Oleh: Honing Alvianto Bana

Pistol di tangan empat orang polisi itu berbunyi,  tetapi sudah kukeraskan seluruh kulit dan tubuhku. Perih memang ketika peluru-peluru itu menyentuh kulitku, tetapi peluru itu hanya terhempas ke semak-semak disekitarku. Seperti kemarin-kemarin, hanya kulitku saja yang sedikit terkelupas oleh besi-besi itu. Setelah satu jam menembak, polisi-polisi itu mundur sambil menggeleng kepada teman-temannya. Seluruh peluru didalam pistol itu sudah kubikin penyot ketika menyentuh lapisan terluar dagingku.

Sudah seminggu ini, para warga di kota ini sudah berusaha memb*n*hku. Ada yang memancingku dengan menaruh racun pada perut seekor ayam, ada yang melempariku saat berjemur ditepi cekdam, hingga para polisi ini datang untuk menembakku.

Sejak tahun 1972, hanya aku dan suamiku yang pertama kali menempati cekdam ini. Sebetulnya, kami bukan berasal dari sini. Kami berasal dari Sungai Nolemina. Sungai terbesar dikabupaten ini. Kami dilepas seusai melalui beberapa ritual adat. Bupati pertama di kabupaten inilah yang melepaskan kami.

Tapi 10 tahun kemudian, suamiku mati diracun oleh dua orang warga yang tak pernah mengerti tentang perasaan dua ekor hewan. Aku masih ingat hari kematian suamiku. Hari itu langit berwarna jingga. Daun-daun berdebu. Udara seakan punya beratnya sendiri. Saat itu, suamiku mengajakku berjemur di tepi Cekdam.  Ia keluar lebih duluan. Aku mengikutinya dari belakang.

Waktu itu, aku sudah memperingati suamiku ketika aku melihat ada seekor ayam yang lerlentang ditepi cekdam. Aku menyuruhnya untuk mencium terlebih dahulu sebelum menyantap tubuh ayam itu. Tapi seperti para suami pada umumnya, ia tak menghiraukan apa yang aku sampaikan. Ia sempat mengajakku untuk ikut mencicipi tubuh ayam itu, tapi perasaanku tak enak. Aku menolak dan membiarkannya mencicipi terlebih dahulu.

Setengah jam setelah itu, ia muntah-muntah. Perutnya mengembung. Ia lalu berguling dengan busa memenuhi mulutnya. Semak-semak disekitarnya pun seakan ikut merasakan kesakitan itu. Beberapa saat kemudian, ia meninggalkanku tanpa  sepatah kata. Pergi tanpa sepatah kata adalah cara pergi paling kejam. Ia akhirnya mati di ujung cekdam ini.

Seusai kematiannya, aku tak lagi memiliki teman. Dan sejak saat itu, aku memusuhi semua orang dikota ini. Kecuali beberapa ekor sapi yang sering kesini untuk minum. Mereka adalah teman-teman terbaikku. Merekalah yang menghiburku setiap kali aku merindukan suamiku.

Sapi-sapi itu pernah berkata kepadaku, “Manusia-manusia itu ingin membunuhmu agar mereka bisa memancing ikan atau bebas mengambil air di cekdam ini.”

Namun, aku belum bisa mengikhlaskan diri menjadi tumbal. Aku lebih dulu lahir ketimbang siapa pun di kota ini. Kulitku adalah tanda bahwa aku lebih tua dari manusia paling tua sekalipun di kota ini. Kusaksikan langsung jalannya sejarah kota ini! Begitu banyak yang kusaksikan hingga aku berani mengaku lebih bijaksana dari siapa pun, bahkan para Pendeta, Pastor, maupun pohon beringin tertua di kampung bernama Airbesi itu. Seandainya aku bisa menulis, tentu sudah kutulis buku-buku tebal berisi hikmah dan pengetahuan.

Saat tubuhku mendekati setengah meter, kota ini masih belantara lebat tanpa manusia. Satu-satunya hukum yang berlaku disini hanyalah hukum rimba. Aku pernah menggigit seekor ular sebesar pohon pisang. Aku juga pernah menerkam seorang pria dewasa dan anaknya yang sedang memancing dipinggir Cekdam. Para raja dikota ini pun pernah menyembahku sebelum agama-agama impor itu masuk. Itulah mengapa mereka menjululiku Besimnasi {Besi Tua}.

Aku juga sering  mempersilahkan burung tekukur, pipit dan sebagainya untuk menikmati air ditempat ini tanpa mengusir, melarang, atau membeda-bedakan mereka.

Ketika panjangku mencapai satu meter, kusaksikan manusia pertama yang membawa tombak untuk berburu rusa dan babi hutan di sini. Juga masih kuingat laki-laki pertama yang membuka lahan untuk berkebun. Laki-laki itu sering mencuci tangan dan kakinya disini seusai berkebun. Sering pula ia tertidur hingga sore dan harus kubangunkan dengan membanting tubuhku ke air agar ia terbangun. Selalu ia mengucapkan terima kasih kepadaku sambil tersenyum saat terjaga.

Aku memang tak tega jika laki-laki berambut jagung yang santun dan rajin itu pulang kemalaman. Aku dan dia sama-sama tak menyukai gelap, tetapi mungkin dengan alasan yang berbeda. Aku tak suka gelap karena tanpa panas dan cahaya, aku tak bisa berjemur untuk menghangatkan tubuhku yang lebih banyak menyentuh air.

Hari berganti hari, aku tumbuh menjadi buaya paling ditakuti di kota ini. Setiap kali tubuhku bertambah panjang, pengetahuan dan kebijaksanaanku juga bertambah. Lalu kutemukan cara paling manjur untuk mendapatkan makanan. Aku tak lagi menerkam hewan peliharaan warga. Juga tak lagi menerkam manusia yang sering memancing disini, kecuali mereka menggangguku.

Aku lebih suka memangsa hewan-hewan liar di hutan, atau memangsa ikan-ikan di Cekdam ini. Tapi jika ikan-ikan di sini mulai berkurang, aku akan membiarkan mereka berkembang biak. Tak jarang aku kelaparan karena tak mendapatkan mangsa. Apalagi saat Cekdam ini mulai dipagari kawat berduri. Seringkali aku harus mengganjal perutku dengan membuka mulut lebar-lebar, dan membiarkan lalat menghinggapi gigi dan lidahku. Saat aku merasa sudah cukup banyak, aku akan menutup mulut dan mengunyah lalat-lalat itu. Memang tak begitu mengenyangkan, tapi itu cukup untuk mengusir rasa lapar dalam beberapa hari.

Hasilnya, aku semakin tumbuh dengan sehat. Gigiku menjadi sangat kuat, sanggup merobek daging yang sangat padat, juga bisa menghancurkan tulang dari hewan mana pun. Perutku sanggup menampung air setara 20 jerigen, dan daging seberat 15 Kilogram untuk bisa bertahan selama sebulan.

Kalau musim kemarau tiba dan air disini mulai berkurang. Aku akan menyelam ke dasar cekdam, membersihkan rumput atau menggeser beberapa ranting kayu yang menghalangi mata air. Mungkin lantaran itulah beberapa orang-orang menyebutku Uis Oe (Tuan Air). 

Dengan pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu, siapa pun akan mahfum jika aku tumbuh menjadi raksasa: pada puncak usiaku sekarang ini, butuh 2 orang dewasa untuk memeluk tubuhku. Namun, aku tak pernah takabur dengan kelebihan itu.

Ketika Taman Bu’at pertama kali dibangun di daerah ini, kuizinkan siapa pun menghibur diri dengan melihat sosokku. Bahkan setelah Desa Bu’at berubah menjadi kota yang ramai, tak pernah kutolak orang-orang yang ingin berkunjung kesini. Tak kuingat lagi sudah berapa banyak pasangan yang pernah datang kesini. Aku menjadi saksi entah berapa ciuman pertama, janji-janji manis, dan pertengkaran-pertengkaran asmara. Aku menikmati cerita-cerita cinta itu karena aku pun pernah merasakan keindahannya.

Aku juga pernah menyaksikan kebodohan-kebodohan dari beberapa orang yang pernah besila dan menaruh tempat siri sambil berbicara seperti kesurupan. Mereka mengucapkan beberapa permohonan. Minta menurunkan hujan, minta dijaga, minta dikasih rejeki dan minta ini-itu yang hanya membikin aku tersenyum geli. Aku hanyalah seekor Buaya, bukan Uis Neno atau Uis pah. Yang bisa kuberikan hanyalah menjaga keindahan Cekdam ini dan membersihkan mata air jika sewaktu-waktu tersumbat. Hanya itu, tak lebih.

Kebodohan paling menyebalkan adalah ucapan seorang laki-laki berdarah biru yang mengaku sebagai pemilik lahan tempatku tinggal. Ia memaki dan mengancamku ketika memancing disini. Ia berpikir akulah yang mengusir ikan-ikan itu sehingga tak memakan umpan diujung kailnya. Padahal, seminggu lalu banyak ikan yang mati karena diracun oleh dua orang pemuda yang entah dari mana.

Aku tak suka dimaki. Aku juga benci diancam. Maka aku menerkamnya tepat dilengan kanannya. Aku menariknya dasar cekdam. Lalu menggigit dan merobek beberapa bagian tubuhnya. Kaki, tangan, dan kepalanya aku telan bulat-bulat.

Sebetulnya, saat itu aku sudah memafkan lelaki ini. Hanya saja, aku mengenal wajahnya. Ia adalah salah satu dari dua orang lelaki muda yang pernah meracuni suamiku.

Sejak hari itu, tak ada lagi orang yang berani membunuhku. Hingga suatu hari, aku merasa kaki-kakiku tak lagi bisa menopang tubuhku. Aku tak bisa berjalan, kecuali tertidur sepanjang hari diujung Cekdam. Aku  juga sudah tak makan dalam beberapa minggu ini. Hingga aku merasa bahwa ajalku hampir tiba.

Banyak semut sudah memenuhi tubuhku. Aku bisa merasakannya. Hanya tubuhku tak bisa lagi untuk bergerak. Aku pasrah.

Setengah jam sebelum aku menghembuskan nafas terakhir. Aku memilih mengingat kembali saat pertama kali aku dan suamiku menempati Cekdam ini. Aku  mengingat semuanya. mengingat sejarah jalannya kota ini. Mengingat kejadian-kejadian romantis dari orang-orang yang pernah memadu asmara disini. Dan meminta maaf kepada siapapun yang pernah aku lukai dan rugikan dalam hidupku.

Saat senja mulai terjatuh dengan ubun-ubun terluka, dadaku terasa sesak. Mataku semakin kabur. Tepat pukul 18: 23 WIT, saat jalannan sudah mulai sepi.  Aku mati dalam kesunyian dengan ditemani bunyi-bunyian jangkrik. Aku meninggal tepat di tempat ini; Di depan cekdam, tempat di mana suamiku pernah menghembuskan nafas terakhirnya.

***

Rumah biru, Mey 2020

Honing Alvianto Bana. Lahir di kota Soe – Nusa Tenggara Timur. Suka membaca dan menulis. Ia juga suka melamun. Tulisannya terpercik di beberapa media.

Categories: Sastra

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).