Salah satu fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan kita sebagai manusia adalah memandang orang lain saudara karena dia kaya dan memandang saudara sendiri orang lain karena dia miskin.

Kadang kala penilaian seseorang terhadap orang lain itu didasarkan pada harta, kekayaan, jabatan, penampilan dan segala hal yang nampak dengan mata dan melekat pada diri orang itu.

Itulah sebabnya orang kaya selalu dihormati dan diberi penghargaan setinggi-tingginya sedangkan orang miskin disepelekan dan mendapat tempat terbelakang walaupun itu saudara kita sendiri.

Jika kita menentukan nilai persaudaraan hanya dari materi dan kedudukan saja, maka betapa rendahnya nilai persaudaraan yang kita anut itu. Nilai sebuah materi yang melekat pada diri seseorang lebih tinggi dari rasa kemanusiaan dan persaudaraan kita.

Setiap agama di dunia ini tidak ada yang mengajarkan untuk membeda-bedakan sesamanya manusia baik itu yang kaya maupun yang miskin. Misalnya saja dalam kekristenan, inti ajarannya adalah kasih. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Galatia 5:14).

Apabila kita menilai seseorang dari kekayaan dan kemiskinan, itu adalah sebuah pelanggaran di mata Tuhan. Tuhan tidak menginginkan manusia menilai sesamanya dari segi itu karena dapat merusak nilai-nilai persaudaraan.

Penilaian Tuhan dan manusia memanglah berbeda. Manusia melihat apa yang kelihatan sedangkan Tuhan melihat hati. Kaya dan miskin di hadapan Tuhan, itu semua sama namun yang terpenting bagaimana iman kita dan hati kita benar-benar tertuju kepada Ia yang memberi hidup dan materi itu.

Tinggalkan Komentar
Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).