Indonesia Terpercaya – Karakter anak usia dini (0-6 tahun) adalah unik. Mereka aktif, spontan. ceria, dan penuh rasa ingin tahu. Semua stimulus akan direspon pada usia dini, semua informasi akan diserap dan mereka akan menangkap apa saja yang ada disekitarnya. Anak anak aktif dan belajar melalui semua inderanya. Anak usia dini kita ibaratkan seperti spons yang menyerap semua yang ada disekelilingnya dan semua yang diserap itu akan menjadi fondasi penting dalam pembentukan kepribadiannya kelak.

Pendidikan karakter pada usia dini merupakan proses belajar tentang segala aspek dan komponen yang dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang matang dan paripurna, dimana orang tua, guru, lingkungan dan masyarakat berperan sebagai pilar utamanya. Pada usia ini anak sangat membutuhkan keteladanan, bukan hanya sekedar nasehat atau norma tertulis.

Proses belajar pada anak usia dini

Imitasi adalah proses meniru dan mencontoh, dimana pada anak usia dini proses inilah yang pertama dilakukannya dalam memenuhi rasa ingin tahu dan merespon stimulasi lingkungan. Anak akan meniru semua yang dia lihat, dengar dan rasakan dari lingkungan.

Identifikasi adalah proses selanjutnya ketika imitasi diberi penguatan berupa penghargaan dan hukuman serta dilengkapi dengan deskripsi yang baik. Anak akan belajar mengenali semua perilaku yang ditirunya dan mulai bisa membedakan mana prilaku yang dapat diterima dan memberi dampak positif serta mana perilaku yang tidak bisa diterima dan memberi dampak negative.

lntermalisasi adalah proses pemahaman ketika prilaku yang sudah dikenalinya mulai dibiasakan dan diberi penguatan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Internalisasi inilah yang kemudian membentuk pemahaman anak dan membangun fondasi kepribadiannya secara utuh. Misalnya, anak meniru tokoh kartunnya yang suka melempar barang ketika bertarung. ini adalah proses imitasi dan biasanya dilakukannya ketika bermain peran dengan teman-temannya.

Orang tua dan gurunya membantu melakukan proses identifikasi bahwa melempar barang kepada teman tidak bisa diterima karena akan menyakiti teman dan hal tersebut tidak sopan, maka disini anak belajar untuk membedakan prilaku mana yang bisa diterima oleh mayarakat dan mana yang tidak. Prilaku positifnya diberi penguatan dengan pujian atau hadiah yang lain, yang kemudian terinternalisasi dalam karakternya dan menjadi komponen dalam pembentukan kepribadian.

Tujuan Pendidikan Karakter pada Usia Dini

Belajar adalah hakekat manusia, dilakukan semenjak manusia ada di dalam kandungan sampai ke penghujung usianya nanti. Maka pendidikan karakter pada usia dini bertujuan untuk membantu proses belajar anak dalam pemahaman norma dan nilai sehingga mampu memiliki semua komponen yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan paripurna yang sesuai dengan perkembangan zamannya.

karena semakin maraknya terjadi demoralisasi dan degedrasi Pendidikan karakter menjadi sesuatu yang urgen pada saat in pengetahuan dalam masyarakat. Masyarakat cenderung lebih kematangan emosional, social dan spiritual. Banyak muncul menghargai keunggulan intelektual dan menyampingkan lulusan sekolah dan sarjana yang berotak cerdas tetapi nentalnya lemah dan perilakunya tidak terpuji.

Penelitian telah mengungkapkan bahwa ternyata keberhasilan dan kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) semata tetapi juga oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).

Berangkat dari sinilah maka pendidikan karakter sebailknya masuk pada ranah terkecil dan dimulai sedini mungkin agar lahir generasi penerus yang memiliki kepribadian berkualitas dan paripurna sehingga mampu menjadi penopang bagi bangsa yang hebat, tangguh dan mampu berperan dalam tataran dunia.

Nilai-nilai Karakter yang Dikembangkan pada Usia Dini

  1. Nilai spiritualitas dalam hubungannya dengan Tuhan. Nilai ini bersifat religious, dimana anak belajar untuk memahami bahwa pikiran, perkataan dan tindakannya diusahakan selalu didasari oleh nilai keTuhanan dan ajaran agamanya.
  2. Nilai yang berhubungan dengan dirinya sendiri secara internal, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, mandiri, percaya diri, kreatifitas, hidup sehat dan cinta ilmu.
  3. Nilai yang berhubungan dengan sesame dan lingkungan, seperti memahami hak diri sendiri dan orang lain, patuh pada aturan, menghargai orang lain dan bersikap santun.

Penerapan Pendidikan pada Usia Dini

Membangun konsep diri positif pribadi yang produktif dan bijaksana terbukti memiliki konsep diri positif, dimana mereka mampu mengenali kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri yang kemudian berhasil mengembangkan kelebihan yang yang dimilikinya serta mampu mengatasi kekurangannya dengan melakukan kompromi dan kerjasamna dengan lingkungan sosialnya.

