Hubungan Hari Minggu dengan Hari Sabat

Hubungan Hari Minggu dengan Hari Sabat – Indonesia Terpercaya, Mungkin anda pernah berfikir dan bertanya dalam hari: Mengapa hari sabat diganti hari minggu? atau Mengapa orang Kristen beribadah di hari minggu? Dalam gereja mula-mula hari minggu adalah satu-satunya perayaan yaitu lanjutan persekutuan para rasul setiap tujuh hari sekali untuk memperingati kebangkitan Kristus (Paskah).

Selanjutnya dalam peraturan gerejawi dari abad pertama atau awal abad ke dua, orang Kristen diingatkan untuk sungguh-sungguh “akan hari Tuhan dimana Tuhan akan mengumpulkan kita memecahkan roti dan mengadakan ekaristi”. Pada masa itu, hari minggu disebut juga hari Tuhan.

Penekanan lain muncul pada pertengahan abad ke dua dari Yustinus Martir yang mengatakan bahwa “kami semua mengadakan pertemuan bersama pada hari minggu karena hari itu adalah hari pertama, saat Allah mengangkat kegelapan dan menciptakan alam semesta, dan Yesus Kristus penyelamat kami bangkit dari kematian pada hari yang sama”.

Selanjutnya, hari minggu sebagai hari ibadah orang Kristen dan hari libur, ditetapkan melalui perintah kaisar pada tahun 321, dan menjadi hari istirahat. Hal itu membuat hari minggu semakin terbentuk menjadi struktur waktu ibadah gereja perdana. Sejak itu hari minggu menjadi hari yang sangat menonjol bagi orang Kristen.

Hubungan Hari Minggu Dengan Hari Sabat

Salah satu isu yang sering menjadi tanda tanya adalah hubungan antara hari sabat dan hari minggu, sehubungan dengan hukum keempat. Dalam kalender Yahudi, nama-nama hari adalah Yom Rishon (Minggu), Yom Sheni (Senin), Yom Slishi (Selasa), Yom Revi’i (Rabu), Yom Chamishi (Kamis), Yom Shishi (Jumat), dan Yom Shabbat (Sabtu).

Artinya yang ditunjuk hari sabat ialah hari sabtu. Sabat artinya: hari perhentian. Jadi pada mulanya, perayaan sabat merujuk kepada “tertib ilahi” bahwa Allah melakukan karya penciptaan selama enam hari dan “berhenti” pada hari ketujuh.

Pada masa setelah kebebasan orang Israel dari perbudakan di Mesir, selain peringatan “tertib ilahi”, muatan sabat mulai berkembang dan merujuk pada perhentian orang Israel dari kerja paksa di perbudakan dimana mereka bekerja tanpa henti.

Dalam jemaat mula-mula pada abad pertamayang berlatar belakang Yahudi, Sabat masih diperingati dengan menghadiri ibadah di bait suci pada hari Sabat sebagai “peringatan akan penciptaan”. Tetapi pada keesokan harinya mereka berkumpul untuk merayakan perjamuan bersama pada hari minggu.

Namun seiring dengan penekanan kepada penghayatan mengenai karya Yesus Kristus sebagai muatan utama dari perayaan hari Minggu, peringatan sabat semakin bergeser dan meredup. Penghayatan ini pula yang membawa pemaknaan sabat ke hari minggu sebagai perhentian, pembebasan dan kemenangan yang dikaruniakan Allah kepada manusia.

Kebangkitan Kristus adalah kegenapan sabat, setelah Allah memulihkan ciptaannya menjadi ciptaan baru. Jadi di dalam perayaan hari minggu, ada dua unsur sekaligus yang ditekankan yaitu peringatan kebangkitan Yesus (paskah) dan pemaknaan sabat. Jemaat mula-mula merayakan makna sabat dan bukan pada penamaan hari tertentu sebagai sabat sebagaimana kalender Yahudi karena memang mereka tidak beragama Yahudi, tetapi beragama Kristen. Memaksakan peringatan Sabat sebagai nama hari adalah kebiasaan legalis agama Yahudi yang ditentang oleh Yesus sendiri.

Kata “minggu” adalah serapan dari bahasa Portugis: Dominggo, atau Latin: Dominus yang berarti Tuhan. Adapun kata dalam bahasa Inggris: Sunday, diserap dari penyembahan dewa matahari, dan membandingkan Kristus yang bangkit dari kematian dengan matahari yang bersinar sebagai terang dan dihubungkan dengan penciptaan terang.

Tulisan ini bersumber dari Pedoman Liturgi Gereja Toraja, semoga dapat bermanfaat dan mencerahkan. Sekian dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *