Emile Durkheim adalah seorang tokoh penting di dalam sosiologi klasik. Dia merupakan salah satu tokoh yang berjasa mengembangkan sosiologi sebagai studi ilmiah dengan melakukan penelitian-penelitian ilmiah. Salah satu penelitian ilmiah yang dilakukannya adalah studi tentang agama suku-suku asli di Australia.

Pengaruh Robertson Smith atas Durkheim Emile

Durkheim merupakan salah seorang teoritikus yang sangat terkenal dan mempunyai pengaruh yang kuat di dalam sosiologi agama. Namun, uraiannya tentang agama banyak di pengaruhi oleh pemikir-pemikir sosial sebelumnya. Salah se- orang dari para pemikir itu adalah Robertson Smith yang melakukan studi tentang agama Semit kuno. Robertson mener bitkan karyanya dalam sebuah buku yang berjudul “Kuliah ten- tang Agama-Agama Semit” yang diterbitkan pada tahun 1889. Pemikiran-pemikiran Robertson membantu kita untuk mem- peroleh gambaran tentang latar belakang pemikiran Durkheim mengenai agama.

Dalam kaitan dengan kehidupan beragama, Robertson Smith lebih mengutamakan praktik-praktik keagamaan dari pada kepercayaan-kepercayaan. Menurut Smith, hal yang pa- ling penting di dalam agama adalah praktik-praktik kehidup- an beragama seperti upacara-upacara keagamaan dan bukan terutama kepercayaan.

Untuk memahami agama, orang harus terlebih dahulu menganalisis apa yang dilakukan oleh pa- ra pemeluk agama dan bukan pada apa yang mereka percaya. Praktik-praktik merupakan hal yang utama sedangkan keper- cayaan adalah nomor dua. Kepercayaan kadang-kadang ber sifat abstrak, tidak konsisten, dan bersifat kontradiktoris. Orang tidak terlalu banyak peduli dengan doktrin, tetapi sangat mem- perhatikan ritus-ritus dan peraturan-peraturan yang harus ditu- ruti. Oleh karena itu, seorang sosiolog mesti memusatkan perhatiannya pada apa yang dilakukan dan bukan pada apa yang dipercayai.

Smith juga menguraikan tema tentang kewajiban men ikuti agama di dalam kebanyakan masyarakat. Agama di banyak tempat bukan terutama pilihan individu melainkan taken fa granted. Orang tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti agama yang sudah ada di dalam masyarakat tersebut.

Agama sebagaimana disebut oleh Durkheim kemudian-adalah satu representasi masyarakat yang bersifat kolektif. Penekanan Smith terhadap aspek ini berkaitan dengan pandangannya tentang relasi intim antara agama dan aliansi politik. Baginya, agama adalah urusan kelompok dan masyarakat. Itu berarti agama ber hubungan dengan politik.

Selanjutnya, Smith berpendapat bahwa agama memiliki dua fungsi, yakni fungsi regulatif dan stimulatif. Fungsi regulatif berhubungan dengan pengaturan tingkah laku sedangkan fun- gsi stimulatif berkaitan dengan membangkitkan rangsangan atau semangat. Pengaturan tingkah laku individual penting un- tuk kebaikan semua orang. Kelompok dengan agamanya telah bertanggung jawab untuk mengatur pola tingkah laku dalam sejarah semua masyarakat.

Dosa, menurut Smith, adalah per- buatan yang mengecewakan dan membahayakan harmoni di dalam kelompok itu. Oleh sebab itu, setiap perbuatan dosa mesti dipulihkan dengan upacara-upacara tertentu agar situasi harmoni tetap terjamin.

Agama juga membangkitkan perasaan sebagai satu komunitas dan kesatuan di dalam kelompok. Ritus-ritus yang dibuat se cara berulang-ulang memperkuat rasa kesatuan di dalam kelompok. Pesta pengorbanan binatang-binatang totem yang diduga dipraktikkan oleh orang-orang Semit dan dipercayai pada waktu itu sebagai bentuk yang paling dasar dari agama bertujuan untuk mensakralkan kelompok itu dan mempromosikan kesatuan dal solidaritas di dalam kelompok.

Jelaslah bahwa Smith menentang pandangan yang mengatakan bahwa agama muncul karena kesadaran pribadi seseorang akan pentingnya keselamatan bagi dirinya. Menurut Smith, agama tidak mempunyai hubungan dengan menyelamatkan jiwa-jiwa, tetapi merupakan upaya untuk konsolidasi atau penguatan kelompok.

Emile Durkheim mengembangkan pemikiran Robertson Smith tersebut dan mendasarkan analisisnya pada data ketika dia membuat studi tentang suku Arunta di Australia. Dalam kalimat yang paling pertama dari bukunya yang terkenal The Elementary Forms of Religious Life, dia mengatakan bahwa tujuan utama dari studinya itu adalah untuk melihat dari dekat agama yang paling primitif dan paling sederhana pada suku-suku Australia tersebut. Menurut Durkheim, agama yang paling primitif dan paling sederhana itu adalah totemisme.

Kritik Durkheim terhadap Marx dan Feuerbach

Emile Durkheim menéntang anggapan yang dominan pada waktu itu, yakni agama adalah ilusi dan tidak benar, seperti yang diungkapkan oleh Marx dan Feuerbach. Bagaimana mungkin agama bisa bertahan lama di dalam sejarah umat manusia kalau agama itu adalah ilusi dan merupakan satu kesalahan.

Mungkin kepercayaan-kepercayaan atau praktik-praktik pada agama- agama tertentu kelihatan ganjil, tetapi menurut Durkheim, orang harus bisa melihat hal-hal itu sebagai simbol-simbol dalam mengungkapkan relasinya dengan Wujud Tertinggi. Orang juga mesti bisa menangkap makna dari simbol-simbol itu agar mereka bisa memberikan apresiasi terhadap apa yang mereka ungkapkan.

Apabila orang bisa membaca praktik-praktik keagama- an dalam konteks simbol maka dia akan menemukan bahwa tidak ada agama yang salah. Semua agama adalah benar. Setiap agama pasti memiliki sejumlah unsur yang menyebabkan dia bisa disebut sebagai agama.

Oleh sebab itu, dalam meneliti gama yang paling primitif dan paling sederhana sebagai sarana untuk memahami fenomena agama pada umumnya, dia tidak melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Marx dan Feuerbach Dia tidak mereduksi agama ke dalam konsep-konsep yang salah dan ilusi. Sebaliknya, menurut dia, bahkan agama yang paling primitif sekalipun pasti mengandung kebenaran, walaupun mungkin tidak sesuai dengan kebenaran yang diterima umum

Pemahaman Durkheim tentang Totemisme

Sesudah membuat analisis pendahuluan ini, Durkheim membahas totemisme pada suku-suku asli Australia. Dia men- deskripsikan organisasi suku pada masyarakat Aborigin dan hubungan di antara masing-masing suku itu dengan binatang atau tumbuhan totem yang sakral.

Totem itu diwakili oleh gambar yang diukir pada kayu atau batu yang disebut churingas. Karena ganmbar-gambar itu mewakili binatang atau tumbuhan totem yang sakral maka gambar-gambar itu pun dianggap sakral. Gambar-gambar itu dikelilingi oleh larangan-larangan atau tabu-tabu dan diperlakukan dengan sangat hormat.

Menurut Durkheim, simbol-simbol totem ini merupakan lambang dari suku itu sendiri sama seperti bendera merupakan lambang untuk suatu negara. Durkheim lalu menunjukkan bagaimana sistem totem itu merupakan satu sistem kosmologis dan bagaimana kategori-kategori seperti kelas mempunyai kaitan dengan totemismne.

Pertama, Durkheim memperhatikan bahwa manusia meng- ambil bagian di dalam yang sakral. Sebagai anggota-anggota suku yang memiliki totem-totem sakral dan yang percaya bahwa mereka adalah turunan dari totem-totem yang sakral itu, me- reka percaya akan kesakralan dirinya. Seorang anggota suku Aborigin, misalnya, tidak akan pernah mengatakan bahwa dia masuk ke dalam suku burung Kakatua atau burung Gagak, melainkan dia adalah burung Kakatua atau burung Gagak. Hal itu berarti bahwa mereka memiliki hakikat yang sama dengan binatang atau tumbuhan totem itu dan karena itu mereka pun bersifat sakral.

Kedua, dalam sistem pemikiran totem, segala sesuatu yang dikenal pasti mempunyai hubungan dengan totem dari salah satu suku. Segala sesuatu yang dikenal itu memiliki sifat sakral karena mereka mengambil bagian di dalam totem yang sakra. Misalnya, di antara orang-orang Arunta, hujan, guntur, kilat, awan, dan langit dikaitkan atau dihubungkan dengan suku Gagak. Oleh karena totem Gagak itu bersifat sakral, maka hujan, guntur, kilat, awan, atau langit itu juga bersifat sakral. Suku-suku lain di luar suku Gagak pun memiliki hal yang sama. Mereka juga mempunyai hubungan dengan fenomena-fenomena atau benda- benda lainnya di alam semesta yang dianggap sakral. Dengan demikian, totem-totem bisa dikelompokkan menurut suku-suku pemiliknya. Menurut Durkheim, sistem klasifikasi totem ini merupakan yang pertama di dalam sejarah pemikiran manusia dan mengambil model seperti organisasi-organisasi sosial.

Totemisme: Masyarakat Menyembah Diri Sendiri

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, segala sesuatu yang ada di dalam alam dihubungkan atau dikaitkan dengan totem dari suku tertentu dan karena itu segala sesuatu mengambil bagian di dalam yang sakral.

Namun, penyembahan totem di dalam totemisme sesungguhnya dialamatkan kepada prinsip umum di balik totem itu dan bukannya kepada masing-masing totem atau benda-benda yang dikaitkan dengan totem suku-suku tertentu itu.

Oleh sebab itu, totemisme bukanlah suatu agama yang percaya pada binatang, tumbuhan, manusia, atau gambar- gambar tertentu melainkan pada suatu kekuatan impersonal dan tak bernama yang berada di balik makhluk-makhluk yang dijadikan totem itu.

Kekuatan impersonal itu biasanya disebut dengan mana. Apakah sesungguhnya mana itu dan mengapa benda-benda tertentu memiliki mana, sementara yang lain tidak? Menurut Durkheim, benda-benda itu memiliki mana bukan karena mana berasal dari dalam benda itu sendiri melainkan karena dia merupakan simbol atau menyatakan sesuatu yang lain.

Hal itu ditunjukkan antara lain oleh kenyataan bahwa benda itu baru akan menjadi sakral setelah dia menjadi simbol totem, yakni menjadi churinga. Kayu yang belum diukir menjadi churinga adalah kayu biasa, namun setelah dia menjadi churinga, dia menjadi sakral.

Apa arti semua ini? Sebagaimana telah kita lihat bahwa totem mengandung di dalam dirinya dua hal. Pertama, di dalam totem ada kekuatan abstrak-impersonal. Kedua, totem tersebut mewakili suku tertentu.

Durkheim menyimpulkan bahwa apa- bila pada waktu yang sama kekuatan yang abstrak-impersonal yang boleh disebut sebagai dewa dan masyarakat yang diwakili oleh totem itu adalah satu dan sama maka itu berarti bahwa dewa dan masyarakat itu adalah satu dan sama. Karena itu, dia menyimpulkan bahwa dewa suku atau totem suku tidak lain dari pada masyarakat suku itu sendiri yang dipersonifikasikan atau dilambangkan dengan tumbuhan atau binatang totem.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin dewa dan masyarakat suku adalah satu dan sama? Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat memiliki segala sesuatu di dalam dirinya untuk membangkitkan sesuatu yang ilahi di dalam pikiran anggota-anggotanya sehingga mereka patuh kepadanya. Sesuatu yang ilahi itu disebut dewa dalam terminologi agama.

Ciri-ciri dewa itu adalah bersifat superior terhadap manusia dan manusia bergantung dan patuh pada kehendaknya. Masyarakat juga memiliki sejumlah hal yang membuat kita bergantung dan patuh kepadanya. Hal-hal itu adalah fakta sosial yang ada di dalam masyarakat seperti hukum-hukum, norma-norma, nilai-nilai, dan sanksi-sanksi yang diterima apabila anggota masyarakat ti dak menjalankan hukum-hukum atau norma-norma yang ada Fakta sosial itu menyebabkan anggota masyarakat takut kepada masyarakat sebagaimana halnya mereka takut kepada dewa- dewi.

Durkheim melukiskan hubungan antara masyarakat itu dengan individu-individu yang berada di dalamnya sebagai berikut: Karena masyarakat memiliki hakikat yang khusus di dalam dirinya dan berbeda dari hakikat individu maka dia mengejar tujuan-tujuan yang juga khusus untuk dirinya; tetapí, dia tidak bisa mencapai tujuan-tujuan itu dengan upaya sen diri melainkan hanya dengan bantuan kita dan karena itu dia sangat membutuhkan kita.

Dia menuntut kita melakukan apa yang dikehendakinya dan kadang-kadang guna melaksanakan kehendaknya itu kita harus melupakan kepentingan-kepen tingan diri dan kadang-kadang mesti berkorban, tetapi tanpa pengorbanan seperti itu kehidupan sosial menjadi tidak mungkin.

Itulah sebabnya setiap kali kita mesti patuh pada peraturan- peraturan atau pemikiran-pemikiran yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita atau malahan bertentangan dengan ke- mauan atau pemikiran-pemikiran kita (Durkheim, 1915:206).

Dengan penjelasan tersebut, Durkheim mau menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai realitas tersendiri. Dia berada di atas individu-individu, memiliki hukum-hukumnya sendiri dengan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Keberadaan masyarakat atau keunggulan masyarakat atas individu tampak dalam otoritas moral yang ada pada masyarakat itu.

Setiap anggota diajak untuk patuh pada ketetapan masyarakat karena otoritas moral yang dimiliki oleh masya- rakat dan bukan terutama karena orang telah membuat pertimbangan-pertimbangan berdasarkan kepentingannya atau perhitungan lainnya. Orang patuh kepada peraturan-peraturan atau ketetapan-ketetapan di dalam masyarakat karena kehendak pribadinya dikalahkan atau takluk pada tekanan-tekanan yang berasal dari luar. Ketika seseorang merasakan tekanan yang luar biasa, maka pada waktu itu juga dia menaruh respek pada Sumber yang menetapkan peraturan-peraturan itu.

Karena itu, bagi Durkheim, ketentuan-ketentuan masyarakat membentuk dasar dari moralitas. Sebuah tindakan disebut bermoral karena masyarakat menuntut dari kita tindakan tersebut. Tentang moralitas masyarakat ini Durkheim mengatakan balhwa masyarakat berbicara kepada individu-individu melalui para pemegang otoritas di dalam masyarakat.

Moralitas masyarakat ini dialami sebagai suatu tekanan yang berasal dari luar individu. Maka, manusia berpikir bahwa masyarakat yang melakukan tekanan-tekanan ini sebagai satu kekuatan eksternal atau kekuasaan yang juga memiliki kodrat yang bersifat spiritual dan sakral. Dalam cara pandang seperti ini, realitas dipahamí sebagai memiliki dua kodrat yang sangat berbeda, yakni sakral dan profan.

Hakikat Agama

Bagi Durkheim, agama tidak lain daripada kekuatan kolektif masyarakat yang berada di atas individu-individu. Dengan demikian, tidak benar kalau dikatakan bahwa agama adalah sebuah ilusi atau dari kodratnya tidak benar.

Apabila para pemeluk agama percaya bahwa mereka bergantung dan tunduk pada kekuatan moral dari padanya mereka menerima segala sesuatu yang baik di dalam diri mereka, mereka sama sekali tidak tertipu. Kekuatan ini sungguh ada dan kekuatan itu adalah masyarakat. Namun, agama bukan cuma merupakan sistem kepercayaan atau konsep-konsep, melainkan juga sistem tindakan karena agama melibatkan ritus-ritus.

Apa pentingnya ritus-ritus di dalam agama menurut Apa Durkheim? Menurut Durkheim, agama sebetulnya lahir dari upacara-upacara. Hanya dengan berpartisipasi dalam upacara- upacara agama, kekuatan moral bisa dirasakan dan sentimen- sentimen sosial diperkuat dan diperbarui.

Durkheim menjelaskan fungsi ini dengan mengambil contoh dari upacara-upacara pada masyarakat Aborigin di Australia. Sepanjang tahun suku-suku itu umumnya terpencar ke dalam kelompok-kelompok berburu. Selama nmusim-musim tertentu kelompok-kelompok itu berkumpul pada tempat tertentu dan pada kesempatan itu dijalankan sejumlah upacara di mana mereka mengalami rasa takjub, kegembiraan atau sukacita yang luar biasa.

Menurut Durkheim, melalui upacara-upacara tersebut, mereka memperkuat dan membarui sentimen-sentimen keagamaan mereka serta perasaan ketergantungan mereka pada kekuatan moral dan spiritual yang bersifat eksternal yang sebetulnya tidak lain daripada masyarakat itu sendiri.

Upacara-upacara seperti itu menciptakan kegembiraan dan berusaha meyakinkan para anggota akan pentingnya kelompok dan masyarakat lewat nasihat-nasihat keagamaan. Jadi, upacara-upacara atau ritus- ritus itu berfungsi mempertahankan solidaritas dan kohesi sosial.

Durkheim juga berusaha menunjukkan bahwa pendekatannya itu bisa menjelaskan berbagai macam fenomena di dalam agama, seperti jiwa, kepercayaan terhadap roh-roh dan dewa-dewi, pengorbanan yang hampir selalu ada pada setiap agama, ritus- ritus atau upacara-upacara yang ditemukan hampir pada setiap agama. Dengan penuh keyakinan dia menjelaskan fenomena- fenomena itu berdasarkan teori yang telah dikembangkannya, yakni totemisme.

Ide tentang jiwa, misalnya, tidak lain daripada totem yang sudah menjelma kepada masing-masing individu. Tidak dapat disangkal bahwa masyarakat ada hanya di dalam dan melalui individu-individu. Jiwa menurut Durkheim berpartisipasi di dalam keilahian.

Di dalam hal ini, dia mewakili sesuatu yang lain daripada diri kita sendiri, tetapi pada waktu yang sama berada di dalam diri kita. Ini bukanlah suatu ilusi. Jiwa adalah aspek sosial dari diri kita dan dalam arti tertentu masyarakat adalah sesuatu yang berada di luar diri kita, tetapi pada waktu yang sama diinternalisasi ke dalam diri kita.

Kita menginkorporasi ke dalam diri kita, elemen-elemen sakral dalam bentuk sesuatu yang SOsial karena kita adalah makhluk sosial. Jiwa juga bersifat abadi karena dia merupakan prinsip-prinsip sosial. Individu-individu akan mati, tetapi masyarakat akan tetap ada dan kepercayaan akan keabadian jiwa mengungkapkan hal tersebut.

Menurut Durkheim, kepercayaan kepada roh-roh dan dewa- dewi berasal dari kepercayaan akan roh-roh nenek moyang yang sebetulnya adalah jiwa-jiwa dari nenek moyang. Karena itu, jiwa- jiwa nenek moyang itu sebetulnya adalah prinsip-prinsip sosial yang diekspresikan pada individu-individu tertentu.

Sementara itu, tabu-tabu dan larangan-larangan berasal dari sikap respek terhadap objek-objek yang sakral. Tujuan tabu atau larangan itu adalah untuk mempertahankan sikap respek tersebut. Dia menjelaskan asal-usul askese yang bisa ditemukan pada agama- agama sebagai berasal dari ide-ide tentang penyangkalan diri dan kekudusan, serta rasa hormat.

Dari hal-hal tersebut muncul larangan-larangan dan penyangkalan diri yang juga mengandung pengertian bahwa keteraturan sosial menjadi mungkin kalau individu-individu dalam tingkat tertentu menyangkal diri dan meninggalkan kepentingan-kepentingannya sendiri.

Pengurbanan yang juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari agama-agama berhubungan erat dengan penyangkalan diri. Tetapi, yang menjadi pertanyaan Durkheim adalah mengapa dewa-dewi itu sepertinya sangat lapar dengan persembahan- persembahan korban? Menurut Durkheim, hal itu disebabkan karena dewa-dewi itu tidak bisa melakukan sesuatu tanpa pe nyembahan yang diungkapkan lewat pengurbanan.

Oleh karena itu, dewa-dewi itu sebetulnya tidak lain daripada masyarakat itu sendiri dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak ada penyembah-penyembah, demikian juga masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak bisa eksis tanpa individu-individu.

Ritus-ritus, sebagaimana telah kita lihat, adalah sangat pen- ting untuk mempertahankan kohesi kelompok. Tetapi sering kali ritus-ritus itu juga dilakukan untuk memperoleh sesuatu atau menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.

Hal seperti itu terjadi, misalnya, pada upacara itichiuma pada suku Aborigin. Tujuan dari upacara itu adalah untuk memohon kesuburan bagi spesies totem. Durkheim menjelaskan ritus ritus dalam hubungannya dengan fungsi-fungsinya. Menurut

Durkheim, ritus-ritus itu dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan kelompok sebagaimana halnya makanan bergu na untuk mempertahankan kehidupan fisik. Dalam hal ini, Durkheim mengklaim agama sebagai semen sosial yang bergu- na untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Pandangannya ini tentu saja berbeda dari pandangan Marx yang melihat agama sebagai candu bagi masyarakat.

Sumber: Bernard Raho SVD, Agama Dalam Perspektif Sosiologi (Jakarta: Penerbit Obor, 2013), Hal. 37-47.

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).