TERJEBAK KATA ‘CUMA’

Jika banyak laki-laki melakukan selingkuh dengan sadar, maka banyak perempuan terjebak dalam perselingkuhan secara tidak sadar.

Perempuan adalah makhluk yang sangat banyak menggunakan perasaan, maka mereka menjadi nyaman saat merasa mendapatkan kedekatan emosional dengan seorang laki-laki. Apalagi jika di rumah ia merasa tidak mendapat perhatian dari suami, lantaran suami bercorak super sibuk, tidak romantis, kurang peka dan kurang peduli terhadap perasaan istri.

Perempuan bukan makhluk visual seperti laki-laki, maka perselingkuhan tidak dimulai dari sesuatu yang masuk ke dalam matanya, namun sesuatu yang masuk ke dalam hatinya.

Saat perempuan mendapatkan kenyamanan emosional dari seorang laki-laki, mereka mulai merasa ada kedekatan tertentu. Muncul perasaan nyaman dan bahagia, karena mendapatkan perhatian istimewa dari seorang laki-laki, atau karena obrolan yang selalu nyambung dan menyenangkan. Sesuatu yang tidak didapatkan dengan pasangannya.

Tanpa sadar, mereka mulai bermain api. Pada umumnya orang tidak sadar bahwa ketika mereka meladeni obrolan dan bersedia menghabiskan waktu dengan lawan jenisnya akan membuatnya semakin dekat secara emosional dengan laki-laki tersebut.

Bisa jadi awalnya hanya sekedar obrolan biasa, setelah merasa nyaman, mulai berkembang menjadi curhat. Ketika dia merasa mendapatkan tempat curhat yang nyaman, mudah menjadi lepas kendali.

Semakin banyak yang diceritakan, semakin intens mengadakan kontak dan pertemuan, dan akhirnya merasa semakin dekat secara emosional.

Kebanyakan orang menganggap kenyamanan emosional belum masuk definisi perselingkuhan. Ini yang membuat mereka tidak merasa bersalah saat memiliki kedekatan emosional dengan seorang yang bukan pasangannya.

Perasaan nyaman karena merasakan kedekatan emosional dengan selingkuhan, ditambah tidak ada perasaan bersalah, bahkan masih ditambah lagi dengan menyalahkan pasangannya yang dianggap tidak pengertian, tidak perhatian, tidak peduli dan tidak berperasaan, membuat dia semakin jauh terlibat dalam jalinan hubungan perasaan dengan selingkuhannya tersebut.

“Dia *cuma* teman biasa. Tidak lebih dari itu”.

“Dia enak diajak mengobrol. Kami *cuma* mengobrol biasa saja selama ini”.

“Saya *cuma* curhat kok, masa tidak boleh?”

Kata “CUMA” ini yang membuat banyak orang terlambat menyadari apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Bermula dari kenyamanan mengobrol dan curhat, tahu-tahu hatinya sudah terpikat. Kini ia lebih menikmati kebersamaan dengan selingkuhannya tersebut dibanding dengan pasangannya.

Bermula dari kedekatan emosional dengan seorang yang bukan siapa-siapa, tahu-tahu sudah berada pada jarak yang semakin jauh dari pasangannya.

Kei Savourie dalam Kelas Cinta mengibaratkan, “Bagaikan seekor katak yang direbus pelan-pelan, awalnya menikmati kehangatan dan ketika menyadari airnya sudah mendidih, semuanya sudah terlambat

Source: Thoha

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *