarkan Yesus adalah berkaitan dengan kebutuhan di dalam doa dan banyaknya
kata-kata yang diucapkan. Allah tidak menyukai doa yang bertele-tele, yaitu doa
dengan kata-kata yang banyak dengan harapan Allah menjawab doa tersebut. Ini
adalah kon­sep berusaha mempengaruhi Allah untuk menjawab doa dengan kata-kata.
Alkitab menyatakan bahwa kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan kafir, yaitu
kebiasaan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka dapat
menyogok Allah dengan kata-kata.  

Allah sama sekali
tidak menghendaki cara seperti ini. Allah tahu semua yang kita perlukan.
Perhatikan sekali lagi bahwa Allah tahu apa yang kita perlukan. Mungkin sekali
kita sendiri tidak tahu apa yang kita perlukan. Di sini perlu dibedakan dengan
apa yang kita inginkan. Tidak selalu apa yang kita inginkan adalah apa yang
kita perlukan. Kita melihat gambaran yang indah sekali antara doa dan
pemeliharaan Allah. Kita berdoa dan mengatakan kepada-Nya akan apa yang kita
perlukan dan Allah mengetahui dengan jelas isi doa itu. Kita perlu belajar
memikirkan apa yang kita sungguh-sungguh perlukan ketika berdoa.  

Di dalam hal
pengabulan doa, Alkitab mencatat hal yang jelas sekali bahwa penilaian akan
keperluan kita itu berasal dari Bapa. Bapa yang menilai itu benar menjadi
keperluan kita dan Bapa melihat mana yang baik. Hal inilah yang akan diberikan
kepada kita. Jadi bukan kita yang menganggap itu baik dan bahwa Bapa harus
memberikannya, melainkan kita menerima apa yang Bapa anggap itu baik bagi kita.
Inilah yang harus kita terima. 

Alkitab mengajarkan
prinsip-prinsip penting tentang doa itu. Sekarang yang menjadi pertanyaan
adalah, bagaimana kenyataan tentang doa dan hidup doa di dalam hidup orang
percaya setiap harinya. Ternyata kehidupan doa ini banyak sekali dimensinya,
dalam arti segala hal yang dimengerti tentang doa terkadang menjadi hal yang
sulit untuk dipahami dan diterima di dalam kenyataan hidup. Timbulnya
penolakan-penolakan bahkan mungkin, marah kepada Tuhan karena Dia tidak datang
dan menolong pada saat dibutuhkan menjadi gambaran nyata dan dialami banyak
orang percaya.  

4.
Kehidupan Doa : Sebuah “Petualangan”

Suatu saat saya
membaca sebuah majalah yang di dalamnya ada sebuah kalimat yang ditulis oleh
seorang yang bernama Harold L. Myra. Dia menuliskan sebuah artikel yang
berjudul, “Hidup dengan mujizat-mujizat Allah”. Di bagian awal tulisannya itu,
dia mengatakan demikian, “Kehidupan doa adalah suatu petualangan …”  

Doa adalah sebuah
petualangan? Apa maksudnya? Memikirkan kata-kata ini, kita masuk kepada sebuah
pemahaman yang lebih lagi tentang apa itu doa. Di dalam tulisannya ini, Myra
mencoba memaparkan beberapa pengalamannya tentang doa yang justru ia pelajari
pada saat ia pergi menyendiri di sebuah tempat di tepi hutan. Dia menceritakan
situasi dan keadaan yang menyelimutinya, keadaan dimana di dalamnya dia
memikirkan dan merenungkan pengalaman berdoa di dalam kehidupannya. Membaca
bagian demi bagian cerita itu, ada beberapa kebenaran penting tentang doa dan
pengalaman berdoa; bahwa ada banyak hal yang Allah lakukan dan nyatakan di
dalam hidupnya yang tidak terpikirkan sebelumnya. 

5.
Allah, Tragedi Hidup & Karya-Nya yang Menakjubkan

Kita harus jujur
terhadap diri bahwa ada banyak hal yang tidak kita inginkan yang justru terjadi
di dalam kehidupan kita ini. Ada banyak kesakitan serta kesedihan-kesedihan
yang mendalam terukir. Di mana Allah pada saat seperti ini datang? Kenapa Dia
tidak melepaskan dari kesulit­an semacam ini? Apakah Dia diam dan tidak
melakukan apa-apa? Kalau dapat dikatakan, sebenarnya ada banyak hal yang kita
mungkin tidak akan pahami seumur hidup kita bahkan sampai kita kembali
kepada-Nya.  

