Memahami Leksionari (Pengertian dan Manfaatnya)

Pengertian Leksionari dan Manfaatnya – Indonesia Terpercaya, Apa itu Leksionari? Leksionari adalah suatu kumpulan daftar bacaan Alkitab yang disusun secara sistematis dan ditujukan untuk memproklamasikan Firman Tuhan dalam ibadah menurut tahun gerejawi. Keterikatan Liturgi, Kalender Gerejawi, dan leksionari dapat dipahami bahwa liturgi adalah perjumpaan dengan Allah (tujuannya) yang diatur dalam suatu periode atau tahapan historis tertentu (kalender gerejawi) untuk menghadirkan, merayakan dan mengalami peristiwa Yesus sepanjang tahun, melalui daftar pembacaan Alkitab (leksionari) yang berpusat pada berita Injil.

Dalam gerakan oikumene langkah bersama gereja-gereja Protestan dan Katolik melahirkan leksionari yang dikerjakan bersama sejak tahun 1975 dengan kembali mengikuti tata liturgi gereja mula-mula dengan pembacaan Alkitab, terdiri dari Taurat, Nabi-nabi, Surat Rasuli dan Injil.

Pada tahun 1982 leksionari ini kemudian dikembangkan oleh gereja-gereja Protestan dan dinamakan “Common Lectionary” (CL) dan kemudian direvisi pada tahun 1992 menjadi “Revised Common Lectionary” (RCL), baik untuk hari minggu maupun hari-hari raya gerejawi yang diorganisasikan dalam siklus pembacaan tiga tahunan (tahun A, B, dan C) dan setiap tahun disesuaikan dengan kalender gerejawi. Siklus tiga tahunan itu ditentukan oleh Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), Injil Yohanes dibaca pada masa Adven, Natal dan Paskah setiap siklus.

Dalam setiap ibadah jemaat, bahan-bahan dalam leksionari dibaca dengan urutan yang tetap yaitu Perjanjian Lama/Kisah/Wahyu, Mazmur, Surat-surat dan Injil.

Berdiri Saat Membaca Injil

Dalam penggunaan RCL, peristiwa Yesus dalam Injil diterima sebagai puncak karya penyelamatan Allah (Kristosentris, cara pandang Luther). Karena itu tanpa bermaksud menganggap wibawa kitab Injil lebih tinggi dari kitab yang lain (Calvin: semua kitab sama wibawanya, cara pandang Pneumatosentris), jemaat berdiri secara spontan pada saat pembacaan Injil sebagai simbol kerinduan dan penghormatan kepada karya penyelamatan dan kerinduan pada kuasa peristiwa pembaruan di dalam Yesus Kristus.

Dalam urutan-urutan Leksionari, Injil selalu dibacakan dari mimbar utama oleh Pelayan Firman, meskipun bahan utama khotbah bukanlah dari kitab Injil. Pengaturan semacam ini berkaitan dengan hakekat leksionari sebagai upaya menghadirkan kembali (anamnesis) karya Yesus yang bermula dari nubuat-nubuat atau jani (PL/ Kisah Para Rasul/ Wahyu), lalu disaksikan dalam surat-surat rasuli dan berpuncak pada peristiwa Yesus sebagaimana diberitakan dalam kitab Injil.

Pengaturan seperti ini bisa jadi membuat perasaan kurang nyaman dari seorang Pelayan Firman, yang harus selalu membaca Injil dari mimbar utama, padahal bahan utama khotbahnya bukanlah dari kitab Injil. Tentu hal ini membutuhkan pembiasaan dan pemahaman bahwa dalam konteks ibadah hari minggu dan hari raya gerejawi, keberadaan ketiga bacaan (selain Mazmur) adalah dalam rangka leksionari (berasal dari kata lectioyang berarti baca), bukan dalam rangka khotbah.

Berbeda dengan pembacaan Alkitab dalam konteks ibadah keluarga atau syukuran yang memang dibacakan dalam rangka khorbah. Karena itu pula, pembacaan Injil dalam ibadah keluarga atau ibadah insidentil lainnya tidak perlu dalam posisi berdiri. Injil dibaca dan didengarkan dalam posisi berdiri hanya jika pembacaan itu bersama-sama dengan bacaan lain dalam leksionari.

