Pengertian dan Prinsip Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) secara substansi kurikulum sama dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang ditetapkan tahun 2004 lalu, isi, target maupun materi kurikulum baru 2006 akan sama persis dengan KBK 2004. Perbedaannya kurikulum tersebut tidak mengatur secara rinci kegiatan belajar mengajar di kelas di masing-masing sekolah. KTSP dirancang bebas dan bertanggung jawab oleh guru dan sekolah aspiratif dengan berbagai kondisi objektif murid dan potensi daerahnya.

Oleh karenanya apa yang kita kenal dengan kurikulum 2006 yang dibuat oleh BSNP sebenarnya bukan kurikulum tapi pedoman/ panduan. Penjabarannya diserahkan sepenuhnya kepada guru dan pihak sekolah. Masing- masing satuan pendidikan bebas untuk menentukan sendiri materi, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian yang akan dicapai oleh murid. Isi dan target kompetensi itu selanjutnya diimplementasikan oleh masing-masing sekolah. Sehingga, metode pembelajaran di masing-masing sekolah bisa berbeda namum tetap berada pada kerangka Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Penjabaran kurikulum itu harus berpijak pada prinsip-prinsip KBK. Menitikberatkan pada pola belajar siswa aktif atau active learning. Guru tidak hanya sekedar berceramah, komunikasi berjalan dua arah dan sebanyak mungkin dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Pemberlakuan kurikulum 2006 digarapkan makin mengukuhkan eksistensi KBK. Hambatan terbesar yang dihadapi penyusunan KTSP ialah ketersediaan infrastruktur dan SDM guru yang memadai untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian. Oleh karena berbagai hal, pendidikan umumnya mengalami minimnya infrastruktur alat peraga, laboratorium serta fasilitas penunjang yang sebenarnya menjadi syarat utama memberlakukan KBK.

Kurikulum 2006 melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan keleluasan dan kebebasan yang sebesar-besarnya bagi guru untuk mengembangkan segenap kemampuannya yang selama sejarah pendidikan di Indonesia belum pernah diperoleh guru. Satu hal yang pasti, idealisme yang terkandung dalam kurikulum 2006 ialah membebaskan guru untuk mengembangkan kreativitas, untuk memaknai kurikulum sebagaimana yang akan dinyatakan dalam KTSP.[1]

Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun BSNP.
  2. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
  3. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi kelulusan, dibawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/ kota, dan departemen agama yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
  4. Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.[2]

Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan 7 prinsip-prinsip yaitu:

  1. Berpusat pada potensi.
  2. Beragam dan terpadu.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
  5.   Menyeluruh dan berkesinambungan.
  6. Belajar sepanjang hayat.
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.[3]

Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran dalam kurikulum 2006 secara utuh meliputi berbagai aspek kehidupan sebagaimana yang tercermin melalui 7 prinsip pelaksanaan kurikulum sebagai berikut

  1. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis, dan menyenangkan.
  2. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu:
  3. Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.,
  4. Belajar untuk memahami dan menghayati.,
  5. Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif.,
  6. Belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain., dan
  7. Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
  8. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/ atau percepatan sesuai potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik.
  9. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat.
  10. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
  11. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial, dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
  12. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselengarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.[4]

Dengan KTSP, sekolah dapat memasukkan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal dan global, yang merupakan bagian dari mata pelajaran yang diunggulkan. Serta dapat mengenal pembelajaran tematis yang dapat menentukan alokasi waktu per-mata pelajaran sedangkan dalam PMB menggunakan pendekatakan tematis.

Kelebihan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah:

  1. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan perlaksanaan kuriulum dimasa laluadalah adanya penyeragaman kurikulum diseluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi rill di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal.
  2. Mendorong para Guru, kepa;a sekolah dan seluruh pihak untuk meningkatkan kreativitasnya dalam pendidikan.
  3. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya.
  4. KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli beban belajar yang berat dapat mempengaruhi jiwa anak.
  5. KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai denga kebutuhan.
  6. Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.

Namun ada juga kelemahan dari kurikulum ini yaitu:

  1. Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada.
  2. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasaran pendudkung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.
  3. Masih banyak Guriu Yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsepnya, penyusunannya, maupun prakteknya di lapangan
  4. Penerapan KTSP yang merekomendasiakan pengurangan jam pelajran akan berdampak berkurangnya pendapatan Guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru untuk mendapatkan tunjangan profesi.

[1] Pdt. Yusri Pangebean, S.Th, dkk, Strategi, Model, dan Evaluasi Pembelajaran Kurikulum 2006 (Bandung: Bina Media Informasi, 2007)., Hlm. 32-33.

[2] Dr. E. Mulyasa, M.Pd, Kurikulum yang Disempurnakan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009)., Hlm. 27.

[3] Pdt. Yusri Pangebean, S.Th, dkk, Op. Cit., Hlm.34-35

[4] Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd, Op.Cit., Hlm. 43-45.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *