Simbol dan Makna Prapaskah Bagi Umat Kristiani

Makna Prapaskah (Minggu Sengsara)

Simbol dan Makna Prapaskah Bagi Umat Kristiani – Indonesia Terpercaya, Masa prapaskah atau yang selama ini disebut sebagai minggu-minggu sengsara sudah dirayakan sejak abad ke 4 (dalam kalender siklus temporal) dengan penekanan pada perhitungan 40 hari sebelum Paskah. Paskah dihitung sejak jumat agung bahkan malam jumat/ kamis malam mulai jam 6 sore, yang kemudian disebut kamis putih.

40 hari sebelumnya adalah masa prapaskah (Lent), yaitu masa pertobatan, perkabungan, pemeriksaan batin/ intropeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan dan berpantang/ puasa serta sengsara/passion. perhitungan masa prapaskah dihitung mundur 40 hari dari hari Paskah, tanpa menghitung hari minggu.

Hari minggu tidak dihitung karena hari minggu mengacu pada kebangkitan Kristus, sehingga hari-hari minggu selama masa prapaskah dilihat sebagai semacam oasis dalam padang gurun, dimana ada penyegaran untuk dapat melanjutkan perjalanan 40 hari menuju paskah. Dari perhitunhan mundur inilah penetapan rabu abu diambil.

Sebenarnya tradisi gereja memiliki sejumlah cara perhitungan masa prapaskah, mulai dari 70, 60, 50 hingga 40 hari. Perhitungan 40 hari (Quardagesima) berasal dari abad ke VI (ada juga sejarah yang mencatat bahwa sebenarnya sudah mulai dari abad IV).

Dalam gereja Toraja terhadap perhitungan 40 hari dimulai hari Rabu Abu, dilatarbelakangi oleh pembaharuan liturgi gerakan ouikumene sejak tahun 70-an untuk kembali ke norma gereja mula-mula (sebelum ada perpecahan Protestan dan Katolik) dan mengikuti tahun gereja berdasarkan leksionari oikumene (RCL).

Perubahan ini juga sekaligus menggantikan istilah “minggu sengsara” yang selama ini digunakan, dengan perhitungan Quinquagesima (50 hari) yang disebut Esto-mihi, yaitu titik peralihan perjalanan Yesus di Galilea ke perjalanan-Nya ke Yerusalem, sehingga seluruh 7 minggu (50 hari) prapaskah itu, dipahami melulu sebagai masa sengsara menuju paskah.

Perubahan istilah ini terkait dengan masa 40 hari yang tidak lagi sepenuhnya dilihat sebagai masa sengsara (melulu dukacita dan pergumulan berat), sebab sebenarnya sengsara Yesus hanya berkisar seminggu sebelum paskah yaitu ketika Yesus memasuki Yerusalem, dan hari-hari terakhirNya menjelang penyaliban hingga kebangkitan.

Secara simbolik, angka 40 untuk prapaskah dihubungkan dengan masa pengujian dan persiapan dalam beberapa bagian Alkitab seperti: Musa 40 hari 40 malam di gunung Sinai (Kel. 24:18) Elia 40 hari 40 malam dalam perjalanan ke gunung Horeb (1 Raja-raja 19:8). 40 hari penduduk Ninewe puasa menyesali dosanya, Yesus setelah baptisan puasa selama 40 hari untuk memulai pelayananNya. Selain itu dalam tradisi Israel yang melatarbelakangi Paskah Kristiani, ada paskah Yahudi yang didahului oleh 40 hari masa persiapan yang dimulai dengan hari penebusan (Yom Kippur), melambangkan 40 tahun perjalanan Israel di padang gurun.

Dalam tradisi, masa 40 hari ini sering diisi dengan ibadah-ibadah puasa, tetapi dengan penekanan pada perkabungan atas keberdosaan diri sendiri, pertobatan, pemeriksaan batin dan intropeksi diri (Censura Morum), pendekatan diri pada Tuhan melalui berpantangan atau puasa, pengengkangan diri dari berbagai kesenangan dan kebiasaan pribadi yang dilakukan oleh umat sambil memusatkan perhatian pada pengorbanan Yesus.

Simbol Prapaskah (Minggu Sengsara)

Untuk penghayatan prapaskah dalam setiap gereja berbeda-beda, dibawah ini penghayatan prapaskan dalam lingkup Gereja Toraja terdapat dua simbol yang bisa digunakan yakni:

  • Pemasangan 6 belai kain ungu, satu per satu setiap minggu pada lengan salib yang diletakkan di sisi altar. Kain ungu pada salib, menggambarkan karya Kristus yang menyatukan dua hal yang bertolak belakang keagungan (makna kain ungu dalam Alkitab), dengan kehinaan dan kutuk salib. Kenyataan ini biasa disebut paradoks, yaitu dua hal yang kelihatannya berbeda dan bertolak belakang, tetapi sebenarnya mengandung makna yang dalam.
  • Pemadaman 6 lilin, satu persatu setiap minggu. Pada minggu prapaskah 1, 6 lilin dinyalakan 15 menit sebelum ibadah. Saat prosesi, Pelayan Firman memadamkan satu lilin sebelum menerima Alkitab. Pada minggu prapaskah 2, enam lilin tetap terpasang tetapi hanya 5 yang dinyalakan. Selanjutnya, salah satu diantaranya dipadamkan Pelayan Firman sebelum menerima Alkitab. Demikian Seterusnya, hingga keenam lilin dipadamkan pada minggu palmarum atau prapaskah keenam.

    Pemadaman 6 lilin mengandung makna anamnesis dan mimesis. Sebagai Anamnesis (mengingat/mengenang), kita menghayati perjalanan Kristus yang ahrus masuk kedalam kelamnya alam maut karena dosa-dosa manusia. Sebagai mimesis (meniru), kita menjalani satu proses menyalibkan dan mematikan kehidupan lama dan membangkitkan segala sesuatu yang kita anggap terang.

Demikianlah ulasan mengenai Simbol dan Makna Prapaskah Bagi Umat Kristiani khususnya dalam gereja Reformasi seperti gereja Toraja. Semoga dapat bermanfaat, Sekian dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *