Riwayat Hidup, Pemikiran dan Karya Arswendo Atmowiloto

Riwayat Hidup

Arswendo Atmowiloto memiliki nama asli Sarwendo. Ia lahir pada tanggal 6 November 1948 di Solo, Jawa Tengah. Ia mengubah nama aslinya menjadi Arswendo karena pertimbangan komersial dan popularitas. Nama atmowiloto adalah nama sang ayah. Nama samaran Arswendo lainnya adalah Sukmo Sasmito, Lani Biki, Said Saat dan B.M.D. Harahap.

Arswendo pernah mengenyam pendidikan di IKIP Solo, tetapi tidak selesai. la kemudian memilih berkarier di bidang jurnalistik. Arswendo tercatat pernah menduduki beberapa jabatan penting, seperti pemimpin redaksi majalah Hai (sejak 1986), pemimpin redaksi dan penanggung jawab tabloid Monitor (1986), dan pengarah redaksional majalah Senang (1989).

Pada tahun 1990, Arswendo sempat merasakan hidup dalam penjara. la harus menjalani hukuman tersebut karena dituduh melakukan penghinaan terhadap suatu agama di Indonesia melalui sebuah angket di tabloid Monitor. Lima tahun kemudian, Arswendo dibebaskan dari penjara. Selanjutnya, ia mendirikan PT Atmo Bismo Sagotrah. PT tersebut menerbitkan majalah Bianglala, Ino, dan tabloid Pro-TV. Saat ini, nama Arswendo lebih dikenal sebagai seorang produser, penulis skenario, dan sutradara untuk tayangan televisi.

Pemikiran Arswendo Atmowiloto

Arswendo Atmowiloto salah seorang pengarang paling produktif di Indonesia. Pada dekade 60-an, cerpennya sering muncul di beberapa media nasional, sebelum kemudian disusul oleh novel-novelnya. Sebagai seorang pengarang populer, Arswendo menunjukkan kualitas estetika yang sangat memadai. Arswendo juga pernah melakukan percobaan eksperimentatif di bidang cerpen. la menampilkan sebuah narasi pendek yang hanya terdiri atas dua hingga tiga baris kalimat.

Secara umum, gaya kepengarangan Arswendo Atmowiloto dikenal lewat kemahirannya menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam ceritanya. Selain itu, gaya kepengarangan Arswendo dikenal dalam pemilihan bahasa yang antiklise, ruwet, dan padat sehingga mengharuskan pembaca melakukan pemahaman mendalam untuk bisa mengerti isi cerita karyanya.

Di sepanjang karier kepengarangannya, beberapa novel karya Arswendo yang dianggap cukup berbobot, antara lain Bayang-Bayang Baur (1976), The Circus (1977), dan Semesra Merapi dan Merbabu (1977). Sastrawan peraih SEA Write Award pada tahun 1987 ini telah memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama sebanyak tiga kali, masing-masing untuk novelnya berjudul ,Dua lbu (1981 Keluarga Bahagia (1985), dan Mandoblang (1987).

Selain menghasilkan novel sastra, Arswendo ternyata mahir menulis novel silat. Senopati Pamungkas adalah novel serial silat karyanya yang cukup terkenal pada tahun ’80- an. Pada kemudian hari, novel serial tersebut dikumpulkan dan diterbitkan kembali dengan judul Senopati Pamungkas 1 dan Senopati Pamungkas 2 (2003).

Arswendo seorang penulis produktif dan kreatif. Ketika menjalani masa hukuman selama lima tahun, ia tetap menghasilkan karya-karya dari dalam penjara. la pun terkenal sebagai tokon sastrawan yang melahirkan “sastra penjara”, yang merekam kehidupan dunia hitam para penjanat dan narapidana.

Selain novel, Arswendo juga mahir menulis naskah drama. Naskah drama karyanya antara lain Penantang Tuhan, Bayiku yang Pertama, dan Sang Pangeran. Naskah drama karya Arswendo ternyata mendapat apresiasi baik dari masyarakat penikmat seni. Arswendo juga berhasil meraih hadiah dari Dewan KeseniÄ…n Jakarta pada tahun 70-an. Pada kemudian hari, Arswendo lebih dikenal sebagai seorang penulis skenario produktif.

Karya-karya Arswendo Atmowiloto

Sebagai sosok seniman dan sastrawan, Arswendo Atmowiloto telah melahirkan karya yang pernah dipublikasikan sebagai berikut.

  1. Bayiku yang Pertarma: Sandiwara Komedi dalam 3 Babak (drama, 1974)
  2. Bayang-Bayang Baur (novel, 1976)
  3. The Circus (novel, 1977)
  4. Semesra Merapi dan Merbabu (novel, 1977)
  5. Surat dengan Sampul Putih (kumpulan cerpen, 1979)
  6. Dua lbu (novel, 1981)
  7. Keluarga Bahagia (novel, 1985)
  8. Anak Ratapan Insan (novel, 1985)
  9. Airlangga (novel, 1985)
  10. Akar Asap Neraka (novel, 1986)
  11. Canting: Sebuah Roman Keluarga (novel, 1986)
  12. Dukun tanpa Kemenyan (novel, 1986)
  13. Mandoblang (novel, 1987)
  14. Menghitung Hari (novel, 1993)
  15. Abal-abal (novel, 1994) 16. Auk (novel, 1994)
  16. Darah Nelayan (novel, 2001)
  17. Dewa Mabuk (novel, 2001)
  18. Senja yang Paling Tidak Menarik (kumpulan cerpen, 2001)
  19. Dusun Tantangan (novel, 2002)
  20. Senopati Pamungkas 1 dan Senopati Pamungkas 2 (novel, 2003)

Disadur dari: Astuti, Indarti Yuni. 2008. Ensiklopedi Sastrawan Indonesia Jilid 3. Jakarta: Permata Equator Media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *