Indonesia Terpercaya – Halo sobat semua, Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan tetap dalam naungan Tuhan. Setiap kali seseorang yang mengambil pelayanan (berkhotbah) dalam sebuah ibadah entah itu yang mengambil bagian adalah seorang pendeta, majelis ataupun seseorang yang telah ditetapkan untuk memimpin ibadah, banyak orang yang hadir beribadah selalu mengeluhkan jika khotbah yang dibawakan terlalu panjang dan bertele-tele.

Bukannya malas mendengarkan Firman Tuhan dalam ibadah, tetapi memang jika khotbah atau renungan disampaikan secara singkat, padat dan jelas maka makna dari khotbah tersebut dapat tersampaikan dengan baik kepada jemaat yang mendengarkan dan jemaat akan merasa terberkati dengan khotbah tersebut.

Bayangkan saja mungkin pendahuluan, pemahaman teks dan implementasi telah dipaparkan kemudian diulang lagi misalnya dari pemahaman teks sampai implementasi. Tentu saja hal tersebut tidaklah terlalu efektif dan membuat pendengar merasa jenuh.

Oleh karena itu, sangat penting seorang pelayan untuk mempersiapkan dan menyampaikan khotbah secara baik dan tidak bertele-tele. Nah berikut ini beberapa bahan renungan dan khotbah yang singkat, padat namun secara substansial maknanya dapat ditangkap dengan baik.

CARA HIDUP ORANG PERCAYA

Bahan Bacaan: Ibrani 13:1-6

Mahatma Gandhi adalah salah seorang dari sekian banyak pemimpin dunia yang sangat mengagumi Yesus Kristus. Uniknya, Ia tidak mau menjadi Kristen. Konon, dia pernah di tanya alasan mengapa tidak mau menjadi Kristen. “Saya suka Kristus, tetapi tidak suka dengan orang-orang Kristen” Jawabnya. Rupanya, dia kecewa dengan banyak orang Kristen yang tidak menghidupi ajaran Yesus Kristus.

Surat-surat Rasul yang di kirim ke berbagai komunitas Kristen perdana juga dalam pola seperti itu. Ada penegasan yang sangat kuat tentang iman kepada Yesus Kristus dan bagaimana iman itu menghidupi keseharian orang-orang Kristen.

Beriman kepada Yesus tidak cukup dengan hanya tahu siapa Dia. Iman itu harus ditunjukkan dalam sikap hidup salah satunya dengan terus memelihara kasih persaudaraan (ay.1). Ini dinampakkan dalam berbagai tindakan konkret. Ketika kehadiran orang asing dianggap ancaman, orang Kristen justru diminta menjadi komunitas yang terbuka dan melihat mereka sebagai orang yang membutuhkan pertolongan (ay.2).

Ketika banyak orang bermasa bodoh dengan keadaan disekitarnya, orang Kristen dipanggil untuk mau peduli (ay.3). Ketika selingkuh dianggap sebagai gaya hidup, orang Kristen diminta menjaga kekudusan hidup dan kekudusan pernikahannya (ay.4). Ketika harta menjadi tujuan hidup banyak orang dan tidak pernah puas apa yang dimilikinya, orang Kristen diminta mensyukuri apa yang ada pada dirinya (ay.5).

Kita di panggil menampilkan gaya hidup yang mencerminkan iman kepada Yesus Kristus. Seluruh pengetahuan kita tentang Allah akan menjadi sia-sia jika tidak dinampakkan secara nyata dalam keseharian. Amin

BELAJAR DARI PAULUS DAN TITUS

Bahan Bacaan: Titus 1:1-4

Salah satu ungkapan yang sudah sangat umum dalam lingkungan orang-orang kristen adalah “saudara dalam Tuhan”. Sadar atau tidak ungkapan ini menjadi gambaran relasi orang-orang percaya yang melampaui ikatan ras bahkan ikatan darah. Lebih jauh lagi, orang-orang percaya di segala waktu dan tempat menyebut diri sebagai satu keluarga. Apa sesungguhnya yang mempersatukan seluruh orang percaya sehingga layak disebut sebagai satu keluarga? Untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa belajar dari Paulus dan Titus.

Paulus adalah orang Yahudi, sedangkan Titus itu non-Yahudi. Tentu saja keduanya tidak memiliki pertalian darah. Latar belakang mereka pun sangat berbeda. Orang-orang Yahudi selalu menganggap bangsa lain kafir. Akan tetapi mereka justru memiliki hubungan yang sangat akrab. Paulus bahkan menyebut Titus sebagai anak (ay.4). Jika bukan pertalian ras atau darah, lalu apa yang membuat keduanya merasa sebagai keluarga? Surat Paulus kepada Titus meperlihatkan bahwa keduanya menemukan kebenaran yang hakiki dalam Yesus Kristus (ay.1), pengharapan yang sama akan janji Allah (ay.2), dan semangat untuk pemberitaan Injil (ay.3).

Inilah salah satu konsekuensi menjadi Kristen. Tidak penting warna kulit, model rambut, dan latar belakang sosial kita. Semuanya menjadi saudara dan keluarga dalam Tuhan. Sebagai satu keluarga, orang percaya di tuntun oleh Yesus yang atas-Nya keluarga ini dibangun. Semuanya di minta untuk selalu tergerak saling menopang satu dengan yang lain seperti yang dikerjakan oleh Paulus yang juga diharapkan dilakukan oleh Titus. Amin

PERSAUDARAAN YANG SALING MENOPANG

Bahan Bacaan: Filipi 2:19-30

Akhir-akhir ini, orang semakin gelisah dengan perubahan zaman. Salah satu yang paling di soroti adalah semakin meningkatnya semangat individualisme. Orang semakin sibuk dengan dirinya dan semakin acuh dengan keadaan di sekitarnya. Nah, menghadapi tantangan zaman seperti ini, ada baiknya kita kembali melihat dan belajar dari gaya hidup gereja perdana.

Salah satu hal yang sangat menonjol dalam kehidupan gereja perdana adalah semangat untuk saling menopang dan memperhatikan. Dalam semangat ini, mereka sering mengabaikan pergumulan pribadi demi kepedulian pada pergumulan orang lain. Hal ini tergambar pada hubungan Paulus dan orang Filipi. Jemaat di Filipi sedang bergumul dengan berbagai persolan dalam jemaat tidak ragu mengutus salah satu pelayannya yakni Efaproditus untuk mendukung Paulus.

Sementara itu, Paulus yang berada dalam penjara juga tidak tenang mendengar pergumulan Jemaat di Filipi. Karena itu, dia berjanji mengutus Timotius untuk membantu jemaat (ay.19). Paulus juga terus berpengharapan akan kemungkinan pembebasannya sehingga dia sendiri bisa mengunjungi jemaat (ay.24). Hal yang lebih mengharukan adalah kerelaannya memulangkan Epafroditus untuk menenangkan jemaat (ay.26), padahal Paulus sangat membutuhkan kehadirannya.

Kesulitan dan penderitaan dimiliki oleh semua orang dengan kadar yang berbeda-beda. Kita bisa memilih fokus pada kesulitan pribadi atau mau peduli dengan orang lain yang juga bergumul. Akan tetapi pernyataan Paulus patut kita renungkan bahwa “jika kamu bersukacita maka berkuranglah dukacitaku”. Dalam kepedulian kita justru memperoleh topangan.

MENGHIDUPI KARUNIA SEBAGAI SAUDARA

Bahan Bacaan: Kolose 4:7-17

Ada ungkapan bijak yang mengatakan, “kebersamaan bukanlah kebersamaan jika tidak saling mendekatkan dan tidak menghasilkan apapun”. Ungkapan ini menggambarkan dengan sangat baik kondisi jemaat mula-mula.

Dalam suratnya kepada orang-orang percaya di Kolose dan Laodikia Paulus menyebut banyak nama. Bersama dengan Para Rasul, orang-orang ini sangat berjasa dalam pekabaran Injil sekalipun kelihatan sangat sederhana. Tikhikus dan Onesimus berperan sebagai pembawa pesan (ay.7-9). Aristarkhus, Markus, dan Yustus yang menemani dan menopang Paulus dalam situasi-situasi sulit (ay.10-11). Epafras sang pendoa yang mencurahkan hati, tenaga, dan pikiran untuk kebaikan jemaat (ay.12); Lukas yang mendapat karunia sebagai tabib (ay.14). Mereka berasal dari berbagai latar belakang, namun menjadi saudara dalam Tuhan. Mereka semua dengan segala karunia yang Tuhan berikan telah menjadi berkat bagi Jemaat.