Apakah memang Bapa
tidak peduli sama sekali? Tentu tidak! Alkitab mengatakan bahwa Dia sungguh
peduli. Tetapi kenapa kita tidak dapat menangkap kepedulian-Nya ini. Justru
inilah pokok persoalannya. Kita memikirkan apa yang kita anggap baik dan bukan
apa yang Bapa anggap baik. Di dalam doa nampaknya kita kerap bersikap “Ini yang
aku mau” dengan mengatakan “Tuhan, inilah yang saya pikir baik dan biarlah
Tuhan menjawabnya berdasarkan hal ini”. Akibatnya kita tidak siap hati ketika
melihat cara lain, jalan lain yang Tuhan tempuh berdasarkan apa yang Dia anggap
baik untuk menjawab doa kita itu. Bapa membawa kita dengan kasih-Nya masuk ke
dalam rencana-Nya yang kekal. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa Allah
tidak peduli. Sesungguhnya Dia sangat peduli dan mengetahui apa yang kita
perlukan.

Di dalam ceritanya ini
Harold L. Myra menceritakan tentang anak angkatnya yang terlibat di dalam
pemakaian obat bius. Dia kemudian melarikan diri dan bersembunyi di suatu
tempat. Namun kemudian ada seorang ibu yang mengetahui lalu memberitahukan
kepada polisi. Tentu saja dia menjadi kalut dan sangat tidak senang kepada ibu
ini. Ia kemudian menghadang dan menembak ibu tersebut dengan sebuah senapan.
Akibatnya dia dipenjara seumur hidup. Harold kemudian bertanya di dalam diri,
“Mengapa doa-doa kita terdahulu yang kita panjatkan untuknya tidak dapat
mencegah penderitaannya yang mendalam?” Ini adalah sebuah tragedi hidup. Kita
sulit memahami kenapa Allah tidak menjaganya sedemikian rupa sehingga ia tidak
melakukan kesalahan fatal itu. Apakah ini yang terbaik bagi anak tersebut dari
sudut pandang Allah? Mungkin sekali. Sekali lagi ada banyak hal yang mungkin
kita tidak pahami saat ini.

Dimana karya-Nya yang
menakjubkan itu? Adakah Allah di dalam situasi seperti ini? “Ya”, Dia tetap ada
bahkan di dalam situasi yang sangat tidak menentu. Daud mengatakan, “Di dalam
bayang-bayang maut … Allah ada bersamanya” (Mzm 23).  

6.
Suatu “Kebetulan” yang berasal dari Allah

Apakah maksud
“kebetulan” di sini? Menarik sekali, cara Allah menjawab doa itu terkadang
membawa kita kepada situasi kita merasa itu hanya “kebetulan” saja. Seperti
sebuah pandangan sekilas dan akibatnya, kita tidak merasakan sebagai suatu yang
khusus. Ada banyak jawaban doa yang diberikan Allah di dalam konteks
“kebetulan”. “Akh … memang kebetulan saja koq … “ Hal seperti ini yang biasa
terdengar atau muncul di dalam hati kita mengomentari peristiwa yang sedang
terjadi. Di sini seperti ada bias antara pengertian bahwa Allah sungguh
memelihara dan memperhatikan setiap umat-Nya dengan konsep “kebetulan”.  

Setiap “kebetulan”
sebenarnya adalah mujizat yang Allah beri di dalam hidup kita dan kebetulan ini
memang merupakan bagian dari rencana-Nya. Kita berdoa dan meminta sesuatu
kepada-Nya dan Dia menjawab doa tersebut dan kita menganggap ini kebetulan
saja?  

Kita dapat saja
diperdaya oleh konsep ini sehingga akibatnya kita tidak melihat dan memahami
bagaimana Allah bertindak. Maksudnya, di dalam hal yang terlihat sebagai alamiahpun
merupakan bagian dari rencana Allah mengajar kita. Di dalam kitab Amsal kita
memahami bagaimana hikmat berseru-seru di jalan-jalan untuk memberikan
pengertian kepada kita.  

7.
Allah & Kejutan-kejutan-Nya

Allah bertindak penuh
dengan kejutan. Di dalam Alkitab kita melihat beberapa catatan tentang hal ini.
Misalnya ketika Allah memberi perintah kepada Nuh untuk membangun bahtera di
tengah-tengah daratan. Siapa yang menyangka akan mendapat perintah seperti ini.
Demikian juga cerita tentang seorang pemilik ladang yang mencari pekerja yang
dapat bekerja di ladangnya. Antara pekerja yang bekerja lebih awal dan yang
terakhir, upahnya sama. Selain itu cerita tentang perumpamaan kedatangan-Nya
kali kedua. Semua penuh dengan kejutan.

Adakalanya Allah
menjawab doa-doa kita dengan kejutan-kejutan. Dengan cara yang kita tidak
pernah antisipasi dan pantau sebelumnya. Mungkinkah Allah menjawab doa melalui
cara kepedihan? Mungkin sekali. Akibatnya ada orang yang mengatakan bahwa Allah
memiliki “humor” yang tinggi.  

Banyak orang merasa
tersiksa dan kebingungan karena melihat dunia ini seperti sebuah teka-teki. Ada
banyak kejutan yang terjadi di dalamnya. Seorang pernah berkata bahwa ketika
berhubungan dengan Allah, maka saat inilah yang memberi ketidakpastian. Apa maksudnya?
Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Allah selanjutnya. Yang pasti adalah
Allah membalut hidup kita. Sehingga di sini muncul konsep paradoks,
“Ketidakpastian yang menyenangkan”. Tidak pasti karena tidak tahu apa yang akan
Allah lakukan, tetapi menyenangkan karena tahu bahwa hidup kita tidak pernah
terlepas dari pengamatan-Nya.  Amin.

Reformasi, Injil dan Taurat

Nats: Gal
3:1-14

I. Setiap
orang mendambakan keselamatan: hidup dalam kesejahteraan dan dijauhkan dari
kesengsaraan. Walaupun ini bukan tujuan hidup yang mulia dan yang tertinggi,
bahkan agak egois, tetapi ini dipakai oleh Tuhan untuk membawa orang untuk
datang kepada Tuhan, karena hanya di dalam Dialah orang mendapatkan kebahagiaan
sejati. Dan setelah dididik dalam kebenaran ia baru dapat memiliki motivasi
yang seharusnya: memuliakan Tuhan di atas segala-galanya.

Tetapi
tidak semua orang yang menginginkan keselamatan pasti selamat, karena: (1) Dia
mencarinya di tempat yang salah.
Salah memilih bengkel mobil bukan saja
mengakibatkan pemborosan uang yang banyak, tetapi juga membuat mobil menjadi
tambah rusak; mencari dokter yang salah, bukannya tambah sembuh tetapi
penyakitnya tambah parah, selain harus membayar biaya yang besar. Jika percaya
kepada Allah yang salah, walaupun yang kita inginkan adalah keselamatan, tetapi
yang akan kita dapatkan justru adalah kebinasaan.

(2) Dia
tidak bersungguh hati untuk mendapatkannya.
Semua orang ingin sehat dan
tidak mau sakit, tetapi betapa banyak orang yang justru mengabaikan
kesehatannya. Kebanyakan orang baru sungguh-sungguh memperhatikan kesehatannya
ketika penyakit mulai mengganggu atau membahayakan hidupnya. Orang seperti baru
sadar betapa berharganya kesehatan dan mau membayar harga yang mahal untuk
menjadi sehat, hanya setelah tahu apa itu sakit dengan akibatnya yang sangat
menyengsarakan.

Ada begitu
banyak orang yang menganggap enteng keselamatanya, dan memperlakukannya sebagai
hal yang boleh ada dan boleh tidak ada. Buktinya mereka begitu mudah untuk
meninggalkan Tuhan ketika mendapatkan tawaran lain. Yesus menuntut setiap orang
yang mengikuti Dia harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat 16:24), dan ini
adalah hal yang sulit; lalu bagaimana orang mau membayar harga untuk mengikut
Yesus jika mereka belum menyadari bahwa dirinya berada dalam kebinasaan dan
anugerah keselamatan Yesus adalah satu-satunya sumber sejahteranya. Hanya
ketika orang yang sadar akan keadaannya yang celaka dan merasakan kengerian
akan kebinasaan, dia akan mencari  keselamatan dengan sungguh-sungguh; dan
ketika orang mencari keselamatan dengan serius saja yang akan menerimanya
dengan penghargaan dan kesiapan membayar harga. Hanya orang sakit yang
menghargai dan mau menerima perawatan dokter, itulah sebabnya Yesus berkata
bahwa Dia datang untuk mencari orang yang sakit supaya disembuhkan; berdosa
supaya diselamatkan.

Tidak ada
orang yang begitu bersungguh-sungguh mencari keselamatan seperti Martin Luther.
Di bawah ancaman sambaran petir ia berjanji untuk masuk biara, dan sejak itu ia
berusaha sekuat tenaga untuk memupuk kesalehan supaya dapat berkenan kepada
Allah. Kesadaran akan dosa dan keadaannya yang celaka telah mendorong dia untuk
sungguh-sungguh mendapatkan keselamatan. Tetapi semua usaha kesalehannya itu
tidak menolong dia. Baru dalam keadaan yang frustasi itulah ia menemukan Injil
anugerah Yesus Kristus, bahwa dia dapat diselamatkan karena jasa penebusan
Kristus yang sempurna. Dengan menemukan kembali Injil anugerah ini pintu sorga
telah terbuka baginya. Hidupnya mendapatkan arah dan semangat yang baru, penuh
iman dan pengharapan. Karena itulah Injil anugerah ini begitu berharga maka dia
rela menghadapi segala ancaman dan kesulitan dari gereja Katolik Roma. 

II. Ketika
berada di dalam biara Martin Luther dengan sungguh-sungguh melakukan semua
tuntutan yang diajarkan sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan. Ia banyak
membaca Alkitab, berdoa, berpuasa, menyiksa diri, mengumpulkan barang
peninggalan orang suci dan berziarah, untuk mendapatkan keselamatan dan
kedamaian, tetapi semua itu sia-sia. Ketika ia berusaha mengasihi Allah,
sebagai ketaatannya kepada perintah Allah, tetapi ia menyadari betapa kasihnya
itu egois dan cacat, karena itu ia sadar bahwa tidak ada sesuatu yang dapat ia
lakukan yang melayak dia untuk diterima oleh Allah. Keadaan ini membuatnya sangat
putus asa.

Kesulitan
rohani yang dialami oleh Martin Luther ini terjadi karena pada waktu itu gereja
telah mengabaikan Injil anugerah, dan telah menjadikan kekristenan hanya suatu
bentuk agama Taurat. Orang-orang beranggapan bahwa dengan melakukan peraturan
Gereja, mengejar kekudusan dan berbuat baik orang akan diselamatkan. Itulah
prinsip Taurat: Lakukanlah, maka kamu akan hidup (Gal. 3:12). Semua agama
manusia pada dasarnya dilandasi oleh prinsip Taurat ini. Dengan standar buatan
sendiri yang rendah sebagian orang merasa telah memenuhi tuntutan untuk dapat
diselamatkan. Dalam terang hukum Taurat yang sempurna, kita menegaskan bahwa
tidak ada seorang pun yang sanggup melakukan perintah Allah, karena itu semua
orang berusaha dibenarkan dengan melakukan Taurat pasti berada di bawah kutuk
(3:10).

Berada di
jalan buntu inilah Martin Luther belajar mengenai kegagalan dari keagamaan yang
bersandar pada usaha / kesalehan manusia, dan ini merupakan langkah penting
untuk mengerti Injil anugerah. Inilah fungsi pertama dari Taurat yaitu
menghancurkan kecongkakan hati manusia yang merasa dirinya cukup hebat dan
mampu untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya setelah orang menjadi rendah
hati dan menyadari keadaannya yang hancur, nestapa, miskin, buta, dan sangat
najis di hadapan Allah, ia mulai menghargai dan menerima Injil Yesus Kristus
dengan rasa syukur. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang
miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”
(Mat
5:3).

Melalui
studi Alkitabnya Martin Luther dibukakan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha
manusia yang rapuh, tetapi karunia pembenaran yang dikerjakan oleh Yesus
Kristus dan yang diterima dengan iman. Kini dia telah mendapatkan kelegaan dan
kebahagiaan. Bagi Luther Injil Yesus Kristus adalah harta yang paling berharga.
Hanya melalui Taurat Tuhan yang sempurna orang sadar akan kebutuhan akan Injil
anugerah. Itulah sebabnya kita meragukan orang dapat mengerti Injil dengan
benar tanpa Taurat.

III. Kita
yang telah diselamatkan tanpa hukum taurat, tetapi berdasarkan iman tidak
dimaksudkan menjadi pelanggar hukum Taurat, tetapi supaya menjadi pelaku
kebenaran Allah. Taurat tidak dibatalkan, tetapi justru harus dilakukan secara
lebih penuh dan murni di dalam semangat dan terang Perjanjian Baru.  Dan
ini dimungkinkan karena adanya hidup baru yang dihasilkan oleh Injil.

Dalam
Galatia 3:1-5 Paulus mengkontraskan dua macam kehidupan: mereka yang percaya
kepada pemberitaan Injil dan yang bersandar kepada hukum Tau­rat. Mereka
percaya kepada Injil menerima karunia Roh yang berlimpah-limpah dan mujizat;
dan ini tidak diperoleh oleh mereka yang hidup berdasarkan pada Taurat. Melalui
ini, Paulus mau menegaskan bahwa iman dalam Injil Yesus Kristus menghasilkan
suatu pengalaman rohani yang tidak akan kita peroleh dari Taurat.

Melalui
percaya kepada Injil, Allah mengaruniakan Roh Kudus ke dalam hati kita; Roh
Kudus mengerjakan kelahiran baru dalam diri kita, menjadikan kita manusia baru,
memberi hati yang baru, nilai dan selera yang baru, dan kekuatan rohani untuk
melakukan kehendak Allah. Walaupun kita masih manusia yang memiliki yang banyak
kelemahan, tetapi kuasaNya yang bekerja dalam diri kita mengerjakan pembaharuan
yang menjadikan kita menjadi manusia rohani.

Hal ini
berbeda dengan agama Taurat yang bersifat lahiriah / kedagingan. Karena tidak
ada pembaharuan dari Roh Allah, maka orang melakukan perintah Allah karena
kewajiban agama, bukan karena dorongan kasih karena telah diubah dari dalam
diri mereka. Inilah fungsi kedua dari Taurat yaitu mengekang orang fasik yang
tak peduli akan keadilan dan kebenaran sehingga menahan diri dari melakukan
kejahatan karena takut pada ancaman hukuman. Anugerah umum ini diperlukan untuk
dimungkinkannya masyarakat umum.

Jika
keagamaan kita hanyalah dorongan kewajiban karena takut pada hukuman Allah,
maka walaupun tubuh jasmani kita masih di rumah Tuhan, sebenarnya kita adalah
orang-orang yang masih terhilang seperti si sulung (perumpamaan anak
terhilang). Akibatnya kita tidak pernah merasakan kebahagiaan di dalam
mengasihi Tuhan dan menaati Dia. Orang yang telah diubahkan oleh Tuhan akan
merasakan sukacita dan berkat di dalam melakukan kehendak Tuhan, semua
pelayanannya tidak akan dirasakan sebagai pengorbanan tetapi sebagai ungkapan
kasih dalam hubungan kasih yang indah dengan Allah.

Kita belum
sempurna, tetapi berdasarkan iman dalam Yesus Kristus kita akan terus bertumbuh
dalam anugerahNya. Melalui mempelajari hukum Taurat, kita belajar mengenal
kehendak Allah dan didorong untuk melakukan perintah­Nya. Inilah yang oleh John
Calvin dijelaskan sebagai fungsi ketiga dari Taurat yaitu menuntun dan
mengarahkan orang percaya untuk hidup kudus. Taurat sangat berguna bagi kita,
supaya kita mengenal kehendakNya dan didorong untuk melakukannya.

Mengenai
hubungan Injil dan Taurat kita harus memelihara keseimbangan antara keduanya,
dan menghindari 2 ekstrim ini: (1) antinomian, yaitu hidup yang mengabaikan ketaatan
kepada perintah Allah. Orang percaya yang telah dimerdekakan dalam Kristus
dimaksudkan untuk menjadi pelaku kehendak Allah yang dinyatakan di dalam
seluruh Alkitab. (2) Moralis/Legalis, dengan pengertian akan Injil yang kaku
dan salah, orang menerapkan secara paksa dan akhirnya menjadi beban berat yang
tidak membangun kesalehan sejati, kecuali keagamaan yang kecut dan menjadi
musuh Allah dan sesama.

Orang Kristen perlu
memiliki keseimbangan Injil anugerah dan Taurat yang kudus, sehingga dengan
pengertian yang benar akan maksud Tuhan, kita dengan kuasa Roh Kudus yang
bekerja di dalam kita, kita memakai kemerdekaan kita untuk melakukan berbagai
kebajikan dan memuliakan Allah. Inilah hidup Kristen yang indah. GerejaNya
diharapkan dapat mewujudkannya dengan pertolonganNya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *