Indonesia Terpercaya – Ada kisah sufi dimana sufi dikenal oleh para murid sebagai orang suci. Suatu waktu sang sufi meninggal. Sang murid bertemu dalam mimpi dengan sang sufi di akhirat. Dia terkejut. Mengapa ? karena sang sufi tidak ditempatkan di sorga. Padahal dia tahu pasti bahwa amalan dan ketawaduan sang sufi sangat luar biasa.

Mengapa Tuhan tempatkan dia tidak di sorga. Sang murid bertanya kepada sang Sufi. “ Guru mengapa , anda tidak masuk sorga ? “ Hanya satu kesalahanku, aku mengusir lalat yang hinggap di mata penaku yang hendak minum tinta. Karena itulah aku tidak jadi masuk sorga.”

Anda akan berkerut kening. Memang ini kisah imaginer sang Sufi sebagai inspirasi kisah dalam hadith tentang seorang pelacur akhirnya masuk sorga hanya karena menolong Anjing yang kehausan mendapatkan air dari telaga. Artinya sorga itu bukan hal yang mudah dan tidak bisa diukur dari amalan anda. Kalaulah pahala bisa memastikan orang masuk sorga maka itu artinya sorga adalah produk kapitalis. Tidak. Sorga itu adalah produk cinta. Yang hanya diperuntukan kepada orang yang punya cinta. Yang bisa menilai apakah anda hidup dalam cinta, itu hanya Tuhan. Bukan orang lain. Makanya sorga itu hak prerogatif Tuhan. Tidak ada manusia yang berhak menentukan kadar keimanan dan pahala orang sehingga pantas mendapatkan sorga.

Manusia itu tercipta dalam keadaan tidak sempurna. Tidak percaya? Kalaulah Tuhan tidak menutup aib kita maka saya yakin tidak ada yang tersisa yang membuat kita membanggakan diri. Betapa tidak? Kalaulah Tuhan membuka aib para suami maka saya yakin dari 3 pria, 2 pasti selingkuh. Engga percaya? Apakah anda tidak pernah terbersit di hati anda terhadap perasaan kepada wanita lain. Saya yakin kalau mau jujur, tidak ada yang berani menjawab. Sebaliknya para istri juga sama. Apakah tidak pernah diantara kita mentuhankan atasan atau tokoh, atau uang ? saya yakin kalau mau kita jujur semua kita semua pernah mentuhankan selain Tuhan. Apakah kita tidak pernah berbohong untuk alasan menolak orang minta tolong.

Apakah kita tidak pernah berusaha ngakali orang lain untuk dapatkan bantuan dan uang? Apakah kita tidak pernah menepuk dada atas diri sendiri yang katanya sholeh dan pada waktu bersamaan merendahkan kekurangan orang lain dan berusaha membuka aib orang agar kita dinilai lebih baik ? Saya yakin semakin panjang pertanyaan kepada diri semakin tidak tersisa kebaikan yang bisa dibanggakan dihadapan Tuhan. Lantas mengapa kita harus sombong? Makanya penyakit sombong itu adalah penyakit terendah secara spiritual. Apalagi menganggap diri sempurna dihadapan orang lain. Ketidak sempurnaan adalah fitrah kita sebagai manusia.

Menyadari ketidak sempurnaan itu membuat kita berusaha rendah hati. Merasa paling hebat dan paling sempurna akan membuat jauh dari orang lain dan cinta semakin mengabur. Dalam limpahan dosa itu , Tuhan dengan kasihNYA menyimpan rapat aib itu agar kita terus memperbaiki diri. Semakin sadar akan kekurangan kita semakin tinggi perasaan cinta dalam diri kita kepada kehidupan. Bahwa kita butuh orang lain untuk berusaha saling menjaga. Belajarlah menerima kenyataan dan perbaiki prasangka dengan cara maklumi siapapun bahwa semua orang bisa salah. Memaafkan adalah buah cinta untuk semakin dekat kepada Tuhan.

Penulis: Erizeli Jely Bandaro

Kategori: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *