Indonesia Terpercaya – Bagi sebagian orang (perempuan), perjumpaan bukanlah hal yang mengenakkan. Bahkan ada orang-orang yang dengan sengaja menghindar untuk berjumpa dengan seseorang. Kalau tanpa diduganya perjumpaan itu terjadi, masih dengan segala upaya menghindar setidaknya dengan menoleh ke arah lain atau malah membuang muka.

Mengapa? karena hati yang memendam persoalan (pengkotbah dapat berdialog dengan bertanya, fakta apa saja yang membuat kita kaum perempuan menghindari berjumpa dengan seseorang?). Kita akan bercermin kepada seorang tokoh perempuan yang oleh kasih karunia Allah dipakai dalam peristiwa Natal.

Sang tokoh yang dimaksud adalah Maria. Ia, menginisiatif perjumpaan dengan Elisabet yang adalah sanaknya ay.36. Mereka, dua perempuan yang mustahil mengandung dalam pandangan manusia oleh karena faktor keadaan. Elisabeth yang dinyatakan mandul dan sudah lanjut umur ay 7 dan Maria yang masih perawan ay.27. Namun seperti yang dikatakan malaikat Gabriel: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Ay.37 Demikianlah yang terjadi kepada kedua perempuan ini: Elisabet mengandung seorang anak laki-laki yang membuat banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya ay 14 anak laki-laki itu adalah Yohanes, dan Maria yang baru saja menerima berita dari malaikat Gabriel, akan mengandung seorang anak laki-laki yang akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi

Ay 31 Melalui peristiwa-peristiwa anugerahtis (bersifat anugerah) dan perjumpaan dua perempuan inilah muncul nyanyian pujian Maria “Jiwaku memuliakan Tuhan”. Kata pertama: Lalu….di ayat 46 menerangkan ada peristiwa inti yang mendahului rangkaian nyanyian pujian Maria ini. Peristiwa itu adalah perjumpaannya dengan malaikat Gabriel dan Elisabet di ayat-ayat sebelumnya.

Tentu ada banyak alasan, mengapa kita bergembira, memuji dan memuliakan Tuhan, secara khusus di bulan Desember, bulan Natal ini. Mungkin, kita memuji Tuhan karena doa kita terkabul: anak yang sudah kita rindukan bernatal bersama sekarang pulang bernatal setelah sekian tahun tidak punya kesempataan, mungkin ada yang HUT kelahiran ataupun HUT pernikahan bertepatan di bulan perayaan Natal ini, atau mungkin kita bergembira memuji Tuhan karena mendapat apresiasi dari bos, bonus dalam pekerjaan atau karena waktunya mendapat tunjangan hari raya…dll.

Sepertinya tidak ada yang salah pada alasan-alasan tersebut. Tetapi patut disadari dan selalu diingat, jika pujian kepada Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang sementara itu maka sesungguhnya kita mempunyai iman yang kerdil, yaitu memuji Allah sebatas pada perasaan-perasaan senang kita. Dan jika itu terjadi seterusnya maka iman kita tidak salah disebut iman musiman dan kerdil.

Mari bercermin kepada Firman Tuhan, melalui kesaksian pujian Maria. Maria menyaksikan hal yang pertama sebagai alasan memuji Tuhan adalah karena: Allah, Juselamatku ay 47. Apa arti dan dampak dari pengakuan iman ini? Maria menguraikan apa yang dialami dalam kehidupan pribadinya yang mempunyai Allah, Juruselamatnya:

Pertama, Maria kini memiliki keyakinan akan kepastian sebagai seorang yang berbahagia dan itu bukan hanya puji lena, tetapi segala keturunan akan menyebutnya, berbahagia. Mengapa berbahagia? Karena Allah, Juruselamatnya telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Pun kepastian bahwa rahmat-Nya turun temurun atas orang yang takut akan Dia.

Perhatikan kata telah yang dipakai oleh Maria dalam nyanyian pujiannya. Walaupun semua yang dikatakan malaikat Gabriel kepadanya pada waktu itu belum terjadi, kecuali bahwa ia sudah menyaksikan Elisabet, sanaknya, benar sudah mengandung namun kebahagiaan Maria tidak sebatas pada hal-hal yang dilihat oleh mata.

Kedua, Imannya melihat perbuatan-perbuatan Allah, melampaui yang kelihatan oleh mata saja. Ia menyaksikan kuasa Allah yang adil yang dengan tangan-Nya sendiri mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya, menurunkan orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orag-orang rendah. Yang melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar yang menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa. Maria sungguh mengaminkan janji Allah kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya, kini sungguh telah terwujud.

Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan! Kembali dengan pertanyaan apakah sesungguhnya alasan kita berbahagia atau bergembira dalam hidup ini? Dan tentu patut digarisbawahi, bahwa kegembiraan dan kebahagiaan itu bukan terbatas pada momen-momen khusus seperti Natal ini. Sekali lagi apa alasan yang benar-benar, benar?….Firman Tuhan menegaskan: “Bergembiralah, Berbahagialah…karena Allah, Juruselamatku! Sebagai keluarga Allah.

kita sama-sama mengaku bahwa: “Yesus Kristus, itulah Tuhan dan Juruselamat”. Bagaimana Ia telah menjadi Juruselamatku, Juruselamat kita? Dengan perjumpaan! Ya,…camkan ini, Allah tidak hanya menjumpai Maria melalui malaikatNya tetapi dari perjumpaan itu, sesungguhnya Allah telah menjumpai kita semua melalui Putra Natal, Yesus Sang Imanuel. (Nyanyikan….)

“Di tempat Mahatinggi, namun tak tersembunyi kasih sayangmu Tuhan. Engkau datang ke bumi tuk menggenapi janjiMu tentang Yerusalem yang baru…”

Allah dari tempatnya yang Mahatinggi telah datang ke dalam dunia menjumpai Saya, Saudara, dan orang-orang yang tidak ingin kita jumpai….Ia datang, karena “begitu besarnya kasih Allah akan dunia ini…”Yo.3:16a Dari perjumpaan itu, Dia telah menuntaskan karya penyelamatan di atas salib, sebelum mati Ia berkata: “Sudah Selesai!”Yo.19:30b Inilah alasan mengapa di setiap nafas kehidupan kita dan di segala tempat, entah perasaan kita sedang gembira atau bersusah sepatutnya kita berkata seperti Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan”.

Sebagai tanda jiwa yang memuliakan Tuhan maka peristiwa perjumpaan dengan sesama semestinya menjadi peristiwa sukacita dan yang selalu dirindukan. Oleh karena itu:

  • Sengajakanlah menjumpai orang yang mungkin telah melukaimu.
  • Sengajakanlah menjumpai orang yang membutuhkan sentuhan tanganmu
  • Sengajakanlah menjumpai anak-anakmu, suamimu, orang tuamu… di padatnya kesibukan bulan Natal ini…dan
  • Sengajakanlah menjumpai orang yang memiutangimu….

Kita tentu sadar ada banyak halangan untuk menciptakan kesengajaan menjumpai sesama dalam masing-masing perkaranya. Karena itu, tanggalkanlah ego, tanggalkanlah kelemahan jiwa kita, hanya kuasa Roh Kuduslah yang akan memampukan kita untuk percaya seperti Maria, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Bergembiralah dan berbahagialah saling mengucapkan Selamat Natal, dari hati yang tulus, yang sungguh telah berjumpa dengan Allah dan karena itu selalu dapat berkata: Jiwaku memulian Tuhan! Amin.


Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *