40 tahun telah kembali kepada Allah. Karir sedang di atas, istri cantik dan karirnya hebat, soal materi berkecukupan. Namun semua harus ditinggalkan oleh Asraf suami BCL.

Tak pernah terdengar sakit. Selalu tersenyum nampak di TV. Nampaknya baik-baik saja.

Tapi, sang pemilik segalanya sudah memanggil. Maka ia harus pulang ke Haribaan. Tanpa membawa apa-apa. Rumah mewah tertinggal, istri cantik berkarir hebat tertinggal, mobil tertinggal, anak tertunggal, karir tertingg, dan semua yang ada di dunia ditinggalkan.

Meninggal dimandikan, dikafani, dukubur oleh orang-orang disekeliling, bukan orang-orang jauh.

Itulah kematian. Ia tidak berkabar, tidak permisi

Sungguh tak ada yang pantas dibanggakan. Kerja kinerja, perbuatan baik kita? Itu juga tak pantas, karena semua juga bukan karena diri kita sendiri. Semua Allah yang punya.

Lalu diri kita, apa yang mampu dibanggakan. Ingat semua hanya titipan semata?

SEMUA YANG ADA DI DUNIA TAK MAMPU MENGHALANGI AJAL UNTUK JALAN KEMBALI KEPADA ALLAH.

Umur kita berapa? Kita dititipi apa? Kita pun telah dekat dengan angka 40 tahun. Titipan kita tak sebanyak dan setenar asraf. Apa yang patut dibanggakan?

Saatnya untuk menunduk. Saatnya untuk segera sadar. Segera mendekat pada Allah sang pemilik kehidupan ini.

Menghancurkan keangkuhan status dan jabatan. Meletakkan dunia dan segala isinya. Segera bertobat dan daberlaku baiklah bagi orang-orang yang disekeliling.  Segera menyadari segala perbuatan dan perilaku tidak patut dan tidak pantas. Menyelesaikan semua kewajiban. Dan memberi hak orang yang berhak. Menghapus air mata, menggantinya dengan tawa bahagia.

Karena ajal tak tahu di umur berapa menghampiri. Kita sudah divonis mati oleh Allah, kita tinggal menunggu antrian.

Dini Sari

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).