MENULIS NAMA PACAR (MANTAN) DI SKRIPSI

Nb: artikel ini sudah tayang di mojok.co

Nulis nama pacar di skripsi, dengan kalimat cinta serimbun beringin, harapan setinggi pelangi, ga taunya putus. Dan skripsi tersebut telanjur abadi menghuni rak buku kita.

Siapa yang pernah begini?  HAHAHAHAHAHAHA

Yang mau ngacung jangan sungkan-sungkan ya.. tenaang… anda tidak sendirian.

Yang aman dari kutukan menulis nama pacar (yang akhirnya terabadikan sebagai mantan) juga tenang… jangan jumawa. Kasihan lah saudara kita yang menyesal tiada ujung akibat nulis nama di skripsi, yang ujungnya nama tersebut jadi nama yang paling dia benci 😀

Ini ga tau ya, apakah skripsi di hari ini masih pake mencantumkan nama pacar atau tidak. Di angkatan saya dulu, wooohh… nama pacar ini jadi salah satu hal yang paling keren untuk dicantumkan pada prakata skripsi.

Selain Allah, dosen pembimbing, guru-guru, orangtua, teman dan sahabat. Si nama khusus ini justru biasanya ditulis paling panjang dan berkesan.

“Untuk Kundang, yang telah sangat membimbing dan menghayati cinta kasih di antara kami hingga skripsi ini bisa selesai..” *teori baru nih: skripsi dihayati melalui jalinan kasih.

“Untuk Cemplon, kau lah satu-satunya tumpuan saat aku kehabisan ide menulis skripsi. Terimakasih telah menemaniku menulis dari isya hingga fajar tiba. Cintaku padamu abadi…” * errrr…mas, itu semaleman beneran nulis skripsi doang? 

Pokoknya untuk orang special, bahasa yang ditulis juga special. Jika akhirnya si orang special ini beneran jadi orang special untuk kita selamanya, atau pendek kata nikah dengan kita, ya bagus lah. Membuka prakata skripsi ini bisa kita lakukan di sore hari yang gembira, dengan minum teh dari cangkir asmara sambil mengenang lagi zaman penulisan skripsi dengan gegap gempita cinta.

Lha kalo ga lama setelah skripsi launching ga taunya jalinan asmara bubar?

Yeah…  masih untung itu skripsi ngga dibakar -_-

Jangankan mau buka prakata, liat skripsi terjajar cantik di rak buku aja males.

Tiap lihat sampul skripsi, batin kita langsung nyesel.

“Apeeeuuu banget deh dulu aku nulis beginian”

Apalagi kalo kita akhirnya nikah, dan pasangan kita ini tipe lumayan sensitif dan cemburuan. Udah deh, udah bagus banget itu skripsi dikardusin, taro di kolong tempat tidur dan jangan dibangkitkan lagi demi ketenteraman rumahtangga.

Kalo pasangannya tipe sanguin dan cuek, paling banter ya dicengin aja.

“Cieee… yang dulu kalo nulis skripsi ditemeniiiiin ..”

Cuma tetap ada rasa menyesal, malu, kenapa juga dulu seheboh itu. Sekasmaran itu. Dan bagaimanapun cueknya, tetap saja kok, pasangan pasti akan bertanya dan berimajinasi. Dulu secinta apa, hubungannya sejauh mana, dan banyak pertanyaan lain akibat satu nama yang terukir abadi ini.

Untuk kawan yang telanjur menulis nama pacar (kini jadi mantan) di skripsi atau karya ilmiah, atau bahkan buku yang pernah ditulis: Yang sudah ya sudah. Mau menyesal kaya apa pun juga, itu nama udah kadung di-print. Mau di tipe-ex juga tetep ada noda kan (btw sekarang masih ungsum tipe x ngga sih?)

Jika skripsi berukir nama mantan ini mengganggu kebahagiaan rumahtangga, sudahlah dikardusin saja. Toh biasanya kita malas membuka ulang skripsi. Kecuali yang skripsinya dijadikan buku yang dijual bebas.

Nah untuk kawan yang saat ini sedang proses mengerjakan skripsi,
Yakin nih mau nulis nama pacar di situ? 😁
Yang udah-udah pada nyesel lho 😁😁

Kata orang, yang namanya pacaran emang selalu merasa dia adalah yang terbaik untuk kita. Selalu.

Tapi come on.. ini baru kuliah. Padahal selepas keluar dari gedung wisuda, apa saja bisa terjadi. Termasuk kemungkinan berganti haluan dan berpindah perasaan.

Udah deh cari aman saja. Tulislah nama yang memang benar-benar selamanya tidak akan putus hubungan dengan kita. Yaitu keluarga.

Kalau masih pengen nulis juga demi terlihat keren, mungkin cara ini bisa ditiru:

Tulislah kalimat puitis yang selama ini selalu mengganggu tidur dan sarapanmu, tapi jangan pernah sebut nama siapa pun di situ.

“Untuk belahan jiwa yang saat ini entah berada dimana, semoga skripsi ini kelak bisa kita baca berdua, di suatu sore yang gembira…”

See? Aman kan?

Dan selamanya skripsi akan jadi pajangan indah di rak buku kita, tanpa perlu jadi sumber petaka dalam rumah tangga 😄

Selalu berpikir, sebelum mengabadikan cinta dalam hidup anda.

Salam,

Wulan Darmanto – Penulis Buku DRAMA CINTA

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).