Kita juga sama seperti mereka. Kita menjadi saudara bagi banyak orang dalam persekutuan. Adakah kedekatan di antara kita sama seperti Jemaat perdana yang saling memberi salam yang tulus? Kalau ada, sudahkah kedekatan atau ikatan persaudaraan itu menghasilkan sesuatu yang baik bukan hanya untuk diri kita tetapi untuk persekutuan? Percayalah bahwa Allah telah memperlengkapi kita dengan dengan berbagai karunia. Karena itu berbesar hatilah menggunakan karunia/talenta yang dimiliki untuk kemuliaan Tuhan.

Masing-masing kita memiliki kelebihan dan kekurangan akan tetapi kita tetap lengkap jika kita saling menopang dan saling melengkapi dalam kehidupan persekutuan kita. Terpujilah Kristus. Amin

HIDUP DALAM KETAATAN SEBAGAI KELUARGA ALLAH

Bahan Bacaan: 1 Timotius 3:14-16

Konon, perceraian adalah salah satu kasus yang cukup sering di tangani di pengadilan. Tidak sedikit di antara mereka yang berstatus sebagai keluarga Kristen. Ini tentu menyedihkan mengingat ikatan pernikahan kristen di bangun atas komitmen bergumul dan berjuang bersama mengembangkan karunia yang Allah berikan. Bukankah setiap keluarga harus menjalani komitmen ini sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan? Lalu, siapa yang mau disalahkan.

Surat yang di kirim Paulus kepada Timotius memperlihatkan bahwa peran seorang gembala tetaplah penting. Secara moral seorang gembala selalu merasa bertanggung jawab menolong orang-orang percaya hidup sebagai keluarga-keluarga Allah (ay.14). Hanya saja, ini tidak serta merta meletakkan semua beban dan solusi pada gembala. Seperti yang di katakan oleh Paulus, kalaupun dia tidak sempat, sesungguhnya orang-orang percaya sudah tahu bagaimana seharusnya hidup sebagai keluarga-keluarga Allah (ay.15). Rahasianya terletak dalam Yesus Kristus (ay.16).

Keluarga Kristen tidak selalu kebal terhadap persolan, baik dari dalam maupun dari luar. Karena itu dalam situasi ini peran Majelis Gereja sangat menolong. Kalaupun tidak, setiap keluarga perlu menyadari bahwa ikatan keluarga Kristen di bangun atas janji penyertaan Allah. Setiap keluarga Kristen sudah tahu bahwa Allah dalam Yesus Kristus telah memperlengkapi dan menopang mereka ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dalam kesadaran inilah keluarga Kristen terus dimungkinkan hidup sebagai keluarga-keluarga Allah. Amin

KETAATAN YANG MENDEWASAKAN

Bahan Bacaan: 1 Timotius 4:1-16

Dalam tradisi masyarakat Toraja, wewenang menimbang perkara umumnya ada pada orang-orang tua atau yang di tuakan. Kata dituakan menegaskan bahwa tua yang di maksud tidak selalu terkait dengan usia. Seseorang di tuakan, bisa saja karena kepandaian (kinaa), keberanian (barani) atau karena statusnya. Karena itu, tepatlah ungkapan yang mengatakan, “tua itu pasti, namun dewasa itu pilihan”. Timotius bisa menjadi teladan dalam hal ini.

Dalam usia muda, Timotius sudah sangat di percaya oleh Paulus. Tidak tanggung-tanggung, ia dipercaya meluruskan berbagai ajaran sesat yang berkembang di tengah-tengah jemaat (ay.1-2). Ajaran sesat dalam konteks pelayanan Timotius mungkin seperti maraknya hoaks dalam situasi kita saat ini. Pertanyaannya, bagaimana bisa seorang anak muda seperti Timotius mampu menangani persolan penyesatan dalam Jemaat? Apakah karena kepandaian, keberanian, atau karena statusnya? Ternyata bukan itu.

Timotius menjadi pemuda yang sangat dewasa dan di percaya menimbang perkara di dalam jemaat karena ketaatannya kepada Allah (ay.6). Ia bertekun dalam ibadah dan mempergunakan dengan baik karunia yang ada pada dirinya (ay.13-15). Seperti yang diyakini Paulus, tidak ada yang akan merendahkannya sekalipun ia masih muda (ay.12). Ia akan menjadi teladan bagi banyak orang.

Semakin dewasa seseorang menyikapi berbagai realitas kehidupan, maka semakin kecil peluang munculnya persoalan yang besar. Hari ini, kita belajar dari Timotius bahwa tidak perlu menunggu hingga tua untuk menjadi dewasa. Caranya latihlah diri beribadah kepada Tuhan dalam kebenaran dan ketaatan. Ini adalah latihan seumur hidup. Amin

FOKUS KEPADA KRISTUS

Bahan Bacaan: Lukas 18:18-27

Tidak sedikit orang yang setelah membaca kisah “Orang Kaya Sukar Masuk Surga”, berlaku seperti orang kaya dalam kisah itu. Ia menjadi sedih karena ia sangat kaya. Benarkah Allah tidak berkenan melihat anak-anak-Nya kaya?

Kisah “Orang Kaya Sukar Masuk Sorga” adalah salah satu bagian dari pengajaran Tuhan Yesus tentang Kerajaan Sorga. Orang kaya dalam kisah ini mewakili anggapan banyak orang pada masa itu tentang syarat keselamatan, salah satunya melalui keteguhan menjalankan Hukum Taurat. Dengan kata lain, keselamatan dapat diperoleh melalui usaha manusia. Karena itu, ketika Yesus menyinggung Hukum Taurat, orang kaya tersebut dengan bangganya menjawab, “semua itu sudah kuturuti sejak masa mudaku (ay.21)”. Ia sangat yakin bahwa dengan usahanya dia telah memperoleh keselamatan.

Akan tetapi, Yesus menunjukkan kepadanya bahwa usaha manusia sangat terbatas dalam mengupayakan keselamatan. Yesus memintanya menjual seluruh hartanya dan membagikannya kepada orang miskin (ay.22). Orang kaya itu tidak bisa berkata apa-apa karena tidak sanggup mengikuti permintaan itu. Kita dan semua pendengar pada masa itu disisakan satu pertanyaan, “kalau begitu siapa yang dapat diselamatkan?”

Keselamatan adalah pemberian Allah bagi kita (ay.27). Orang kaya dalam kisah ini tidak menyadari hal tersebut karena hatinya terpaut pada hartanya. Tuhan Yesus menawarkan pemulihan dengan memintanya mengalihkan titik fokus dari hartanya, namun ia tidak siap. Bagaimana dengan kita? Siapkah kita berpaling dari banyak hal di sekitar kita yang akan menghalangi kita melihat keselamatan yang Allah karuniakan?. Amin

JANGAN MENGABAIKAN KEBERADAAN TUHAN

Bahan Bacaan: Mazmur 14:1-7

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, pernah mengeluarkan pernyataan yang sangat kontroversial. Dia siap mundur sebagai presiden jika ada yang bisa meyakinkannya bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh ada. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak tindakan manusia yang mengolok-olok keberadaan Tuhan.

Pemazmur menyebut orang-orang tersebut sebagai orang bebal yang tidak berakal budi (ay.1). Tindakan mereka adalah kejijikan bagi Tuhan. Lebih jauh lagi, pemazmur memperlihatkan bahwa tindakan mengolok-olok keberadaan Tuhan tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui perilaku seperti: Perbuatan jahat saat mengabaikan bahkan mengolok-olok orang yang tertindas (ay.3-4).

Atas perilaku seperti ini, Allah tidak tinggal diam. Allah akan berpihak kepada orang-orang yang ditindas dan tertimpa kejahatan. Allah menjadi pembela mereka dan menunjukkan bahwa Ia sungguh ada di tengah-tengah umat-Nya. Ganjaran telah menanti orang-orang yang mengabaikan Allah dengan melakukan kejahatan dan penindasan.

Dengan demikian, tindakan mengabaikan keberadaan Tuhan bisa nampak dalam dua hal. Pertama, melakukan apa yang Tuhan larang. Kedua, berdiam diri melihat kejahatan, penindasan, dan perilaku-perilaku buruk yang ada di sekitar kita. Dosa membuat kita sangat potensial melakukan kedua hal ini. Karena itu, taatlah kepada Tuhan. Dalam ketaatan itu, kita akan terus mengakui keberadaan-Nya yang memberi kekuatan menjauhi yang jahat dan menolong yang tertindas. Amin

Penutup

Demikianlah beberapa Kumpulan Renungan Singkat dan Khotbah Kristen Singkat, semoga dapat bermanfaat untuk anda. Sekian dan terima kasih.


Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).