Banyak pendeta yang katanya melayani Tuhan, sesungguhnya bukanlah hamba Tuhan, sebab menjadi pelayan Tuhan bukanlah berarti hanya melayani pekerjaan Tuhan dalam bentuk kegiatan rohani di gereja, tetapi melayani Tuhan berarti melayani perasaan Tuhan, berusaha memahami pikiran dan isi hati Tuhan, dan berjuang untuk memuaskan hasrat Tuhan serta menyenangkan hati Tuhan. Sehingga segala sesuatu yang kita lakukan adalah bagi kemuliaan Tuhan.

Tujuan hidup seorang hamba Tuhan adalah berkenan dihadapan Tuhan. Dan mencapai keberkenanan dimata Tuhan adalah suatu kehormatan tertinggi, tidak ada yang lebih tinggi lagi dari hal itu.

Dengan demikian kita tidak perlu lagi merasa harus dihormati dan dihargai oleh manusia, selama kita berusaha sungguh-sungguh berkenan dihadapan Tuhan, sekalipun tidak dianggap dan tidak dihormati oleh manusia, tidaklah menjadi masalah.

Tetapi yang banyak terjadi sekarang ini adalah predikat “hamba Tuhan” dipergunakan untuk mendapat penghargaan, menuntut dihormati, mencari popularitas yang diukur dari banyaknya manggung sebagai pengkotbah, ambisi meraih sukses yang diukur dari besarnya gedung gereja dan banyaknya anggota jemaat, sangat bertentangan dengan pengertian cara hidup seorang “hamba”.

Bisakah kita menjadi pelayan Tuhan yang benar-benar hamba Tuhan?  Ditengah lingkungan gerejawi yang saling berlomba memperkaya diri dengan alasan “hidup yang diberkati” kadang membuat kita lupa akan tujuan hidup sebagai seorang hamba Tuhan.

Jika kita berkata bahwa kita adalah hamba Tuhan,  maka Majikan Agung kita adalah Tuhan semesta alam, pemilik hidup kita yang berdaulat penuh atas kita.  Diperlukan ketaatan dalam segala hal pada kehendak Tuhan yang adalah Majikan Agung itu, dan itu berarti kita harus berjuang sungguh-sungguh agar mencapai tujuan hidup yang sesungguhnya dari seorang hamba Tuhan, yaitu didapati berkenan dihadapan Tuhan.

Galatia 1:10 (TB) 
“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus”.

Sumber: Meiske S. Pessak

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).