Ini merupakan kisah nyata dalam suatu hubungan yang mau menggambarkan bahwa cinta saja tidaklah cukup, namun juga sangat diperlukan rasa nyaman karena itulah yang diinginkan oleh setiap orang ketika sudah masuk dalam rumah tangga.

Cerai sebenarnya baik atau buruk?

Oleh Seterahdeh (Utas Twitter)

Papa dan mama bercerai hanya karena papa melemparkan puntung rokoknya kedalam pot tanaman milik mama. Mamaku adalah seorang yang bahkan untuk kedepan rumah beli sayurpun akan berpakaian super rapi dan tampil cantik.

Waktu aku 12 tahun, papa dan mama bercerai cuman karena papa suka melempar puntung rokok ke dalam pot tanaman mama yang juga tidak begitu terawat. Tapi walau mama udah bilang berapa kalipun, papa tetap tidak berubah.

Waktu teman-teman dan keluarga mama datang untuk mencegah, mama selalu bilang, “Dia orang baik, Cuma satu hal aja aku gak bisa terima…”

Nenekku marah besar waktu itu, nenek bilang sama mama, “Kamu itu terlalu pinter, jadi aja (jangan) banyak ngurusin hal yang kayak gini…”

Di mata nenek, menantunya adalah orang yang hebat, gentle, pintar cari uang dan bisa melindungi keluarga, malahan anak perempuannya sendiri dia nilai sangat egois  dan ngak pernah peduli akan perasaan orang tua dan anak.

Nenek juga ngak ngerti kenapa mama selalu membesar-besarkan papa yang ngak suka mandi, suka sembarangan lempar kaos kaki, gak punya waktu temanin mama, gak ingat ulang tahun mama, hari pernikahan mereka,…

Walaupun ini termasuk kekurangan, tapi bukannya semua cowok emang kayak gitu yah?

Aku masih ingat dengan jelas, waktu mama membawaku keluar dari rumah kami dulu, mama menangis dan berkata “Semoga kamu bisa mengerti mama, seumur hidup itu terlalu lama…”

Waktu aku 16 tahun, papa tiriku datang. Dia tidak tinggi dan segagah papa, wajahnya juga biasa aja, tapi memang penampilannya bersih dan senyum lembut, aku sendiri bahkan ngak merasa sebal dengan keberadaannya.

Papa tiriku bisa membantu mama mengganti pot-pot tanaman yang sudah rusak, dia juga membelikan mama taplak meja baru dan satu set alat makan baru, dia membelikan mama sepasang sepatu putih yang sangat cocok dengan baju merah kesukaan mama. Bahkan dia membelikan aku gantungan kunci cantik untuk mengganti gantungan kunci lama yang kusam.

Papa tiruku akan memegang tangan mama dan pergi jalan-jalan sore bersama untuk melihat mata hari terbenam, mereka akan pergi berdua melihat bunga di taman depan rumah dan akan memberi tahu mama setiap nama bunga itu.

Bahkan papa tiriku akan membawa pulang beberapa tangkai ranting yang sudah jatuh dan menaruhnya di dalam sebuah pot lalu meletakkannya di atas meja belajarku.

Mama sangat suka belajar masak, setiap kali mama masak resep barunya, papa tiri selalu mengajakku duduk di meja makan dengan rapi sambil menunggu mama menghidangkan makanannya dan mulai mengomentari makanan mama, mama selalu senyum.

Suatu kali mama sakit dan dirawat di rumah sakit, waktu aku pergi ke sana, aku melihat ada satu buket bunga lily di sebelah ranjang mama. Di atas meja ada yang udah dipotong, sedangkan papa tiriku duduk di sebelah mama sambil membaca buku.

Seorang ibu yang ada di ranjang sebelah selalu memandang ke arah mama dengan tatapan iri. Aku akhirnya mengerti apa yang dimaksud mama dengan “Seumur hidup itu terlalu panjang”

Pernikahan bukan hanya perlu dua orang yang baik, tapi juga perlu dua orang yang bisa merasa nyaman satu sama lain.

Sama seperti membeli sepasang sepatu baru, kamu baru bisa merasa nyaman setelah kamu memakainya, gak Cuma dengan melihat keindahannya saja. Karena seumur hidup itu terlalu panjang.

Maka penting sekali untuk menikahi orang yang nyaman, bukan hanya melihat orang yang baik. Setiap kata memiliki sifat berbeda, maka kita membutuhkan orang berbeda untuk melengkapi pernikahan kita.

Memang bercerai bukanlah hal yang seharusnya menjadi tujuan kita, kalau bisa menikah dengan orang yang tepat, kenapa harus mencoba dengan orang yang tidak tepat kemudian bercerai?

Ternyata cinta saja tidak cukup, rasa nyamanlah yang diinginkan setiap orang.

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).