Dengan menggunakan RCL pula, maka tahun liturgi gereja Protestanpun kembali mengikuti hari-hari raya gereja secara utuh (menurut kalender siklus temporale) yang jauh sebelum reformasi dirayakan oleh gereja dan memang berlanjut dalam Gereja Katolik Roma (selain lewat kalender siklus sanctorale) dan ortodoks Timur, seperti: Yesus diberi nama (1 Januari), Epifani (6 Januari), Rabu Abu (awal masa Prapaskah), minggu-minggu Prapaskah, Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Hari Kebangkitan.

Manfaat Leksionari

  1. Pengkhotbah dipandu untuk menyiapkan materi khotbahnya berdasarkan daftar bacaan Alkitab yang telah tersusun secata sistematis dan sesuai dengan tahun gerejawi
  2. Hubungan tradisi antara gereja masa kini dengan gereja awal dan sinagoge tetap terpelihara, sehingga gereja di masa kini dapat belajar kekayaan hikmat dari kehidupan umat di masa lampau.
  3. Ada keseragaman bahan pemberitaan firman yang membebaskan gereja dari batas-batas denominasi, sehingga memungkinkan terjadi dialog ekumenis.
  4. Pendidikan iman yang dialami oleh umat selama tiga tahun dalam satu siklus, akan diulang kembali dalam siklus berikutnya. Pengulangan pembacaan tersebut akan memperdalam spiritualitas umat.
  5. Kitab-kitab kanon Alkitab diperlakukan secara lebih seimbang, sebab leksionari terdiri dari kitab-kitab dari Perjanjian Lama, Mazmur, surat Rasuli dan Injil.
  6. Pada hari raya gerejawi, umat belajar bagaimana hubungan antara berita Injil dengan kitab-kitab di PL dan juga surat-surat Rasuli. Lalu pada minggu biasa, umat belajar hubungan teologis suatu kitab dengan kitab lain yang sejenis dengan pola semi sinambung, misalnya Mingu I dari 1 Samuel 15:34-16:13; lalu pada munggu II dari 1 Samuel 17:1a, 4-11, 19-23), 32-49; Minggu III dari 2 Samuel 1:1, 17-27, dan seterusnya.

Jika tidak menggunakan Leksionari, maka selaku pengkhotbah akan melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Memilih dan mengambil suatu teks tertentu menurut penilaian dan kebutuhan kita sendiri. Jarang dilandasi oleh konsistensi untuk membahas seluruh teks dalam kanon Alkitab. Karena itu, kemungkinan besar akan menggunakan perikop atau ayat-ayat tertentu yang lebih subyektif dibandingkan daftar pembacaan Alkitab secara leksionaris.
  2. Pemilihan teks atau perikop bukan dilakukan secara sistematis dan jarang memedulikan makna kalender gerejawi sepanjang tahun. Pengertian hari raya gerejawi hanya terbatas pada hari raya sesuai kalender yang disahkan pemerintah.

    Karena itu ayat atau perikop dari minggu ke minggu tidak beraturan dan tidak berkesinambungan. Bahan bacaan dari suatu hari minggu ke hari Minggu yang lain sering tidak memiliki kaitan atau hubungan teologis yang jelas.
  3. Untuk memenuhi kebutuhan jenis khotbah yang tematis, kita akan cenderung mencari ayat atau perikop yang kita anggap sesuai dengan tema khotbah tersebut. Karena itu kita akan cenderung “memaksakan” pemikiran-pemikiran kita terhadap maksud atau makna dari ayat dan perikop tersebut.

    Dalam hal ini, kita akan terjebak dalam bahaya dengan pola penafsiran eisegese, yaitu memasukkan ide-ide pikiran kita dengan mencari pembenaran dari suatu ayat.Dengan leksionari, otoritas berada pada Firman, tidak lagi pengkhotbah. Sebab dengan demikian, bukan lagi pengkhotbah yang menentukan bacaan tetapi disediakan bersama berdasarkan tahun gerejawi.

    Pengkhotbah dan umat memiliki kedudukan yang sama dalam penggunaan teks yang telah disusun secara leksionaris. Pemilihan dan penggunaan bukan lagi hasil dari tindakan individual dengan otoritas tertentu, tetapi terkait dengan publik. Umat memiliki akses dan kemampuan untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu, sehingga umat dapat lebih intensif berpartisipasi dalam kegiatan ibadah.

Demikianlah ulasan mengenai Memahami Leksionari (Pengertian dan Manfaatnya) yang bersumber dari Buku Liturgi Gereja Toraja, semoga dapat bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *