Indonesia Terpercaya – Emile Durkheim telah berusaha menjelaskan teorinya ten- tang totemisme sebagai bentuk yang paling dasar dari kehidup- an agama. Teori itu didasarkannya pada hasil penelitiannya terhadap suku Arunta di Australia utara. Namun, teori Durkheim itu bukan tanpa kelemahan. Para pengkritik Durkheim meng- kritiknya dalam beberapa hal sebagaimana diuraikan berikut.

1. Kritik Metodologis

Kritik pertama terhadap teori Emile Durkheim berhubung- an dengan metodologi. Kesulitan metodologis utama dari stu di Durkheim adalah pendasaran teorinya tentang agama pada sejumlah data yang sangat terbatas pada suku Aborigin di Australia.

Dia berpikir bahwa dengan membuat studi yang men- detail tentang agama sebuah suku, dia bisa membuat general- isasi tentang hakikat agama pada umumnya. Sebenarnya, dalam melakukan generalisasi seperti itu, dia harus membuat studi yang lebih luas daripada yang dilakukannya pada suku Aborigin di Australia tersebut.

Kalau dia membuat studi yang lebih luas maka kemungkinan kesimpulan yang diperoleh akan berbeda dari kesimpulan yang didapatinya dari studi tentang agama pada suku-suku asli di Australia tersebut.

Ditinjau dari studi-studi etnografis dan studi-studi empiris lainnya, Evans-Pritchard (1965:64-66) meringkaskan beberapa kritik terhadap studi Durkheim antara lain:

  • Tidak ada bukti bahwa totemisme muncul seperti yang dipi- kirkan oleh Durkheim dan tidak ada agama lain yang muncul dalam cara seperti yang dipikirkan oleh Durkheimn.
  • Pembedaan antara yang sakral dan profan tidak selalu dapat dikenakan untuk semua kepercayaan. Pembedaan seperti itu tidak ditemukan di dalam agama-agama sekular misalnya.
  • Suku Aborigin di Australia bukanlah kelompok-kelompok yang paling penting di dalam masyarakat sehingga kesimpulan cara beragama suku-suku itu bisa dikenakan kepada suku- suku lainnya.
  • Tipe totemisme pada suku-suku asli di Australia bukanlah tipe-tipe totemisme pada umumnya dan totemisme pada su- ku Arunta dan suku-suku yang berhubungan dengan suku Arunta bukanlah tipe totemisme Australia.
  • Menurut Pritchard, suatu hubungan antara totemisme dan organisasi suku adalah tidak biasa.

2. Kritik terhadap Isi Pandangan tentang Agama

Sehubungan dengan isi pandangan Durkheim tentang agama, ada beberapa kritikan:

Kritik pertama berhubungan dengan klaim Durkheim bahwa masyarakat memiliki segala-galanya untuk membangkitkan sen- sasi akan yang ilahi di dalam pikiran kita dan karena itu yang ilahi itu bukanlah suatu ilusi melainkan sesuatu yang real, yakni masyarakat itu sendiri. Memang kita harus akui bahwa ada hubungan yang sangat erat antara agama dan masyarakat.

Namun, argumen Durkheim yang patut diperdebatkan adalah bahwa objek penyembahan di dalam agama merupakan masyarakat itu sendiri. Mungkin ada kesamaan antara unsur-unsur atau fungsi- fungsi agama dengan unsur-unsur atau fungsi-fungsi masyarakat, tetapi menyamakan masyarakat dengan kekuatan supranatural atau sesuatu yang ilahi merupakan sesuatu yang berlebihan.

Kritik kedua menyangkut hubungan antara masyarakat dan individu. Menurut Durkheim, masyarakat memiliki kekuasaan atas individu dan memberikan tekanan (tekanan moral) kepada individu untuk melakukan apa yang diinginkannya.

Tekanan- tekanan itu bisa membangkitkan rasa percaya diri pada individu-individu apabila dia melakukan sesuatu sesuai dengan tuntutan masyarakat itu. Namun, tekanan masyarakat bisa juga memengaruhi seseorang untuk berbuat jahat, khususnya dalam masyarakat di mana batas antara kebaikan dan keburukan tidak terlalu jelas.

Dengan kata lain, tekanan moral kolektif tidak selalu terarah kepada hal-hal yang baik, tetapi bisa juga terarah kepada hal-hal yang tidak baik dan destruktif. Di sini muncul suatu keanehan dalam pemikiran Durkheim. Bagaimana sebuah tekanan yang berasal dari masyarakat itu disebut tekanan moral kalau tekanan tersebut membawa orang kepada perbuatan- perbuatan yang tidak bermoral? Rasa kebersamaan yang begitu hebat belum tentu bisa menjamin perilaku moral.

Banyak pahlawan di dalam sejarah yang justru menentang mayoritas yang dianggap bermoral, tetapi kemudian terbukti melakukan dianggaP hal-hal yang bersifat heroik walaupun untuk itu mereka harus menanggung derita sebagai akibatnya.

