Pengaruh Pajak Terhadap Keseimbangan Pasar

Pengaruh Pajak Terhadap Keseimbangan Pasar – Indonesia Terpercaya, Berikut ini beberapa contoh studi kasus mengenai pengaruh pajak terhadap harga dalam mekanisme pasar jika pajak tersebut:

  • Di bebankan kepada penjual
  • Di bebankan kepada pembeli
  • Siapakah pihak yang menanggung pajak atas barang mewah?

Pajak Yang Dibebankan Kepada Pembeli

Dampak awal dari pajak yang dikenakan kepada pembeli adalah menurunnya permintaan karena pembeli harus membayar pajak kepada pemerintah. Penawaran tidak terpengaruh karena berapa pun harga yang terbentuk setelah adanya pajak, insentif yang diterima penjual tetap.

Dapat dilihat bahwa pajak tersebut menggeser kurva permintaan. Arah pergeseran kurva permintaan dapat ditentukan dengan melihat menurunnya jumlah permintaan produk pada tingkat harga manapun.

Jadi, sesudah pajak : Pe = 9 dan Qe = 6

Dari contoh diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pajak mengurangi transaksi karena pajak membuat jumlah barang yang dijual makin sedikit. Dapat pula diketahui bahwa penjual dan pembeli berbagi beban pajak, pembeli membeli produk dengan harga yang lebih mahal dan penjual menerima pendapatan yang lebih sedikit.

Pajak yang Dikenakan Kepada Penjual

Awalnya kita akan melihat pajak yang dibebankan kepada penjual suatu produk. Pengenaan pajak pada penjual ini didasarkan pada kebijakan pemerintah. Kita akan melihat sejauh mana kebijkan ini mempengaruhi kurva permintaan dan penawaran. Pergeseran kurva permintaan atau penawaran akan mempengaruhi keseimbangan.

Dampak awal pemberlakuan pajak kepada penjual adalah menurunnya penawaran karena pajak dipungut dari penjual. Setelah melihat pergerakan kurvanya, kita dapat membandingkan keseimbangan lama dengan keseimbangan baru sehingga dapat mengetahui bahwa pengenaan pajak pada penjual membuat mengecilnya pasar suatu produk. Hal ini disebabkan karena harga keseimbangan naik dan jumlah keseimbangan turun. Penjelasan ini diperjelas melalui grafik berikut :

Berdasarkan perbandingan dari pajak yang dikenakan terhadap penjual dan pembeli, maka dapat diketahui bahwa pajak mempengaruhi penjual dan pembeli terlepas kepada siapa pajak tersebut dikenakan. Pada keseimbangan baru, tampak bahwa penjual dan pembeli sama-sama menanggung beban pajak. Perbedaannya hanyalah terletak pada siapa yang harus membayar pajak tersebut.

Pihak yang Menanggung Pajak Atas Barang Mewah

PPNBM (Pajak Penjualan Barang Mewah) hanya dikenakan untuk properti yang dibeli dari developer dan memenuhi kriteria sebagai barang mewah. PPNBM tidak berlaku untuk transaksi antar perorangan.

Skema alur pajak transaksi properti di atas menjelaskan bahwa apabila terjadi transaksi pengalihan tanah, maka bagi pemilik tanah akan membayar PPh final atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan (Pasal 4 ayat (2)) sebesar 5% dan pembeli baik perorangan atau developer akan membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 5% pula.

Apabila kemudian pihak developer mengembangkan tanah tersebut menjadi:

  1. Apartemen/town house dengan kriteria tertentu dan menjualnya ke konsumen B, maka konsumen B akan membayar BPHTB sebesar 5%, PPN sebesar 10% dan PPnBM 20%,
  2. Perumahan dan menjualnya ke konsumen C, maka konsumen C akan membayar BPHTB sebesar 5%, PPN sebesar 10% dan PPnBM 20%(bila memenuhi kriteria yang dipersyaratkan).

Apabila kemudian  konsumen A membangun bangunan dan masuk kriteria yang dipersyaratkan di atas kavling yang telah dibelinya dari developer tersebut secara sendiri maka wajib membayar PPN Kegiatan Membangun Sendiri sebesar 4%.

Apabila kemudian konsumen B menyewakan apartemen/ town house yang telah dibelinya dari developer ke konsumen D, maka konsumen B wajib membayar PPh final Pasal 4 ayat (2) sebesar 10%. Sedangkan bila B kemudian tidak menyewakannya tapi menjualknya ke konsumen E maka konsumen E akan membayar BPHTB sebesar 5% dan konsumen B akan membayar PPh sebesar 5%.

Namun demikian apabila kemudian pihak developer mengembangkan tanah tersebut menjadi perumahan dan masuk pada kriteria tertentu yang dipersyaratkan, serta kemudian menjualnya pada konsumen C, maka konsumen C akan membayar BPHTB sebesar 5%, PPN sebesar 10% dan PPnBM 20%.

Demikianlah ulasan saya mengenai contoh studi kasus mengenai pengaruh pajak terhadap harga dalam mekanisme pasar, semoga dapat bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *