Sikap Yesus Terhadap Politik dan Relevansinya Bagi Indonesia

Indonesia Terpercaya – Pernahkah anda berfikir, bagaimana sebenarnya pandangan dan sikap Yesus terhadap politik? dan bagaimana seharusnya orang Kristen terutama di Indonesia menyikapi masalah politik?

Pada ulasan kali ini, saya akan memakarkan mengenai pandangan Yesus Terhadap politik yang bersumber dari buku Manifesto Politik Yesus karangan Gunche Lugo. Simak uraiannya berikut.

Integritas Elit Politik

“Hai kamu pemimpin yang buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Mat. 23:24)

Bekerja di bidang politik adalah panggilan Allah yang mulia untuk mensejahterakan seluruh masyarakat Indonesia (bnd. Rm. 13:1-7; Yer. 29:7). Karena pekerjaan di bidang politik adalah panggilan Allah, diperlukan integritas hidup (benar dan kudus) dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.

Integritas elite politik tampak dalam memperjuangkan dan menegakkan keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Orientasi hidup elite politik bukan kekuasaan atau harta benda duniawi, melainkan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam masyarakat Indonesia

Integritas moral elite politik yang baik menjadi kunci kepercayaan masyarakat kepadanya. Integritas moral elite politik yang baik menjadi modal untuk membangun karakter masyarakat yang bermartabat di Indonesia.

Sikap Gereja Terhadap Negara

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3)

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10)

Gereja secara kelembagaan bersikap netral terhadap partai politik, namun dalam perannya sebagai garam dan terang dunia, Gereja aktif memperjuangkan tegaknya keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan masyarakat.

Gereja secara kelembagaan tidak mencampuri urusan partai politik dan atau Gereja menolak intrvensi negara yang menghegemoninya. Walaupun demikian negara (pemerintah) adalah hamba Allah untuk mensejahterakan rakyat (Rom. 13:1-7) dan gereja adalah hmba Allah untuk membina rohani dan moral umat.

Relasi antara Gereja dan Negara adalah sinergi yang saling melengkapi untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di Indonesia. Gereja wajib memberikan kritik dan saran untuk kemajuan negara, begitupun sebaliknya negara berkewajiban kritik atau masukan, khusunya dalam hal peningkatan kualitas perilaku (moral) umat.

Gereja dalam artian orang percaya berkewajiban berperan aktif, kritis, dan inovatif untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai kerajaan Allah (keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan) dalam masyarakat Indonesia.

Partisipasi umat kristiani dalam bidang politik idealnya memberikan kontribusi yang positif, kreatif dan inovatif dalam pengambilan kebijakan publik.

Sikap Yesus Terhadap Negara

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21)

Yesus menghormati pemerintah yang sah yang di dukung oleh segenap rakyar. Yesus tidak terlihat aktif dalam gerakan politik praktis (zelotis) yang menentang pemerintahan. Yesus tidak berambisi merebut kekuasaan di dunia ini. Sebaliknya, Dia melayani masyarakat dengan seluruh jiwa dan raga-Nya (Mrk. 10:45)

Yesus tidak menyebut diriNya berkuasa melainkan orang lainlah yang menyebut diri Yesus Berkuasa. Yesus melengkapi hegemoni negara dengan tindakan konkret dengan membebaskan masyarakat dari kelaparan, kesakitan dan kebodohan.

Politik Yesus adalah politik gaya hidup-Nya yang mengubahkan cara pandang (paradigma) dan perilaku masyarakat (peradaban). Politik Yesus adalah politik peradaban baru yang mengangkat derajad dan memajukan manusia.

Sikap Yesus Terhadap Kekuasaan

“Kamu tahu, bahwa yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyarnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk. 10:42-44)

Kekuasaan (eksousia) berasal dari, oleh, dan bagi Allah. Kekuasaan dunia (dunamin) berasal dari, oleh dan bagi manusia. Kekuatan dunia tidak bisa dan tidak boleh mengatur kekuasaan Allah.

Sikap politisi Kristiani yang bijak dalam bidang pemerintahan ialah tidak berorientasi mencari kekuasaan dunia. Politisi Kristiani telah mendapatkan kekuasaan (eksousia) dari Allah dan hal ini sudah lebih dari cukup.

Yesus menganjurkan umat Kristiani untuk membayar pajak kepada pemerintah sebagai bentuk ketaatannya, tetapi harus tetap kritis terhadap penyelewengan kekuasaan.

Politik Peradaban Baru

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga” (Mat. 5:9-10)

Kehadiran orang Kristiani haruslah phronimos (cerdik) dalam bidang politik dan bermasyarakat. Kehadiran orang Kristen menolak segala tindak kemunafikan, tetapi mengembangkan dalam masyarakat sikap hidup tulus dan rela berkorban bagi masyarakat (akeraios).

Kehadiran orang Kristen baik dalam bidang politik maupun dalam masyarakat idealnya menjadi agen perubahan. Kehadirannya bedampak dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa. Kehadirannya ditandai dengan adanya pribadi yang kritis, inovatif, kreatif, dan berpengharapan.

Kepribadian orang Kristen yang kritis dan kreatif adalah jujur dan otentik (asli). Kepribadian Kristiani yang inovatif ditandai dengan adanya keberanian moral. Orang Kristen yang berani secara moral adalah pribadi yang bertanggung jawab terhadap Tuhan dan bangsa Indonesia.

Sikap Terhadap Partai Politik

  • Memilih atau mendukung partai politik yang terbukti membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kelaparan (lih. Mat. 25:34-46)
  • memilih atau mendukung partai politik yang pro terhadap rakyat kecil dan tidak hanya pro terhadap para penguasa atau konglomerat (lih. Mat. 25:34-35).
  • Memilih atau mendukung partai politik yang berkomitmen mencukupi kebutuhan sandang dan papan rakyat (Mat. 25:36)
  • Memilih dan mendukung partai politik yang berkomitmen menyantuni para janda, anak yatim piatu memajukan kesehatan, dan pendidikan masyarakat (Lih. Mat. 25:36).

Sikap Terhadap Pemimpin Nasional

  • Mendukung dan memilih pemimpin yang telah terbukti rela berkorban bagi rakyat Indonesia, setia memperjuangkan UUD 1945, Pancasila, dan NKRI.
  • Mendukung dan memilih pemimpin yang telah menjadi sahabat rakyat Indonesia dan tidak pernah terlibat dalamkasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
  • Mendukung dan memilih pemimpin yang memiliki integritas moral dan berkomitmen melayani rakyat Indonesia.
  • Mendukung dan memilih pemimpin yang tegas dan berani menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *