Kumpulan Renungan Natal Kristen

Indonesia Terpercaya – Natal merupakan sebuah perayaan besar umat Kristiani yang diselenggarakan setiap bulan Desember setiap tahunnya. Inti dari perayaan natal adalah memperingati hari kelahiran Yesus Kristus kedalam dunia.

Dalam momentum natal, ada banyak hal yang menjadi perenungan-perenungam kita sebagai orang Kristiani. Apakah betul-betul kita sudah memaknai perayaan natal tersebut? Ataukah hanya menjadi sebuah seremonial belaka setiap tahunnya tanpa adanya Kristus dalam hati kita.

Nah berikut ini beberapa Renungan Natal Kristiani untuk semakin memaknai perayaan natal yang kita jalankan entah itu di gereja, rumah, organisasi, instansi maupun dalam masyarakat.

Firman Itu Telah Menjadi Manusia

Bacaan: Mazmur 98, 148

Seorang săhabat pernah berkata bahwa satu di antara dimensi terpenting menjadi ayah adalah dia harus bermain lagi seperti kanak-kanak dengan anak-anak. Meskipun dibesarkan di keluarga yang penuh kasih dengan banyak kesempatan bermain, dari perspektifnya, entah bagaimana dia merasa tidak pernah cukup. Dengan bermain bersama anak-anaknya, dia bisa memperpanjang masa kanak-kanaknya dan menggantikan waktu yang dahulu hilang.

Membaca Mazmur 98 dan 148 terasa seperti berada di ruangan penuh anak yang riang gembira, termasuk anak “dewasa”, yang menemukan masa lalu baru yang menyenangkan, memperoleh kesenangan saat bermain, dan bersyukur semata karena ada di sana. Tiap orang dan segala sesuatu dalam mazmur ini bersukacita. Tiap orang bersorak. Gunung bernyanyi. Sungai dan ikan bertepuk tangan. Api dan hujan es, salju dan kabut, dan bahkan angin badai memuji Allah, begitu juga pohon buah-buahan dan segala pohon ara. Orang penting dan orang biasa semuanya memuji Allah.

Mengapa semua keriangan yang berlimpah dan tiada habisnya ini, seperti anak-anak yang sedang bermain? Allah telah mengerjakan hal-hal menakjubkan. Allah telah menunjukkan kasih tak berkesudahán dan kesediaan kepada kita. Sesungguhnya, Allah telah menebus segenap ciptaan! Dan sekarang, saat kita diingatkan tentang Malam Natal, Allah akan memasuki dunia dengan cara yang baru melalui kelahiran bayi rapuh, kanak-kanak Kristus.

Bayi Yesus adalah Allah beserta kita, Imanuel. Kanak-kanak Kristus menyediakan akses kepada Allah dengan cara-cara yang sebelumnya mustahil. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (Yoh. 1:14). Dalam kelahiran Yesus, kita bertemu, meminjam kata-kata Charles Wesley, “Mahakasih yang ilahi”; seorang Juruselamat yang “berlimpah rahmat, sumber kasih yang besar!” Bahkan makhluk- makhluk dan bumi sendiri bisa merasakan perbedaannya. Hai dunia bersukalah!

Allah, siapkan aku untuk menyambut bayi Kristus dan, sebagai syukur atas karunia ini, menjalani kehidupan kasih dan sukacita. Amin.

Yesus Lahir Bagi Kita

Bacaan: Lukas 2:1-10

Menurut para elit pada abad pertama, menjadi gembala adalah pekerijaan terburuk yang bisa Anda peroleh. Para gembala dicap sebagai orang-orang pemalas, tidak jujur, yang tinggal di tanah milik orang lain. Menemukan tempat istirahat di kandang adalah lebih baik daripada tidur di luar di antara domba-domba.

Namun kelahiran Yesus di palungan adalah situasi yang sangat bersahaja pula, sebagaimana nyaris segala hal dalam kisah ini. Allah memasuki sejarah manusia dalam kondisi sepenuhnya tak berdaya, sebagai bayi. Orang tua Yesus miskin dan tidak berpengalaman. Maria mungkin masih remaja.

Kemudian, orang-orang pertama yang mengetahui kelahiran itu adalah para penggembala yang dikucilkan dan rendah. “Aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Para gembala tidak terbiasa menjadi orang-orang yang pertama kali menerima kabar gembira semacam itu. Ketika malaikat Tuhan menampakkan diri, diliputi kemuliaan, wajar bila mereka ketakutan.

Begitu mereka menangkap pesannya, para gembala tahu apa yang harus dikerjakan selanjutnya: mereka pergi untuk memastikan sendiri kabar tersebut. Mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan malaikat tersebut kepada Maria dan Yusuf. Semua orang heran, tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Di tengah-tengah segala sukacita, dia diam-diam merenungkan arti semua kejadian-kejadian luar biasa tersebut.

Sekali lagi, Allah memasuki sejarah manusia melalui kaum miskin dan tak punya tempat tinggal, orang-orang tanpa status sosial atau kekuasaan. Allah memilih untuk berkenan kepada mereka yang terpinggirkan dan meninggikan orang-orang yang rendah hati, orang-orang yang hina. Di antara orang-orang sepeti inilah, Allah beserta kita, Imanuel.

Allah, tolong aku menemukan kehadiran Kristus di tempat-tempat yang mengejutkan dan orang-orang yang rendah hati. Amin.

Yesus Cinta Semua Anak, Semua Anak di Dunia

Bacaan: Matius 2:13-23

Kristus datang ke dunia yang sangat berbahaya. Tidak lama setelah Dia dilahirkan di Bethlehem, Herodes memerintahkan kematian semua anak berusia di bawah dua tahun. Untuk meloloskan diri, Yusuf dan Maria pun mengambil bayi Yesus dan pergi. Mereka pergi pada tengah malam menuju Mesir di mana mereka berharap menemukan tempat perlindungan.

Bertahun-tahun silam di tambang-tambang batu bara yang berbahaya, gas-gas seperti metana dan karbon monoksida akan terkumpul di lorong-lorong tambang. Pendeteksian gas-gas ini sulit, tetapi burung-burung kenari sangat sensitif terhadap karbon monoksida. Selama burung-burung itu berkicau, para penambang tahu mereka bisa terus bekerja. Jika burung-burung itu berhenti berkicau, para penambang tahu mereka harus keluar secepatnya.

Seperti burung-burung kenari yang berhenti berkicau, kematian anak-anak menjadi peringatan bahwa dunia telah menjadi sangat kacau. Persatuan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa jutaan anak meninggal tiap tahun karena kemiskinan, kurang gizi, dan penyakit. Dalam beberapa dekade terakhir, puluhan juta anak-anak menjadi pengungsi akibat perang dan bencana-bencana lainnya. Industri seks komersial jutaan dollar mengeksploitasi dua juta anak tiap tahun. Lebih dari lima belas juta anak telah kehilangan orang tua karena HIV/AIDS.

Di gereja kita belajar menyanyikan “Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia”. Jika kita percaya lirik ini, kita tahu bahwa tiap statistik di atas adalah makhluk berharga yang dipercayakan kedalam pemeliharaan kita. Mereka, seperti kanak-kanak Yesus, adalah pengungsi. jika kita menerima perintah Kristus untuk mengasihi mereka semua, kita harus bekerja untuk membantu mereka meloloskan diri dari dunia yang telah menjadi amat kacau ini.

Allah, tolong kami untuk mengasihi semua anak di dunia. Tolong kami membangun komunitas-komunitas orang yang menyediakan perlindungan dan kedamaian di mana mereka bisa bertumbuh dan bernyanyi untukmu. Amin.

Allah Itu Baik, Tiap Waktu

Selama dua dekade aku adalah anggota jemaat yang berkala menggunakan litani: Allah itu baik, tiap waktu.

Ada masa sulit, sering sekitar hari raya, ketika aku tidak senang mendengar litani ini, apalagi mengucapkannya. Suatu ketika, aku pernah nyaris tercekik saat mengatakannya dari balik air mata kepahitan dan sakit hati yang menyertai tantangan besar dalam hidup yang kita semua jalani.

Namun, setelah bertahun-tahun, aku akhirnya yakin mengucapkan litani ini menjadi pengingat mendalam bahwa tidak ada yang bisa memisahkan orang-orang yang kukasihi atau aku dari kasih Allah dan kuasa penebusan yang mengubahkan hidup yang kita kenal dalam Kristus. Dalam masa baik dan buruk, penegasan pendek ini membantu memusatkan renunganku pada berkat melimpah yang luar biasa yang memperkaya dan memeliharaku dan komunitas imanku.

Membaca Mazmur 96 saat Natal mendatangkan efek yang serupa. “Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib diantara segala suku bangsa.” Menjalani hidup penuh syukur-bukan hanya pada masa baik dan bukan sekadar cara naif untuk melarikan diri dari kerja keras mengarungi tantangan berat-dapat menjadi kesaksian yang penuh kuasa bagi dunia.

Sukacita menjadi ciri komunitas Kristen mula-mula. Mereka menghadapi lebih banyak situasi sulit daripada manusia pada umumnya. Namun mereka menggenggam kedamaian dan sukacita yang tampaknya tak berkesudahan, berlimpah, memancar hingga semua orang melihatnya. Mereka menghayati pernyataan pemazmur, “Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak … sebab la datang untuk menghakimi bumi. la akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.”

Memang, Yesus akan datang. Allah itu baik. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TuHAN!

Allah, tolong aku untuk bersyukur atas begitu banyak berkat kehidupan dan kasih yang dinyatakan dalam Yesus Kristus. Amin.

Penutup

Demikianlah artikel saya mengenai Kumpulan Renungan Natal Kritiani, semoga melalui tulisan ini, kerigma natal bisa kita petik dan bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat, sekian dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *