Mengenal Rampanan kapa’ Upacara Pernikahan Suku Toraja

Rampanan Kapa’

Mengenal Upacara Pernikahan Suku Toraja, Perkawinan di kalangan orang Toraja dinamakan rampanan kapa’. Dari segi nilai budaya rampanan kapa’begitu penting di kalangan orang Toraja. Bahka ada yang menaruh rampanan kapa’ itu sebagai yang pertama dalam urutan nilai-nilai. Menurut pemahaman orang Toraja yang bersumber dari Aluk Todolo, aturan perkawinan itu telah ditentukan di langit. Hal itu terjadi ketika UsukSangbamban dengan Simbolong Manik, dan Puang Matua dengan Arrang Dibatu mau menikah. Mereka harus memenuhi persyaratan agama. Hal itu juga nyata ketika Puang Matua menikahkan dari manusia ( Datu Laukku’) dengan Totabang tua di langit sebagai prototipe pernikahan manusia di bumi.

Mengenai persyaratan perkawinan orang Toraja, hal itu banyak menyangkut pelapisan sosial berdasarkan keturunan. Wanita dari golongan bangsawan (Puang)  dilarang kawin dengan laki-laki dari soisal yang lebih rendah. Bila hal itu terjadi maka baik laki-laki maupun perempuan akan dihukum mati yang dalam pelaksanaanya biasa di asingkan saja dari temgah-tengah keluarga. Sebaliknya tidak ada larangan bagi laki-laki dari kalangan bangsawan untuk mengawini perempuan dari lapisan sosial yang lebih rendah.

Mengenai
nikah sepupu sekali terdapat variasi-variasi. Di daerah Tallulembangna (Makale,
Sangalla’, Mengkendek) kebiasaan nikah sepupu sekali khususnya di kalangan
Puang adalah hal yang agak biasa. Mungkin hal itu sebagai akibat pengaruh dari
bugis. Daerah Toraja bagian barat ( daerah dima’dikai) nikah sepupu sekali
dilarang. Bagi daereh di ambe’i (Rantepao dan sekitarnya) agak jarang praktek
nikah itu. Persyaratan lain untuk nikah orang Toraja ialah Kapa’. Kapa’ ialah
suatu perjanjian yang diadakan pada saat peresmian perkawina bahwa bila terjadi
perceraian, maka pihak yang bersangkutan harus membayar denda kepada pihak yang
tidak bersalah. Jumlah kapa’ itu ditentukan oleh lapusan sosial (“tana”).

Baca Juga  Matinya Agama Tua Aluk Todolo di Toraja

Denda
itu di bagi berdasarkan tana’ masing-masing:

  1. Tana’
    Bulaan      : 12-24 ekor kerbau
  2. Tana’
    Bassi         : 6-10 ekor kerbau
  3. Tana’
    Karuru’     : 2-4 ekor kerbau
  4. Tana’
    Kua’-kua’ : Bai doko (seekor babi betina)

Pelaksanaan
perkawinan orang Toraja begitu sederhana, jika dibandingkan dengan upacara-upacara
lainnya. Hewan yang dipotong untuk lauk-pauk ialah babi, ayam dan malahan hanya
ikan dari sawah saja. Hewan sembeliha itu hanyalah untuk kebutuhna lauk-pauk.
Tidak ada persembahan kepda dewa. Menurut Tangdilintin, tidak adanya
persembahan kepada dewa pada upacara perkawinan, karena perkawinan di kalangan
orang Toraja hanyalah hal adat semata-mata.

Ada tiga cara atau tingkatan pelaksanaan upacara perkawinan orang Toraja, yaitu sebagai berikut:

  1. Upacara bo’bo bannang (bo’bo= nasi, bannang= benang) yaitu upacara perkawinan yang sederhana. Perkawinan itu dilaksanakan di malam hari (rampo bongi). Pada waktu malam hari pengantin laki-laki ditemani beberapa orang (tidak boleh ada di antara mereka yang namanya negatif, jumlahnya harus genap) datang ke rumah pihak wanita. Di sana diadakan makan malam yang lauknya ikan-ikan saja. Setelah makan bersama, upacara perkawinan selesai.
  2. Perkawinan yang dinamakan rampo karoen (rampo=datang, karoen=petang) yaitu perkawina yang dilaksanakan pada waktu sore hari. Pada kesempatan itu diadakan tanya jawab dalam bentuk pantun antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan. Juga perjanjian perkawinan yang dinamakan kapa’ ditentukan oleh tokoh adat. Seekor babi dan beberapa ayam dipotong untuk menjamu para tamu. Setelah makan malam upacara selesai.
  3. Perkawinan yang lebih meriah dinamakan rampo allo (allo=hari, siang) yaitu perkawinan yang diselenggarakan di waktu siang. Perkawinan ini umunya berlaku di kalangan orang bangsawan. Dua ekor babi dan ayam secukupnya dipotong untuk lauk-pauk. Dalam rangka upacara ini, didahului dengan peminangan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Setelah acara siang itu, masih ada acara makan bersama di rumah laki-laki yang dinamakan ma’pasule barasang (ma’pasule=mengembalikan, barasang=bakul). Bakul yang telah dikirim oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki sekarang dikembalikan dengan diisi makanan oleh pihak laki-laki. Setelah ini berlangsung, acara perkawinan selesai.
Baca Juga  7 Hal Yang Sulit Dilupakan Ketika Berkunjung Ke Toraja

Inilah
gambaran umum tentang perkawinan atau rampanan kapa’ dikalangan orang Toraja.
Ada variasi-variasi dalam pelaksanaannya menurut daerah lingkuang adat
setempat. Bahwa perkawinan itu adalah hal agama (ritus) nyata pada cerita Londongdirura dengan isterinya
Sa’pakdigaleto. Mereka menyelenggarakan perkawinan sumbang di antara
putera-puteri mereka sendiri. Hal ini pelanggaran aluk yang menyebabkan Puang Matua murka. Puang Matua menghukum,
sehingga semua yang hadir dalam pesta pernikahan itu musnah dimakan api dari
langit dan daerah tempat perkawinan itu sirna dari permukaan bumi. Di sini
jelas bahwa perkawinan bukan saja diatur oleh adat kemasyarakatan tetapi oleh
Puang Matua.

Hal ini menunjukkan bahwa Rampanan Kapa’itu adalah bersifat agamaniah ialah adanya sekian larangan ataua pemali. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa upacara Rampanan Kapa’ adalah upacara adat sekaligus upacara agama, walaupun tidak ada acara persembahan di dalamnya. Aluk atau adat, keyakinan dan hal-hal etis erat terjalin dalam upacara Rampanan Kapa’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *