Mazmur 73:1

”Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya”.

Ketulusan merupakan bahasa yang dapat di dengar orang tuli dan dapat dilihat orang buta. Karena ketulusan adalah bentuk ikatan emosional

Arti kata tulus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas.

Dalam kehidupan saat ini sangatlah sulit kita menemukan orang yang memiliki hati yang tulus kepada sesamanya.

Nilai sebuah ketulusan sangat mahal harganya. Apalagi bila dilihat dari kacamata dunia yang menginginkan suatu imbalan dari apa yang telah dilakukan.

Semua manusia hanya bersifat materliastik dan bersifat mementingkan diri sendiri. Sifat yang mementingkan diri sendiri ini biasanya ditemukan disetiap lingkungan masyarakat seperti dilingkungan pekerjaan. Semua manusia bekerja hanya mementingkan materi yang akan dicapai. Mereka tidak mempunyai sifat ketulusan dalam bekerja. Sehingga mereka beranggapan bahwa bekerja hanya untuk mendapatkan uang bukan sebuah kata ketulusan didalam menjalani pekerjaanNya.

Dilingkungan Masyakat banyak masyarakat yang kurang memiliki sifat empati atau perduli kepada sesamanya. Mereka hanya mau bergaul hanya pada sesamanya yang sama memiliki harta, jabatan yang sama atau seimbang saja dan kedudukan sosial yang setaraf dan sederajad.

Sehingga semuanya hanya di tentukan oleh sebuah imbalan. Namun jika diberikan sebuah pekerjaan yang bersifat membantu sesama (sosial) banyak yang enggan dan tidak mau melakukannya. Mereka tidak menyadari bahwasanya banyak sesamanya diluar sana yang membutuhkan pertolongan.

Sebuah ketulusan hati akan hadir apabila kita memiliki sifat rendah hati.

Rendah hati berarti mengganggap orang lain lebih penting dari diri sendiri sehingga menerima bagaimanapun keadaan orang lain dalam kehidupannya.

Jika kita mengatakan kepada seseorang kalau kita mengasihinya haruslah disertai dengan sebuah perbuatan yang nyata didalam mewujudkan kasih tersebut dan bukan hanya sebuah perkataan kosong yang tidak mempunyai nilai. Jika kita mengasihi seseorang berati kita telah mengetahui benar bagaimana keadaannya. Baik dan buruknya dia kita sudah paham lalu kemudian kita menerima dia dengan hati yang bersih. Kasih itu tidak mengenal status sosial. Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri. Kasih itu sebuah perbuatan. Kasih itu tidak mengenal kesombongan. Kasih itu tidak mengandalkan harta, benda atau jabatannya untuk menjatuhkan kehidupan orang lain. Kasih itu sebuah kejujuran pada diri sendiri maupun pada sesama. Jika Kasih itu tidak mengalir didalam diri kita. Sangat mustahil bila kita mengatakan kalau kita dengan tulus mengasihinya apalagi dengan tulus akan membantu atau menolong kehidupannya.

Tuhan menginginkan kita yang percaya memiliki sifat tulus kepada sesama. Tulus dalam hal apapun. Baik tulus dalam kehidupan sehari-hari maupun tulus dalam pelayanan. Tuhan juga menginginkan kita dengan tulus mengasihi sesama kita sama seperti kita dengan tulus mengasihi diri sendiri.

Orang percaya yang tidak memiliki sikap hati yang benar-benar tulus seperti yang Allah kehendaki, maka sesungguhnya mereka tidak sadar bahwa mereka juga tidak mengasihi diri mereka sendiri. Sebab firman Tuhan katakan, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Tuhan mau kita hidup dalam kebenaranNya. Memiliki hati yang tulus. Karena kita yang percaya dengan yakin Tuhan saja dengan tulus mengasihi kita dengan memberikan berbagai Anugerah dan Mujizatnya dalam kehidupan kita maka kita pun akan melakukan hal yang sama kepada sesama dengan tulus juga menolong sesama tanpa melihat apa dan siapa yang ditolong dan yang akan ditolong nantinya. Dan orang percaya yang memiliki hati yang penuh dengan kasih yang tulus adalah orang percaya yang benar-benar rindu menjadi anak-anak Allah, sebab Allah itu adalah kasih.

Kita orang yang percaya yang tidak mau memberikan ketulusan kepada sesama. Maka ketulusan itu adalah sebuah kemunafikan atau ketulusan yang berpura-pura. Atau sama halnya kita menjadi pengikut iblis atau setan yang lebih mengutamakan diri sendiri dari orang lain. Sebab iblis adalah seorang pendusta. Iblis penuh dengan pura-pura. Manis di bibir namun memiliki hati seperti hatinya iblis yang ingin menghancurkan dengan cara memberikan sebuah pemahaman semu dengan tujuan ingin menyesatkan. Akhirnya manusia tersesat. Setelah manusia tersesat maka iblis ini akan bersorak-sorai menikmati kemenangannya menjatuhkan orang yang percaya.

Tuhan menginginkan kita mempunyai sifat selaras hati dan perbuatan. Tidak mendua hati artinya tidak beda ucapan dengan perbuatan.

Firman Tuhan mengatakan “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5 : 37). Ayat ini menegaskan lagi tentang keselarasan antara hati dan perbuatan. Firman Tuhan yang lain mengatakan “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:18). Ayat ini menegaskan bahwa kita yang percaya harus hidup dalam ketulusan hati yang memiliki Kasih Allah dalam diri kita. Jika kita tidak melakukan segalanya dengan ketulusan hati maka kita sama halnya dengan menjerumuskan diri kita sendiri kedalam ketidakbenaran atau dengan kata lain kita menjadi antek-anteknya iblis.

Mari kita yang percaya memberikan pertolongan kepada sesama kita dengan hati yang tulus tanpa melihat dan tanpa memandang bagaimana dan siapa yang akan di tolong tersebut. Kita hanya mengharapkan balasan dari Tuhan bukan sebuah balasan dari sesama hanya karena mencari sebuah nama baik didunia ini.

“Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti- nantikan Engkau.” (Mazmur 25: 21)

Categories: Kristen

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).