Oleh: Honing Alvianto Bana

Jam sudah menunjukan angka satu, tapi lelaki itu masih saja termenung di pinggir jalan. Ia duduk disebuah pertigaan, dibawah sebatang pohon yang rimbun. Dibawah pohon itu terdapat sebuah bangku sepanjang satu meter. Disitulah lelaki itu menunduk sambil sesekali menyandarkan tubuhnya pada pohon yang berdempetan dengan bangku.

Ia menarik napas panjang, lalu membakar sebatang rokok merek satu lima tiga. Dihembuskannya asap keatas. Beberapa saat kemudian, ia merogoh saku celananya. Terlihat uangnya tinggal lima ribu rupiah. Rokok di bungkusnya juga hanya tersisa dua batang.

Sebenarnya ia ingin tidur lebih awal, tapi entah kenapa pikiran dan matanya selalu saja tak sejalan. Ia sering tak tidur sampai pagi hari. Ada satu gelas air mineral di depannya. Ia teguk lalu merenung.

“Melky, apa keputusanmu?” Suara kekasihnya beberapa bulan lalu kembali terngiang di kepalanya. Saat itu Ia baru saja meneguk 11 botol sopi bersama teman-temannya. Ia mabuk berat. Otaknya tak mampu menangkap ucapan apa-apa. Setiap suara yang terdengar hanya seperti suara sekumpulan lebah.

“ Melky, bagaimana ne?” Perempuan itu bertanya lagi. Ia hanya menunduk. Perempuan itu lalu memegang pundaknya. Ia menoleh. Matanya hanya menangkap cahaya. “Melky, kenapa kau diam saja? Jawab dulu! Bagaimana ini, saya takut orang-orang tahu ” Lagi-lagi perempuan itu bersuara. Lelaki itu diam. Badannya seperti hendak tersungkur. Ia mabuk berat sejak pagi sampai jam tujuh malam.

Saat itu, ia sudah beberapa minggu tak pulang kerumah. Kakaknya sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak juga menemukannya. Hingga akhirnya perempuan itulah yang menemukannya di rumah Pe’u, teman kelasnya di sekolah.

“Anjing! jawab dulu, jangan diam begini…” Ia tak menjawab. Ia terus menunduk. Tiba-tiba perempuan itu meludahinya. Tepat mengenai wajahnya. Ia hendak menampar perempuan itu, tapi ia berusaha menahan amarahnya. Ia memang mabuk, tapi ia sadar kalau otot tangannya bisa membuat pipi perempuan itu lebam. Atau kemungkinan terburuknya, perempuan itu bisa pingsan dan masuk rumah sakit.

“Anjing, hanya mau enak saja. Mana janji-janjimu dulu? Mana?” Perempuan itu menangis sambil menjambak rambut lelaki itu. Tubuhnya ditarik kesana-kemari. Tarikan perempuan itu sangat keras.

“Berikan saya waktu untuk berpikir dulu” Lelaki itu bicara untuk pertama kalinya. Ia lalu bangkit berdiri. Aroma sopi menyeruak dari mulutnya.

“Pikir apa lagi? Pokoknya saya tidak mau tau. Kau harus tanggung jawab..!!!” Perempuan itu masih menggenggam rambutnya. Seakan tak mau dilepaskan. Namun lelaki itu terlalu kuat, melepaskan diri, dan pergi.

***
Ingatan itu menyeruak kembali. Sebuah sepeda motor datang dari arah selatan. Lampu sepeda motor itu sangat terang. Ia sedikit menutup mata sebab cahaya sepeda motor itu mengenai wajahnya. Silau. Ketika sepeda motor itu lewat, jalan kembali sepi.

Sudah tiga jam ia duduk dipertigaan itu, tapi baru 2 sepeda motor yang melintasi jalan itu. Sepeda motor yang pertama melintas saat tiga jam lalu, saat pertama kali ia duduk ditempat itu. Sedangkan sepeda motor kedua yang baru saja melintas. 2 pengendara sepeda motor itu tak ia kenal. Meski begitu, ia tahu dari mana orang-orang itu berasal. Itu orang-orang Noelaku. Ia tau dari cara orang Noelaku menyetir sepeda motor. Semacam ada ciri khas tersendiri.

Jarum jam sudah menunjukan angka satu lewat dua puluh satu menit. Jalan semakin sepi. Terdengar suara anjing mengaung dari kejauhan. Ia lalu mematikan rokok yang belum sempat habis. Ia kembali menunduk, lalu kembali merenung.

“Cinta memang begini, selalu indah.” Perempuan itu berbaring disampingnya. Tangan perempuan itu mengelus pipi dan dagu-nya yang sedikit berbulu. ” Semoga tetap malam. Saya ingin terus bersamamu seperti ini.” Lelaki itu berbicara sambil tersenyum. Dielusnya rambut perempuan itu. Aroma shampo menyeruak. Tak lama kemudian, dipagutnya bibir perempuan itu dengan lembut. Dipeluknya. Terasa begitu hangat. Kamar itu seperti surga, penuh dengan cinta.

“Apakah ada yang lebih indah dari malam ini, Melky?” Perempuan itu bertanya, lelaki itu masih mengecup pipinya. “Tanya hatimu” Lelaki itu bicara dan tetap memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi, kening, dan bibir perempuan itu. Mereka bercinta hingga terlelap.

Ketika matahari datang, perempuan itu harus pulang. Ia harus kembali kerumahnya. Dan benar, lelaki itu tak menyukai matahari yang datang terlalu cepat, ia ingin berdua saja, tanpa dihalangi waktu.

Sisa air di botol mineral itu ia teguk lagi. Malam semakin lengang. Suara anjing menggonggong di kejauhan. Suara angin berdesir, dingin menembus tulang. Ia memeluk lututnya sendiri. Besok entah apa. Yang pasti ada sebuah rencana yang akan ia kerjakan. Entah rencana itu akan berhasil atau mungkin gagal total. Ia masih merenung sambil memeluk lututnya. Beberapa saat kemudian, ia membakar kembali satu batang rokok, asap mengepul. Memberi sedikit perih pada matanya yang masih saja terbuka sampai menjelang pukul tiga. “Huuuft, hidup ini memang berat, tapi selalu ada pilihan-pilihan” Ia bicara dalam hati.

***
Ia adalah seorang perempuan berdarah Timor-Sabu. Lantaran itu, ia manis sekali. Rambutnya hitam dan panjang. Bibirnya merah seperti atap kantor bupati. Giginya pun rapi seperti buah delima. Banyak pemuda di kompleks sangat menyukainya. Ia sering digoda. Namun hatinya sudah takluk pada Lelaki itu. Lelaki yang beberapa bulan lalu membeli rokok di kios-nya.

Ia sangat menyukai dagu lelaki itu. Itulah mengapa saat pertama melihat lelaki itu, ia langsung jatuh hati. Ia memang menyukai dagu lelaki yang sedikit berbulu. Dagu itulah yang menyita perhatiannya. Sesekali ia malu jika pandangannya kebetulan beradu dengan mata lelaki itu.“Saya Melky” Jawab lelaki itu ketika ditanya namanya.”Kau temannya Enos?” Ia bertanya lagi.”Betul, kami teman dekat,” Jawab lelaki itu sambil menggaruk kepalanya. Perempuan itu memang tak malu-malu kalau bertanya. Ia bukan perempuan yang menganut ungkapan ” perempuan harus menunggu, dan biarkan lelaki yang memilih”. Itulah kenapa ia berani lebih dulu meminta nomer HP lelaki itu.

Sejak saat itu, mereka kadang-kadang janji untuk bertemu. Mereka sering duduk di Taman Bu’at dari siang sampe menjelang senja. Lelaki itu memang bukan penyuka senja, tapi senja akan selalu menarik untuk menambah romantis sebuah kisah percintaan.

Perempuan itu setiap hari mengirim pesan. Kadang di balas, kadang tidak sama sekali. Kalau bertemu, lelaki itu sering diberi sebungkus rokok gratis darinya. Beberapa kali lelaki itu menyodorkan uang, tapi perempuan itu menolaknya.

Ia memang jatuh cinta pada lekaki itu. Itulah mengapa ia sering tak bisa tidur. Setiap malam, ia hanya memikirkan lelaki itu. Dan ketika pagi hari, ia selalu berharap bertemu, entah di jalan mana, entah di tempat mana saja.

Selain Taman Bu’at, mereka seringkali bertemu disebuah warung di diujung lapangan. Jika warung itu tutup, mereka akan berpindah ke sebuah warung didepan SMP satu. Lelaki itu gemar makan bakso, sedangkan perempuan itu menyukai mie ayam.

Seusai makan, mereka selalu bertukar cerita, sesekali lelaki itu tertawa. Perempuan itu juga ikut tertawa, dan tanpa sadar, ia sering menyandarkan kepalanya pada pundak lelaki itu. Aroma shampoo-nya menyeruak memenuhi penciuman lelaki itu. Dalam seminggu, mereka akan selalu berjanji untuk bertemu paling sedikit 2 kali. Janji dan pertemuan sudah menjadi candu. Begitu seterusnnya. Hingga suatu sore, mereka sepakat berjumpa pada sebuah rumah di ujung jalan. Rumah itu adalah milik Om Niko Amaunut, seorang anggota DPR yang suka omong banyak. Rumah itu disewakan kepada lekaki itu.

Om Niko Amaunut hanya dua bulan sekali datang kesitu. Ia sangat sibuk mengurus proyek dan dana bansos bersama beberapa kepala dinas. Ia juga tak tinggal disitu, ia tinggal di Oebesa.

Di rumah itu ada lima kamar, yang terisi cuman satu saja. Hanya lelaki itu. Rumah itu kotor, seperti tak terurus. Beberapa kotoran anjing dan ayam berserakan di halamannya. Perempuan itu sempat risih, tapi hatinya sudah terlanjur dipenuhi cinta. Rumah yang kotor itu ibarat surga, indah di matanya. Lelaki itu tersenyum lalu menutup pintu. Mereka hanya berdua didalam kamar. Bercinta dan berbagi sampai pagi. Saat matahari datang, perempuan itu cepat-cepat bangun, mengatur rambutnya dan pulang. Sebelum pamit, dikecupnya kening lelaki itu. Ia lalu berjalan meninggalkan kamar yang kotor itu. Lelaki itu terdiam, hanya menatap punggung perempuan itu.

Beberapa bulan kemudian, ia hamil. Batinnya dipenuhi rasa takut dan penyesalan. Ia takut pada ayah dan ibunya. Selebihnya, ia malu pada para tetangga. Ia sadar, dikampung sekecil ini, aib orang lebih cepat menyebar dari virus Corona.

Ia sudah memberitahukan perihal kehamilannya kepada lelaki itu. Tapi sejak saat itu, lelaki itu tak pernah datang. Tak pernah menelponnya sekalipun. Ia sering membayangkan, jika nanti melahirkan, anaknya akan tumbuh tanpa seorang Ayah. Sungguh ia tak menginginkan hal itu terjadi. Ia bukan saja takut, ia juga malu. Ia sering mengutuk dirinya sendiri, sering juga ingin mengakhiri hidupnya. Ia pernah ingin melompat dari jembatan, tapi ia diselamatkan oleh seorang pemuda bernama Noger. Ia juga pernah menengguk racun, tapi ia tak mati. Ia hanya pingsan. Ia lalu dilarikan ke rumah sakit Ibu dan anak.

Setiap malam ia hanya menangis, sambil membelai-belai perutnya. Anak di dalam perutnya sering menendang-nendang. Ia juga sering menyanyikan lagu “ Gembala baik ”, satu-satunya lagu rohani yang ia ingat.

Jika kebetulan perutnya mulai sakit, ia akan berlari-lari kecil di ruang tamu. Jika ia merasa bosan, ia akan pergi ke rumahnya Mince –tetangga sekaligus temannya sejak kecil. Kandungannya sehat-sehat saja. Tak ada yang aneh.

Setiap malam, ia memimpikan lelaki itu, namun mimpinya selalu kabur. Seperti muncul tenggelam, tak pernah ada jalan cerita yang pasti pada mimpinya tentang lelaki itu. Ujung-ujungnya ia akan memaki lelaki itu ketika terbangun.

Sekarang, ia sudah berada pada Rumah Sakit Ibu dan anak, rumah sakit terdekat yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia merasakan perih di kemaluannya, perutnya sudah terasa sakit. Hari ini, mungkin saja ia akan melahirkan. Ia berbaring. Tim dokter sudah di depannya. Beberapa bidan juga sudah berada disitu. Keringatnya mengalir, tenaganya hampir saja habis. Ia terus bertahan, sampai pada suara tangisan seorang bayi terdengar, ada kebahagian menyelimuti dirinya.

Anaknya perempuan, kulitnya putih, wajahnya tampak manis, dan dagunya mirip lelaki itu. Ia sama sekali belum menyiapkan nama untuk bayi-nya.

Saat ia masih terbaring lemah dan dalam kondisi setengah sadar. Ia mendengar seorang mengetuk pintu dan masuk. Seorang lelaki dengan dagu berbulu berjalan pelan. Tangannya membawa seikat bunga. “Ini bunga sebagai lambang do’a dan segala sesal” Lelaki itu bicara pelan. Namun suaranya lebih terdengar seperti dengungan lebah pada telinga perempuan itu. Kemudian lelaki itu bergegas pergi, aroma sopi menyeruak di ruang anggrek, di kamar rumah sakit itu.

***

Rumah biru, Mey 2020.

Honing Alvianto Bana. Lahir di kota Soe – Nusa Tenggara Timur. Suka membaca dan menulis. Belakangan ini, ia juga suka melamun. Tulisannya terpercik di beberapa media.

Categories: Sastra

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).