Pengertian dan Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan suatu paradigma baru dalam sistem pembaruan kurikulum pendidikan di sekolah. Munculnya KBK didasari oleh lemahnya kemampuan lulusan sekolah formal sekarang ini dalam arti lulusan sekolah kurang memiliki kemampuan taksonomi yang diharapkan baik secara kognitif, afektif, maupun secara psikomotorik. Kurikulum berbasis kompetensi dimunculkan dengan harapan agar lulusan sekolah mampu menjadi lulusan yang memiliki keterampilan sehingga dia mampu “hidup” kapan dan dimanapun berada.

Disisi lain, kurikulum berbasis kompetensi merupakan suatu kebijakan pemerintah untuk memberikan kebebasan pengelolaan pendidikan atau demokratisasi pendidikan. Tujuan pelaksanaan KBK adalah untuk menghasilkan terjadinya demokratisasi pendidikan. Hasil keluaran dari KBK adalah terciptanya para lulusan yang menghargai keberagaman.

KBK
yang telah diberlakukan pada tahun pelajaran 2003/ 2004 didalamnya telah
melaksanakan suatu sistem pembelajaran yang (mungkin) asing bagi guru yang
terbiasa menggunakan sistem klasikal. Hal itu terjadi karena didalam KBK proses
belajar mengajarnya menuntut guru dan peserta didik bersikap toleran,
menjunjung tinggi prinsip kebersamaan dan kebhinekaan serta berpikiran terbuka.
Dengan demikian, guru dan peserta didik dapat bersama-sama belajar menggali kompetensinya
masing-masing dengan optimal.

Pendekatan pembelajaran yang dapat dilakukan adalah pendekatan konstruktivisme, sains dan teknologi, serta pendekatan inquiri. Dengan ketiga pola pendekatan tersebut peserta didik diberikan kesempatan menemukan suatu konsep dengan menggunakan seluruh kompetensi yang dimiliki. [1]

Model konstruktivisme adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya. Pendidik lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar mengajar lebih berfokus pada suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka, bukan ketepatan siswa dalam melakukan replikasi atas apa yang dilakukan pendidik.

Baca Juga  Teknik Sampling Probalitas dan Non-Probalitas Dalam Statistik

Secara rinci dapat dikemukakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar yang mengacu pada model konstruktivisme seorang pendidik harus memperhatikan hal sebagai berikut:

  1. Mengakui
    adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
  2. Menekankan
    pada kemampuan minds-on dan hands-on.
  3. Mengakui
    bahwa dalam proses pembelajaran terjadi perubahan konseptual.
  4. Mengakui
    bahwa pengetahuan tidak dapat diperloeh secara pasif.
  5. Mengutamakan
    terjadinya interaksi sosial.[2]

Sains teknologi masyarakat (STM) adalah suatu proses belajar mengajar yang diangkat dari suatu ide dan sebuah isu tengah terjadi di masyarakat kemudian dijadikan sebagai topik dalam pembelajaran di kelas yang berpusat pada siswa. Gerakan STM muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap perbaikan kurikulum 1960-an. Pengajaran sains yang dilakukan pada jaman dulu terkesan bukan untuk mengembangkan pemahaman terhadap hakekat alam semesta, dan keterampilan intelektual untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat. Perubahan pendidikan sains merefleksikan atau mengarahkan kepada hubungan antara sains dan teknologi dalam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Yager et. Al, (1992) mengemukakan bahwa tujuan dari STM adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan antara sosial dan teknologi serta menghargai bagian sains dan teknologi, memberikan konstribusi pada pengetahuan dan pengaruh baru. Yager juga mengemukakan bahwa dalam pembelajaran STM terdapat 5 domain pembelajaran yaitu: domain konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap. [3]

Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada:

  • Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan
  • keberagaman kondisi individu yang dimanifestasikan sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.[4]


[1] Dr. Hamzah B. Uno, M.pd, Perencanaan Pembalajaran (Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2011)., Hlm. 120-121

Baca Juga  Hubungan Yesus Kristus dengan Roh Kudus Menurut Alkitab

[2] Dra. Hilda Karli, M.pd, Dra.
Margaretha Sri Yuliariatiningsih, M.pd, Implementasi
Kurikulum Berbasis Kompetensi
(Bandung: Bina Media Informasi, 2004)., Hlm.
4

[3] Ibid., Hlm. 28-29

[4] Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd, Op.Cit., Hlm. 122

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *