Seorang kawan berkesaksian dengan penuh perasaan yang emosional bagaimana kesuksesan hidup yang diraihnya hari ini, yang secara materi dapat dianggap mapan dan tidak berkekurangan. Dia mengatakan bahwa kehidupan masa mudanya dulu sangat kelam, penuh dengan kekerasan, hidup dalam keluarga yang pas-pasan, dan ditambah buruk lagi ketika orang tuanya harus bercerai. Dia sendiri terkadang menangis jika mengingat masa-masa sulit itu dan dengan mata berkaca-kaca dia mengatakan “jika mau mengandalkan kekuatanku sendiri, apa yang kuperoleh hari ini adalah mustahil. Hidupku diubah oleh karena mujizat dan kebaikan Tuhan”.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam siklus kehidupan seorang manusia, sering dikatakan bahwa masa muda menjadi masa  yang menentukan bagaimana kehidupan seseorang kelak. Tentu ini bukanlah pernyataan yang tidak beralasan, karena pada masa mudalah pilihan itu ditentukan, jika salah memilih maka yang menanti adalah kehidupan yang sulit. Kita pasti sering mendengar seseorang yang masa tuanya menderita hanya oleh karena ketika muda dulu dia memilih menjadi pemuda yang malas, tidak mau berusaha, bahkan tidak mau bersekolah meskipun secara ekonomi dia mampu.

Secara duniawi, kehidupan yang tidak dipersiapkan dengan baik sejak muda maka akan berakhir dengan kehidupan masa tua yang sulit. Namun secara keberimanan kita, apakah benar-benar bahwa kehidupan yang baik itu hanya akan terjadi jika kita mampu mempersiapkannya sendiri? Atau dengan kekuatan kita sendiri, apakah kita akan mampu membangun hidup kita dengan baik?

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini berbicara tentang 2 pilihan yang masing-masing memiliki konsekuensi :

Hidup mengandalkan dan manusia, mengandalkan kekuatan sendiri dan hati yang menjauh dari Tuhan (ay. 5 dan 6)

Terhadap pilihan ini, alkitab secara tegas dalam ayat 5 memulai dengan kata “Terkutuklah”. Hidup yang terkutuk adalah hidup yang penuh dengan penderitaan. Perikop ini lebih jauh menegaskan bahwa bagi siapa saja yang memilih pilihan ini, maka dia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik, artinya akan terus mengalami penderitaan, tinggal ditanah gersang dan  terasing (ay.6). Jika membayangkan kehidupan seperti ini, tentu tidak ada seorangpun yang ingin mengalaminya. Namun tanpa disadari, sesungguhnya banyak orang muda yang memilih pilihan ini, kehidupan pergaulan yang bebas, tidak mau diatur, hidup sekehendak hati, membuat banyak orang muda yang hidup mengandalakan kekuatan diri sendiri, dan hatinya menjauh dari Tuhan. Saudara-saudara, hati-hati dengan pilihan hidup seperti ini, karena secara tegas Firman Tuhan menyatakan “Terkutuklah”.

Hidup Mengandalkan Tuhan (ay. 7)

Jika ada pilihan hidup yang mendatangkan kutuk, maka ada pilihan lain yang diberikan oleh Tuhan yang penuh dengan berkat. Perikop kita saat ini menyatakan juga dengan tegas bahwa “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (ay.7). Ini pilihan yang bertolak belakang dengan pilihan yang pertama dan konsekuensinya juga bertolak belakang.

Pilihan pertama mendatangkan kutuk, namun pilihan kedua ini akan mendatangkan berkat. Lebih jauh perikop ini menjelaskan berkat seperti apa yang diberikan oleh Tuhan, bahwa bagi siapa pun yang hidup mengandalkan Tuhan maka ia akan seperti pohon yang ditanam ditepi batang air. Artinya hidupnya tak akan berkekurangan karena dia akan selalu dekat dengan batang air, dekat dengan sumber kehidupan. Dalam pilihan hidup mengandalkan Tuhan, maka seseorang akan tidak akan mengalami kekeringan dan tidak akan berhenti menghasilkan buah.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ini tentu sebuah penegasan yang tidak main-main, dan membawa kita pada sebuah perenungan bahwa apakah alasannya lagi untuk mau jauh dari Tuhan dan tidak mengandalkan Dia?

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan

Kehidupan pemuda pada masa kini penuh dengan tantangan-tantangan yang terkadang membuat pemuda lupa diri, hidup sekehendak hatinya, mengandalkan kekuatan diri sendiri dan hidup jauh dari Tuhan. Mempersiapkan kehidupan sejak masa muda jangan hanya dengan mengandalkan hal-hal duniawi (kekuatan diri, manusia, dsb) yang pada dasarnya terbatas, namun persiapkanlah kehidupan sejak masa muda dengan berjalan bersama Tuhan yang maha tidak terbatas. Mungkin ketika merenungkan firman ini, ada diantara kita yang akan mengatakan “ah, siapa yang tahu, toh orang yang baik dan hidup dekat dengan Tuhan, hidup mereka pun menderita”. Saat ini Firman Tuhan pun menegaskan bahwa Tuhan itu menyelidiki hati dan menguji batin, Dia memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya (ay.9,10).

Kenyataan yang ada di depan mata kita sesungguhnya kadangkala berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka jangan pernah meragukan berkat Tuhan, janji Tuhan akan senantiasa Dia genapi. Memilih bersama Tuhan, mengandalkan Tuhan akan mendatangkan berkat dari Tuhan. Jadi, persiapkanlah kehidupan ini, secara khusus masa muda, dengan mengandalkan Tuhan. Berkat Tuhan hanya akan disediakan bagi siapa saja yang mau hidup mengandalkan Tuhan. Amin.

Categories: Kristen

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *