Indonesia Terpercaya – Cerita tentang bisnis MLM yang katanya scam atau penipuan, skema ponzi atau piramida yang merugikan banyak orang itu tidak pernah ada matinya.

Tahun ini heboh MLM X, bisa jadi tahun depan heboh MLM Y dan begitu seterusnya. Hanya beda nama, beda produk, tapi pada intinya sama. Yang masuk duluan untung, yang masuk belakangan buntung.

Yang mengeherankan adalah ada saja yang ikut dan kemakan sebagai korban. Dan bahkan banyak diantara mereka bahkan orang-orang berpendidikan tinggi.

Mereka biasanya termakan dengan iming-iming memiliki mobil dan rumah dalam waktu cepat. Pengen cepat umroh, cepat naik haji dan lain sebagainya.

Impian-impian mulia ini yang mereka jual. Impian yang sudah tertanam dipikiran sadar bawah orang. Makanya dipicu sedikit saja, orang langsung bereaksi. Lupa berpikir rasional lagi.

Tapi kita juga tidak boleh menggeneralisasi. Karena banyak juga kok MLM yang benar dan terpercaya. Produknya valid, memberi value seperti apa yang dijanjikan. Cuma MLM seperti ini mulai langka. Karena secara promosi kebanting sama MLM yang obral janji.

Membedakan MLM Penipu dan MLM Terpercaya

Terus gimana cara memfilter mana MLM yang masih waras dan MLM yang bukan.

Cara paling mudah menilai sebuah bisnis MLM itu beneran atau scam bisa kita awali dengan menilai produknya. Ini dulu yang kita jadikan acuan

Jika produknya memang bagus, memberi value tepat seperti yang dijanjikan, diterima pasar, demand tinggi terhadap solusi yang ditawarkan, dijual model apapun gak jadi masalah

Logika sederhananya seperti ini

Ambil contoh Unilever

Dia punya lini produk yang banyak, semuanya diterima pasar, Tapi setiap tahun dia masih rutin menghabiskan triliunan rupiah pertahunnya hanya untuk ngiklan

Saya yakin Unilever pun punya tim riset yang menyuarakan hal yang sama dengan yang dianut MLM.. Referral atau Word of Mouth adalah strategi marketing yang paling efektif untuk menghasilkan penjualan. Tidak akan mereka bantah

Tapi kenapa mereka memilih menjual produk mereka melalui channel distribusi mereka sendiri, dan tetap menghabiskan biaya iklan triliunan per tahunnya untuk mempromosikan dan menjual produknya? Kenapa gak pake MLM aja, fokus kasih insentif referral?

Simpel, karena mereka sudah punya Brand yang kuat, dan barang yg mereka buat mudah sekali diterima dan diserap pasar.

Dengan menggunakan rantai distribusi sendiri yang relatif pendek, mereka bisa menjaga harga jual produk dipasar tetap wajar. Insentif atau margin di setiap rantai distribusi relatif tipis. Tapi perputaran barangnya tinggi.

Cuma memang teknik marketing seperti Unilever seperti ini gak bisa diadopsi semua skala usaha. Karena marketing costnya besar sekali, terutama untuk biaya promosi

Beberapa bisnis yang memang memiliki produk bagus, tapi tidak punya cukup modal untuk menggunakan media marketing konvensional seperti yang dilakukan Unilever dan Brand besar lainnya menggunakan strategi alternatif yang lain

Multi Level Marketing ini, mengandalkan Word of Mouth, referral dan insentif dari setiap produk terjual, Cuma konsekuensinya adalah harga produk jauh berkali-kali lipat dari HPP

Jadi kasus kemarin, nutrisi mestinya harga impornya 2 USD per botol dijual harga 15-20 USD per botol ya wajar aja. Karena nanti ia harus memperhitungkan margin per referral tadi. Belum kalau ada tambahan insentif jaringan

Ini yang memperbesar struktur biaya produk di MLM, Kembali lagi ke produk sebagai referensi validitas sebuah MLM.

Sebuah MLM bermasalah atau tidak sebenarnya bisa kita lihat dari produknya. Produknya bener gak sih, valid gak sih, dan bisa diterima pasar atau tidak

Jika gampang dijual dan diterima pasar, membernya akan lebih memilih fokus ke insentif jualan produk. Margin sih gak banyak, tapi volume penjualan cukup tinggi.

Merekrut orang jadi prioritas kesekian

Masalah muncul dari MLM yang produknya Scam atau penipuan tidak bekerja seperti yang diharapkan, udah gitu mahal (karena efek insentif berantai tadi) Maka jadinya mereka hanya menekankan di bangun jaringannya saja

Produknya suruh Pake sendiri

MLM-MLM seperti ini yang memang bermasalah dan jelas-jelas hanya menguntungkan orang-orang yang masuk diawal saja, Seperti skema diatas Menutupi jeleknya kualitas produk dengan jualan jaringan

Kesimpulannya, apakah MLM salah. Sama sekali tidak. Itu hanyalah salah satu alternatif strategi pemasaran. Yang salah adalah oknum foundernya, niatnya sudah jelek dari awal

Bagaimana cara gampang melihat ini MLM benar dan tida benar, filter paling gampang ya tadi cek produknya benar apa tidak. Produk yang benar bisa dijual secara mandiri tanpa sistem networking. Sistem networking hanya stimulus saja untuk memperlancar distribusi, dan mereduksi biaya paid marketing yang langsung besar

MLM tidak bener produknya yang mau beli hanya membernya saja, dan fokus dari MLM ini adalah membangun jaringan, bukan menjual produk ke pasar

MLM yang benar, insentif yang diberikan juga tidak terlalu tinggi, masih di angka wajar. Ini untuk menjaga produknya tetap terjangkau dan bisa bersaing di pasar

MLM yang tidak benar biasanya jor-joran kasih insentif dan bonus, dia tidak pernah kuatir barangnya tidak laku.

Kenapa gak kuatir? Kan barangnya udah dibeli sama member, meskipun overpriced. Jadi mereka kalo mau dapat duit jadi harus menjual mimpi ke member baru yang lain

Jika kita merasa masuk ke MLM seperti ini, lebih cepat dapat duit dari ngrekut orang daripada jualan produk, keluarlah. Anda masuk ke lingkaran yang tidak benar.

Ada ratusan bahkan ribuan orang dibawah Anda yang kehilangan duitnya untuk menyokong bonus Anda.

Harapan saya dengan tulisan ini, minimal kita tidak ikut masuk ke lingkaran ini apalagi ikut mempromosikannya Semoga kita mendapatkan keberkahan dari setiap usaha yg kita jalankan


Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *