Indonesia Terpercaya – Khotbah merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari si pengkhotbah kepada pendengar. Pesan yang disampaikanpun tidak sembarangan yakni Firman Tuhan dan tentunya menggunakan metode dalam menyampaikan pesan agar khotbah bisa tersampaikan dengan baik kepada jemaat.

Khotbah Kristen Protestan

Untuk anda yang berencana memimpin ibadah, berikut ini beberapa Kumpulan Khotbah Kristen Protestan yang bisa anda pedomani dan gunakan untuk menyampaikan Firman Tuhan kepada jemaat yang anda layani.

1. Bersyukur Atas Kasih-Nya

Bahan Bacaan: Mazmur 36:6-13

“Bapa, Engkau sungguh baik, kasih-Mu melimpah di hidupku”, merupakan penggalan syair lagu “Bapa Engkau sungguh baik” yang hampir setiap saat dilantunkan sebagai respons dari kebaikan Tuhan yang tak pernah berkesudahan dalam hidup ini. Kasih dan berkat-Nya yang selalu baru setiap hari, dilimpahkan dan dicurahkan bagi umat-Nya. Oleh karena itu patutlah nama-Nya diagungkan dan dibesarkan. Patutlah kasih-Nya diceritakan dan diberitakan.

Daud, dalam pembacaan hari ini memuji kesempurnaan kebaikan Tuhan yang dialami dalam hidupnya. Daud berkata “Ya Tuhan, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan (ay. 6). Untaian kata pujian Daud ini pun melukiskan kedekatan dan keakrabannya dengan Tuhan. Ia tetap dekat dan akrab dengan Tuhan, sekalipun ia melihat dan menyaksikan cara hidup orang-orang fasik (ay. 2-5).

Orang fasik selalu hidup dalam dosanya, tidak punya rasa takut akan Tuhan. Orang fasik tidak dapat menolak kejahatan, melainkan mereka sendirilah yang merancangkan kejahatan itu. Sekalipun demikian Daud tidak pernah merasa takut menghadapi kejahatan orang fasik. Ia percaya bahwa Tuhan melindungi anak-anak-Nya dengan sayap-Nya (ay. 8). Daud percaya bahwa kefasikan takkan pernah bertahan. Orang-orang yang melakukan kejahatan akan jatuh, mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi (ay. 13).

Dalam menjalani kehidupan ini, kita diajak oleh Daud untuk selalu merenungkan betapa baik-Nya Tuhan itu, sehingga kita senantiasa hidup mensyukuri kebaikan-Nya. Dengan selalu bersyukur, kita dapat menjauhkan diri dari tindak kejahatan dan dosa. Dengan bersyukur, kita dapat terus menyadari betapa berharganya kasih setia Allah kepada kita. Amin

2. Kembalilah Kepada-Ku

Bahan Bacaan: Yeremia 3:19-25

Beberapa waktu yang lalu seorang istri meninggalkan suami dan anak-anaknya. Ia pergi setelah berselisih paham dengan suaminya. Dalam perkunjungan majelis Gereja, sang suami memberi penjelasan, bahwa istrinya-lah yang merupakan sumber masalah mereka. Kisah ini pun sesungguhnya telah terjadi beberapa kali. Namun demikian, sang suami tetap berusaha agar istrinya kembali ke rumah dan melanjutkan hidup bersama sebagaimana layaknya sebuah keluarga.

Firman Tuhan hari ini menceritakan kisah yang dialami oleh bangsa Israel yang telah lama hidup menjauh dari Allah. Mereka hidup tidak setia di hadapan-Nya, seperti seorang istri yang tidak setia terhadap temannya (ay. 20), meskipun Allah telah mempersiapkan negeri yang indah untuk menjadi milik mereka (ay. 19).

Namun demikian, Allah yang penuh kasih terus memanggil umat-Nya kembali kepada-Nya (ay. 22). Satu hal yang indah, ialah mereka merespons panggilan Allah. Mereka akhirnya menyadari keberadaan mereka di hadapan Allah dan mengakui perbuatan masa lalu mereka yang kelam, masa lalu yang penuh noda dan dosa (ay. 23-25). Kesadaran inilah yang memampukan mereka kembali kepada Tuhan dan berkata “ inilah kami, kami datang kepada-Mu, sebab Engkaulah Tuhan, Allah kami” (ay. 22).

Sebagai manusia yang terbatas, hendaklah kita menyadari keberadaan kita di hadapan Tuhan, serta mau mengakui bahwa kita seringkali membiarkan diri dikuasai oleh dosa. Sepatutnyalah kita bersyukur karena Tuhan itu Maha kasih. Ia selalu memanggil umat-Nya untuk kembali kepada-Nya, Tuhan sumber pengampunan dan keselamatan. Allah selalu rindu kita kembali kepada-Nya dan menjadi umat-Nya yang hidup taat melakukan kehendak-Nya. Amin

3. Pertobatan yang Sungguh

Bahan Bacaan: Yeremia 4:1-4

Pertobatan ialah menyadari dan menyesali dosa (perbuatan yang salah dan jahat), lalu berbalik kepada Tuhan. Pertobatan juga berarti pembaruan hidup, perubahan total dan mau meninggalkan kehidupan yang lama menuju pada kehidupan yang baru.

Allah yang Maha kasih telah memanggil umat-Nya kembali kepada-Nya (Yeremia 3:14,22). Umat-Nya mendengarkan panggilan Allah itu dan kembali datang kepada-Nya. Tetapi Allah rindu tindakan umat-Nya yang kembali kepada-Nya lahir dari kesungguhan hati yang mau bertobat (ay. 1). Allah mau supaya umat Israel mengalami hidup yang baru. Artinya harus ada perbedaan sikap yang jelas terhadap Allah, sebab Allah dan berhala tidak dapat disamakan atau disatukan. Kesungguhan pertobatan dari umat-Nya yang ditandai dengan sumpah dalam kesetiaan, dalam keadilan dan dalam kebenaran: demi Tuhan yang hidup (ay. 2).

Sebagai bukti dari kesungguhan pertobatan mereka, mereka harus membuka tanah baru dan jangan menabur di tempat duri tumbuh (ay. 3). Dengan demikian mereka mengalami hidup baru dalam kebenaran dan tidak menabur kejahatan. Kesungguhan pertobatan mereka akan meredakan murka Allah (ay.4c). Melalui pertobatan mereka, bangsa-bangsa akan saling memberkati di dalam Dia dan bermegah di dalam Dia (ay. 2c).

Kita bersyukur kepada Dia, Allah yang penuh kasih, yang tidak memurkai kita karena dosa dan pemberontakan di hadapan-Nya. Kasih-Nya telah dinyatakan-Nya di dalam diri Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus yang telah datang ke dalam dunia menebus dosa kita (Yoh. 3:16). Karena itu jangan mengulangi lagi dosa yang telah ditebus-Nya, tetapi hiduplah setiap hari dalam pertobatan yang sungguh di hadapan-Nya. Amin

4. Pujian adalah Kesaksian

Bahan Bacaan: Mazmur 145:1-7

Pujian adalah respon yang diberikan oleh seseorang terhadap orang lain yang telah melakukan perbuatan baik dan berkesan di dalam hidupnya. Seseorang tidak akan memuji atau dipuji karena dia melakukan sebuah kejahatan.

Demikian pujian yang juga dinyatakan pemazmur di dalam pembacaan Mazmur 145:1-7. Pertama-tama pemazmur mengakui bahwa Allah adalah Raja, setelah itu pujian kepada Allah sebagai Raja diungkapkan oleh pemazmur. Dialah Allah yang besar dan perbuatan-perbuatan-Nya ajaib (ay. 3,5,6). Dalam Pujiannya pemazmur berkomitmen untuk memuji dan memuliakan Tuhan di setiap harinya (ay.2), bahkan mengajak orang lain juga untuk memuji Tuhan dengan memberitakan kebaikan dan kebesaran Tuhan di dalam hidupnya.

Memuji Tuhan bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan oleh orang yang percaya. Semua orang tidak perlu masuk sebuah kelas khusus untuk belajar tentang cara memuji Tuhan. Pujian kepada Tuhan adalah ekspresi yang lahir dari setiap orang yang menyadari perbuatan Tuhan di dalam hidupnya. Sadar atau tidak sesungguhnya di setiap harinya kita tidak lepas dari pandangan Tuhan. Sebagai Raja atas kehidupan kita, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu menyatakan kebaikan-Nya dan kebesaran kasih-Nya di dalam kehidupan kita.

Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memuji dan memuliakan nama-Nya sama seperti pemazmur. Bahkan dalam pujian dan penyembahan kita, seharusnya sikap kita sama seperti pemazmur yaitu memiliki komitmen untuk mengajak orang lain juga memuliakan Tuhan di dalam hidupnya, agar pertumbuhan iman itu dapat kita alami secara bersama-sama. Pada akhirnya semua orang dapat bersorak-sorai memuji kemurahan kasih Tuhan.

5. Kesetiaan Kasih Tuhan

Bahan Bacaan: Mazmur 145:8-13

Kasih adalah suatu tindakan yang benar dan tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu. Kasih tidak berkesudahan. Kasih bukan hanya sekedar kata-kata yang manis, tapi lebih dari itu kasih haruslah diwujudkan sebagai jawaban atas panggilan Tuhan dalam kehidupan orang percaya. Seperti itulah kasih Tuhan yang ditunjukkan di dalam pembacaan kita.

Ayat 8-9 mengatakan Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang dan penuh rahmat kepada semua orang yang dijadikannya. Teks ini menunjukkan, bahwa pada dasarnya Tuhan itu adalah Kasih. Karena itu Dia mengasihi semua orang tanpa memandang latar belakang, kondisi dan keadaan seseorang. Semua sama di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu pemazmur menyatakan, bahwa semua makhluk akan mengagungkan Tuhan oleh karena kasih dan kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya. Pengakuan ini lahir dari karya nyata yang dilakukan Allah.

Kesetiaan dalam mengasihi bukanlah perkara yang mudah dilakukan dalam hidup manusia. Banyak orang yang mengasihi hanya karena mereka mengharapkan sesuatu, atau karena mereka memiliki alasan-alasan tertentu dalam mengasihi, misalnya karena seseorang itu cantik atau ganteng, kaya dan memiliki hal-hal menarik lainnya. Singkatnya, kasih karena adanya hal-hal yang baik saja pada diri orang yang dikasihi. Itulah keadaan manusia pada umumnya.

Akan tetapi melalui syair pemazmur ini, kita diingatkan untuk meneladani sikap yang dimiliki oleh Tuhan, yakni mengasihi manusia dengan kesetiaan-Nya. Dalam segala kekurangan dan keterbatasannya, manusia tetap beroleh kasih Allah. Kasih Allah tidak berubah sepanjang waktu. Kasih Allah kekal untuk selamanya.

6. Cinta Sejati

Bahan Bacaan: Kidung Agung 4:1-8

Sang pujangga berkata bahwa “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, bagai sayur yang tak bergaram. Tanpa cinta hidup pun terasa kosong, karena cinta punya daya”. Bacaan hari ini memperlihatkan bagaimana sebuah cinta itu dinyatakan.

Kidung Agung 4:1-8 adalah sebuah syair yang dituliskan untuk memuji kecantikan luar biasa yang dimiliki oleh mempelai perempuan. Segala sesuatu yang ada pada mempelai perempuan dipandang luar biasa dan tak bercela (ay. 7). Pujian ini merupakan ungkapan kasih Allah kepada umat-Nya yang telah diciptakan-Nya, dijadikan milik-Nya dan senantiasa dipelihara oleh-Nya. Pujian ini juga menggambarkan kekuatan dan kesetiaan cinta sejati Allah kepada umat-Nya. Pujian ini memperlihatkan bagaimana keberadaan umat dalam pandangan Tuhan.

Firman Tuhan kali ini menyadarkan kita, bahwa Tuhan sungguh mencintai manusia yang adalah ciptaan kecil dan mungkin sering menyakiti hati-Nya. Sekalipun manusia terbatas, namun Ia tetap memuji keindahan manusia. Dia menutupi kelemahan umat manusia dengan cinta dan pujian-Nya. Cinta sejati Allah yang dituangkan dalam pujian membuktikan bahwa cinta sejati itu tidak egois, mendahulukan kepentingan orang lain, tulus dalam memberi, tidak mengharap balasan, murni dan melakukan segala sesuatu sepenuhnya demi orang yang dicintai.

Kasih Kristus sudah membuktikan hal itu. Dia sungguh mencintai umat-Nya. Ia yang adalah Tuhan rela meninggalkan kemuliaan-Nya dan merasakan penderitaan yang luar biasa, demi kasih-Nya kepada manusia. Ia ingin agar kita bisa merasakan, bahwa kita dicintai. Saat ini Tuhan Yesus menanti kita untuk menyambut cinta-Nya. Ia menunggu kita untuk membuka hati kita menerima cinta sejati-Nya.

7. Kasih Allah dan Kesucian Manusia

Bahan Bacaan: Kidung Agung 4:9-15

Suatu hari di kelas paud sang guru menyuruh anak-anak untuk membawa apa saja yang menurut mereka paling bersih di rumahnya. Keesokan harinya masing-masing siswa pun mengeluarkan semua barang yang mereka bawa. Namun ada seorang anak yang tidak membawa apa-apa, kecuali membawa sebotol air bersih. Guru tersebut pun bertanya, mengapa sang anak hanya membawa sebotol air? Dengan polos anak itu menjawab, “Air inilah barang yang paling bersih di rumah. Ibu mencuci piring dan baju kotor dengan air ini. Bahkan saya bersama semua keluarga juga membersihkan tubuh dengan air ini. Ini berarti air inilah benda yang paling bersih di rumah”.

Di Timur, sebagian besar rempah-rempah dianggap sebagai barang mewah yang berharga, karena harganya yang sangat mahal. Di dalam pembacaan kita, mempelai pria memuji keindahan mempelai wanita dengan mengibaratkannya seperti rempah-rempah dan juga wangi-wangian (ay. 10,13,14) yang nilainya sangat berharga, sehingga membuat mempelai pria bangga memilikinya. Hatinya berdebar setiap kali melihat mempelai wanitanya (ay. 9). Keadaan ini adalah gambaran kesucian hidup yang tetap dijaga oleh sang mempelai wanita.

Air yang kotor tidak mungkin digunakan untuk membersihkan yang kotor. Karena itu, kasih Allah di dalam Yesus Kristus menyucikan kita dari kehidupan yang penuh dengan dosa agar kita dapat menjadi alat Tuhan. Kesucian hidup dibutuhkan sebagai sebuah respon kita atas kasih dan kebaikan Tuhan dalam kehidupan manusia. Ini adalah standar hidup manusia yang percaya kepada Yesus Kristus. Tidak bisa tidak untuk tidak dilakukan, jika kita ingin menyenangkan hati Tuhan maka yang harus kita lakukan adalah menjaga kesucian itu di hadapan-Nya.

8 Kabar Baik

Bahan Bacaan: Yesaya 6:1-8

Seorang ibu sedang menunggu anak-Nya yang dinyatakan hilang. Setiap detik dia memperhatikan jam dan hp-nya secara bergantian. Dia panik dan merasa cemas akan keadaan anaknya. Pikirannya tidak karuan. Dia merasa tertekan dengan sebuah tanggung jawab sebagai seorang ibu yang tidak mampu menjaga sang anak. Dengan gelisah dia terus menunggu kabar dari polisi dan sang suami yang mencari anaknya. Setelah lama menunggu akhirnya dia mendapatkan kabar baik, bahwa anaknya telah ditemukan dengan selamat. Seketika itu juga dia bersukacita mendengar kabar baik yang disampaikan kepadanya.

Jika kita menyimak inti berita yang disampaikan oleh Yesaya “Kabar selamat kepada Sion”, maka sesungguhnya Yesaya menyadari dirinya sebagai utusan Allah. Kuasa Roh Allah menyertainya, untuk menyampaikan kabar baik itu kepada umat Allah. Tujuan Allah mengutus hamba-Nya adalah untuk membebaskan umat-Nya dari penderitaan, dan membangun kembali kehidupan umat-Nya. Berkat Allah akan menjadikan Sion sebagai Kota Allah. Sion akan dibangun kembali dari reruntuhan dan dipulihkan statusnya sebagai umat Allah yang kelak akan dihormati dan disegani oleh bangsa-bangsa. Pemulihan itulah yang disebut “tahun rahmat Tuhan” .

Di tengah berbagai macam persoalan dan pergumulan kehidupan, kabar baik selalu dirindukan oleh semua orang. Yesus adalah kabar baik bagi manusia yang berdosa. Ia melepaskan orang-orang yang menderita di dalam kutuk dosa dan membebaskan manusia dari belenggu yang membawa pada maut. Sebagai orang percaya kita memiliki tanggung jawab untuk bersaksi dan menyampaikan kabar baik itu kepada dunia di sekitar kita. Kita ingin agar kabar baik itu dapat memberi sukacita dalam kehidupan orang-orang yang menderita karena berbagai hal.