Memang dalam arti tertentu moralitas berhubungan dengan relasi sosial. Dalam arti ini, masyarakat dapat dikatakan sebagai sumber keprihatinan moral dan Durkheim benar ketika dia mengatakan bahwa masyarakat adalah sebuah komurnitas moral Kesulitannya adalah bahwa Durkheim membuat kesimpulan yang terlalu luas ketika dia mengatakan moralitas itu adalah suara masyarakat.

Kenyataan menunjukkan bahwa rasa moral kita mungkin bertentangan dengan suara masyarakat dan karena itu moralitas kita tidak bergantung sepenuhnya pada masyarakat. Betapapun kuatnya masyarakat itu, dia bukanlah pemegang ken dali utama di dalam kehidupan moral. Malah sering kali terjadi bahwa nilai-nilai tertentu mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap individu dibandingkan dengan suara masyarakat.

Kritik ketiga terhadap teori Durkheim berhubungan dengan fungsionalisme. Durkheim tidak cuma menjelaskan inti dari agama, tetapi juga menjelaskan fungsi agama untuk memper- satukan masyarakat. Fungsionalisme mempunyai pengaruh yang sangat kuat atas karya-karya Durkheim.

Menurut fungsionalisme, masyarakat dapat dipahami dari sisi kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat supaya masyarakat itu bisa bertahan atau apa yang mereka sumbangkan untuk terciptanya integrasi dan solidaritas sosial.

Penjelasan teori fungsionalisme tentang fungsi agama mengalami kesulitan karena adanya perbedaan antara yang di- katakan para pendukung teori ini (Durkheim) mengenai makna upacara-upacara keagamaan dengan apa yang dialami oleh para peserta upacara-upacara keagamaan itu sendiri.

Durkheim mengklaim bahwa dia tahu apa yang dilakukan oleh para peserta upacara keagamaan, sedangkan para peserta upacara keliruu dalam menginterpretasi apa yang mereka lakukan.

Durkheim mengakui bahwa allah itu real dan allah itu adalah masyarakat itu sendiri. Para peserta di dalam upacara keagamaan itu tidak terlalu berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk mempersatukan masyarakat ataupun kalau itu ada, namun bukanlah yang utama.

Mereka juga tidak bisa menerima kalau dikatakan bahwa fungsi semua ritus itu pada dasarnya adalah sama, yakni memperkuat rasa solidaritas di dalam masyarakat.

Bagi suku Arunta, misalnya, tujuan dilakukannya upacara ke- agamaan bukanlah untuk memperomosikan solidaritas di dalam suku melainkan untuk menjamin berkembangnya spesies totemn dan upacara itu harus dilakukan secara cermat supaya tujuannya bisa tercapai.

Memang harus diakui bahwa Durkheim bukanlah seorang teoritikus fungsionalis yang naif. Dia menyadari bahwa kita tidak cukup menunjukkan fungsi dari sebuah institusi sosial untuk menjelaskan institusi sosial itu sendiri, tetapi kita juga perlu menjelaskan asal-usul dari fungsi tersebut.

Di dalam buku Elementary Forms of Religious Life, dia berusaha untuk menyu- sun secara hipotetis bagaimana praktik-praktik keagamaan pada suku Aborigin Australia muncul atau lahir. Dia berargumentasi bahwa orang-orang yang merasa dirinya bersatu secara khusus karena hubungan darah dan kemudian oleh tradisi-tradisi dan kepentingan-kepentingan komunitas berkumpul dan menjadi sadar akan kesatuan moral mereka.

Namun, kesulitan dengan pemikiran seperti itu adalah bahwa Durkheinm telah mengatakan bahwa kenyataan orang berkum- pul dan menyelenggarakan ritus-ritus secara bersama merupa- kan sebab dari ikatan kebersamaan dan perasaan kesatuan di dalam kelompok. Namun, sekarang dia berargumentasi bahwa ritus-ritus berasal dari perasaan-perasaan tersebut.

Asal-usul dari ritus-ritus itu dijelaskan di dalam konteks keteraturan sosial, kepentingan komunitas, atau tradisi-tradisi. Ritus-ritus itu perlu untuk mempertahankan kesinambungan dan stabilitas masyarkat, tetapi tanpa terlebih dahulu harus ada keteraturan sosial. Tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa mesti ada keteraturan sosial dulu baru ada ritus-ritus.

Memang harus diakui bahwa begitu keteraturan sosial itu terbentuk-termasuk di dalam sistem ritus dan keagamaan-maka keteraturan sosial bisa dipertahankan. Tetapi, kenyataan tersebut sama sekali tidak menjelaskan asal-usul dari sistem religius dan ritus-ritus itu.

Sumber: Bernard Raho SVD, Agama Dalam Perspektif Sosiologi (Jakarta: Penerbit Obor, 2013), Hal. 47-51

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).