KRISTUSLAH RAJA

Bacaan Mazmur               : Mazmur 46:2-12
Bacaan 1                              : Yeremia 23:1-6
Bacaan 2                              : Kolose 1:15-23 
Bacaan 3                              : Lukas 23:33-43 (Bahan Utama)
Nas Persembahan           : I Tawarikh 29:9
Petunjuk Hidup Baru      : Kolose 1:23

Tujuan :

  1. Jemaat memahami apa artinya pengakuan bahwa Kristulah Raja
  2. Jemaat membuka diri untuk kenyataan hidup yang baru

Pemahaman Teks

Mazmur 46 dan dua Mazmur berikutnya merupakan nyanyian dari bani Korah. Mereka adalah penunggu-penunggu pintu gerbang perkemahan bani Lewi (kelompok Imam). Keturunan ini mempunyai tugas jabatan sebagai penjaga-penjaga ambang pintu Kemah, seperti yang telah dilakukan bapa-bapa mereka (Lih. 1 Tawarikh 9:18-20). Nyanyian-nyanyian ini tak lain adalah kesaksian bahwa Allah dari awal dan seterusnya Dialah yang memimpin umat-Nya. Bahkan, ketika kota Allah, yakni Yerusalem, terancam oleh pasukan Asyur, keturunan Korah percaya bahwa kota itu tidak akan goncang, sebab Allah yang akan menolongnya.

Yeremia 23:1-6 Pada umumnya kitab Yeremia berisi sejumlah nubuatan tentang Raja-raja Yehuda. Allah mengumpamakan Raja sebagai gembala dan rakyat sebagai domba-domba gembalaan. Dari bacaan kita hari ini, jelas bahwa Raja-raja yang belakangan memerintah “kurang becus” menggembalakan domba-domba. Ketidakbecusan ini berujung pada penghukuman yang tak lain adalah pembuangan ke Babilonia. Kini, ketika penghukuman telah ditanggung, Allah sendiri yang berinisiatif untuk mengumpulkan kembali domba-domba yang terserak. Ketika hari itu tiba, domba-domba akan memerlukan gembala yang baru Raja yang baru. Sebagaimana Daud adalah Raja yang sangat dicintai Allah, maka tunasnya/keturuanannya diharapkan menjadi Raja yang membawa keadilan dan kebenaran. Ia akan menjadi Raja yang memerintah dengan adil.

Kolose 1:11-20 menjelaskan bahwa peran Kristus sebagai seorang Raja adalah mengalahkan kekuatan-kekuatan yang merusak dan menindas manusia. Paulus menggambarkan Kerajaan yang dipimpin oleh Kristus sebagai sebuah perubahan: dari kungkungan kuasa gelap menuju penebusan. Di dalam Yesus, manusia diampuni dosanya. Dengan kata lain, ia dibawa masuk dalam sebuah kenyataan hidup yang sama sekali lain dengan sebelumnya.

Lukas 23:33-43 Penulis Injil Lukas sangat unik dalam menuturkan kisah penyaliban Yesus. Pada teks Matius dan Markus kita dapat membaca detail-detail kekerasan fisik yang dialami Yesus, sedangkan di dalam Lukas, kita menemukan gaya penceritaan yang cukup lembut. Kekerasan yang disorot tidak berfokus pada kekerasan fisik, melainkan kekerasan verbal, yakni Yesus diolok-olok. Sebuah ironi bahwa seorang Raja diolok-olok. Bukankah Raja seharusnya dihormati dan dipuji?

Sekurang-kurangnya ada tiga oknum yang mengolok-olok Yesus: (1) Pemimpin-pemimpin; (2) Para Prajurit; (3) Salah seorang penjahat yang disalib di samping Yesus. Menarik, bahwa olok-olokan ini ditujukan pada Yesus dengan maksud supaya Yesus dapat membuktikan diri-Nya bahwa Ia sungguh Raja. Apakah Yesus merespons pancingan seperti ini? Ternyata tidak! Yesus hanya merespons sebuah suara yang sangat lain: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Dan pada saat itu juga, menjelang momen-momen kematian-Nya sendiri, Yesus tetap menjalankan pelayanan-Nya, menyelamatkan seorang penjahat dari keadaannya yang gelap menuju kerajaan-Nya.

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan:

  1. Kristuslah Raja tema kita saat ini adalah sebuah pengakuan. Pengakuan ini, sekurang-kurangnya kita dapati melalui mulut Paulus dan seorang penjahat yang disalib bersama Yesus. Pengakuan yang datang dari penjahat di samping Yesus, bahkan mengubahkan kenyataan hidupnya. Di dalam pengakuannya, ada kerendahan hati. Ia tidak meminta untuk diselamatkan atau dibebaskan dari hukumannya, ia hanya meminta untuk diingat. Dan ia diberi lebih daripada yang ia minta. Lantas, apa artinya bagi kita ketika kita mengakui bahwa Kristus adalah Raja? Seperti apa sepantasnya hidup di dalam Kerajaan Kristus?
  2. Di dalam Kristus, kita dilahirkan ke dalam kenyataan yang baru. Kita diubahkan dari suasana gelap menuju sebuah kenyataan yang sama sekali berbeda. Suasana gelap bisa berupa dosa. Dosa bukan hanya ketika kita melanggar aturan, tetapi dosa juga bisa berupa kekuatan-kekuatan yang siap menghancurkan kita, apabila kita tidak berjaga-jaga (lih. kisah Kain). Kekuatan-kekuatan itu dapat berupa iri hati, dengki, amarah, kemunafikan, kesombongan, dll. Kekuatan-kekuatan itu siap menerkam kita dan mengubahkan kita menjadi seseorang yang sama sekali bukan hakikat diri kita. Di sinilah peran Yesus sebagai Raja: mengalahkan kekuatan-kekuatan tersebut, jika kita membuka ruang di dalam diri kita untuk-Nya.
  3. Minggu ini merupakan akhir tahun liturgi gerejawi. Minggu berikut, kita akan memasuki awal liturgi gerejawi, sebuah momen perpindahan yang pas untuk merefleksikan perjalanan selama satu tahun terakhir dan bersiap-siap untuk sebuah awal yang baru, kenyataan hidup yang dibarui oleh Kristus.

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).