9.berdoa dan Bekerja

Bahan Bacaan: Nehemia 2:1-10

Suatu hari, seorang anak dengan pakaian yang lusuh pergi ke gereja untuk beribadah sekolah minggu. Namun karena penampilannya, ia ditolak dengan alasan tidak ada lagi tempat untuk dia. Setiap minggu dia pergi dengan harapan bisa mendapat tempat untuk beribadah, namun alasan yang sama selalu dilontarkan kepadanya.

Di depan gereja dia menangis karena tidak bisa masuk untuk beribadah. Pak pendeta yang kebetulan lewat, melihat anak ini dan bertanya, “mengapa engkau menangis?”. Anak itu pun menjelaskan hingga sang pendeta dapat mengerti. Ia mengajak anak ini masuk ke gereja dan menyuruhnya duduk. Dua tahun kemudian anak ini meninggal. Pada ibadah pemakaman, sang ibu memberikan sebuah dompet yang lusuh kepada pendeta, yang isinya adalah uang Rp. 10.000,- dengan catatan uang ini untuk membantu pembangunan gereja”.

Sang ibu bercerita, betapa anak ini terus berdoa untuk pembangunan gereja, sambil juga selalu menyisihkan uangnya yang amat terbatas untuk hal tersebut. Kisah tentang doa dan kesungguhan sang anak dalam mengupayakan pembangunan gereja ternyata kemudian mendorong banyak orang lain juga untuk berbuat serupa. Gigih dalam berdoa dan berupaya untuk pembangunan gereja.

Nehemia terdorong untuk melibatkan diri secara aktif dalam menyelesaikan masalah yang ada di Yerusalem. Dia terus bergumul dan berdoa kepada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doanya, yakni agar ia mendapat belas kasihan sang raja. Akhirnya Nehemia mendapat tanggapan positif dari sang raja. Raja menyediakan berbagai kebutuhan Nehemia dalam menyatakan pertolongan bagi mereka yang berada di Yerusalem.

Berdoa dan bekerja dengan sungguh haruslah berjalan seiring. Kita harus mendoakan apa yang kita kerjakan, serta mengerjakan apa yang kita doakan.

10. Kepedulian yang Memulihkan

Bahan Bacaan: Nehemia 5:1-13

“…Allah mengerti, Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi. Tak akan pernah dibiarkan-Nya ku bergumul sendiri, s’bab Allah peduli”. Syair indah yang sering dinyanyikan dalam kehidupan penuh pergumulan ini, tentu saja bukan sekedar kata-kata indah tanpa makna, sebab kepedulian Allah sungguh nyata.

Ketika pembangunan tembok Yerusalem dalam proses pengerjaan, ada kenyataan yang muncul bahwa banyak orang Yahudi yang hidup dalam kemiskinan. Untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman, mereka harus menggadaikan ladang, kebun anggur, rumah, bahkan menjual anak-anak mereka untuk dijadikan budak (ay. 2-3). Untuk membayar pajak kepada raja, mereka terpaksa harus meminjam uang pada rentenir dan ini berujung pada hutang. Kondisi ini membangkitkan keprihatinan Nehemia.

Sebagai orang yang diutus oleh Allah, ia harus menegakkan keadilan dan kebenaran Taurat Allah di tengah-tengah bangsanya. Atas anugrah Allah, Nehemia pun berani untuk berseru kepada para pemerintah agar mengembalikan hak orang-orang Yahudi yang telah dirampas dari mereka. Mereka diminta untuk berkomitmen terhadap janji mereka. Sehingga apa yang dilakukan Nehemia memulihkan kembali keadaan mereka dan untuk kesemuanya itu mereka bersorak dan memuji Tuhan.

Kepedulian Nehemia terhadap orang-orang yang tertindas memberikan kita keteladanan bahwa mengikut Tuhan berarti peduli pada keadaan yang dialami oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Yesus dalam pelayanan-Nya juga memperlihatkan keteladanan bagi kita. Ia sangat peduli pada yang lemah dan tak berdaya. Keadaan itu dibuktikan dengan sungguh, ketika Ia rela mengorbankan hidup-Nya untuk manusia yang tidak berdaya karena dosa dan memulihkan kembali keadaan manusia.

Penutup

Demikianlah beberapa kumpulan Kumpulan Khotbah Kristen Protestan Terbaru dan juga kumpulan renungan kristen protestan. Semoga dapat bermanfaat untuk anda. Sekian dan terima kasih.


Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).