Konsep diri positif adalah modal penting bagi anak usia dini untuk bisa memandang dirinya sendiri sebagai pribadi yang baik Sehingga kelak pada usia remaja dan dewasa individu tersebut Juga memiliki tolok ukur diri yang baik serta mampu bekerja sama dengan lingkungan social secara proporsional.

Pada penerapannya konsep diri anak dibangun melalui penerimaan yang baik dari orang tua, guru dan lingkungan terhadap kondisinya. Anak diterima dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Kelebihan anak dikembangkan dan di sisi lain kita membantu untuk mengatasi kekurangannya. Jangan menilai anak secara subyektif melalui sudut pandang dewasa tetapi berusahalah memahami mereka sesuai dengan tahap perkembangan usianya serta keunikannya.

Orang tua dan guru diharapkan mampu membangun komunikasi dua arah yang ideal dengan anak. Biasakan untuk menyimak apa yang disampaikan anak tanpa melaukan kritik atau mengecilkan pendapatnya. Biarkan anak menyampaikan pendapatnya secara aktif. Beri teladan dan bimbingan dalam proses diskusi tersebut agar anak belajar cara komunikasi yang efektif, kapan dia sebaiknya mendengarkan dan kapan harus bicara.

Kemampuan komunikasi positif adalah salah satu modal terpenting bagi anak untuk menyampaikan pikiran dan isi hatinya dengan asertif dan santun. Di kemudian hari Kemampuan ini akan sangat berguna dalam perannya sebagai anggota masyarakat social.

selain itu komunikasi yang baik antara orang tua. guru dan anak akan membantu menjalin kedekatan satu sama lain. Hal ini akan memudahkan orang tua dan guru untuk mentransfer nilai-nilai ebijakan pada anak tanpa kesan menghakimi atau menggurul. yang mendapatkan penerimaan tanpa syarat akan belajar Anak yang bahagia.

Kemampuan untuk bahagia inilah yang kemudian akan hargai dirinya sendiri dan berkembang menjadi anak yang bahagia. Kemampuan untuk bahagia inilah yang kemudian akan mengantarkannya menjadi pribadi yang penuh syukur dan dan berusaha berguna bagi sekelilingnya. Tak peduli betapapun berhasilnya anak dalam kehidupannya kelak, kalau ia tak pernah belajar merasa bahagia pada awal hidupnya maka ia tidak akan bahagia.

Menanamkan nilai spiritual

Pada anak usia dini penjelasan nilai spiritual sebaiknya masih dalam bentuk konkret, karena pada tahapan usia ini mereka belum memahami nilai spiritual abstrak seperti yang dipahami oleh orang dewasa. Misalnya, mereka belum paham konsep “dosa” sehingga kalau dia berteriak pada ibunya dan kita kita mengamcam bahwa sikapnya itu akan membuat dia berdosa, maka kemungkinan prilaku itu akan berulang kembali, karena dosa adalah konsep abstrak.

Sebaiknya kita jelaskan bahwa berteriak pada ibu itu membuat ibunya sedih, hal ini jauh lebih mudah dipahaminya, karena ibu yang sedih lebih konkret baginya. Setelah itu lanjutkan penjelasan bahwa Tuhan sangat sayang pada anak yang sabar dan bertutur kata baik, sama seperti ibu juga sayang sekali padanya.

Penanaman nilai-nilai spiritual pada usia dini sebaiknya diberikan bukan dalam konsep dogmatis atau bentuk hafalan dan ritual tanpa makna, melainkan dalam bentuk keteladanan dalam perilaku sehari-hari dan penggambaran kasih saying Tuhan terhadap umatNya secara universal.

Misalnya anak dibiasakan berdoa sebelum dan sesudah makan, namun juga diberi penjelasan bahwa itu adalah cara berterima kasih kepada Tuhan atas makanan yang tersaji. bahwa Tuhan sangat sayang kepadanyasehingga member makanan yang bisa membuatnya kuat dan sehat. Kebiasaan ini sebaiknya dilakukan orang tua secara konsisten sebagai keteladanan. sehingga anak memahaminya sebagai nilai spiritual yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ritual tanpa makna.

Nilai spiritual sangat penting bagi anak. Karena nilai ini akan menjadi dasar kepribadian yang rendah hati, bijaksana dan santun. Pribadi yang akan memanifestasikan nilai dan norma agama dalam setiap aspek kehidupannya, bukan hanya menjalankan ritual tanpa makna.

Pemahaman terhadap nilai spiritual yang baik akan membuatnya memahami bahwa ada yang jauh lebih besar dari dirinya, sehingga tetap berani bermimpi besar, berusaha kuat namun tetap berpijak di bumi.


Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *