Pentingnya Pendikan Karakter dalam Keluarga Kristen

Pentingnya Pendikan Karakter dalam Keluarga Kristen – Indonesia Terpercaya, Keluarga Kristen adalah pemberian Tuhan yang tak ternilai harganya. Keluarga Kristenlah yang memegang peranan yang terpenting dalam pendidikan agama Kristen,bahkan lebih penting dari segala jalan lain yang di pakai gereja untuk pendidikan itu.

Era modern mengubah cara pandang para pendidik Kristen dalam mendidik anak. Toleransi tinggi dan keleluasaan tidak terbatas cenderung merupakan gaya pendidikan saat ini. Sebenarnya justru dalam era modern sekarang, pendidik Kristen harus menerapkan beberapa prinsip dalam Perjanjian Lama yang lebih disiplin dalam hal pendidikan anak.

1. Tanggung jawab Pendidikan Agama Kristen pertama-tama dan terutama terletak pada orang tua, yaitu ayah dan ibu (Ams. 1:8).

Banyak keluarga Kristen masa  kini yang menyerahkan pendidikan rohani anak mereka sepenuhnya pada gereja atau Sekolah Minggu. Mereka beranggapan bahwa gereja atau Sekolah Minggu tentunya memiliki “staf profesional” yang lebih handal dalam menangani pendidikan rohani anak mereka. Namun, mereka lupa bahwa lama waktu perjumpaan antara anak mereka dengan Pendeta, Pastor, Gembala, guru Sekolah Minggu atau pembimbing rohaninya yang hanya beberapa jam dalam seminggu tentunya terlalu singkat untuk mengajarkan betapa luas dan dalamnya pengetahuan tentang Allah.

Satu hal lain yang terpenting adalah Allah sendiri telah meletakkan tugas untuk merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anak  ke dalam tangan orang tua. Merekalah yang harus mempersiapkan anak-anak mereka agar hidup berkenan kepada Allah. Gereja dan Sekolah Minggu hanya membantu dalam proses pendidikan tersebut.

2. Orang tua yang baik mendidik anaknya dengan teguran dan ajaran dalam kasih (Ams. 6:23)

Ada teori pendidikan modern yang menyarankan agar orang tua jangan pernah menyakiti anak-anak mereka, baik secara fisik maupun secara verbal atau melalui kata-kata karena hal tersebut dapat menimbulkan kebencian dan dendam pada orang tua dalam diri anak-anak.

Teori ini menganjurkan orang tua untuk membangun anak-anaknya hanya melalui pujian dan dorongan. Hal ini bertentangan dengan kebenaran Alkitab yang mengatkan bahwa teguran dan hajaran juga dapat mendidik anak sama efektifnya dengan pujian dan dorongan, selama semuanya dilakukan dalam kasih.

3. Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga harus dilakukan secara terus-menerus melalui kata-kata, sikap, dan perbuatan (Ul. 6:7).

Kata bahasa Ibrani yang dipakai dalam ayat ini adalah “shinnantam” yang berasal dari akar kata “shanan” yang berarti mengasah atau menajamkan, biasanya pedang atau anak panah. Kata ini dipakai sebagai simbol untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang seperti orang mengasah sesuatu dengan tujuan untuk menajamkannya.

Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan khotbah atau pelajaran Alkitab setiap hari Minggu untuk memberi “makanan rohani” bagi anak-anak mereka. Orang tua harus secara rutin dan dalam segala kesempatan menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Lebih jauh lagi, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga perbuatan. 

Jadi pendidikan karakter dalam keluarga sangatlah penting mengingat bahwa orang tau mempunyai tanggung jawab dalam membentuk karakter anak, pendidikan ini juga harus dilakukan dengan teguran dan ajaran dalam kasih serta harus dilakukan secara terus-menerus melalui kata-kata, sikap dan perbuatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *