Kumpulan Renungan dan Khotbah Ucapan Syukur Kristen

Indonesia Terpercaya – Ada banyak hal yang membuat kita mengucap syukur dalam kehidupan ini. Mungkin saja kita mengucap syukur karena hasil panen berhasil, mengucap syukur karena salah satu anggota keluarga mengalami penyertaan Tuhan yang luar biasa lewat pekerjaan, kelahiran dan lain sebagainya, dan masih banyak lagi alasan-alasan kita untuk mengucap syukur kepada Allah.

Namun pernahkah anda juga mengucap syukur ketika sedang berada dalam kesusahan, misalnya saja karena panen gagal? Nah pada kesempatan kali ini saya akan memberikan beberapa Kumpulan Renungan dan Khotbah Ucapan Syukur Kristen yang bisa anda bawakan dalam setiap ibadah-ibadah pengucapan syukur baik itu di rumah, gereja maupun dalam masyarakat.

Anugerah Besar Dibalik Pengucapan Syukur

Bahan Bacaan: Lukas 17:11-19

Pada saat ini kita akan belajar mengenai “Anugerah dibalik pengucapan syukur.”Ada 2 macam orang menanggapi anugerah Tuhan yang datang dalam dalam hidupnya. Hanyut dengan berkat sehingga jauh dari Tuhan, Sembilan orang kusta yang disembuhkan Tuhan ini, sibuk dengan kesembuhannya, sehingga melupakan Tuhan. Mereka kehilangan sumber berkat. Satu orang kusta yang disembuhkan Tuhan ini kembali untuk bersyukur dan dan mengucapkan terima kasih justru mendapat berkat lagi yang lebih besar (ayat 15-19).

Mengapa seringkali banyak yang tidak bisa mengucap syukur. Terpikat oleh berkat bukan pemberi berkat. Sembilan orang kusta ini terpikat oleh berkat bukan pemberi berkat. kaki Yesus yang ditubruk. Simon Petrus saat jala-nya mendapat berkat Semua keberhasilan adalah karena Tuhan yang memberkati kita. Karena berkat Tuhan terlihat biasa. Karena seringnya sehingga sudah dianggap biasa.

Musa berkata dalam Mazmur 119:18 Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.Setiap hari bangun tidur Jantungnya tetapp berdetak. Bisa ibadah melayani Tuhan di Gereja kita ini !!Sebab Berkat Tuhan tidak selalu kelihatan baik. Berkat itu bisa dalam bentuk masalah (2 Korintus 12:7-9). Supaya kita tidak menjadi sombong (Yakobus 1:2).

Tuhan ingin kita menjadi orang yang bisa mengucap syukur senantiasa. Efesus 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. 1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Artinya: pada waktu keadaan kita baik atau diberkati harus senantiasa mengucap syukur, maupun pada waktu keadaan kita tidak baik atau badai kehidupan sedang melanda hidup kita, harus senantiasa mengucap syukur dalam segala keadaan. Tapi jangan mengucap syukur karena perbuatan yang melanggar Firman Tuhan.

Contoh: Jangan karena bisa menipu, menyakiti orang lain atau menang judi, berzinah, menyembah berhala, dll. Karena Tuhan adalah Tuhan yang baik. 10 orang kusta yang dihindarioleh banyak orang inipun disembuhkan oleh Tuhan.

Ucapan syukur tidak mengenal waktu dan keadaan

Bersukacita Walau Hasil Panen Gagal

Bahan Bacaan: Habakuk 3:17-18

Kekecewaan, frustasi, keputusasaan kadang-kadang dapat merupakan bagian dari kehidupan ini. Seiak nenek-moyang kita telah melanggar perintah Tuhan di Taman Eden, maka dunia ini menjadi kacau karena akibat dari dosa. Nabi Habakuk dari Perjanjian Lama mengalami pergumulan-pergumulan yang sama seperti yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam keputusasaan yang sangat besar ia bertanya: “Berapa lama lagi, TUHAN, aku Mengapa Engkau memperlihatkan kepada kejahatan,| berteriak, aku berseru kepada-Mu, tetapi tidak Kau tolong? sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.” Hab1:2-3.

Habakuk mempunyai banyak pertanyaan, tetapi kekurangan dalam mendapat jawaban. Pasal ke tiga dari Habakuk ada model yang luar biasa tentang doa dan iman. Nabi Habakuk bangkit dan berada di atas segala masalah kehidupan serta fokus kepada Allah saja. la menyadari bahwa persoalan-persoalan kehidupan tidak dapat menenggelamkan imannya kepada TUHAN. Karena itu ia menggunakan zaitun yang panennya mengecewakan karena gagal, dan ia berseru dengan keyakinan yang pasti: “Namun aku bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”

Memang, kehidupan ini tidak selamanya mulus. Tetapi jangan kita berputus asa. TUHAN yang memiliki kemuliaan dan kuasa itu ada dan mengendalikan hidup Anda dan saya, sehingga kemenangan kita akhirnya berada di dalam Dia dan bersama Dia. Memang kecenderungan banyak orang adalah bersukacita dan bersyukur dalam keadaan yang menyenangkan dan mengenakan, namun ketika mereka harus diperhadapkan dengan berbagai hal yang menyulitkan, banyak orang cenderung berpikir negatif.

Namun Habakuk mengajarkan kita sebuah kehidupan yang mampu bersukacita ketika orang lain harus bersedih, mampu bersyukur ketika orang lain mengumpat dan marah, mampu tertawa dan tersenyum ketika orang lain menangis. Tentunya semua itu dapat kita lakukan dengan pertolongan Allah saja.

Sukacita yang sejati terlihat saat yang sulit dan tidak menyenangkan kita alami

Bersyukur Dengan Menjadi Berkat Bagi Orang Lain

Bahan Bacaan: Yohanes 6:1-15

Perikop kita saat ini lebih banyak kita lihat sebagai sebuah mujizat, bahkan sering perikop ini kita plesetkan sisa 12 bakul karena belum ada ibu-ibu yang membungkus, karena itu perikop ini sangat familiar dengan kita. Jika dilihat dari sisi mujizat itu tidak salah tapi saya ingin mengajak kita melihat lebih dalam apa makna tindakan Yesus memberi makan 5000 orang ini.

Peristiwa ini terjadi menjelang paskah peranyaan orang Yahudi, semakin banyak orang yang tertarik dengan ajaran Yesus sehingga ribuan orang mengikutiNya untuk mendengar ajaranNya. Dalam situasi itu (ditengah-tengah Yesus sedang mengajar) la masih tetap peka akan kebutuhan jasmani ribuan orang yang mengikutiNya.

Menarik sekali bahwa Yesus tidak langsung mengadakan mujizat ketika melihat kenyataan bahwa ribuan orang itu lapar. Yang dilakukan Yesus pertama kali adalah bertanya kepada murid-muridNya secara khusus kepada Filipus lalu kepada Andareas. Jawaban dari kedua murid Yesus atas lalu pertanyaan Yesus “dimanakah kita akan membeli roti supaya mereka ini dapat makan?” menunjukkan bahwa mereka tidak menemukan solusi ditengah masalah yang dihadapi (Filipus dan Andareas pesimis “roti seharga 2 dinar tidak akan cukup bagi orang ini dan disini ada seorang anak yang mempunyai 5 roti dan 2 jelai ikan tetapi apakah artinya untuk orang sebanyak ini”).

Mengapa Yesus memulai dengan bertanya kepada muridNya mengapa tidak langsung mengadakan mujizat? muridNya Kupanya Yesus ingin mengetahui sejauh mana kepekaan para murid, sejauh mana para murid bersedia berbagi kasih dengann dng yang membutuhkan, dan memikirkan masalah orang lain.

Ternyata Yesus mendapati bahwa para murid masih belum peka, masih belum memikirkan kepentingan orang lain. masih belum memiliki hati yang bersedia berbagi, masih merasa bahwa tida ada sesuatu yang bisa mereka berikan, masih merasa berkekurangan bahkan justru mereka merasa perlu dibantu. Hati para murid belum tergerak untuk berbela rasa, masih perlu mengasah hati dan mempertajam kepekaan.

Tidak hanya kepada para murid Yesus mau menilai dan menguji kepekaan, empati tetapi juga kepada kita semua. Jika kita menilai diri kita dimanakah posisi kita. Ada 3 pilihan posisi bagi kita:

  1. Dibawah para murid, itu berarti -> belum ada sama sekali kepekaan karena kita selalu merasa kurang, merasa bahwa justru saya yang harus dikasihani, lebih senang menerima daripada memberi.
  2. Setara dengan para murid, itu berarti -> pesimis, prihatin melihat keadaan orang lain tapi tidak bias berbuat sesuatu, merasa tidak ada yang dapat dibagikan tidak mungkin berbagi kasih karena keadaannya juga pas-pasan.
  3. Melampaui para murid, itu berarti -> punya kepakaan, kepedulian berempati, punya kemauan berbagi kasih. Apa saja yang ada padanya bersedia dibagikan kepada orang lain. Untuk dapat melakukan ini maka kita harus merasa dan menyadari dengan sungguh bahwa selalu ada berkat Tuhan yang selalu kita rasakan sehingga tanggung jawab kita adalah berbagi kasih dengan yang lain. Posisi yang ketiga inilah yang diinginkan oleh Yesus.

Saudara-saudara ketika kita bersyukur sebenarnya kita Sungguh menyadari berkat Tuhan dalam hidup kita. karena itu jangan berhenti pada bersyukur saja, melainkan rasa syukur itu harus ditindaklanjuti dengan berse bersedia menjadi berkat, posisi kita harus melampaui pra murid Yesus.

Saya mengakhiri khotbah ini dengan ilustrasi waduk. Fungsi waduk adalah menampung air, setelah itu air tesebut dialirkan kesawah-sawah yang kering supaya bisa digarap dan memperoleh hasil. Waduk kalau hanya menampung dan tidak mengairi sawah-sawah bisa menjadi bencana yang mematikan (banjir). Dari waduk kita belajar menjadi penerimma berkat dari Tuhan dan menyalurkannya bagi sesama kita. Berusahalah untuk melampaui kepekaan para murid dengan meneladani Yesus. Amin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *