EMAS DAN PERAK (PERSEMBAHAN) TIDAK PERNAH PAULUS INGINKAN DARI SIAPAPUN

Kisah Para Rasul 20:33-35 (TB)  Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.

Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Apakah Anda seorang hamba Tuhan? Sudah pernah membaca seluruh surat-surat rasul Paulus? Mungkin kebanyakan sudah. Tapi bagaimana dengan kehidupan Kristus yang ada dalam diri Paulus yang tercermin lewat pelayanannya, sudahkah itu ada dalam pelayanan kita?

Paulus adalah seorang rasul yang menjadi teladan bagi semua hamba Tuhan. Dalam setiap pelayanannya kepada banyak jemaat, sedikitpun Paulus tidak pernah menginginkan atau mencari kekayaan dari kegiatannya mengabarkan Injil (2Kor 12:14).

Tahukah Anda bahwa Paulus bisa saja memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi kaya raya. Dia menjadi seorang rasul dengan pengaruh besar atas banyak orang percaya, dan oleh kuasa Roh Kudus ia melakukan tanda-tanda ajaib dalam penyebaran Injil Kristus.

Lagi pula orang Kristen mula-mula cenderung memberi uang dan harta milik kepada pimpinan gereja untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya (silahkan baca Kis 4:34-35,37). Nah, jikalau Paulus mau menarik keuntungan dari karunia dan kedudukannya itu, ditambah dengan kedermawanan orang percaya, ia dapat hidup kaya raya. Tapi apakah Paulus melakukannya? Tidak! Mengapa? Karena ia tahu betul bahwa pelayanan yang dilakukannya adalah karena anugerah dan pimpinan Roh Kudus, serta kasihnya terhadap Injil (bandingkan 1Kor 9:4-18; 2Kor 11:7-12; 12:14-18; 1Tes 2:5-6).

Lalu bagaimana dengan kehidupan banyak pelayanan di banyak gereja dewasa ini? Kalau boleh jujur, berdasarkan pengamatan dari berbagai pelayanan dalam gereja dan kasus-kasus yang mencuat dalam sejarah kelam gereja, tidak banyak yang menghidupi teladan Kristus dalam diri dan pelayanan rasul Paulus.

Di tengah zaman yang menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi, dan kesenangan sesaat, orang Kristen, dalam hal ini pelayanan gereja, telah banyak jatuh dalam hal-hal tersebut dan akhirnya mengabaikan fungsi gereja untuk Marturia, Koinonia dan Diakonia. Gereja sangatlah darurat untuk melakukan evaluasi terhadap orientasi hidup dan pelayananya (Kalau masih mau disebut gereja) dan belajar dari kehidupan pelayanan Paulus! Apa itu?

Paulus memiliki KONSEP PELAYANAN yang JELAS. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pengabar Injil, meski itu berarti penderitaan atau kematian (ayat 19-20, 24). Perhatikan! Konsep pelayanan yang jelas dalam diri siapapun juga, tidak akan membuat ia takut akan penderitaan bahkan kematian. Dan memang, jika kita mengerti panggilan kita dalam melayani Tuhan, maka tujuan untuk menjadi kaya raya atau berkat finansial berlimpah-limpah, seharusnya TIDAK ADA dalam agendanya!

Paulus TIDAK HANYA INGIN MENYENANGKAN TELINGA pendengarnya. Sasarannya adalah supaya orang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus (ayat 21). Tidak lebih dari itu! Dia tidak pernah melayani dirinya sendiri ataupun menjadikan dirinya pelayan manusia berdasarkan NAFSU dan PIKIRAN mereka.

Itulah sebabnya, ia tidak pernah takut untuk memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang Yahudi yang ingin membunuh dia. Ia bahkan bersaksi bahwa ia telah memberitakan Injil dan bersih kepada semua orang, baik yang diselamatkan, maupun yang akan binasa,  (ayat 26).

Paulus BERORIENTASI pada TUJUAN AKHIR, yaitu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada dia (ayat 24). Paulus melayani bukan untuk kebesaran namanya atau untuk mengumpulkan harta kekayaan (ayat 33). Motivasi Paulus adalah untuk MENYENANGKAN TUHAN dengan cara mencapai garis akhir yang telah ditetapkan oleh Tuhan, bukan oleh ambisi pribadinya.

Paulus adalah pelayan Tuhan yang TIDAK SUKA MENGEMIS (ayat 33-35). Ia tidak hidup dari uang persembahan jemaat. Ia bekerja keras untuk membiayai pelayanannya, dan juga pelayanan rekan-rekan sekerjanya, serta mencukupkan kebutuhan mereka yang berkekurangan. Sekalipun ia tahu bahwa memang seorang pekerja berhak mendapatkan upahnya (1 Tim 5:18), namun demi kemajuan pemberitaan Injil itu serta tidak menjadi batu sandungan, sedikitpun Paulus TIDAK PERNAH tercatat untuk memaksakan jemaat untuk memberi persembahan!

Ini sangatlah kontras bertolakbelakang dengan banyak para pemimpin gereja sekarang yang berdalih ayat-ayat Alkitab yang telah diplintir hanya untuk memberi persembahan, tanpa pernah mau dengan jujur untuk meneliti dan memahami secara konteks dari ayat-ayat tersebut. Bahkan ada beberapa berdalih telah banyak berbuat maksimal ini dan itu dalam pelayanan hanya demi supaya jemaat juga memberi persembahan yang maksimal pula.

Kurang maksimal apa Paulus dalam pelayanan Injil? Ditindas, aniaya dengan rajam batu dan cambukan, karam kapal dan terkatung-katung di laut, dikejar-kejar orang Yahudi, ancaman hewan buas dan bahkan kelaparan. Pernakah Paulus memakai alasan-alasan itu untuk menyuruh jemaat-jemaat yang ia layani untuk memberi persembahan? Alkitab tidak pernah mencatatnya.

Belum lagi beberapa pendeta yang berdalih pelayanan itu bak bisnis rumah makan Padang dan bisnis sekolah yang jika sudah menerima service maka harus dibayar. Mereka lupa bahwa bisnis rumah makan atau apapun juga di dunia ini, orientasinya adalah CARI UNTUNG. Lalu apakah pelayanan Injil adalah cari untung yang jika sudah dilayani kita langsung berkata kepada jemaat, “Mana persembahan kalian, saya sudah pemberitaan Firman!” Begitu kah..?

Padahal Paulus jelas menyatakan bahwa pelayanan firman Allah yang dikerjakannya bukanlah pekerjaan cari untung seperti yang dilakukan oleh guru-guru palsu, tetapi pelayanan dengan MAKSUD MURNI, oleh karena ia DITUGASKAN oleh Allah sendiri (2 Kor 2:17)

Paulus jelas memusatkan hidupnya pada Kristus sehingga Kristuslah yang ia utamakan. Dirinya, penghidupannya, bahkan nyawanya sekali pun, rela dia nomor dua atau tigakan asalkan Kristus dimuliakan dan semakin dikenal oleh banyak orang.

Sikap hidup Paulus kiranya menjadi panutan bagi kita. Walau pun kita bukan orang yang secara khusus bekerja dalam bidang pelayanan gereja, tetapi hidup berpusatkan Kristus kiranya menjadi kerinduan kita juga dalam setiap pelayanan kita dimanapun berada!. Memang akan ada tantangan dan risiko, namun panutan Kristus dalam diri  Paulus kiranya membangkitkan semangat kita untuk tetap bertahan dalam segala situasi.

Sumber: Josep

Categories: Kristen

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).